PYC Energy Award 2019: Pengembangan Biogas Melalui Limbah Pabrik Tahu

Bandung, Humas LIPI. Pada Tahun 2019 Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) menganugerahkan penghargaan PYC Energy Award 2019 kepada Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI atas perannya dalam pengembangan masyarakat melalui inovasi di sektor energi. Menjelang PYC Energy Award 2021 yang akan berlangsung Oktober mendatang, PYC menghadirkan Podcast Energy 24/7 yang membahas topik – topik terkini mengenai pengembangan energi di Indonesia. Salah satu yang menjadi pembicara pada siniar ini adalah Dr. rer. nat Neni Sintawardani peneliti bidang keahlian Sanitation and Waste Treatment, Jumat (26/2). Dipandu oleh Haryanto, kepada para pendengar, Neni menceritakan pengalamannya mengenai Biogas pengelolaan limbah produksi tahu terbesar yang pernah ia dan tim bangun.
“Kita berpikir bagaimana sungai yang mengalir sampai hilir ini tidak terkontaminasi dengan limbah - limbah pabrik tahu. Bagaimana ini mengolahnya. Kemudian kita memakai teknologi anaerobic yang kita kembangkan dan kita desain rancang dan implementasikan,” tuturnya. Menurut Neni, teknologi biogas sesungguhnya bukan teknologi yang baru. Masyarakat eropa bahkan telah mengenal teknologi ini sejak era industrialisasi. Meskipun perkembangan teknologi ini lebih lamban tetapi, tren pengembangan energi terbarukan yang menanjak turun mendongkrak kembali kepopuleran biogas. Salah satunya terwujud dalam pengelolaan limbah tahu di Giriharja Sumedang.
Neni mengisahkan keberhasilan implementasi biogas yang berada di sentra pembuatan tahu di Giriharja Sumedang tidak terlepas dari peran aktif masyarakat. Masyarakat desa bahu membahu bekerja sama untuk menjaga IPAL biogas yang telah berdiri tetap bekerja. Ini adalah faktor krusial agar manfaat biogas bisa dirasakan secara berkesinambungan. Neni mengatakan bahwa setidaknya ada 86 rumah tangga yang menikmati energi yang dihasilkan IPAL biogas dan digunakan untuk berbagai keperluan memasak. Tidak hanya itu, kehadiran IPAL biogas juga menghemat pengeluaran mereka hingga berkisar Rp.50 ribu per bulan dari ongkos yang mesti mereka keluarkan sebelumnya untuk membeli tabung gas elpiji 3 KG. “Harusnya jika ditabung bisa memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan mereka,” cetus Neni.
Keberhasilan pembangunan dan penerapan IPAL biogas ini mengantar LPTB LIPI memenangkan PYC Energy Award 2019. Bagi Neni penghargaan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaannya tetapi juga masyarakat di desa di Giriharja yang tanpa antusiasme dan dukungan mereka, IPAL biogas tersebut tak akan mampu terus beroperasi hingga seperti sekarang ini. Kedepan dirinya berharap kolaborasi dan pengembangan teknologi biogas bisa turut diaplikasikan di daerah – daerah lainnya. “Nah, kita kan lembaga penelitian tidak ada dana untuk itu. Kolaborasi sebagai konsultan bisa melakukan itu semua, harus selalu ada aspek kemitraan dan kerja sama yang bagus,” tandasnya.
Pada Bulan Oktober mendatang PYC akan kembali menggelar penghargaan serupa. Acara tersebut merupakan salah satu rangkaian PYC International Energy Conference 2021 dimana dua agenda utamanya adalah ajang kompetisi dan penghargaan. Informasi lebih lanjut terkait acara tersebut dapat diakses di laman https://2021.iec-pyc.org/ atau siniar – siniar Podcast Energy 24/7 di kanal youtube. AS