
Jakarta, Humas BRIN. Buku ini membahas isu perdagangan internasional terkait komoditas primer Indonesia dengan Uni Eropa, yang memberikan gambaran mengenai hambatan perdagangan yang bersifat non tarif proses penciptaan, serta dinamika ketegangan dan harmonisasi dalam ruang lingkup produksi dan distribusi komoditas primer Indonesia ke Uni Eropa.
Plt. Kepala Pusat Riset Kewilayahan BRIN, Ganewati Wuryandari mengatakan bahwa, komoditas di Indonesia bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasar global khususnya pasar Uni Eropa. “Hal ini yang mempengaruhi terjadinya pemetaan hambatan perdagangan non-tarif (NTM) dari Uni Eropa (UE) terhadap komoditas primer Indonesia dalam dekade terakhir (2000-2019),” jelas Ganewati, saat membuka acara Diskusi Buku secara daring pada Senin (27/9). “Dalam dua dekade terakhir Indonesia telah melakukan strategi yang hebat khususnya dalam perdagangan, karena itu Indonesia perlu memahami perubahan lingkungan strategis,” ungkap Ganewati.
Koordinator Penelitian Hambatan Perdagangan Nontarif Uni Eropa, Pusat Riset Kewilayahan BRIN, Bondan Widyatmoko, mengatakan ancaman terhadap komoditas primer Indonesia dalam perdagangan internasional dengan Uni Eropa melalui pemberlakuan NTM, dipengaruhi dari perkembangan aktor, pola relasi dan interaksi antar aktor dalam proses perumusan kebijakan perdagangan di Uni Eropa. “Pola NTM yang dikonstruksi Uni Eropa bertujuan untuk memproteksi masing-masing komoditas dan oleh karena itu perlu adanya langkah harmonisasi oleh stake holders di Indonesia untuk menjaga keseimbangan rantai pasok dalam perdagangan komoditas kelapa sawit, pala, udang dan tuna,” jelas Bondan.
“Hal utama yang digunakan sebagai pijakan riset dalam dua dekade terakhir, yaitu Uni Eropa gencar melakukan regulasi dimana hal ini memiliki potensi besar dalam hambatan perdagangan. Konten regulasi, komoditas yang sering terkena adalah kelapa sawit, udang, tuna dan pala,” lanjutnya.
Buku ini terdiri dari 6 bab yaitu: 1) Konvergensi Kebijakan dalam Penerapan NTM Uni Eropa terhadap produksi dan Distribusi Komoditas Primer; 2) Penciptaan Hambatan Nontarif Peran Pebisnis dan Konsumen dalam Proses Perumusan Kebijakan dan Pengambilan Keputusan di Uni Eropa; 3) NTM Uni Eropa dan Perubahan Tata Kelola dalam Komoditas Kelapa Sawit di Indonesia; 4) NTM Uni Eropa dan Perubahan Tata Kelola dalam Komoditas Pala Indonesia; 5) Hambatan Nontarif Komoditas Udang Indonesia di Pasar Uni Eropa : Tinjauan Isu NTM dan Tata Kelola Produksi Berkelanjutan; 6) Hambatan Nontarif Uni Eropa Terhadap Ikan Tuna Indonesia.
Menarik untuk diketahui bahwa komoditas primer tersebut bersinggungan dengan kepentingan politik, maka disitulah muncul permasalahan, ungkap Bondan. Dirinya menyebutkan seputar narasi-narasi yang dapat memberikan pengaruh terhadap pola pikir konsumen. “Pemilik modal berperan untuk mengendalikan kekuatan pasar dengan mengatur regulasi agar sesuai dengan kebutuhan pasar. Maka, terciptalah berbagai kondisi yang membuat komoditas-komoditas tersebut menjadi topik perbincangan dan dimainkan dalam meja negosiasi politik,” pungkas Bondan. (rdn/Ed: mtr)