Jakarta- Belt Road Initiative (BRI) yang dikenal pula dengan nama One Belt One Road (OBOR) adalah kebijakan politik ekonomi luar negeri Tiongkok yang digagas oleh Presiden Xi Jinping pada September 2013. Inisiatif ini bertujuan untuk membangun jaringan perdagangan dan infrastruktur yang menghubungkan Asia dengan Eropa dan Afrika di sepanjang rute jalur sutra kuno.
Kebijakan BRI menjadi isu hangat yang banyak didiskusikan baik oleh lembaga pemerintah, akademisi maupun lembaga penelitian. Pusat Penelitian Sumberdaya Regional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2SDR-LIPI) sebagai lembaga penelitian yang fokus pada kajian areas studies telah melakukan kajian tentang Tiongkok sejak tahun 2005. Merespon isu global tersebut, tim penelitian P2SDR saat ini sedang melakukan penelitian tentang “Impian Tiongkok dan Prakarsa Sabuk Jalan: Peran dan Dampak Sosial Budaya”.
Terkait dengan hal tersebut, P2SDR-LIPI bekerja sama dengan China Center for Contemporary World Studies (CCCWS) menyelenggarakan seminar “ Belt Road Initiative (BRI): Enhancing China and Southeast Asia Connectivity” pada hari Senin, 6 Juni 2018 yang bertempat di Gedung Widyagraha LIPI Lt. 5.

Sumber: Tim Website P2SDR
Pembicara pertama, Mr Jin Xin, menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia dan sebagai negara maritim menjadi partner penting bagi Tiongkok dalam pengembangan ekonomi regional. Ia menambahkan bahwa Tiongkok mempunyai pengalaman berinvestasi dalam pembangunan kawasan industri di beberapa negara, dan pengalaman ini perlu untuk disebarluaskan ke negara-negara tetangga. Ia menjelaskan lebih lanjut, ada lima aspek penting dalam BRI yakni kebijakan koordinasi, fasilitas konektivitas, perdagangan, integrasi keuangan dan kerjasama people to people.

Sumber: Tim Website P2SDR
Wabilia Husnah, lulusan sastra Cina Universitas Indonesia dan salah satu anggota tim penelitian “Impian Tiongkok dan Prakarsa Sabuk Jalan” menjadi pembicara kedua dalam seminar ini. Ia menjelaskan tentang aspek sosial budaya BRI. Menurutnya, BRI mengandung aspek cinta kasih dan harmoni yang dapat memberikan kebahagian bagi masyarakat di negara lain. Namun, pada kenyataannya masih banyak sentimen negatif tentang BRI seperti masuknya pekerja-pekerja Tiongkok yang dibawa bersamaan dengan pembangunan proyek infrastruktur di negara-negara Asia Tenggara.

Sumber: Tim Website P2SDR
Kepala P2SDR LIPI, Ganewati Wuryandari, berharap seminar ini dapat memberikan pemahaman tentang Belt Road Initative (BRI) dan kegiatan ini menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kerjasama dalam kerangka implementasi BRI di masa yang akan datang.
Kegiatan ini diakhiri dengan business meeting yang dihadiri oleh delegasi CCCWS yang terdiri dari Mr. Jin Xin (General Director of CCCWS), Mrs. Xu xu (Research Fellow of CCCWS), Mr. Zheng Dongchao (Associate Research Fellow of CCCWS), Mr. Zhang Xiaojun (Research Assistant of CCCWS), Mr. Xu Hangtian (Political Counselor of the Embassy of PRC) dan para peneliti P2SDR untuk membicarakan potensi kerjasama yang dapat dilakukan oleh kedua CCCWS dan P2SDR-LIPI di masa mendatang (/piks).

Sumber: Tim Website P2SDR