Cibinong, Humas BRIN. Sebagaimana diketahui bahwa di Indonesia terutama pada
pulau-pulau besar seperti pulau Jawa, kebutuhan air tidak sebanding lagi dengan
ketersediaan air yang ada terutama di sektor pertanian. Jika keadaan tersebut
terus berlangsung maka akan berdampak pada ketahanan pangan masyarakat khususnya
petani. Dengan demikian diperlukan strategi dalam upaya pengelolaan peningkatan
air dan produktivitas air, diantaranya dengan cara konservasi dan efisiensiensi
pemanfaatan air bagi pertanian.
Hal tersebut menjadi dasar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat
Riset Limnologi dan Sumberdaya Air, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim menyelenggarakan webinar bertopik “Riset dan Inovasi Teknologi Pengelolaan Air pada Berbagai
Agro Ekosistem untuk Meningkatkan Produktivitas Lahan Pertanian” pada Kamis (28/7).
Webinar mingguan secara daring ini menghadirkan pemateri Ir. Hendri Sosiawan, CESA, Koordinator Kelompok Riset Pengelolaan Sumber Daya
Air Pertanian dengan moderator Dr. Ir. Popi Rezekiningrum M.Si.
Hendri menyampaikan materi diantaranya tentang permasalahan ketersediaan air,
arah dan prioritas pengelolaan air, teknologi pengelolaaan sumberdaya air untuk
pertanian di Indonesia dan fokus kelompok risetnya. Menurut sosok Peneliti Ahli
Madya BRIN ini bahwa produktivitas, mutu hasil dan efisiensi produksi yang rendah
dan luas atau areal tanam pertanian tergantung pada ketersediaan dan sebaran air.
Selain itu dalam mewujudkan ketahanan pangan yang menjadi tantangan terkait sumberdaya
air diantaranya adalah konflik air.
Permasalahan sumberdaya air di bidang pertanian meliputi banjir dan kekeringan,
kompetisi pengguna air, penggunaan air yang tidak efisien, ketersediaaan air terbatas,
difusi jaringan irigasi, penurunan produktivitas lahan, degradasi lahan dan perubahan
penggunaan lahan. Dengan demikian pengelolaan sumberdaya air untuk pertanian menjadi sangat penting.
“Arah dan prioritas pengelolaan air untuk pertanian prioritas pertama yaitu optimalisasi
sumberdaya air melalui rehabilitasi infrastruktur air existing diikuti penerapan
hemat air. Kedua eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya air untuk pengembangan
infrastruktur panen air dan penerapan teknologi air terutama di lahan tadah hujan dan lahan kering. Ketiga pengembangan sumberdaya
air baru dengan pembangunan infrastruktur untuk lahan-lahan bukaan baru,” ungkapnya.
Dalam webinar yang dihadiri sekitar 60 peserta juga membahas riset dan inovasi
teknologi pengelolaan sumberdaya air untuk pertanian yang mengarah pada pengelolaan
sumberdaya air secara terpadu.
“Pengelolaan sumberdaya air terpadu yaitu proses pengelolaan sumberdaya air yang
memadukan antara sumberdaya air dengan sumberdaya lainnya baik antar sektor, antar
wilayah, dan berkelanjutan tanpa harus mengorbankan lingkungan serta diselenggrakan
dengan pendekatan partisipatif,” jelas sivitas BRIN jebolan S2 Hidrologi dan Lingkungan,
ENSA Montpellier, Prancis.
Dalam paparannya menyatakan bahwa konsep pembagian air secara proporsional menggunakan
asas prioritas yaitu pertama hak untuk memuaskan kedahagaan (Hak al Shafa), kedua
domestik termasuk di dalamnya adalah untuk binatang, dan ketiga sektor pertanian,
dan terakhir untuk komersial dan industri.
