https://jkw.psdr.lipindonesia.com/index.php/jkw/issue/feedJurnal Kajian Wilayah2022-07-30T00:05:49+07:00Ahmad Helmy Fuadyredaksi.jkw@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>Jurnal Kajian Wilayah (JKW)</strong> is an authoritative source of information and discussion on area studies, particularly Southeast Asian studies, Asia Pacific studies, as well as European and African studies. It publishes original research papers, review articles, book reviews and research summary on various perspectives and disciplines (history, anthropology, sociology, literature, politics, international relation, economics, philosophy and religion). JKW is an open access and peer reviewed journal published by Research Center for Regional Resources, the Indonesian Institute of Sciences, twice in a year (July and December).</p><p> </p>https://jkw.psdr.lipindonesia.com/index.php/jkw/article/view/855Strategi Manuver Geoekonomi Indonesia dalam Merespons Dukungan Negara-Negara Pasifik Selatan atas Isu Kemerdekaan Papua2022-07-30T00:05:49+07:00Rezya Agnesica Helena Sihalohorezyaagnesica@gmail.comRusdi J Abbasrusdi.jarwo.abbas@gmail.comSilvia Dian Anggraenisilvi.angg@gmail.com<p>The focus of the study in this research is the issue of the right to self-determination of Papua which has the support of countries in the South Pacific region. The Free Papua Movement (OPM) in Papua is motivated by differences in the history of integration, social and economic conditions between Indonesia and Papua. The support given by these countries for Papua has disturbed Indonesia's political sovereignty and national security conditions, so that the Indonesian government has responded with soft power. The response is in the form of an economic approach to Papua (internal) and South Pacific Countries (external). In discussing this research, the author uses a geoeconomic perspective with qualitative research methods, through data collection techniques from literature studies and various sources that are credible and relevant to the research. In addition, this research is also supported by primary data through interviews with parties who have the ability to discuss research problems.</p><p><strong><em>Keyword</em></strong><strong><em>s: </em></strong><em>geo-economics, Papua, self-determinations issues, South Pacific countries</em><em></em></p><p><strong> </strong></p>2022-03-18T17:02:20+07:00Copyright (c) 2022 Jurnal Kajian Wilayahhttps://jkw.psdr.lipindonesia.com/index.php/jkw/article/view/849PEREMPUAN INDONEISA DALAM PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENJADI PENGANTIN PESANAN KE TIONGKOK : PERSPEKTIF INTERSEKSIONALITAS DAN OTONOMI RELASIONAL2022-07-29T19:55:54+07:00Wabilia Husnahwabiliahusnah89@gmail.comMia Siscawatimia.siscawati@ui.ac.idCahyo Pamungkascahyo.pamungkas@lipindonesia.com<p>Artikel ini bertujuan untuk mengetahui interseksionalitas latar belakang dan otonomi relasional perempuan dalam pengambilan keputusan menjadi pengantin pesanan dari Indonesia ke Tiongkok. Artikel ini merupakan hasil penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang menggunakan kerangka analisis interseksionalitas dan otonomi relasional. Penelitian tersebut melakukan penelusuran riwayat hidup dua perempuan penyintas asal DKI Jakarta dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korban pengantin pesanan adalah perempuan dengan latar belakang dan pengalaman hidup yang beragam. Terdapat interseksi latar belakang dan pengalaman tertindas perempuan di domain struktural, disiplin, hegemoni dan interpersonal yang menyebabkan perempuan tertentu rentan menjadi korban. Artikel ini menyimpulkan bahwa penyebab utama yang melatari perempuan menjadi korban adalah faktor interseksional, yang meliputi faktor ekonomi, sosial-budaya, hubungan interpersonal serta pengalaman hidup. Semua faktor saling berkelindan satu dengan lainnya, sehingga tidak ada satupun faktor dominan yang menjadi latar belakang perempuan menjadi korban pengantin pesanan. Dalam proses pengambilan keputusan, perempuan memiliki otonomi relasional karena memutuskan sendiri untuk menikah dengan laki-laki Tiongkok, berdasarkan pertimbangan interseksi latar belakang, pengalaman tertindas, nilai-nilai sosial, praktik budaya, karya sastra, serta hubungan sosial.