Daur Ulang, Metode Murah Atasi Limbah Masker

Bandung, Humas LIPI. Hari ini kita melihat banyak bendera kuning terpasang di gang-gang, jalanan, dan komplek perumahan. Bisa jadi mereka adalah kerabat, tetangga, handai taulan, atau bahkan keluarga kita sendiri. Korban kian berjatuhan. Pandemi COVID-19 belum usai; kurvanya justru semakin meningkat. Tiga puluh ribu lebih kasus harian di Indonesia, menempatkan negeri ini pada 3 besar kasus harian tertinggi di dunia. Hal itu juga berbanding lurus dengan penggunaan masker yang semakin banyak. Menurut sebuah studi, terdapat 129 miliar masker wajah yang digunakan di seluruh dunia setiap bulannya atau 3 juta masker per menit. Kita patut waspada! Jangan sampai setelah pagebluk ini mereda, limbah masker justru menggunung.
“Ada 270 juta penduduk. Anggap setengahnya menggunakan masker ini itu kan ada 130 juta. Anggap berganti tiap hari ini rasanya sudah 100 ton per hari,” tutur Peneliti Plastik Dr. Akbar Hanif Dawam Abdullah kepada Al-Jazeera Network untuk program 101 East, Kamis (8/7). Sebuah program liputan mendalam milik kanal berita Al-Jazeera. Sudah lebih dari satu setengah tahun Dawam beserta tim dari Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) LIPI, bekerja keras menyediakan solusi ilmiah bagi ancaman limbah masker di Indonesia. Usahanya tidak sia-sia karena inisiasi kerja samanya untuk mendaur ulang limbah masker mendapatkan apresiasi dan respon positif dari netizen tanah air.
Sempat viral beberapa hari lalu, para pengguna internet bersemangat untuk mengumpulkan dan mengirimkan masker bekas sekali pakai mereka ke Yayasan Upakara. Yayasan Upakara sendiri bekerja sama dengan LPTB LIP untuk mengumpulkan masker bekas pakai untuk diolah menjadi bahan daur ulang. Tentu dengan prosedur khusus. Dawam juga menyarankan berbagai pihak untuk mulai menyediakan drop box khusus masker bekas. Itu memudahkan proses pengolahannya sejak awal. Terlebih Dawam juga menilai industri di Indonesia sebenarnya sudah siap dalam bisnis ini. Fasilitas daur ulang limbah plastik tersedia lengkap. “Banyak sekali asosiasi-asosiasi daur ulang plastik jadi sebenarnya masyarakat kita itu ready,” terangnya.

Daur ulang plastik juga menjadi hal penting terkait rantai nilai dan ekonomisnya. Plastik sejatinya berasal dari minyak bumi yang melalui proses panjang. Dipotong, dipolemirisasi, dibentuk dan berbagai langkah rumit lainnya sehingga menjadi masker yang biasa kita pakai. Setelah jadi hanya dipakai beberapa jam dan lalu dibuang atau dibakar. Teknologi daur ulang memungkinkan nilai dari material bekas yang sulit dibuatnya ini tidak jatuh begitu saja. Ia bisa direka ulang dalam bentuk lain seperti pot, kursi, dsb. Faktor lain adalah kelestarian lingkungan. “Jika hanya sampai di TPA maka berpuluh-puluh tahun dia akan hanya menjadi plastik seperti ini kemudian ketika masuk ke dalam aliran sungai, laut. Itu akan mencemari,” ungkapnya.
Oleh karena itulah, Dawam sekali lagi mendorong pemerintah bisa mengeluarkan regulasi khusus yang mengatur daur ulang limbah plastik. Itu akan menjadi pengungkit yang baik bagi dunia industri seperti juga UKM-UKM daur ulang yang selama ini ada. Dawam sendiri mengaku belum pernah mengetahui implementasi daur ulang serupa di negara lain di ASEAN. “Unik,” seru Dawam, mengutarakan pendapat salah satu koran asing yang pernah meliput penelitiannya. Ia yakin daur ulang adalah teknologi paling sederhana, murah, dan bebas emisi. Pemanasannya ‘hanya’ mencapai 170 derajat Celsius sehingga hampir tidak ada emisi terbuang. “Kita harus konsisten satu sisi kita kampanye penggunaan limbah plastik tapi, tanpa disadari kita membuagn plastik kita setiap hari,” sergahnya.
Selama pandemi belum usai, masker tetap akan menjadi salah satu komoditi utama penghasil limbah plastik. Dawam dan tim peneliti LPTB LIPI akan terus berupaya menghadirkan teknologi alternatif untuk mengurangi penggunaan plastik konvensional. Diantaranya melalui riset bioplastik sehingga penggunaan plastik-plastik yang ada saat ini bisa berkurang. Hal itu selaras dengan poin-poin Millennium Development Goals (MDGs) yang mengedepankan tidak hanya efektif dan efisien tapi juga berkelanjutan. “Apakah anak cucu kita bisa nyaman menikmati fasilitas yang dihasilkan oleh teknologi itu sama dengan kita atau lebih baik,” pungkasnya. AS