Teknologi pengelolaan sumberdaya air untuk pertanian terdiri dari kegiatan eksplorasi,
eksploitasi, distribusi, dan teknik penyiraman serta analisis dan desain. Eksplorasi merupakan upaya pencarian dan identifikasi sumberdaya
air dengan cara melakukan kegiatan survey dan pemetaan. Eksplorasi sumberdaya
air tersebut bisa berasal dari sumberdaya air permukaan dan tanah, sedangkan kegiatan
eksploitasi sumberdaya air dapat dilakukan pada rawa.
Dari pengalamannya mencontohkan eksplorasi sumberdaya air permukaan pada delapan
sungai di lokasi Food Estate Humbahas Sumatera Utara, Food Estate Sumba Tengah
NTT, dan Penelitian Lahan Kering Masam (LKM) di Lampung Selatan. Contoh lainnya
adalah eksploitasi SDA lahan rawa dengan cara pembuatan box bagi pemasangan pompa
dan penyiapan istalasi listrik.
“Kegiatan distribusi sumberdaya air yaitu upaya mendistribusikan air dari sumber
menuju target layanan irigasi. Sistem distribusi air terdiri dari sistem saluran
terbuka (open channel) dan sistem saluran tertutup (pipeline irrigation system),”
terangnya
Distribusi saluran terbuka cocok diaplikasikan pada lahan datar, karena kapasitas
pengaliran besar dan tidak menjadi penyusutan dari debit masuk (inflow) menjadi
debit keluar (out flow). Kapasitas pengaliran tergantung pada faktor: lebar saluran,
kedalaman saluran, kemiringan saluran, jenis permukaan saluran (rugosity). Sedangkan
distribusi tertutup cocok diaplikasikan pada daerah berbukit dan bergelombang.
Kapasitas pengaliran terbatas, dapat terjadi penyusutan dari debit masuk menjadi
keluar yang tergantung dari faktor: panjang, diameter pipa, jumlah dan jenis sambungan
pipa, beda ketinggian antara sumber dan target aliran.
Dalam pendistribusian air dikenal teknik irigasi hemat air yaitu pemberian irigasi
dengan jumlah air yang sama mengasilkan produksi yang meningkat. Dapat juga diartikan
pemberian irigasi dengan jumlah air yang sedikit menghasilkan produksi yang sama
atau meningkat. Atau bisa juga nisbah antara produksi (Kg/Ha) dan volume air yang
digunakan untuk menghasilkan panen (m3/Ha) meningkat.
Irigasi hemat air terdiri dari irigasi hemat air gravitasi dan irigasi hemat
air dengan energi surya. Dalam penerapan teknologi irigasi hemat air dikenal juga
dengan irigasi tetes (drip dan stream line), irigasi curah dengan menggunakan
peralatan seperti spray jet, impact, dan big gun, dan irigasi leb dengan sistem
alur (furrow) atau penggenangan. Sebagai contoh dari penerapan teknologi hemat
air telah dilakukan di Desa Oebola, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang NTT pada lahan kering iklim kering (LKIK). Kemudian di Desa Limampoccoe, Kecamatan Cenrana, Kabupaten MarosSulsel dengan
sumbar air tadah hujan.
Lebih jauh Hendri menyampaikan berbagai pengalaman riset yang ditekuninya diantaranya terkait penerapan teknologi
irigasi hemat air pada padi sawah, irigasi hemat air pada dengan cara gravitasi
pada tanaman bawang merah di kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Aplikasi irigasi hemat air dan hemat energi dengan pompa air tenaga surya di
Sukabumi Jawa Barat, Probololinggo Jawa Timur dan Playen Gunung Kidul Joyakarta.
Implementasi irigasi hemat air dengan sumur dalam, pompanisasi dan spingkler telah dilakukan di Desa kandang
kecamatan Kapongan kabupaten Situbondo Jawa Timur.
Dirinya menambahkan pula terkait fokus riset pengelolaan sumber daya air pertanian yakni : pertama Karakterisasi sumberdaya air pertanian di berbagai tipe agroekosistem, kedua Pengelolaan SDA kawasan pertanian secara terpadu dan ramah lingkungan, ketiga pengembangan Agricultural Smart Water Management, dan keempat kajian dampak usaha pertanian terhadap ekosistem perairan darat. (dk/ ed.sl)