Jakarta - Sebagai fenomena sosial, penyebaran Islam ke berbagai wilayah dunia telah memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri daripada Islam yang berkembang di negara Arab. Hal ini dapat dipahami karena Islam berkembang mengikuti realitas kehidupan negaranya, dengan nuansa budaya yang beragam serta memiliki orientasi kepada pengembangan aspek sosio-kultural. Antara Islam dan realitas, meniscayakan adanya dialog yang terus berlangsung secara dinamis. Demikian rangkuman kajian LIPI terkait keberagaman islam di Eropa dan Asia Timur.
Berikut rangkuman dua rangkaian kegiatan yang disampaikan secara daring (webinar) bertajuk "Bincang Ramadan" yang digagas Pusat Penelitian Kewilayahan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bertema “Nuansa Islam di Eropa Barat” pada Rabu ( 6/5) dan “Jumpa Islam di Asia Timur” pada Jumat ( 8/5 ) lalu di Jakarta.

Prancis memiliki penduduk muslim yang cukup banyak karena hadirnya imigran muslim terutama dari Aljazair, Maroko, dan Tunisia. Secara resmi Prancis merupakan negara sekuler dan pemakaian pakaian penutup tubuh telah menjadi sumber kontroversi dalam beberapa tahun terakhir.
Peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI, Amin Mudzakkir mengatakan sejak 1980 kontroversi mengenai pemakaian kerudung atau jilbab, cadar di sebuah sekolah negeri di Perancis telah melarang 3 orang siswa muslim memakai kerudung dan simbol Islam. Dirinya menyebutkan bahwa kebijakan ini akhirnya bergulir ke seluruh negeri dan diberlakukan sejak 2004 bagi siswa sekolah negeri tingkat sekolah dasar sampai menengah. “Pelarangan ini tidak berlaku untuk sekolah swasta dan perguruan tinggi”, katanya.
Menurut Amin, Kebijakan ini ditentang oleh kalangan muslim Prancis hingga memicu perdebatan yang hingga kini belum tuntas. “Justru dengan melarang akan melanggengkan stigma yang salah. Pelarangan ini membuat dialog keadilan makin sulit”, ucap Amin.
Pemerintah mengalami kesulitan untuk mendiskusikan kebijakan pelarangan ini, karena tidak punya acuan satu representasi tunggal kelompok islam dikarenakan beragam kelompok muslim yang tidak mau bergabung.” Masing-masing kelompok tidak mau jadi kelompok Islam yang lain, sehingga tidak ada satu representasi mengenai kelompok islam di Prancis. Masjid-masjid berlatar belakang mewakili negara masing-masing imigran Aljazair, Marko, Tunisia”, imbuh Amin. Kemudian, mencari titik temu dari persoalan ini, pemerintah berinisiatif mendirikan suatu lembaga kebudayaan islam sebagai ajang pertemuan dari berbagai kelompok. “Masalah pelarangan memakai kerudung bukan pelarangan agama, tapi juga masalah klasik dengan Aljazair yang kontemporer, dan fundamental agama yang sama kerasnya, sehingga timbul persepsi bahwa kerudung merupakan ancaman bagi negara. Hal ini ditentang oleh warga Prancis yang menanyakan apa salahnya dengan kerudung”, pungkas Amin.
Peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI, Fachri Aidulsyah, menyebutkan diaspora Indonesia adalah pertama kali menaruh jejak keislaman di Belanda melalui kegiatan keagamaan yang berorientasi pada aktivitas sosial. Namun, Jejak Islam Indonesia di Belanda belum terlalu kuat. “Kegiatan sosial ini masih kalah dengan kelompok migran dari Turki dan Maroko yang lebih dahulu membangun kegiatan keagamaan di Belanda”, ungkap Fachri. Dirinya menjabarkan, ada 240 Masjid yang di bangun oleh Turki di Belanda dan Suriname, Maroko mendirikan 170 Masjid di Belanda dan 20 Masjid di Suriname. Sementara Indonesia hanya memiliki 2 Masjid di Belanda.
Oleh karena itu lanjutnya, bila dilihat dari hasil kajian terkait sejarah keberadaan diaspora Indonesia di Belanda, ada tiga periode yang sangat menentukan pola relasi diaspora muslim di Belanda: (1) Sebelum era kemerdekaan Indonesia, aktivitas keagamaan umumnya dilakukan diaspora dari kalangan menengah ke bawah. Sementara pelajar di era itu, M. Hatta, M. Syarir dkk., tidak memiliki ikatan yang kuat terhadap Perkumpulan Islam di Belanda, karena konflik nasionalisme. (2) Pada 1970 di Belanda, mulai berdatangan migran dari Turki, Maroko,Tunisia dan Timur Tengah yg sangat massif, akibat perang Teluk. Sehingga aktivitas keagamaan mulai di gerakkan oleh kalangan pelajar dengan mendirikan Ikatan Pelajar Muslim di Eropa (Belanda) yang melibatkan tokoh muslim di Eropa dengan tujuan mendinamiskan tradisi islam Indonesia, dan terus berkembang hingga tahun 2000. (3) Di era orde baru mulai menunjukan eksistensinya ke publik, melalui kultur budaya baru di wilayah Eropa Belanda. “ Jika menggunakan teori pendekatan sosiologi mengenal istilah bagaimana ada sebuah kultur masyarakat kondisi ini menjadi terpecah. Kondisi ini juga yg terjadi dalam muslim Indonesia di Belanda saat ini terjadi perpecahan yg sangat kuat antar kelompok organisasi islam”, tutup Fachri.

