LPTB Gelar Lokakarya Sanitasi Di SMA Negeri 16 Bandung

Humas BRIN, Bandung. Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) BRIN mengadakan “Lokakarya Pemaparan Hasil Pengamatan Siswa pada Kondisi Sanitasi di Lingkungannya” yang diikuti oleh siswa SMA Negeri 16 Bandung pada Jumat (24/12). Lokakarya ini merupakan salah satu bentuk kerjasama antara LPTB BRIN dengan SMA Negeri 16 Bandung.
Neni Sintawardani, Peneliti Utama dalam studi Sustainable Sanitation pada kegiatan penelitian di LPTB BRIN, memberikan pengarahan pada para siswa untuk dapat berdiskusi dalam lokakarya ini. Pokok diskusi dalam lokakarya ini adalah pemasalahan sanitasi lingkungan yang merupakan hasil pengamatan para siswa sebagai tugas dari pertemuan sebelumnya. Selanjutnya siswa dapat menarik kesimpulan serta memberikan usulan berupa solusi terhadap permasalahan yang telah diamati.
Atep Didin Haerudin, perwakilan guru pembimbing SMAN 16, menyampaikan harapannya bahwa siswa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan tersebut dengan sebaik-baiknya. “Karena kegiatan ini merupakan kesempatan yang langka, bukan hanya mewakili SMA 16, bukan hanya mewakili Kecamatan Kiaracondong, ataupun mewakili Bandung, namun dapat menjadi mewakili Indonesia,” ujar Atep.
Topik yang diangkat dalam diskusi kelompok para siswa diantaranya adalah permasalahan pada sampah, air bersih, saluran drainase, dan sungai. Sesi selanjutnya merupakan diskusi gabungan seluruh siswa terkait dengan berbagai solusi dari permasalahan yang mereka amati.
Di tengah diskusi, Neni menjelaskan bahwa kesadaran masyarakat yang rendah akan keterbatasan kuantitas dan kualitas sumber daya seperti air, sering kali menjadi sumber permasalahan sanitasi lingkungan. “Kesadaran diri untuk mengurangi sampah, harus mulai dari diri sendiri. Di sekolah sudah mulai dilakukan, tapi apakah diri sendiri sudah melakukan? Tidak ada tas keresek lagi, hilangkan gengsi untuk membawa belanjaan ditumpuk di tangan, menggunakan tas keresek berkali-kali, menghabiskan makanan, menggunakan ulang botol kemasan,” tegas Neni.
Neni menambahkan, perubahan iklim tidak bisa dinafikan untuk tidak terjadi. Perubahan iklim dari dulu terjadi, tapi siklus saat ini singkat. “Kita harus memperlambat agar kenaikan suhu dengan mengubah pola pikir dan pola konsumsi. Kita tidak perlu terpengaruh oleh apa yang ada di Facebook atau di Youtube,” terang Neni.
Di akhir sesi, Neni menekankan kembali hasil diskusi para siswa untuk membangun kesadaran diri serta ikut serta untuk mengurangi sampah. Neni mengingatkan bahwa solusi bagi persoalan sampah merupakan hal yang mudah, mengurangi sampah dengan membakarnya, kadang tidak menjadi solusi yang tepat. “Pembakaran sampah di hutan tidak akan menjadi masalah, karena lingkungan sekitarnya dapat menetralisir karbondioksida yang dihasilkan. Namun jika pembakaran sampah dilakukan di lingkungan perumahan yang padat, tentunya hal tersebut akan menjadi polusi bagi manusia,” tandasnya (IS, ed : KG).