Cibinong, Humas LIPI. Danau Maninjau merupakan danau kaldera yang terletak di
kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat. Dalam Laporan
Kegiatan Penelitian Prioritas Nasional Pusat Peneltian Limnologi LIPI Tahun 2019
disebutkan bahwa, danau tersebut memiliki peran penting bagi masyarakat sekitarnya
terutama sebagai obyek wisata, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), sumber air
irigasi wisata, sarana mandi cuci kakus (MCK), pencaharian masyarakat untuk budidaya
ikan di dalam karamba jaring apung (KJA) dan perikanan tangkap. Di sekitar Danau
Maninjau terdapat berbagai fasilitas wisata, seperti hotel, penginapan dan restoran
untuk menunjang kegiatan pariwisata yang terkenal hingga manca negara, dengan
pemandangannya yang sangat indah.
Menurut Dr. Cynthia Henny, M.Sc. Peneliti Ahli Utama Pusat Penelitian Limnologi
LIPI, adanya aktivitas di sekitar danau tersebut secara ekonomis menguntungkan
masyarakat sekitarnya, akan tetapi menimbulkan beberapa permasalahan lingkungan.
Seperti pembuangan limbah domestik dan eksploitasi budidaya KJA yang tidak terkontrol
akan menurunkan kualitas air akibat beban pencemar yang langsung masuk ke danau.
“Penurunan kualitas air ini berdampak pada peledakan populasi tanaman air tawar,
kematian ikan massal, penurunan populasi ikan lokal, air danau yang berwarna hijau
atau coklat kehitaman dan berbau busuk,” ungkap Cynthia.
Cynthia menambahkan, sumber beban pencemar utama di Danau Maninjau yang secara
langsung masuk ke danau berasal dari aktivitas budidaya ikan dengan KJA. Sedangkan
sumber beban pencemar lainnya yang secara langsung ataupun tidak langsung masuk
ke danau berasal dari limbah domestik (rumah tangga, restoran dan perhotelan),
limpasan pertanian dan aliran masuk dari sungai.
Dalam laporan tersebut dijelaskan, pencemaran di Danau Maninjau terutama karena
padatnya KJA menyebabkan suplai oksigen di danau berkurang (hipoksia atau kekurangan
oksigen) yang berdampak pada kematian ikan massal. Kondisi hipoksia yang lebih
lama dapat menurunkan populasi ikan lokal karena tidak mampu bertahan hidup dan
bereproduksi. Tingginya kandungan nutrient air danau karena pencemaran berdampak
pada peledakan populasi alga hijau atau biru (eutrofikasi) yang bersifat toksik/racun
pada ikan dan manusia, ditandai dengan air danau yang berwarna hijau pekat. Dari
hasil penelitian diketahui air Danau Maninjau mengandung bakteri pathogen coliform atau e-coli sekitar 1020-1349 koloni/100
ml sehingga sangat tidak layak untuk dikonsumsi. “Pencemaran juga berdampak pada
kesehatan manusia dan wisata. Air yang berwarna hijau atau coklat kehitaman dan
berbau menyebabkan gatal-gatal bila digunakan untuk mandi atau berenang dan menyebabkan
disentri bila terminum,” jelas Cynthia.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, selain pengurangan aktivitas KJA perlu
intervensi teknologi yang menurut Cynthia sangat “urgent’ untuk dilakukan. “Yaitu dengan menciptakan teknologi penyehatan danau yang dapat mengurangi beban
pencemaran, memperbaiki kualitas air, meningkatkan stok ikan lokal dan menciptakan
mitigasi bencana lingkungan bagi ikan lokal,” tegasnya. Salah satu teknologi yang
bisa diaplikasikan pada badan air yaitu sistem Lahan Basah Terapung/Floating Treatment
Wetlands (FTW).
