Nanoteknologi di Masa Pandemi

Nano science

Bandung, Humas LIPI. Teknologi tidak hanya berkembang semakin cepat tetapi juga semakin kecil. Komputer yang ukurannya dahulu begitu besar kini jauh lebih ringkas. Bertambahnya kecepatan komputer dari waktu ke waktu, meningkatnya kapasitas hardisk dan memori, semakin kecil dan bertambahnya fungsi telepon genggam, adalah contoh-contoh kongkrit dari perkembangan teknologi nano di bidang IT. Faktanya, nanoteknologi tidak hanya terbatas pada dunia IT.

Aplikasi nanomaterial dan nanoteknologi sudah merambah bidang kosmetik, pertanian dan pangan, tekstil, bioteknologi dan lain sebagainya. Pada masa pandemi COVID-19 sekarang ini, pemanfaatan nanoteknologi semakin mengemuka. Antara lain, Pengembangan Sistem Deteksi Cepat (Rapid Test) untuk Antibodi COVID-19 Berbasis Nanopartikel Fluoresensi dari Pusat Penelitian Kimia LIPI, teknologi sterilisasi Airborne nano-Trapping Technology for Anti Covid Treatment (ATTACT) besutan Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI, hingga Nano Masker dari Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) LIPI.

Peneliti sekaligus koordinator kelompok penelitian Nanoteknologi Lingkungan LPTB LIPI, Dr. Muhamad Nasir, M.Si menegaskan pentingnya pengembangan riset di bidang teknologi sebagai bagian dari penanganan COVID-19. Salah satunya dengan mengembangkan satu-satunya nano masker di Indonesia. Nano masker terbuat dari seratus persen material berukuran nano entah itu serat maupun filter. Efektivitas bacterial filter efficiency nano masker bahkan mencapai 99,9%. “Fiber itu ukuran nano sekitar 200 nano dan ada juga nano partikel lain,” jelas Nasir.

Tidak seperti kebanyakan masker micro fiber pada umumnya yang terasa pengap jika digunakan terlalu lama. Bernafas menggunakan nano masker jauh lebih mudah karena sirkulasi udara yang lebih baik. Tingkat permeability udara nano masker jauh lebih baik dibandingkan masker biasa sejenis micro fiber. Daya tahan nano masker juga sama baiknya dengan masker-masker berbahan fiber pada umumnya. Bisa digunakan berulang kali dengan pemakaian yang wajar. “Nanomasker kita ini bisa tahan bertahun-tahun sesuai dengan sifat bahannya,” tegas Nasir.

Nanomasker saat ini masih berada pada tahap pengujian laboratorium supaya kualitasnya akhirnya benar-benar optimal. Tidak hanya nanomasker, Kelompok Penelitian (Kelti) Nanoteknologi Lingkungan juga meriset terobosan-terobosan lain di bidang nanoteknologi. “Kita melihat nanoteknologi atau nano science dalam perspektif lingkungan. Pertama apapun yang riset yang kita lakukan maka kita harus concern dampaknya terhadap lingkungan,” terang Nasir. Ia mengutarakan 3 filosifi riset yang Kelti Nanoteknologi Lingkungan LPTB LIPI terapkan yaitu: pengembangan riset nanoteknologi/nanomaterial lingkungan, pemanfaatannya, dan pemantauannya di lingkungan.

Riset nanoteknologi dan nanomaterial di LPTB LIPI sudah berlangsung sejak 2016. Nasir percaya penggunaan nanoteknologi atau nanomaterial itu sendiri sudah mengurangi dampak lingkungan. Misalnya, seseorang membutuhkan 1 kg material biasa untuk membuat sebuah karbon penyerap, maka hanya dibutuhkan beberapa gram nanokarbon saja untuk hasil dan kualitas penyerap yang setara atau bahkan lebih baik. Walhasil, riset nanoteknologi dan nanomaterial di LPTB LIPI telah menghasilkan beberapa produk riset mumpuni.

Kelompok penelitian ini sudah menciptakan beberapa produk riset seperti edible nano straw, nanokarbon penyerap logam, filter air berbasis nano, dan produk riset lain yang masih dielaborasi. “Ketiga kita mengembangkan riset bagaimana nanomaterial ini ketika di lingkungan,” lanjut Nasir. Tidak bisa dipungkiri, pesatnya riset pada bidang nanoteknologi melahirkan tantangan baru berupa pemantauan polutan yang juga berukuran nano di lingkungan. Keltian Nanoteknologi Lingkungan mengantisipasi hal tersebut dengan melaksanakan pemantauan polutan berukuran nano di lingkungan.

“Kita coba lakukan riset nanoteknologi secara komprehensif dari mulai bagaimana membuatnya, mengembangkan proses dan aplikasi itu sendiri kemudian bagaimana di lingkungan itu sendiri. Kita berusaha untuk menjadikan bumi lebih sehat!” seru Nasir. Tidak main-main, Keltian ini tengah menelisik adanya polutan nano di Sungai Citarum sebagai salah satu kegiatannya. Nasir berharap penelitian nanoteknologi lingkungan di LPTB LIPI bisa tetap fokus dalam memperkuat fundamental risetnya. Ia juga optimis riset nanoteknologi dan nanomaterial akan senantiasa berkembang di LIPI. AS