Project Saguling, Harapan dan Solusi Pengelolaan Waduk


Cibinong, Humas BRIN. Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan National Research Foundation (NRF) Korea melakukan kerjasama yang dibiayai oleh pemerintah Korea sejak tahun 2020 untuk melakukan kegiatan kajian sedimentasi di waduk Saguling.

Kegiatan ini melibatkan peneliti BRIN dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air yaitu Dr. Luki Subehi, M.Sc sebagai Project Manager dengan anggotanya Imroatushshoolikhah, M.Sc, Ahmad Yusuf Afandi, M.Si, dan Aldiano Rahmadya, M.Si. Selain itu terdapat juga tim dari Chonnam National University in Korea Jin Kwan Kim sebagai Project Manager dengan anggotanya Prof. Jongmin Byun (Seoul National University), Prof. Youngshin Lim,  Shinwoo Ki dan Yewon Kim  dari Chonnam National University.

Kegiatan yang didukung dengan PKS antara Pusat Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN dengan Chonnam National University dan Indonesia Power Saguling POMU bertujuan untuk menjelaskan perubahan temporal dan spasial proses sedimentasi dan kontribusi sumber-sumber sedimen yang masuk ke Waduk Saguling.

Wilayah kegiatannya meliputi badan air waduk Saguling dan daerah cathment area dari Waduk Saguling.  Selain itu, menganalisa daerah hulu di danau Cisanti sebagai referensi site.

“Dimulai sejak tahun 2015, saat saya mendapatkan kesempatan kunjungan ke Korea dengan sponsorship NRF-LIPI serta kunjungan balasan dari Prof Kim di tahun 2017 dengan sponsorship yang sama (NRF-LIPI).  Saat itu dilakukan juga kunjungan dan diskusi dengan pihak Indonesia Power Saguling POMU (General Manager) dan mendapatkan informasi bahwa permasalahan sedimentasi dan pendangkalan di waduk Saguling sangat serius di Indonesia,” ungkap Luki pada Senin (01/08).

Proyek ini dimulai pada tahun 2020 sampai dengan 2023, namun dua tahun terakhir belum terlaksana dengan baik akibat merebaknya COVID-19 yang menyebabkan beberapa rencana kunjungan/survey terpaksa ditunda, sehingga proyek penelitian ini perlu diperpanjang. Selain itu, sampel sedimen dan tanah yang diperoleh yang akan dianalisa sebagian di Korea belum bisa berjalan karena kegiatan surveynya/samplingnya belum bisa banyak dilakukan.

Di tahun ini, pertama kali dilakukan sampling secara intensif dan investigasi lapangan bersama.  Diharapkan kegiatan ini dapat berlanjut dan berjalan sesuai dengan harapan. “Diperlukan minimal dua kali survei lapangan dan pengambilan sampel sesuai dengan tujuan penelitian ini, kami akan menyelidiki perubahan temporal dan spasial sedimen dan kontribusi sumber-sumber sedimen yang mengalir ke Waduk Saguling,” sambung Luki.

Hasil kajian ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk pihak Indonesia Power Saguling POMU dalam pengelolaan waduk ke depannya dan bisa diduplikasi di waduk-waduk lainnya di Indonesia yang mempunyai permasalahan yang sama. (aa/ ed.sl)