• Home
  • About Us
    • About P2W
    • People
      • Management
      • Researchers
      • Visiting Researchers
    • Institutional Partners
    • Annual Reports
  • Projects
  • News and Events
    • News
    • Events
      • Past Events
      • Upcoming Events
    • Opinions
    • Prominent Figures
  • Publications
    • Books
    • Newsletter
    • Working Papers
    • Policy Papers
    • Journal Kajian Wilayah
    • Book Reviews
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Contact
  • Sudut Pandang Amin Mudzakkir

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

Cerita Para Santri Indonesia dan Hubungan Diplomatik Indonesia-Tiongkok

News 01 October 2019
Written by Meilinda Sari & Saiful Hakam P2W LIPI
fShare
Tweet

bedahbuku

 

 

Jakarta. Mengingat hubungan kedua negara yang sempat terputus pada era Soeharto, Indonesia kini tengah berupaya untuk merajut kembali hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Fenomena yang terjadi belakangan ini adalah meningkatnya jumlah pelajar Indonesia yang menimba ilmu ke negeri tirai bambu baik dari kalangan elite, Tionghoa di Indonesia, maupun santri. Menarik apabila kita melihat bagaimana perspektif para santri tentang Tiongkok dan pengalaman hidup para santri Indonesia ketika belajar di Tiongkok serta bagaimana Islam dipandang di sana. Untuk itu, Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI bekerja sama dengan Alif.id dan PCNU Tiongkok menyelenggarakan kegiatan “Bedah Buku: Islam Indonesia dan China” pada 3 September 2019 dengan menghadirkan tiga pembicara, yakni Saiful Hakam, M.A. Peneliti Antropologi Agama (LIPI), Ardhitya Eduard Yeremia, M.A., Dosen Ilmu Hubungan Internasional (FISIP UI), dan Idris Mesut, selaku pemerhati sejarah klasik (Redaktur Alif.id).

Dengan menceritakan bagaimana Islam dipandang dan pengalaman tentang Islam di Tiongkok, buku ini telah membangun pandangan positif dari para santri bahwa rasa menghormati dan menghargai pada Islam masih terasa di sana dan melunturkan perspektif negatif yang selama ini terbangun di dalam negeri tentang Tiongkok. Kegiatan bedah buku ini dikemas dari berbagai perspektif keilmuan dari hubungan internasional sampai dengan sejarah klasik. Saiful Hakam memaparkan bagaimana Tiongkok selalu dikaitkan dengan komunisme terutama Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam pandangan orang awam Indonesia dan sejarah panjang hubungan Indonesia-Tiongkok dari era Soekarno, Soeharto, hingga kini. Yeremia juga bercerita tentang bagaimana hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok berjalan dan diplomasi publik yang masih perlu ditingkatkan kembali antarkedua negara. Peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Tiongkok juga sangat signifikan, jumlahnya paling banyak dibandingkan mahasiswa yang pergi belajar ke Australia maupun Amerika Serikat. Berdasarkan paparannya, terlihat bahwa hubungan diplomatik Indonesia dan Tiongkok memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan dimulai dari para pelajar Indonesia yang dapat bercerita tentang Indonesia di Tiongkok dan vice versa.

 

Diskusi ini semakin berwarna dengan paparan mendalam terkait Islam dan Tiongkok dilihat dari sejarah dan catatan para pelancong Arab. Menurut Idris, berdasarkan catatan sejarah, para pelancong Arab yang kebanyakan adalah pedagang, sudah melakukan perjalanan ke Tiongkok sejak dulu di mana mereka melakukan perjalanan dari Arab menuju India lalu ke Tiongkok. Ia juga memaparkan bahwa dalam catatan perjalanan yang dituliskan oleh Ibnu Bathutah, kebebasan beragama di Tiongkok sudah ada pada zaman itu di mana masjid dan tempat ibadah lainya diperbolehkan untuk dibebaskan berdiri. Dari sejarah klasik ini, ia kembali mengacu pada buku Islam Indonesia dan Tiongkok dan melihat bahwa apa yang dikhawatirkan ketika berada di Tiongkok seperti tempat ibadah sebenarnya tidak perlu. Hal ini dilihat dari sisi sejarah panjang yang telah merekam bahwa Islam dan toleransi beragama bukan suatu hal yang baru di Tiongkok.  Bedah buku mendapatkan rekomendasi agar apabila dilanjutkan narasi yang dituliskan tidak melulu narasi positif pandangan santri terhadap Islam di Tiongkok, tetapi juga membahas dinamika-dinamika yang terjadi di sana. (Meilinda Sari & Saiful Hakam P2W LIPI)

 

 

Latest Update

 
Mar 15, 2022

Rempah, Alat Niaga Pendorong Pertemuan Lintas Bangsa

News Humas BRIN
Dec 31, 2021

Perdagangan Indonesia-Uni Eropa: Studi Kasus Hambatan Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Uni Eropa

Opinions Catherina Henderson*
Dec 31, 2021

Sejarah Perbatasan di Asia Tenggara: Mengupas Pengelolaan Perbatasan Di Vietnam

Opinions Lamijo
Dec 31, 2021

Ethiopia 2020–2021: Mengulang Masa Kelam Perpecahan Etnis

Opinions Angela Iban
Dec 28, 2021

Kota-Kota Perbatasan di Asia Tenggara: Arti Penting Kota Perbatasan Mong Cai bagi Vietnam

Opinions Lamijo

dokinfosimpegintra lipiepenelitiBanner KIP

Privacy Policy Legal Disclaimer « ISSN 2086-5309 » ContactCopyright © 2022 Research Center for Regional Resources - Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)
News