Signifikansi Penelitian di Era Society 5.0

Bandung, Humas LIPI. Perkembangan teknologi informasi semakin mendorong arah hidup umat manusia menuju era Society 5.0. Era dimana masyarakat berpusat pada keseimbangan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang sangat mengintegrasikan ruang siber dan ruang fisik. Memanusiakan manusia dengan teknologi. Pentingnya era ini menjadi topik utama Chemical Engineering Annual Competition (ChEACo) 2021 yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Sabtu (29/5/21) secara daring.

Kepala LPTB LIPI Dr. Ajeng Arum Sari didapuk menjadi narasumber dalam seminar yang bertajuk “Peran Generasi Muda Dalam Menghadapi Era Society 5.0” ini. Duduk bersama Tenaga Ahli Menteri ESDM, Dr. Sripeni Inten Cahyani, Ajeng menyampaikan krusialnya peranan penelitian untuk mendukung masyarakat dalam memasuki era Society 5.0. Hidup di era digital, menurut Ajeng, mendorong keterbukaan dan kemudahaan akses informasi. Berbagai revolusi industri yang telah dan tengah terjadi pada akhirnya memudahkan aktivitas-aktivitas manusia. Mulai dari pertanian, kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Jika revolusi industri 4.0 menanamkan teknologi cerdas yang saling terhubung dengan keseharian manusia, maka Society 5.0 adalah fase dimana manusia menikmati berbagai inovasi yang lahir dari industri 4.0. “Teknologi akan hidup berdampingan dengan manusia untuk meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan,” tuturnya.

Lebih jauh Ajeng memaparkan, berbagai teknologi dalam era Society 5.0 di Jepang seperti bidang kesehatan. Orang tidak perlu lagi mengantre untuk mendapatkan layanan kesehatan tetapi langsung secara otomatis melalui aplikasi. Kendaraan ambulans yang otonom, operasi yang bisa berlangsung dalam jarak jauh menggunakan robot, hingga layanan medis dalam bentuk virtual reality. Hanyalah segelintir contoh implementasi pada era Society 5.0 ini. Pada akhirnya, Ajeng percaya bahwa Society 5.0 akan melahirkan Kota Digital. Sebuah kota ideal berbasis inovasi teknologi dan inovasi sosial, memberantas kemiskinan, mengubah keanekaragaman menjadi asset dinamis, dan pusat jaringan global yang menghubungkan kota-kota ekonomi. “Hadir Kota Digital tentu membutuhkan penelitian sebagai upaya pemcahan masalah, misalnya limbah yang hadir karena proses industri,” ungkapnya.

Sebagai peneliti, Ajeng juga menjelaskan beberapa tahapan suatu penelitian. Ia menggarisbawahi pentingnya mencari topik penelitian yang memang menjadi ketertarikan. Misalnya, mengamati lingkungan sekitar dan menemukan bahwa sungai di sekitar rumah tercemar. Tentu penasaran dan setidaknya ingin mengetahui apa penyebab dan solusinya. Karena itulah, peka, kritis, dan kreatif adalah modal utama seorang peneliti. “Ada 5 modal utama peneliti di era Society 5.0 ini yaitu: profesionalitas, daya kompetitif, kompetensi fungsional, keunggulan partisipatif, dan kerja sama,” tegasnya.

Peraih Hitachi Award 2020 ini juga tidak luput menginformasikan kesiapan LIPI sebagai sentra kolaborasi bagi para pemangku kepentingan. LIPI membuka akses infrastruktur riset bagi siapapun yang ingin berkolaborasi dan meneliti untuk kepentingan bangsa. Ajeng yakin riset meningkatkan ekonomi. Mekanisme pengembangan teknologi dalam produksi melibatkan pendidikan, penelitian dan pengembangan, inovasi dan juga kegiatan ekonomi. “Alat-alat yang ada di LIPI itu terbuka dan siapapun bisa mengaksesnya untuk menghasilkan ekonomi kreatif sehingga produk-produk inovatif lebih banyak tercipta,” terangnya.

Ajeng mencontohkan salah satu produk riset unggulan LIPI pada upaya penanganan pandemi COVID-19 yaitu HFNC. High Flow Nasal Cannula (HFNC) adalah produk inovasi LIPI yang dikembangkan Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronok (TELIMEK) untuk membantu pasien positif COVID-19 bernafas dengan lebih baik. Alat ini sudah mendapatkan paten, lolos uji, dan dipasarkan oleh mitra industri. “Contoh pentingnya kontribusi riset bagi society 5.0,” serunya.

Senada dengan Ajeng, Dr. Sripeni Inten Cahyani percaya bahwa “Memanusiakan manusia dengna teknologi” adalah kata kunci era Society 5.0. Baginya, ini adalah saat umat manusia “Memanen” ragam upaya pengembangan teknologi di masa-masa sebelumnya. Intinya teknologi ada untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Inten menekankan bahwa peranan para mahasiswa dalam mendukung era society 5.0 amat esensial. Ia mendorong para mahasiswa untuk terus mengasah aspek kognisi, keterampilan atau soft skill, dan penguasaan teknologi agar bisa bersaing di tengah kompetisi yang kian dinamis. “Disinilah peran pendidik sebagai fasilitator, mentor, dan inspirator amat dibutuhkan,” pungkasnya. AS