Webinar Riset Monitoring & Teknologi Bersih BRIN

Humas BRIN. Bandung, Pencemaran telah menjadi masalah serius bagi keberlangsungan kehidupan. Berbagai data mengungkap dampak buruk pencemaran seperti air yang tidak hanya berbahaya bagi manusia tapi juga lingkungan tempat kita tinggal. Pencemaran air terjadi ketika ada zat, energi atau komponen tertentu yang masuk ke dalamnya sehingga menurunkan kualitas air.
Berbagai hal bisa menjadi faktor pencemar seperti limbah industri dan rumah tangga, pengangkapan ikan menggunakan racun, penggundulan hutan, dan sebagainya. Loka Penelitian Teknologi Bersih BRIN berusaha menyediakan berbagai alternatif solusi pencemaran khususnya perairan. Melalui Webinar “Riset Monitoring Dan Teknologi Bersih Untuk Konservasi Sumber Daya Alam Perairan”, para narasumber memaparkan berbagai perkembangan terknini riset di bidang teknologi bersih.
Plt Kepala OR IPT – BRIN Dr. Eng. Agus Haryono menekankan perlunya para peneliti riset di bidang lingkungan untuk konsolidasi dan kolaborasi sehingga kegiatan penelitian bisa terlaksana dengan lebih baik lagi. Hal tersebut sedang BRIN lakukan sebagai upaya membangun rumah program riset yang fokus dalam menjawab permasalahan lingkungan. Dirinya percaya riset yang selama ini LPTB lakukan bisa membantu kinerja riset di lembaga-lembaga lain. “Berkaitan dengan hari pahlawan saya berharap semoga jiwa pahlawan yang kita peringati hari ini makin menggairahkan riset-riset di bidang lingkungan,” tuturnya.
Kepala LPTB BRIN Dr. Ajeng Arum dalam sambutannya memaparkan kolaborasi periset di LPTB BRIN selama ini dalam bidang teknologi bersih. Ia mengatakan LPTB BRIN telah berkomitmen mencurahkan berbagai fokus penelitiannya dalam menjawab berbagai persoalan lingkungan di Indonesia. Ajeng juga menyampaikan beberapa contoh riset yang telah dan sedang berlangsung di LPTB BRIN seperti pengolahan air limbah tahu menjadi sumber energi biogas, toilet pengompos, pengembangan bioplastik antibakteri berbasis nata de coco, hingga penelitian-penelitian yang berkenaan dengan penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia. “LPTB BRIN mendukung penerapan model pentahelix dalam penerapan riset,” ujarnya.
Webinar yang berlangsung sejak pukul 9 pagi hingga 12 siang ini menghadirkan 5 pembicara yang menaruh perhatian pada konservasi sumber daya perairan, monitoring lingkungan, dan teknologi bersih. Pembicara pertama Luckmi Purwandari, S.T., M.Si membawakan topik “Penerapan Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air”. Dalam paparannya ia menyampaikan bahwa ada Ada 2 isu utama terkait Daerah Aliran Sungai (DAS). Yaitu: kerusakan lingkungan dan pencemaran air. Dampaknya erosi, fluktuasi debit, polusi yang terlampau banyak dan air yang terlalu banyak atau justru terlampau sedikit. Di danau ada juga permasalahan: peningkatan sedimentasi, penurunan kualitas air danau, penurunan keanekaragaman hayati danau, dan pada akhinrya menyebabkan penurunan kesejahteraan masyarakat, “Secara garis besar pengelolaan air adalah state atau pemantuaan kualitas air, pressure; inventarisasi sumber pencemar dan perhitungan beban pencemar, respon; aksi pengendalian pencemaran air, prokasih; monitoring dan evaluasi,” tegasnya.
Pembicara kedua Prof. Dr. Ir. Tarzan Sembiring juga turut menerangkan beberapa faktor pencemaran udara, perairan atau tanah di DAS. Kegiatan pertanian yang sembarangan dengan menggunduli area hulu menyebabkan banjir dan longsor di hilir. Dirinya lalu menerangkan teknologi risetnya berupa teknologi tanaman vetiver. ini bisa digunakan untuk bantaran sungai, tumpahan minyak logam berat, air limbah pencucian mobil. Limbah pencucian mobil banyak mengandung deterjen logam berat. Pengolahan limbah dapur dengan vetiver bisa memperkuat bantaran sungai dan berpotensi mencegah erosi. “Sistem wetland juga bisa dipakai untuk remediasi lahan tercemar, sementara karamba jarring apung bisa menghilangkan potensi pencemaran eutrofikasi dan pendangkalan waduk,” ungkapnya.
Pembicara selanjutnya Prof. Dr. Ir. Myrtha Karina Sancoyorini, M.Agr mengemukakan teknologi risetnya mengenai bakteri selulosa. Bakteri Selulosa diproduksi oleh aktivita bakteri yang biasanya bersifat nonpatogen tetapi yang paling umum produksinya baik adalah dari spesiesl Komagataebacter. Bakteri selulosa bisa dimanfaatkan untuk berbagai produk seperti bioplastik. Air kelapa adalah media yang paling banyak digunakan di seluruh dunia untuk memproduksi bakteri selulosa, karena keberadaannya yang melimpah, bisa diperoleh sepanjang tahun, mudah diperoleh dan relatif ekonomis. “Meskipun sumber medianya berbeda-beda, tidak terdapat perbedaan karakteristik selulosanya yang signifikan,” jelasnya.
Pembicara ke – 4 ialah Dr. Desak Gede Sri Andayani, M.Si yang mengangkat tema ‘Valorisasi limbah cair tahu dan molase menjadi pestisida hayati/agen biokontrol menggunakan hasil isolasi dari tanah vulkanik’. Sekilas ia mengungkapkan bahwa industri tahu di jabar ada dimana-mana dan bermasalah jika limbahnya langsung dibuang ke lingkungan. Bahan dasar limbah tahu ini lalu diproses sehingga bisa menjadi Nano biopestisida. Produk ini sangat menghambat patogen pada tanaman manggis. “Keberadaan nano biopestisida ini memiliki berbagai keunggulan seperti bahan baku yang melimpah dan relatif murah,” tuturnya.
Memungkas webinar hari ini, pembicara terakhir Mariska Pitoi mengantarkan materi ‘Green Analytical Chemistry (GAC) in Environmental Monitoring of Emerging Contaminants’. Emerging Contaminats (EC) meskipun dalam jumlah kecil bisa memengaruhi kehidupan. Efeknya ke sistem endokrin/hormone sangat besar meskipun konsentrasinya rendah. Jenis EC seperti obat-obatan yang kadaluarsa, shampoo/sabun yang mencemari, hingga industri kimia lain selama ini belum begitu mendapatkan ekspose; terutama terkait regulasi ataupun tingkat toksiknya padahal dipercaya beresiko bagi lingkungan dan manusia. “Di LPTB kami melakukan miniaturisasi metode, volume sampel yang sedikit hingga analisisnya multiresidue untuk memenuhi prinsip GAC,” pungkasnya.
Webinar ini diikuti oleh lebih dari 70 peserta yang berasal dari berbagai lembaga riset, perguruan tinggi, dan pemerintahan. Setelah sesi tanya jawab, beberapa peserta yang beruntung mendapatkan bingkisan menarik dari panitia webinar. AS