Memimpin Dengan Hati
Tanggung jawab, empati, dan tumbuh tak terbatas
Bandung – Banyak dari kita hanya kagum kepada sosok – sosok pemimpin sensasional. Pemimpin berkharisma yang mampu menggetarkan hati pendengarnya dengan retorika yang menggugah, pemimpin yang tegas berwibawa dengan sorot mata tajam yang dapat meluluhkan mental siapa pun orang di hadapannya, atau bahkan pemimpin yang jenius; cerdas luar biasa hingga bisa memberikan sejuta alternatif solusi bagi mereka yang membutuhkan. Namun, sedikit dari kita menyadari bahwa pemimpin sesungguhnya adalah mereka yang bisa mendorong kita; para pengikutnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Entah secara personal maupun profesional. Tidak banyak sosok pemimpin yang bisa begitu terikat, bangga, dan bahkan menangis tatkala mendapati staf atau pegawainya mampu berprestasi dalam apapun pencapaian hidupnya. Salah satu representasi itu, ada pada figur Ajeng Arum Sari.
Tidak ada yang menyangsikan kepemimpinan seorang Bu Ajeng menakhodai Loka Penelitian Teknologi Bersih Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LPTB LIPI) sejauh ini. Rentetan prestasi telah ia raih selama memimpin LPTB LIPI dalam kurun setahun terakhir, padahal dirinya menyadari bahwa ia bukanlah pemimpin dengan “Aura” layaknya gambaran sosok – sosok di atas, kecuali mungkin pada bagian jeniusnya🤣. Jika ada 1 prinsip kepemimpinan yang senantiasa ia pegang teguh itu adalah empati. “Dan menganggap bahwa semua orang itu bisa dieksplor, dia pasti bisa mencapai yang terbaik untuk dia. Asal kita sebagai pemimpin juga bisa mengarahkan, mendengarkan, membangun relasi, mendukung bahwa apa yang dia butuhkan kita coba support,” tuturnya saat ditemui di ruangannya, Selasa (20/10).
Dia percaya bahwa setiap pegawai bisa mengeluarkan potensi dan kinerja terbaik, mendobrak batas – batas kemampuannya selama ini. Hanya jika mereka diberikan kesempatan untuk bertanggung jawab. Herminia Ibarra dalam bukunya Act as Leader, Think as Leader menyebutkan bahwa perubahan tanggung jawab adalah transisi penting bagi seseorang untuk sukses di masa mendatang. “Saya percaya bahwa orang itu ketika dia dikasih tanggung jawab dia akan termotivasi untuk bisa menyelesaikan itu,” tegas Ajeng.
Sembari duduk di lantai ia bercerita tentang salah satu pegawainya yang hendak mengajukan pindah ke instansi lain dengan alasan tidak memiliki renjana lagi di LPTB. Alih – alih langsung menerima permintaan tersebut, Ajeng justru meminta pegawainya itu menjadi ketua kelompok penelitian menggantikan sementara ketua kelompok penelitian yang tengah melanjutkan studi. Hasilnya, kelompok penelitian tersebut justru menjadi kelompok penelitian terproduktif sejauh ini dengan beragam capaian mengagumkan seperti publikasi – publikasi di Jurnal ilmiah Q1. “Seenggaknya sampai sekarang belum ngeluh itu (pindah instansi) lagi,” guraunya seraya tersenyum.
Bukan sekali itu saja Bu Kepala LPTB LIPI ini mendorong sivitas di kantor untuk keluar dari “Zona nyaman”. Rotasi struktur organisasi seperti pergantian PME hingga menugaskan peranan baru seperti mengelola keuangan kepada pegawai yang sebelumnya tidak pernah terlibat dalam urusan moneter menjadi satu dari sekian cara Ajeng, melecut semangat para pegawainya untuk terus bertumbuh. Ia tidak ingin hanya dirinya saja yang berkembang tetapi juga semua orang di LPTB LIPI. “Jadi, sama – sama maju, sama – sama berkembang,” ungkapnya.
Pemimpin termuda di LIPI
Dilantik menjadi kepala satuan kerja LPTB LIPI pada usia 36 tahun menjadikan Ajeng sebagai pimpinan satuan kerja termuda di LIPI. Tidak butuh waktu lama baginya untuk memberikan impak terhadap kemajuan organisasi. Salah satu keberhasilannya adalah meneruskan program Pusat Unggulan IPTEK (PUI) hingga LPTB LIPI dikukuhkan menjadi PUI untuk teknologi nirlimbah. “PUI itu dinisiasi sebelum saya ada di sini, dan banyak satuan kerja dapat PUI setelah 2 – 3 tahun kalau LPTB itu kan 1 tahun langsung dapat,” bebernya mengenang proses yang terjadi.