Teknologi
FTW merupakan sistem dengan media mengapung di air dengan tanaman emergent atau
tanaman yang akarnya tumbuh pada sedimen atau yang tumbuh pada media tanam. Dalam
laporan tersebut dijelaskan bahwa FTW bisa dikatakan seperti pulau dengan tanaman
mengapung atau rakit bertanaman yang ditempatkan langsung di atas air, yang berfungsi
untuk: 1) penyisihan nutrient, 2) filtrasi padatan tersuspensi untuk mengurangi
resiko sedimentasi, 3) transformasi rantai makanan, mengalihkan nutrien dari fitoplankton,
4) habitat akuatik baru bagi ikan dan organisme lainnya, 5) habitat burung dan
satwa liar lainnya (Zhang et al, 2014, Henny dkk, 2018). “Nutrient di air akan
terserap oleh akar tanaman sehingga ketersediaan nutrient di sekitar FTW berkurang
untuk fitoplankton, sehingga mengurangi peledakan fitoplankton,” papar Cynthia.
Cynthia menjelaskan deskripsi teknologi FTW yaitu: 1) syarat tanaman tidak terlalu
tinggi dan tidak terlalu cepat pertumbuhannya, akarnya tumbuh baik di dalam air,
tahan hama, efisiensi tinggi dalam penyisihan beban pencemar dan dapat tumbuh
sepanjang tahun, 2) media tumbuh menggunakan ijuk, sabut kelapa, busa, jerami
atau bambu yang ditahan dengan jala ikan atau anyaman tali nilon, 3) pelampung
menggunakan pipa paralon atau drum plastik yang dilindungi kerangka besi, dan
jangkar untuk menahan sistem agar tidak berpindah, 4) kedalaman air harus melebihi
maksimum pertumbuhan akar, 5) rasio penutupan tanaman untuk danau kecil tercemar
atau sungai 10 - < 50% cukup untuk memperbaiki kualitas air, 6) Integrasi FTW
dengan LUTOR (LIPI Ultrabuble Aerator) menggunakan energi solar (matahari).
“LUTOR adalah teknologi aerasi yang juga bisa digunakan untuk penyehatan danau,
yang berfungsi untuk meningkatkan oksigen di danau yang dibutuhkan ikan. Integrasi
dengan FTW bisa mempercepat perombakan beban polutan organik di air, karena aerasi
dapat meningkatkan aktivitas bakteri,” jelas Cynthia. Perombakan bahan organik menjadi senyawa sederhana yang bisa mudah diserap tanaman.
“Jadi kedua sistem ini saling bersinergi, energi solar menghasilkan tenaga listrik
untuk dialirkan pada pompa submerged yang menghasilkan bubble oksigen. LUTOR menyuntikkan oksigen ke air dengan bentuk gelembung-gelembung udara di
dalam air yang membawa oksigen untuk dilepaskan ke dalam air,” imbuhnya.
“Integrasi FTW dengan aerator mampu meningkatkan oksigen pada sistem perakaran
dan meningkatkan bakteri perombak material organik untuk pertumbuhan bakteri dan
mikrobiota yang bisa menjadi makanan ikan, sehingga menciptakan mikrohabitat bagi
biota. Mikrohabitat menjadi suaka/area konservasi bagi ikan lokal dan merupakan
area perlindungan saat bencana lingkungan “tubo belerang” yang terjadi saat iklim
ekstrim, sehingga dapat berfungsi sebagai mitigasi bencana lingkungan mencegah
kematian ikan massal,” pungkas Chynthia.
Dalam evaluasi sistem pengolahan FTW untuk penyehatan Danau Maninjau Cynthia melaporkan, bahwa teknologi
FTW terbukti mampu menurunkan beban pencemar air danau yang tinggi, antara lain
nutrient (nitrogen dan posfor), material organik, logam dan organik polutan. FTW
mampu menyisihkan sampai dengan 30 – 50% nutrien di air danau pada area sekitar
FTW. Beban limbah, pemilihan lokasi, pemilihan jenis tanaman dan waktu tinggal
sesuai ukuran luas dari sistem menjadi kriteria yang menunjang keberhasilan sistem
ini. Sistem ini juga menurunkan kandungan total bakteri coliform secara sigifikan,
menurunkan populasi fitoplankton dan mencegah eutrofikasi. (Iks ed SL)