Adaptasi Kegiatan Baru LPTB LIPI

Bandung, Humas LIPI. Kendati repot dengan situasi dan kondisi akibat pandemi saat ini, Kepala LPTB LIPI Dr. Ajeng Arum Sari tetap berharap para sivitas LPTB LIPI mampu menjaga produktivitasnya tetap tinggi. Termasuk mengeluarkan seluruh kreativitas masing – masing selama situasi pandemi dan proses pembangunan berjalan. Ajeng juga memaparkan beberapa kegiatan yang menjadi agenda selama Tahun 2021. Beberapa kegiatan memiliki kontribusi langsung terhadap penanganan COVID-19 di Indonesia.

“Salah satu yang baru adalah LPTB sekarang punya ISSN Policy Brief,” ungkapnya, Selasa (26/1).Berkaca dari riset – riset yang telah LPTB LIPI lakukan, ia menyadari bahwa kompleksitas permasalahan yang ada di lapangan bisa menjadi suatu naskah kebijakan yang bisa berkontribusi bagi pengambilan keputusan pemerintah. Ajeng mencontohkan riset mengenai Biogas di Sumedang yang ternyata menarik minat Pemda setempat untuk mereplikasi teknologi serupa di tempat lain. Itu adalah wadah yang baik bagi LPTB LIPI dalam mendiseminasikan teknologinya bagi masyarakat. “Harapannya nanti kita regularly menerbitkan naskah kebijakan,” ujarnya.

LPTB LIPI memiliki 4 kelompok penelitian (Keltian) yang terdiri dari Keltian Pengolahan Limbah dan Pencemaran Lingkungan, Keltian Produk dan Produksi Bersih, Keltian Pengukuran Lingkungan, dan Keltian Nanoteknologi Lingkungan. Masing – masing Keltian berada dalam penyelarasan seorang koordinator. Salah satu agenda kegiatan Keltian Pengolahan Limbah dan Pencemaran Lingkungan tahun ini misalnya berupa pengolahan air sungai di sekitar Masjid Istiqlal Jakarta. Sebagai masjid raya terbesar di Asia Tenggara yang dilalui Sungai Ciliwung hasil pemantauan lingkungan di Sungai Ciliwung segmen Istiqlal berstatus cemar ringan hingga cemar berat. Teknologi filtrasi dan biofilter unggul menjadi salah satu fokus riset yang akan dikerjakan. “Tahun ini masih dalam skala lab,” cetus Ajeng.

Satu kegiatan lainnya yang berada dalam lingkup Masjid Istiqlal adalah teknologi daur ulang air bekas wudhu. Koordinator Keltian Pengolahan Limbah dan Pencemaran Lingkungan Dr. Widyarani mengutarakan besarnya manfaat daur ulang air limbah bekas wudhu sebagai satu solusi tujuan pembangunan berkelanjutan demi menjamin pasokan air tawar terutama bagi negara seperti Indonesia yang memiliki hingga 800 ribu masjid/mushola. “Nantinya air bekas wudhu ini bisa dipakai lagi bukan untuk wudhu tapi keperluan lain seperti menyiram tanaman dsb,” ungkapnya.

Agenda kegiatan lain keltian LPTB LIPI ialah pengukuran kadar logam merkuri yang berlangsung di wilayah Sukabumi, Jawa Barat dan Jogjakarta, Jawa Tengah. Pengukuran kadar logam merkuri ini diharapkan akan bermuara juga pada rekomendasi, dan bahkan naskah kebijakan bagi para pemangku kepentingan terkait. Hal ini untuk menentukan langkah – langkah pengelolaan kebijakan yang diperlukan. “Jadi bukan hanya pemantauan doang tapi juga assessment Analisa resiko, dan bisa jadi policy brief,” tambah Ajeng.

Menariknya, selama masa pandemi COVID-19 ini LPTB LIPI juga melaksanakan riset – riset yang berkaitan dengan penanganan COVID-19 di Indonesia. Pada awal tahun 2020, LPTB LIPI dari Keltian Produk dan Produksi Bersih merilis Handsfree Door Opener yang berfungsi meminimalisir kontak telapak tangan dengan gagang pintu. Ada juga alat sterilisasi berbasis UV-C berbentuk meja penyimpanan dan koper.  Serta masker nanoteknologi untuk menyaring COVID-19. Tahun 2021 pengembangan riset terkait COVID-19 nyatanya tidak kurang cemerlang. Diantaranya, pemetaan keberadaan SARS-Cov-2 pada air limbah IPAL, pemetaan kondisi sanitasi dan perubahan pola penggunaan air pasca pandemi COViD-19, pengembangan teknologi autoclave dan hidrotermal untuk limbah medis COVID-19, dan daur ulang limbah masker. “Karena BNPB sendiri meminta LIPI untuk membuat kajian ilmiah seperti mengenai kemampuan hidup virus SARS-CoV-2 dan solusi teknologi bersih untuk pengolahan limbah medis,” tegas Ajeng.

Pagebluk COVID-19 melahirkan berbagai kebiasaan baru yang bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Namun bagi sivitas LPTB LIPI, tahun ini juga menjadi tahun adaptasi kebiasaan dan kegiatan baru karena perpindahan mobilitas dari gedung 60 ke gedung 80. Ini terjadi karena renovasi dan pembangunan laboratorium baru di Kawasan Multisatker LIPI Bandung akan segera berlangsung. Otomatis kegiatan – kegiatan yang melibatkan mahasiswa pun menjadi berkurang. “Harus pindahan dan harus menyesuaikan lagi di tempat yang walaupun tidak sebesar di sini tapi berusaha membuat senyaman mungkin,” tandasnya. AS