</p>2022-03-18T17:02:20+07:00Copyright (c) 2022 Jurnal Kajian Wilayahhttps://jkw.psdr.lipindonesia.com/index.php/jkw/article/view/856Media Massa Eropa Utara dan Konter terhadap Disinformasi Pemberitaan Pandemi Covid-19. Perspektif Pengkajian Eropa dan Best Practice Denmark-Finlandia bagi Media Massa Indonesia2022-07-29T19:57:28+07:00Adya Rosyada Yonasadya.rosyada@ui.ac.idHenny Saptatia Drajati Nugrahanihenny.saptatia@ui.ac.id<p>Media massa sebagai penyedia informasi fakta memegang peran penting dalam melawan persebaran disinformasi. Terjadinya pandemi Covid-19 membuat persebaran disinformasi semakin masif. Penelitian ini merupakan kajian media massa mengenai penyebaran disinformasi terkait pandemi Covid-19 tahun 2020 di Denmark dan Finlandia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana upaya yang dilakukan oleh media-media massa di Denmark dan Finlandia dalam melawan disinformasi sebagai bentuk tanggung jawab sosial media massa kepada masyarakat. Rumusan masalah yang muncul yaitu bagaimana mekanisme yang dilakukan oleh outlet media massa di kedua negara tersebut dalam melawan disinformasi terkait Covid-19. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan teknik analisis isi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu studi kasus dengan mengumpulkan data dari media massa di Denmark dan Finlandia. Teori Tanggung Jawab Sosial Pers digunakan untuk menjawab masalah penelitian. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan menentukan 2 media paling populer di Denmark dan Finlandia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disinformasi dapat mengancam demokrasi dan media memiliki peran penting untuk menyajikan informasi berbasis fakta. Media massa di masing-masing negara memiliki mekanisme yang hampir sama, yaitu dengan memberikan konfirmasi yang jelas dengan melampirkan penelitian terkait dan pendapat para ahli terkait. Perbedaan pada keduanya yaitu, media massa Denmark memiliki platform pemeriksa fakta. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penyebaran disinformasi sangat erat kaitannya dengan tingkat literasi media. Semakin tinggi literasi media di suatu negara, maka semakin tanah juga masyarakatnya terhadap disinformasi. <strong></strong></p>2022-03-18T17:02:20+07:00Copyright (c) 2022 Jurnal Kajian Wilayahhttps://jkw.psdr.lipindonesia.com/index.php/jkw/article/view/890Pengembangan Ekonomi Lokal dan Peran Konektivitas Global Lokal dalam Peningkatan Wawasan Peternak Ayam Layer di Kabupaten Blitar2022-07-29T19:59:13+07:00Dina Srirahayudina.andriyanto@gmail.comIsbandi Rukminto Adiadi1126@yahoo.com<p>Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat peternak layer, salah satu pendekatan yang cukup menonjol adalah dengan melakukan pengembangan ekonomi masyarakat di tingkat lokal (<em>local economy development/LED</em>). PEL memperhatikan aset yang dimiliki oleh masyarakat (<em>community</em><em> </em><em>assets</em>), seperti modal manusia, modal sosial dan modal finansial. Pembahasan terkait ketiga hal tersebut dalam artikel ini dapat dilihat pada proyek “kandang percontohan ayam petelur” yang responsif terhadap perubahan iklim. Yang merupakan langkah awal yang baik dalam mengembangkan ekonomi lokal melalui peternakan ayam petelur. Proyek ini merupakan hasil kerjasama jaringan organisasi global antara Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) dengan PT. Cargill Indonesia dan USAID APIK. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses dan bentuk interaksi antara organisasi global dan komunitas lokal dalam PEL dan dampaknya terhadap kesejahteraan sosial baik bagi peternak maupun masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data primer melalui observasi dan wawancara mendalam. Informan dipilih secara purposif dan <em>snowball</em> serta menggunakan <em>coding</em> untuk analisis data. Dengan menggunakan kerangka <em>The Hexagonal of L</em><em>ocal </em><em>E</em><em>conomic </em><em>D</em><em>evelopment</em>, diharapkan hasil penelitian ini dapat menggambarkan proses LED oleh komunitas peternak layer dan interaksi global-lokal yang terjadi pada LED melalui usaha peternakan ayam layer untuk pembangunan wilayah dan ekonomi Kabupaten Blitar serta dampak sosial ekonomi bagi komunitas peternak dan masyarakat sekitar.