Sanicamp : Kesadaran Akan Pentingnya Sanitasi Bagi Generasi Muda

Bandung-Humas BRIN.  Persoalan sanitasi adalah persoalan krusial, karena manyangkut hajat hidup dan kesehatan masyarakat. Namun tidak semua orang melaksakan prinsip-prinsip sanitasi, yang mungkin disebabkan kesadaran yang rendah atau pun kurangnya pengetahuan mengenai sanitasi. Mengutip pengertian istilah dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sanitasi merupakan usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yang baik di bidang kesehatan, terutama kesehatan masyarakat; dan sanitasi lingkungan merupakan cara menyehatkan lingkungan hidup manusia terutama lingkungan fisik, yaitu tanah, air, dan udara. Salah satu aspek fisik dari kesehatan masyarakat adalah yang terkait dengan persediaan air minum dan pembuangan limbah, baik limbah rumah tangga maupun limbah industri. Tidak jarang kita dapat melihat tidak tertatanya saluran limbah yang akhirnya mencemari lingkungan dan menjadi media penyebaran penyakit.

Peran penting sanitasi dalam kehidupan, menjadikan hal tersebut menjadi salah satu prioritas dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Tujuan keenam dari SDGs adalah menjamin ketersediaan dan manajemen air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan bagi semua. Bank Dunia pada 2014 mengingatkan 780 juta orang tidak memiliki akses air bersih dan lebih dari 2 miliar penduduk bumi tidak memiliki akses terhadap sanitasi. Akibatnya ribuan nyawa melayang tiap hari dan kerugian materi hingga 7 persen dari PDB dunia.

Dalam rangka mendukung SDGs, Badan Riset dan Inovasi Nasonal melalui Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) menggagas kegiatan SaniCamp, yang diselenggarakan pada tanggal 29 Januari 2022. Kegiatan tersebut melibatkan 3 negara, yaitu Indonesia, Jepang dan Zambia. Masing-masing negara menampilkan pandangan terkait kondisi dan kemajuan sistem sanitasi, yang disampaikan oleh lembaga riset dan pelajar dari sekolah setingkat SMA. Pelajar perwakilan dari Indonesia berasal dari SMA Negeri 16 Bandung, pelajar perwakilan dari Jepang berasal dari Furano High School – Hokkaido, dan pelajar Zambia berasal dari Dziko Langa – Lusaka.

Dalam acara 1st SaniCamp tersebut, Dr. rer. nat Neni Sintawardani, peneliti dari LPTB menyampaikan paparan terkait sanitasi dan teknologi alternatif. Dilatarbelakangi oleh adanya keterbatasan ketersediaan air baku dan air bersih yang tidak seimbang dengan penggunaan yang ada, serta prosentasi yang tinggi dari penggunaan air untuk sistem sanitasi (untuk flushing, dsb), Neni mengembangkan sistem sanitasi bio-toilet dengan menggunakan serbuk gergaji, dimana sifat dari serbuk gergaji dimanfaatkan untuk menetralisir bau. Sistem sanitasi tersebut dikembangkan dengan memisahkan antara urin dan fases. Limbah dari teknologi yang dikembangkannya, sebagai kombinasi dari serbuk gergaji dan fases/urin, dapat digunakan sebagai pupuk berbagai tanaman, yang diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas pertanian. Dalam hal ini, Neni menggunakan cara berpikir positif terhadap keberadaan fases, urin, dan sampah. Urin, fases, dan sampah yang sifatnya kotor, tidak bernilai dan membebani lingkungan dalam cara pandang negatif, dengan menganut cara berpikir positif, dapat diperlakukan (recovery, reduce, reuse, repair and recycle) sehingga menjadi lebih bernilai, memberikan nutrisi bagi pertanian, dan menjadi sumber energi. Tentunya hal tersebut dapat diwujudkan dengan dukungan komitmen, disiplin, serta kesadaran penuh dari seluruh stakeholder terkait.

