Teknologi bioflok dalam budidaya perikanan telah banyak diaplikasikan untuk berbagai
komoditas, diantaranya yaitu pada budidaya ikan Lele (Wijaya et al. 2016), ikan
Nila (Widanarni et al. 2012, Husain et al. 2014), udang Vaname (Rangka & Gunarto 2012, Liu et al. 2014) dan ikan Sidat (Ali 2016, Sadi 2016). Bioflok adalah
konsorsium bakteri heterotrof dan mikroorganisme air lainnya yang mampu memanfaatkan
bahan organik di perairan dalam kondisi aerobik dan merubahnya menjadi biomassa
mikroorganisme, sehingga kualitas air tetap terjaga. Bioflok juga berperan sebagai
pakan alami bagi biota budidaya dengan adanya protozoa, rotifer dan oligochaeta
yang hidup dalam partikel bioflok.
Nina Hermayani Sadi, S.Si., M.Si. Peneliti Ahli Muda Pusat Penelitian Limnologi
LIPI dalam studi yang pernah dilakukannya menjelaskan pemanfaatan kembali bioflok
dalam air buangan dari budidaya ikan Sidat. Pada budidaya ikan Sidat dengan teknologi bioflok
kualitas air pemeliharaan dapat dipertahankan hingga 106 hari, selanjutnya dilakukan
penggantian sebagian air pemeliharaan. Air yang dibuang umumnya diambil dari bagian
dasar kolam pemeliharaan, yang mengandung kotoran, sisa pakan dan terdapat juga
flok bakteri yang sudah mature.
“Air buangan dari bak dengan sistem bioflok masih mengandung bioflok dengan kandungan
bakteri dan konsorsium mikroorganisme yang masih hidup sehingga berpotensi untuk
digunakan kembali,“ kata Nina. Penelitian yang dilakukannya itu bertujuan untuk
mengetahui kemampuan bioflok yang terkandung dalam air buangan budidaya ikan Sidat
untuk dapat dimanfaatkan kembali guna menjaga kualitas air budidaya ikan Patin
Siam (Pangasianodon Hypopthalmus). “Bioflok yang sudah mature dalam air buangan
tadi diharapkan akan mempersingkat masa aklimatisasi untuk memperbanyak bioflok
dalam bak pemeliharaan ikan Patin Siam,” imbuhnya.
Nina menyampaikan bahwa bioflok yang ditumbuhkan dari air bekas pemeliharaan ikan Sidat mampu menjaga kualitas air pemeliharaan ikan Patin Siam. “Waktu yang diperlukan untuk menumbuhkan bioflok dengan cara tersebut juga lebih singkat (hanya 24-48 jam) dibandingkan dengan cara konvensional yang mencapai 1-3 minggu untuk menumbuhkan bioflok hingga dapat berfungsi dengan baik. Dari hasil penelitian, ikan Patin yang dipelihara dalam sistem bioflok dapat tumbuh baik dengan total penambahan bobot ikan mencapai 644% selama 60 hari dari bobot awal,” kata Nina.
Dalam penelitian lainnya Nina mendapatkan bahwa penerapan
sistem bioflok dapat menurunkan tingkat kematian yang sangat signifikan pada ikan
Patin dari jenis Pasupati dengan nilai survival rate (SR) sekitar 90-95% dan bahkan
di tahun 2019 dapat mencapai 100%.
Teknologi
Lulusan Magister Sains BIOKIMIA, Institut Pertanian Bogor ini lebih lanjut menjelaskan, “Dalam hal teknologi bioflok, kami mendapatkan bahwa penerapan sistem resirkulasi di kolam pemeliharaan, memberikan karakteristik bioflok yang lebih baik.” Pada sistem bioflok dengan resirkulasi diperoleh masa aklimatisasi bioflok yang lebih singkat dan kualitas air yang lebih baik dibandingkan sistem bioflok konvensional tanpa perputaran air. “Jadi dalam sistem bioflok dengan resirkulasi, air dari bagian dasar bak pemeliharaan ikan dipompakan keluar, kemudian dimasukkan lagi ke bak pemeliharaan ikan. Sistem resirkulasi menghambat pengendapan bioflok dan saat air jatuh kembali ke kolam, terjadi pemecahan bioflok sehingga ukuran flok tetap kecil dan lebih lama berada di kolom air,” jelas Nina.
Proses bioremediasi air terjadi optimal ketika bioflok berada di kolom air karena
bioflok mendapatkan oksigen dengan lebih baik. Sebaliknya bila ukuran flok terlalu
besar, flok akan cenderung mengendap di dasar kolam. “Akibatnya mikroorganisme
pada bioflok akan kekurangan oksigen dan nutrien (terutama mikroorganisme yang berada di bagian tengah flok) dan berujung pada
kematian bioflok. Bioflok yang mati akan terdekomposisi secara anaerobik untuk
kemudian menghasilkan senyawa-senyawa toksik seperti gas H2S, amoniak dan nitrit
sehingga menurunkan kualitas air di kolam pemeliharaan,” tambahnya.
Pengembangan
“Sistem bioflok apabila dijalankan dengan baik, akan memberikan hasil yang lebih
baik untuk budidaya ikan-ikan ekonomis yang masih terkendala dengan rendahnya
survival rate dan pakan, seperti ikan Sidat dan ikan Patin dari jenis Jambal dan
Pasupati,“ jelas Nina. Hal ini disebabkan karena bioflok dapat mempertahankan
kualitas air dan juga perannya sebagai probiotik yang dapat menekan pathogen,
sehingga kesehatan ikan dapat dipertahankan. “Selain itu karena bioflok merupakan
pakan alami juga dengan adanya hewan renik yang sama-sama "menghuni" bioflok,
maka jumlah pakan yang dikonsumsi dapat berkurang dan menurunkan biaya produksi,”
sambungnya.
Nina menyampaikan harapannya untuk penelitian ini di masa yang akan datang, “Bioflok
juga punya potensi untuk diintegrasikan dengan pertanian. Limbah air dan endapan
bioflok yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Hasil penelitian
kami mendapatkan bahwa penggunaan endapan bioflok yang dikeringkan sebagai media
tanam bawang merah memberikan hasil yang lebih baik dari media dengan kompos hewan.”
(IkS, ed:SL)