Tahun depan, dirinya memimpin LPTB LIPI bersama Balai Pengembangan Instrumentasi (BPI LIPI) menjadi koordinator kegiatan Prioritas Nasional Hasil Riset dan Inovasi Teknologi Bersih serta Instrumentasi untuk Proteksi Lingkungan. Ini adalah bagian dari upaya LIPI dalam memecahkan berbagai persoalan terkait lingkungan dan teknologi bersih. Ada 45 proposal program kerja yang telah terdaftar. Semua proposal tersebut berisi solusi atas berbagai permasalahan lingkungan di Indonesia. Ajeng berharap tawaran gagasan dan solusi yang ada pada semua proposal tersebut, kelak dalam 2-3 tahun mendatang bisa menjadi resolusi konkret bagi problematika lingkungan di tanah air. “Jadi bisa kita banggakan lah,” harapnya.
Kiprah Ajeng di bidang lingkungan dan teknologi bersih memang sudah menjulang. Tercatat, dirinya beberapa kali mewakili Indonesia dalam forum intelektual dunia guna membahas berbagai problematika dan solusi terkait lingkungan. Termutakhir, ia menjadi perwakilan Indonesia dalam Tim Ahli untuk Ambang Batas Limbah Merkuri pada Conference of Parties (COP) Minamata ke – 4 di Bali. Di sana, ia akan memaparkan pandangan ilmiahnya terkait ambang batas limbah merkuri yang berbahaya bagi kesehatan. Ajeng juga tercatat sebagai penerima pendanaan Sumitomo Foundation untuk risetnya dalam membandingkan kebijakan merkuri antara Indonesia dengan Jepang. Ia berharap rancangan rekomendasi kebijakan yang dihasilkan bisa memberikan kontribusi bagi pemerintah dalam penghapusan dan pengurangan merkuri di bumi pertiwi.
Menjadi seorang pemimpin tidak pernah selalu mudah. Dinamika organisasi yang begitu cepat dibalut dengan beban pekerjaan yang tinggi acapkali membuat seorang pemimpin kehilangan motivasinya. Beruntung bagi Ajeng. Dirinya memiliki motivasi kuat yang berasal dari model kepemimpinan Sang Ayah. “Jatuhnya orang pintar itu karena menyepelekan,” tutur Ajeng mengingat petuah Sang Ayah. Masih melekat pada memorinya bagaimana kepemimpinan ayah begitu mendapatkan tempat di hati orang – orang yang menjadi bawahannya. Dirinya terkenang pada momen wafat Sang Ayah dimana orang yang bertakziah begitu banyak. Seseorang bahkan berkelakar bahwa seluruh warga Purwokerto datang ke sana. “Di situ saya merasa ya emang papi saya tuh dicintai hasil dari dia bekerja dengan baik,” ungkapnya terharu.
Daniel Goleman dalam artikel ilmiahnya tentang What Makes a Leader yang dipublikasikan pada Harvard Business Review mengatakan bahwa kualitas seorang pemimpin salah satunya datang dari kemampuannya mengenali diri mereka sendiri. Kelebihan, kekurangan, nilai – nilai, dan tujuan hidup mereka. Bagi Ajeng Arum Sari, memberikan segala kemampuan terbaiknya tatkala menyelesaikan suatu tantangan adalah satu keutamaan yang ia sadari betul melekat pada dirinya. “Ada satu titik bahwa saya percaya saya gak beruntung doang, dibalik itu tuh saya kerja saya bener – bener serius,” tandasnya.
Memugas perbincangan santai siang itu, Bu Ajeng membagikan sekelumit wejangan bagi siapa pun yang merasa rendah diri, takut bermimpi, dan merasa hanya sendirian menjalani kehidupan. Menurutnya, setiap orang selalu memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga hanya orang – orang yang mau mengeksplorasi keunggulan diri mereka sendiri yang ‘kan dapat menciptakan keberuntungannya masing – masing. Percaya bahwa kita tidak bisa bekerja seorang diri. “Jangan ragu untuk membantu orang lain, karena pasti orang lain juga akan membantu kita,” pungkasnya.