Dalam paparannya, Neni juga menyampaikan beberapa perhitungan terkait potensi nutrient recovery dari fases dan urin di wilayah Kiaracondong. Dengan produksi fases rata-rata individu sebesar 120,6 gram per hari per orang dan produksi urin 1,294 kg per orang per hari, maka dapat diprediksi memberikan nutrient recovery sebesar 350 ton nitrogen per tahun, 197 ton fosfor per tahun, dan 207 ton kalium per tahun. Jika potensi nutrient recovery ini dapat terjadi, maka beban lingkungan akan berkurang. Pada saat ini, buangan limbah rumah tangga di Kecamatan Kiaracondong telah menjadi beban lingkungan, seperti yang disampaikan oleh Fauzan, perwakilan siswa SMA 16 Bandung, yang telah melakukan pengamatan terkait kondisi sanitasi lingkungan di sekitar sekolah dan tempat tinggalnya. Masih banyak bagian dari masyarakat yang belum memiliki kesadaran terhadap pentingnya sanitasi lingkungan, sehingga kita dapat melihat sungai-sungai yang kotor, sistem drainase dengan bau yang tidak sedap, sampah yang menumpuk tidak pada tempatnya, dan sebagainya.

Tidak jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia, di Zambia pun masih menghadapi persoalan sanitasi lingkungan dengan adanya penumpukan sampah tidak pada tempatnya, WC umum yang kurang layak, dan sistem drainase yang buruk. Tergugah dari kondisi tersebut, peneliti-peneliti dari Zambia mengembangkan WASH melalui photovoice dan seni, untuk dapat memperoleh pemahaman berbagai persoalan sanitasi dan membangun solusi-solusinya.

Berbeda dengan Indonesia dan Zambia, Jepang telah memiliki sistem sanitasi yang lebih baik. Jepang merupakan salah satu negara yang sangat peduli dengan kebersihan lingkungan. Selokan dan sungai-sungai di Jepang terlihat bersih dan dapat menjadi tempat hidup berbagai jenis ikan. Hal tersebut, selain karena teknologi yang lebih maju, juga didukung sistem hukum lingkungan dan kontrol yang sangat ketat. Namun, hal tersebut tidak berarti Jepang tidak mengalami persoalan dalam sanitasi lingkungan ini. Saat ini, komunitas lokal di Jepang menghadapi depopulasi dan masyarakat lanjut usia yang dikonter oleh adanya infrastruktur yang sudah tua dan penurunan kemampuan pemerintah lokal dalam keuangan dan tenaga kerja. Dengan adanya kondisi tersebut, para pelajar Furano High School mengangkat persoalan ‘bagaimana mempertahankan kualitas air yang sudah baik’ dalam paparan di 1st SaniCamp 2022. Dengan analisis yang telah mereka lakukan, para pelajar memisahkan beberapa tugas pemeliharaan sistem suplay air, antara yang sebaiknya dikerjakan oleh pemerintah lokal dengan yang sebaiknya diserahkan kepada masyarakat sebagai bentuk partisipasi dan kepedulian terhadap lingkungan, termasuk peran mereka sebagai pelajar SMA.

Sebagai kesimpulan dari acara tersebut, Neni menyampaikan bahwa sebagai generasi muda, kita harinya terlibat secara aktif untuk mempertahankan dan memelihara kondisi lingkungan sehingga menjadi lebih baik. Selain itu, kita juga harus memiliki sikap yang kritis untuk peduli terhadap kondisi sanitasi di sekitar kita. Dengan menggunakan pengetahuan baru yang terus berkembang, kita harus terus berusaha mempengaruhi komunitas untuk lebih memperhatikan lingkungan, termasuk sistem sanitasi lingkungan. Hal tersebut kita lakukan atas dasar kesadaran penuh bahwa kita hidup di perahu yang sama, Bumi. Neni juga mengharapkan bahwa gerakan komunitas seperti Jumat Bersih yang ada di Bandung, dapat lebih memperkuat sense of environmental care dari setiap pelajar. Transfer teknologi juga memiliki peranan penting dalam memperbaiki kondisi sanitasi di negara-negara lain. Namun berbagai kemajuan teknologi tentunya membutuhkan dukungan dan pendekatan sosio-budaya agar dapat diterapkan secara efektif dan efisien. Mari bersama-sama memperbaiki sanitasi lingkungan kita. Diakhir acara, Neni juga menyampaikan apresiasinya terhadap para perwakilan pelajar SMA 16 Bandung, yang telah secara aktif mengikuti kegiatan 1st SaniCamp 2022. (IS, LIS/ ed. kg)