
Jakarta, Humas BRIN. Pekerja kreatif Indonesia yang berkarier di luar negeri turut berperan dalam proses produksi film animasi Doraemon yang sangat sukses dan populer di Indonesia. “Tidak hanya serial Doraemon saja yang ada ‘goresan’ kreatif anak Indonesia, ada juga serial Dragon Ball dan Crayon Shinchan, di antaranya,” tutur Upik Sarjiati, peneliti Pusat Riset Kewilayahan BRIN pada acara International Seminar “Japanese Studies in Indonesia: Crisis and Reoriention”, yang diselenggarakan dalam rangka peringatan 10 tahun program kajian Jepang di LIPI / BRIN, Kamis (23/9).
Menurut Upik, paling tidak ada sekitar 30 pekerja kreatif asal Indonesia yang bekerja di industri games dan animasi di Jepang. “Mereka bekerja di sejumlah studio animasi, seperti: Wonderium, Toneplus, Studio Ghibli, Marza, Polygon, Toei Animation, Tsumugi Sakuga Gijutsu Kenkyusho,” ungkap Upik. “Mereka terlibat di berbagai posisi dalam produksi animasi, misalnya, sebagai 3D Animator, 2D Animator, Modeller, Production Management Staff, dan lain-lain.” imbuhnya.
Bagaimana mereka dapat bekerja di Jepang? Dalam paparannya, Upik menjelaskan pentingnya professional networking atau jejaring professional. “Informasi dari jejaring pertemanan dengan migran yang sedang bekerja atau pernah bekerja di Jepang sangat berperan. Dari situlah, mereka mendapatkan informasi seputar bagaimana cara bekerja dan bagaimana kondisi bekerja di industri kreatif di Jepang,” jelasnya. “Jejaring ini juga bisa diperoleh dari hubungan antara students dan lecturer ketika menempuh studi di Jepang”, tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Firman Budianto, Peneliti Pusat Riset Kewilayahan BRIN, membagi pekerja asing profesional di Jepang ke dalam dua kelompok besar, yaitu lulusan dari universitas di Indonesia dan lulusan dari kampus di Jepang. “Untuk pekerja profesional lulusan dari kampus di Jepang, biasanya mereka mengikuti proses job-hunting laiknya mahasiswa lokal, walaupun sebagian ada juga yang memanfaatkan jejaring dan rekomendasi dari sensei di lab, sponsor, dan senior”, ujar Firman. “Sedangkan lulusan universitas di Indonesia, mereka biasanya mengikuti global recruitment yang diadakan perusahaan Jepang, dan tidak sedikit yang juga mengandalkan jejaring profesional”, tambahnya.
Tercatat, peningkatan jumlah warga negara Indonesia yang tinggal di Jepang, dari 56.346 orang di tahun 2018, menjadi 67.751 orang di akhir tahun 2020. “Dari jumlah 67.000-an orang tersebut, dapat dibagi menjadi beberapa pekerjaan / profesi berdasarkan jenis visa, seperti : technical-trainee, students, Highly Skilled Professional/Engineer/Specialist in Humanities or International Services, dan Healthcare workers (EPA).” sebut Firman.
Pemerintah Jepang, di sisi lain, telah membuka jalan bagi masuknya pekerja asing, terutama mereka yang memiliki keterampilan tertentu. “The Point Based System for Highly Skilled Foreign Professionals (Ministry of Justice, 2012) dan New Economic Policy Package (2017) adalah contoh kebijakan yang memfasilitasi masuknya tenaga kerja asing profesional ke Jepang,” tutur Firman.
Plt. Kepala Pusat Riset Kewilayahan BRIN, Ganewati Wuryandari, menyebutkan bahwa kejelian dalam membaca isu strategis di negara lain yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa inilah yang menjadi salah satu tujuan kita melakukan riset di Pusat Riset Kajian Wilayah BRIN. “Riset yang dilakukan selama 10 tahun terakhir ini, selalu diselaraskan dengan isu dan kepentingan nasional Indonesia, sehingga dapat menjadi masukan untuk pengambil kebijakan terkait isu yang berkembang di luar negeri,” tuturnya. “Kami akan terus berkolaborasi dan mengembangkan diri menjadi Pusat Riset yang professional dan kredible,” pungkas Ganewati. (Bn/Ed: mtr)