Jakarta - Hasil penelitian berbasis kajian wilayah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) belum banyak dimanfaatkan. Padahal, kajian wilayah bisa menjadi bahan pertimbangan dalam tahap pengambilan kebijakan. Terutama kebijakan yang berkaitan dengan kerja diplomasi di Indonesia. “Sejauh ini, penelitian area studies hanya menjadi domain pada tataran policy recommendation tetapi tidak pada policy execution,” ujar Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Regional (P2SDR), Dr Ganewati Wuryandari MA dalam talkshow di Auditorium LIPI, Kamis (20/10).
Ganewati berpendapat perlu adanya kolaborasi antara LIPI dengan instansi pemangku kebijakan. Misalnya dalam kebijakan diplomasi bilateral atau multilateral yang berada dalam naungan Kementerian Luar Negeri (Kemlu). LIPI bisa bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kemlu sehingga menghasilkan kebijakan diplomasi yang lebih komprehensif. Apalagi hasil kajian LIPI dihasilkan dari penelitian multi years. Artinya, penelitian LIPI dikerjakan dalam waktu minimal lima tahun. “Selain itu juga para diplomat di Indonesia dilatih untuk menjadi seorang generalis. Berbeda dengan di LIPI yang dididik untuk menjadi spesialis. Misalnya P2SDR yang memiliki spesialisasi area studies,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala BPPK Kemlu, Dr Siswo Pramono menyambut baik hasil-hasil penelitian P2SDR-LIPI. Ia menilai P2SDR-LIPI dengan ciri khas kajian studi wilayah akan memberikan masukan positif untuk rekomendasi kebijakan diplomasi. Selama ini, BPPK banyak bekerja sama dengan lembaga akademis. Ia memberi contoh dalam hal penyelesaian kasus Laut Sulu yang melibatkan kampus Universitas Negeri Manado (Unima) dan Universitas Andalas (Unand). “Kajian yang dihasilkan bersifat policy oriented. Peneliti-peneliti Kemlu banyak memiliki MoU dengan lembaga akademis. Banyak sekali kebijakan diplomasi yang berkaitan dengan area studies,” kata diplomat yang pernah bertugas di Jerman dan Belanda tersebut.
Sebagai informasi, bincang santai bertajuk “The Role of Area Studies on Diplomatic Works” ini merupakan bagian dari acara The 1st International Conference on Social Sciences and Humanities (ICSSH) 2016. Selain Ganewati Wuryandari dan Siswo Pramono, hadir pula sebagai pembicara Dr Adriana Elisabeth (Kepala Pusat Penelitian Politik) dan Dr Alan H Fernstein (AMINEF). Diskusi menarik ini dipandu oleh peneliti P2SDR-LIPI, Dr Ahmad Helmy Fuady.
*fik