Potensi Urin sebagai Pupuk hingga Kang Pisman di Gelaran Sanitation Value Chain 2020

Bandung, Humas LIPI. WHO menegaskan bahwa ketersedian air bersih, sanitasi dan pengelolaan limbah yang baik serta kondisi higienis sangat penting dalam mencegah dan melindungi kesehatan masyarakat dari wabah penyakit menular termasuk COVID-l9. Memahami permasalahan sanitasi dan tahu bagaimana cara mengelola serta memetik manfaat dari pengelolaan tersebut adalah inti dari rantai nilai sanitasi (Sanitation Value Chain). Karena itulah, Loka Penelitian Teknologi Bersih Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LPTB LIPI) bersama dengan Research Institute for Humanity and Nature (RIHN) Jepang menyelenggarakan internasional simposium bertajuk Sanitation Value Chain 2020 (SVC 2020) yang berlangsung secara daring pada tanggal 9 – 10 Desember 2020.

Simposium ini bertujuan untuk mendiskusikan berbagai pengalaman global para partisipan mengenai rantai nilai sanitasi serta sebagai ajang mempererat jaringan antara para peneliti dan juga para pemangku kepentingan terkait. Ada 142 partisipan yang mengikuti gelaran ini dan tidak hanya berasal dari Indonesia tapi juga Jepang, Malaysia, Burkina Faso hingga Pantai Gading. Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI Dr. Mego Pinandito menegaskan bahwa sanitasi adalah kebutuhan dasar yang menunjang kehidupan manusia secara baik. Meningkatkan standar sanitasi berarti meningkatkan pula standar hidup menjadi yang lebih baik. Akses terhadap sanitasi terutama misalnya air bersih, sangat signifikan dalam menjaga kelangsungan dan kualitas hidup manusia. Dirinya berharap symposium ini bisa memantik hasil yang dapat diimplementasikan di masa mendatang bagi seluruh pemangku kepentingan “Menjadi penguat jaringan peneliti, pemerintah dan masyarakat,” terangnya.

Hari pertama SVC 2020 menghadirkan 2 pembicara utama yaitu : Prof. Saburo Matsui dari Kyoto University Jepang dan Dr. Eeva-Liisa Viskari dari Tampere University of Applied Sciences Finlandia. Prof. Saburo  Matsui mengetengahkan topik “The hyper-thermophilic composting sewage sludge and the ash alkali composting feces are excellent organic fertilizers for the sustainable agriculture”. Yakni, sebuah teknologi pengompos yang bahan – bahannya berasal dari berbagai sampah organik. Kompos yang dihasilkan berkualitas tinggi serta kaya akan zat nutrient yang bisa mengganti keberadaan pupuk kimia dan pestisida dengan manfaat dari mikroorganisme. “Demi melindungi kesehatan manusia dan tanaman kualitas tanah yang baik harus senantiasa dijaga dalam pertanian,” tegasnya.

Sementara itu, Dr. Eeva-Liisa Viskari membahas potensi tak terduga yang terkandung dalam urin yaitu, sebagai pupuk. Viskari melihat selama ini urin memiliki komposisi mikroba dan nutrien utama yang menjanjikan sebagai produk pupuk. Percobaan yang ia lakukan bersama timnya selama 2016 - 2018 pada ladang jelai yang berada sekitar 80 KM dari Tampere. Hasilnya, kuantitas panen jelai yang dihasilkan dari pupuk berbasis urin tidak kalah dari pupuk mineral. Tidak juga ada perbedaan signifikan terkait kadar protein yang terkandung di dalamnya. “Ada berbagai cara mengolah urin menjadi pupuk mana yang lebih sederhana itulah yang lebih baik,” tuturnya.

Pembicara utama terakhir menyajikan paparannya mengenai kompleksitas pengelolaan sampah di Kota Bandung. Dirut PD Kebersihan Kota Bandung Gun Gun Saptari Hidayat mengungkapkan bahwa sampah yang dihasilkan Kota Bandung setiap harinya bisa mencapai lebih dari 1.500 ton. Karena itulah, pihak PD Kebersihan Kota Bandung berusaha mengubah paradigma pengelolaan sampah yang selama ini sekedar membuang menjadi mencegah, membatasi, menggunakan kembali, dst. Strategi tersebut termaktub dalam program Kang Pisman. Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan. “Kuncinya ada pada intervensi langsung pemerintah dimana petugas RW telah diberikan edukasi untuk mengambil dan memisahkan sampah yang mereka kumpulkan dari rumah tangga,” tuturnya. Ke depannya, ketika sistem sudah benar – benar siap tidak menutup kemungkinan regulasi yang lebih ketat akan dijalankan berupa imbalan dan hukuman.

Selama 2 hari penyelenggaraan SVC 2020 berbagai aspek mengenai sanitasi yang berkaitan dengan teknologi pengelolaan sampah, aspek sosial-ekonomi, pemanfaatan pertanian, hingga kemanusiaan disampaikan para partisipan. Ada dua sesi yang berlangsung secara simultan yaitu sesi pemaparan langsung secara oral dan sesi tanya jawab mengenai poster para partisipan yang diunggah di platform Slack. Kepala LPTB LIPI mengaku amat senang SVC 2020 dapat terselenggara meskipun dalam situasi pandemi COVID-19. Dirinya berharap acara ini bisa meningkatkan kesadaran semua pemangku kepentingan mengenai krusialnya sanitasi dalam sistem urban dan manajemen sumber daya. “Alhamdulilah saya secara resmi tutup online symposium SVC 2020,” pungkasnya. AS