Jakarta, Humas LIPI. Indonesia adalah potret kebudayaan yang multikultur dan memiliki kekayaan warisan budaya yang luar biasa ragamnya, karena itulah menjadi bangsa yang besar. Namun demikian harus diakui bahwa di dalam aspek pengelolaan warisan budaya, masih menghadapi tantangan. “Kehadiran teknologi melalui digitalisasi menjadi salah satu alternatif solusi untuk dapat mengelola warisan budaya menjadi lebih efisien. Perekaman dan pendataan digital warisan-warisan budaya di Indonesia termasuk juga di Candi Borobudur, merupakan cara baru pemanfaatan teknologi digital untuk pengelolaan warisan budaya,” demikian sambutan Ganewati Wuryandari, Kepala Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI pada acara Seminar Ekspose Hasil Penelitian “Digitalisasi Dan Visualisasi 3D Candi Borobudur yang diselenggarakan secara daring pada Kamis (22/4).
“Format digitalisasi ini penting disertasi tidak hanya aspek ekonomi melainkan bisa juga dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan lainnya seperti entertainment, pendidikan, dan juga riset serta turis,” tegas Ganewati. Selama ini kegiatan riset dan pengelolaan warisan budaya Candi Borobudur secara digital masih sangat terbatas sehingga diperlukan kajian atau pelatihan yang lebih mendalam atas pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas interprestasi kajian warisan budaya dan model pengelolaan warisan budaya ke depannya, lanjutnya. “Dalam hal ini LIPI melalui Pusat Penelitian Kewilayahan atau yang disingkat dengan P2W LIPI telah bekerja sama dengan Art Research Center Universitas Ritsumeikan dan juga Balai Konservasi Borobudur mengembangkan kajian Humaniora Digital. Kerja sama ini memanfaatkan teknologi digital berupa perekaman digital dan visualisasi 3D untuk menggali aspek arkeologi dan historis yang selama ini luput dari penelitian-penelitian yang sudah ada mengenai Candi Borobudur,” jelas Ganewati.
Pada kesempatan yang sama, Fadjar Ibnu Thufail, peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI lebih menyoroti pada segi “Kerangka Humaniora Digital (Digital Humanities) untuk Digitalisasi Borobudur”. “Ada 4 faktor yang penting atau menjadi salah satu faktor yang sangat krusial dalam perdebatan digital humanities yang relevan untuk kegiatan pengeloaan cagar budaya, yaitu: menggabungkan aspek teknis (komputasi) dengan aspek interprestasi (soshum) ke dalam satu kerangka analisis, Argumen (teoritis, kebijakan) tidak lagi sekedar teks, tetapi multimedia (visual, suara), Terbuka terhadap proses eksperimen dan yang terakhir Memerlukan proses riset dan kebijakan pengelolaan warisan budaya yang bersifat kolaboratif,” tegas Fadjar.
Lebih lanjut Fadjar menyampaikan bahwa target Digitalisasi Borobudur, ada 4 target yaitu Model 3D Terintegrasi dengan menggunakan Data: Model Relief, Model Candi, Model Transparan; Visualisasi Transparan dengan menggunakan data : Model 3D, CAD, Arsip; Model 3D Relief dengan menggunakan Data: Fotogrametri Jarak Dekat (Close-range), Artificial Intellgence, menggunakan visualisasi transparan dari bangunan Borobudur, sehigga bisa dilihat struktur candi itu sendiri dengan menggunakan model 3 dimensi serta Model 3D Candi dengan menggunakan data: Fotogrametri Aerial; Terrestrial Laser Scanning secara keseluruhan global. “Diharapkan model 3D yang dihasilkan tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pelestarian dan penelitian Candi Borobudur, serta mendukung aspek pendidikan publik dan pariwisata,” demikian Fadjar mengakhiri paparannya.(Rdn/Agn).
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: Tim website psdr.lipindonesia.com hanya menjalankan tugas penyuntingan teknis. Konten tulisan yang dimuat sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Korespondensi lebih lanjut terkait substansi artikel silakan menghubungi HUMAS LIPI.