Masjid modern dan tertua satu-satunya di ibukota Korea Selatan ini juga dikenal dengan sebutan masjid Itaewon. “Masjid ini dibangun pada 1976 dan dibuka untuk umum pada 1977 merupakan perpaduan atas donasi pemerintah Korea, serta uang pembangunan masjid dari donasi negara-negara islam. Masjid ini diapit sungai hangang dan gunung Namsan berdiri megah di daerah wisata Namdong Yong Sam. Letaknya di distrik Yong San Gu Itewon Kota Seoul”, jelas Peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI, Saiful Hakim.” Yang juga menjadi tempat tujuan wisata, terutama bagi turis muslim. Pasalnya, masjid ini juga merupakan bagian sejarah berkembangnya Islam di Korea, serta sejarah toleransi di negeri ginseng”, tutur Saiful.
Menurut penjelasan Saiful, masjid ini arsitekturnya unik, memiliki mirip bangunan timur tengah, berwarna putih, terdapat dua menara di depannya berlambang bulan sabit, dibagian pintu depan ada tulisan arab, puluhan anak tangga. Masjid 2 Lantai ini, terbagi untuk area kantor Federasi Muslim Korea, lantai 2 untuk sholat perempuan, ada madrasah dari arab Saudi. “ Masjid ini tempatnya para migran Libanon, Pakistan, Malaysia, Indonesia, dan lainnya. Di sekitar masjid berdiri toko-toko nuansa Timur Tengah menyajikan makanan Turki, nuasa Korea tidak ada”, jelas Saiful
Pertumbuhan islam di Korea, sebelum tragedi 2001 peristiwa World Trade Center (WTC),ada empat tahap: (1) Pada 1950, sudah ada 200 jemah islam Korea yang ibadahnya ikut bersama-sama dengan migran Turki yang mendirikan tenda untuk ibadah sholat. (2) Pada 1970, pekerja bangunan di Timur Tengah asal Korea yang memutuskan memeluk agama islam, setelah kembali ke negaranya membentuk komunitas islam di Korea ini, memproleh bantuan dana dari Arab Saudi untuk mendirikan masjid-masjid di Korea. (3) Masjid ini dikunjungi pekerja migran Banglades, Pakistan, Indonesia untuk mewarnai islam di Korea. (4) Kemudian di Korea mulai ada ‘Halal Tourism’ adalah bagian dari industri pariwisata yang ditujukan untuk wisatawan muslim.
Islam di Jepang tumbuh dari masuknya migran, terutama Pakistan, Banglades juga Iran dan Indonesia. Mereka membentuk komunitas kecil di beberapa kota utama di Jepang, sejumlah orang Jepang memeluk islam melalui kontak dengan komunitas ini. “ Dengan terbentuknya komunitas-komunitas kecil muslim, beberapa masjid telah dibangun serta hubungan antar komunitas muslim migran terjalin dengan baik”, sebut peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI, Firman Budianto.
Maka dari itu bila dilihat dari statistik, Indonesia menempati urutan ke sembilan dari orang asing yang ada di Jepang. Namun, populasi muslimnya menempati urutan pertama dan diikuti Pakistan, Turki, dan negara lainnya.” Hal ini terbukti adanya pertemuan komunitas yang di inisiasi oleh ikatan perawat Indonesia”, kata Firman.
Pertemuan komunitas ini sangat terasa ketika bertemu di tempat ibadah. “Mushola dan Masjid memiliki fungsi sosial sebagai tempat yang memberikan kenyamanan dan ketenanganan dari hiruk pikuk kehidupan di Jepang”, sebut Firman. Dirinya mencontohkan, lokasi di Shin Okubo, Tokyo ini ada mushola yang menempati salah satu gedung plaza pusat pertokoan sebagai tempat ibadah komunitas muslim. Dinamakan mushola Shin Okubo karena segala aktivitas ibadah selama Ramadhan, sholat Jum’at, Idhul Fitri, Idhul Ad’ha di lakukan di sini.
Adapun sisi lainnya adalah relasi agama dan negara, masyarakatnya sangat toleran terhadap agama baru. Islam dan komunitas muslim di Jepang masih terus berkembang, sudah banyak restoran yang memakai logo halal. “ Peran aktif migran muslin semakin ‘ Muslim Friendly’ dan citra Islam masih baik di Jepang”, tutup Firman. ( mtr/ laporan: agn)