Elektrifikasi Dirgantara untuk Udara yang Lebih Sehat

Bandung, Humas LIPI. Meskipun hanya menyumbang 3% dari total emisi udara secara global. Namun, perkembangan jumlah pesawat komersil dan rute – rute penerbangan baru senantiasa bertambah setiap tahunnya. Jejak asap pesawat udara yang dihasilka pesawat terbang juga dapat bertahan di lingkungan atmosfir dan secara langsung mempengaruhi efek rumah kaca. Tidak diragukan lagi bahwa emisi pesawat terbang menghasilkan polusi yang tidak sedikit, padahal pada 2030 setidaknya 6 juta orang diprediksi akan ‘terbang’ setiap tahunnya. Bisakah kita menyediakan solusi permasalahan tersebut? Dr. Amit Gupta dan Dr. Rejeki Simanjorang dari Rolly Royce Electrical memiliki jawabannya.

Champion electrification,” sebut Amit Gupta. Alumnus National University of Singapore (NUS) ini mengatakan bahwa strategi yang mereka luncurkan pada Tahun 2017 yaitu Champion electrification adalah perjuangan elektrifikasi untuk mengembangkan, menguji, dan menginovasi teknologi serta sistem bersama dengan para mitra guna menciptakan sistem penggerak listrik dan energi masa depan. Terlebih, Rolls - Royce  memiliki grup dan tim ahli berpengalaman dalam bidang elektrik dan hybrid ­electric yang meliputiberbagai sektor bisnis yang berbeda. “Kami memiliki peran kunci untuk dimainkan, kami ingin menawarkan sistem tenaga listrik dan propulsi modular yang scalable dan untuk berbagai kegunaan,” tutur Amit dalam sesi Hari Kedua ICSEEA 2020, Kamis (19/11/2020) secara daring.

Ia menambahkan, elektrifikasi pada industri kendaraan bermotor telah menghemat 15 – 25% bahan bakar untuk tipe kendaraan berpenumpang sedikit/ringan. Begitu pula pada pesawat terbang, tenaga penggerak listrik pada pesawat terbang mampu memangkas emisi, konsumsi bahan bakar, senyap, efisien, dengan pemeliharaan yang minimal. Ini menjadi penting terlebih potensi pemanfaatan pesawat terbang sebagai moda transportasi juga semakin tumbuh seperti di kota – kota besar semacam Jakarta dan Singapura. Pada dasarnya teknologi untuk sistem tenaga elektrik dan propulsion meliputi: Electrical Machines, Controls, Penyimpanan Energi, Power Electronics, Systems, dan Health Management. Keenam aspek tersebut adalah sistem komplit yang dibangun untuk memenuhi tuntutan pasar. “Elektrifikasi membawa tantangan tapi kami percaya bisa menyelesaikannya,” tukas Amit.

Sementara itu, pembicara utama lain yang juga berasal dari Rolls – Royce Electrical Dr. Rejeki Simanjorang mengaku bahwa dari sekian banyak tantangan dalam pengembangan mesin berbasis elektrik adalah radiasi kosmik. Radiasi kosmik adalah radiasi dari partikel bermuatan energi tinggi yang berasal dari luar amtosfer bumi. Dalam kasus elektrifikasi pesawat terbang. Radiasi kosmik bisa membuat sistem kelistrikan tidak berjalan sebagaimana mestinya dan berujung kegagalan fatal. “Jika berkendara dengan mobil listrik, kita bisa menepi kapan pun ketika ada masalah tapi tidak dengan pesawat terbang,” selorohnya.

Regulasi saat ini terkait dengan emisi karbon dan tingkat polusi suara, serta tingginya bahan bakar dan efisiensi membuat urgensi menemukan alternatif sumber energi pengganti bagi pesawat semakin tinggi. Rolls – Royce Electrical sendiri telah meluncurkan beberapa proyek demonstrasi untuk meningkatkan kesiapan elektrifikasi dirgantara pada tingak produk. “Elektrifikasi adalah teknologi masa depan yang sepertinya akan segera terwujud tidak lama lagi,” pungkas Rejeki.

Sesi Hari Kedua International Conference on Sustainable Energy Engineering and Application (ICSEEA) pada 19 November 2020 ini menghadirkan 17 pembicara yang membagikan pengalaman, riset, dan produknya terkait bidang energi dan transportasi berkelanjutan. Beberapa fokus sajian Hari Kedua ICSEEA ini antara lain mengenai Photovoltaic, Hydro Power Plant, dan Sound Energy Harvester. Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Telimek LIPI) bersama Loka Penelitian Teknologi Bersih Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LPTB LIPI), menghelat konferensi ini secara daring dengan menggunakan aplikasi Zoom. ICSEEA 2020 juga merupakan bagian dari helatan akbar Indonesia Science Expo (ISE) 2020 yang telah berlangsung sejak 10 November silam. (RA/AS)