Bantu Produsen Susu, BRIN Ciptakan Mesin Pasteurisasi Non-Thermal untuk Produk Susu Segar
Humas BRIN, Bandung. Susu segar merupakan salah satu asupan gizi yang penting bagi masyarakat dan ini sangat mempengaruhi generasi penerus bangsa. Menurut Kementerian Pertanian, tingkat konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia tahun 2020 adalah 16,27 kg/kapita/tahun, meningkat 0,25 persen dari tahun 2019, namun jumlah ini masih di bawah negara ASEAN lainnya seperti Malaysia (36,20, Myanmar (26,7), dan Thailand (22,2). Sedangkan kebutuhan nasional sesuai Indonesia itu adalah di kisaran 4,5 juta ton tetapi produksi yang dapat dipenuhi oleh para peternak itu hanya di kisaran 84,6 ribu. Kendala yang dihadapi pihak peternak adalah keterbatasan masa simpan susu.
Peneliti Madya, Pusat Riset Telekomunikasi BRIN, Robeth Viktoria Manurung, mengembangkan inovasi berupa Mesin Pasteurisasi Non-Thermal untuk Produk Susu Segar. Hasil riset ini ia paparkan dalam acara “Diseminasi Inovasi dan Teknologi Kerjasama Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP2D) Jawa Barat dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional,” yang diselenggarakan secara virtual pada Jumat (27/5). Bersama dengan dua peneliti lainnya, yaitu Haries Satyawardhana dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer serta Desak Gede Sri Andayani dari Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih, Robeth untuk memperkenalkan hasil riset dan pengembangan alat tersebut.
Mengawali acara ini, Linda Al Amin, Kepala BP2D Jabar dalam sambutannya menyampaikan BP2D Jawa Barat mempunyai komitmen untuk membangun kolaborasi yang kuat dengan berbagai pusat inovasi, khususnya dengan BRIN, yang bertujuan untuk mensupport misi Jawa Barat, yaitu menghasilkan berbagai inovasi dan teknologi sebagai upaya apa untuk mempercepat meningkatkan kualitas pembangunan daerah. “Salah satu upaya yang kami lakukan adalah melalui diseminasi, perlunya disebarkan dan disosialisasikan kepada para user, kepada para Kepala Daerah yang membutuhkan dukungan inovasi dan teknologi ini,” ungkap Linda.
Dalam paparannya Robeth menyampaikan bahwa yang melatar belakangi riset ini adalah adanya kendala yang dihadapi industri nasional berbasis susu, mereka menerapkan dengan teknik pasteurisasi thermal/UHT sehingga dapat menekan jumlah bakteri yang ada sehingga masa simpannya agak panjang akan tetapi terjadi sebuah efek di mana kandungan nutrisi imunoglobin fosfor enzim lipase dan bahkan vitamin B6 itu terdegradasi sehingga kualitas nutrisi yang ada itu menjadi kurang baik dibanding dengan susu segar yang langsung dari para peternak.
“Kami para peneliti mencoba menerapkan sebuah teknik atau cara yang sudah banyak diterapkan khususnya di negara-negara Eropa sebagai penghasil susu dunia. Sebuah metode yang dinamakan dengan Pulsed Electric Field, jadi elektrik itu adalah metode yang berbasis tanpa pemberian pemanasan untuk mengawetkan makanan mereka menerapkan apa yang dalam pemberian shortfalls elektrik jadi ke medan listrik dan berbentuk pulsa yang ditembakkan ke sampel makanan tersebut,” jelas Robeth.
Robeth selanjutnya menerangkan tujuan dari alat ini yaitu untuk mengurangi jumlah total bakteri atau netral dari susu segar yang untuk bisa dapat memperpanjang usia penyimpanan susu tetapi tidak merusak kadar nutrisi yang ada demikian juga dengan rasa maupun juga tampilan secara warna. Dan secara prinsip juga dapat menambah masa simpan cukup lebih lama dengan kualitas yang masih bagus dan juga efektivitas dalam menekan jumlah bakteri itu juga cukup baik. “Jadi harapannya di sini ada startup company yang bisa kerjasama atau memanfaatkan teknologi kami misalnya produk susu dan turunannya demikian juga dengan makanan segar lainnya seperti jus dan sebagainya. Bahkan kami ke depan juga akan mencoba untuk mengaplikasikan ke makanan padat seperti kentang, kemudian juga buah-buahan atau pun juga dengan bahan daging, seperti itu, kita melihat bagaimana performanya,” tutup Robeth. (NU, ed kg)
Sivitas Terkait : {nama}