</p>2022-03-18T17:02:20+07:00Copyright (c) 2022 Jurnal Kajian Wilayahhttps://jkw.psdr.lipindonesia.com/index.php/jkw/article/view/885'CHOKUBAISHO' AS A WAKAYAMA FRUIT FARMER DIRECT SALES SYSTEM IN JAPANESE AGRI-FOOD NETWORK GOVERNANCE2022-07-29T20:02:03+07:00Dwi Sumara Hatidwi.sumara@ui.ac.idKurniawaty Iskandarkurniawati@ui.ac.idKosuke Mizunokosuke.mizuno@ui.ac.id<p dir="ltr"><span>The global food system always faces threats and challenges. However, on the other hand, it is an opportunity for the Japanese civil society social movement to play an active role in building a just and sustainable food system. </span><span>Chisan Chishou</span><span> movement (local product, local consumption campaign) provides excellent opportunities for farmers in Prefecture Wakayama Japan to target local potential, with transparent price and added value through the </span><span>Sanchoku</span><span> (産直)or direct sales system. The Japanese food distribution chain is systemically coordinated below shade </span><span>Kyoudou kumiai</span><span> (協同組合) or JA (Japan Agricultural Cooperative), as a prominent entity in Japanese agri-food network governance. Qualitative method selected in explaining paradigm </span><span>social capital </span><span>and network in its role to achieve prosperity and regional economic development, by considering indicator non-physical such as the value of 'trust' and reciprocity in 'network' as the essential attributes of the social capital. The study case of farmer as a member of Japan Agricultural Cooperative (JA) Wakayama Prefecture describes how the </span><span>Chokubaishou </span><span>system is a strategy for the farmer to resolve problem profitability on the </span><span>Chokubaishou </span><span>JA system with the character of quality products at low prices. The non-binding JA membership system is a benefit for farmers in obtaining agricultural facilities and securing sales channels with a more stable market and low risk of operating costs. The mutual dependence on relational cooperation and 'trust' on this agri-food network mechanism has become a 'safety guard' for farmers, and JA perpetuates the sales business that profitable and sustainable.</span></p><p dir="ltr"><span>Keywords</span><span>; Social Capital; Direct Sales System, Chokubaishou; Agri-Food Network</span></p><div><span><br /></span></div>2022-03-18T17:02:21+07:00Copyright (c) 2022 Jurnal Kajian Wilayahhttps://jkw.psdr.lipindonesia.com/index.php/jkw/article/view/889Ringkasan Hasil Penelitian ANALISIS BUDAYA DAN IMPLIKASI SOSIAL EKONOMI DALAM PRAKTIK SABUK JALAN TIONGKOK (China’s Belt Road Initiative)2022-07-29T20:02:54+07:00Erlita Tantrierlita_tantri13@yahoo.comPaulus Rudolf Yuniartorudolfyuniarto@gmail.comRita Pawestri Setyaningsihrita_pawestri@yahoo.comWabilia Husnahwabilia_husnah@yahoo.com<p align="justify"><em>China’s Belt Road Initiative </em>(<em>China’s BRI</em> atau <em>BRI</em> Tiongkok) atau Prakarsa Sabuk Jalan Tiongkok merupakan diplomasi ekonomi dan politik Pemerintah Tiongkok yang bertujuan untuk mengamankan pasokan produksi negara dan devisa, penyebaran modal dan investasi, serta peningkatan hubungan internasional. Selain itu, <em>China’s BRI</em> merepresentasikan peta jalan tentang bagaimana Tiongkok memainkan strategi agar terintegrasi ke dalam ekonomi dunia. Selain itu sekaligus juga memperkuat pokgaruh politik di daerah Sabuk dan Jalan sambil menggabungkan seluruh kepentingan ekonomi, politik, budaya, dan keamanan internal dan eksternal (Mitrovic, 2018). <em>Belt Road Initiative </em> dikembangkan dari dasar budaya Taoisme, Konfusianisme dan Mohisme yang mengajarkan etika dan hukum dalam bermasyarakat. Budaya Tiongkok menjadi ruh dalam berjalannya <em>Belt Road Initiative. </em>Xi Jinping menyebutkan bahwa <em>Belt Road Initiative</em> memiliki sifat damai, harmoni, terbuka dan makmur yang sejalan dengan etika yang diajarkan dalam ajaran Konfusianisme, Taoisme, dan Mohisme. <em>Belt Road Initiative </em> diharapkan membantu negara tersebut mencapai impiannya menjadi negara yang kuat. Dalam perjalanan <em>China’s BRI,</em> Tiongkok melakukan pendekatan sosial budaya dengan negara-negara yang diajak kerjasama<em>. Belt Road Initiative </em> memberikan manfaat luar biasa bagi Tiongkok sendiri untuk merealisasikan impiannya. Tulisan ini berupaya menggambarkan mengenai ide besar <em>China’s BRI</em> tersebut beserta tantangan dan strategi budaya dan kerjasama lainnya yang dilaksanakan di dalamnya. Pemerintah Tiongkok ingin kerjasama <em>BRI</em> ini tidak berakhir dalam bentuk proyek fisik saja, tetapi juga menciptakan kerjasama bidang sosial dan budaya dan hubungan antar masyarakat. Namun, salah satu masalah yang harus diatasi Tiongkok adalah citra negatif negara tersebut di dunia. Banyak negara yang merasa khawatir terhadap dampak yang ditimbulkan oleh <em>Belt Road Initiative</em>.</p><p><em>Kata kunci</em> :<em>China’s Belt Road Initiative (</em><em>China’s BRI)</em>, <em>BRI</em>, <em>BRI</em> Tiongkok, Prakarsa Sabuk Jalan Tiongkok, proyek kerjasama, impian Tiongkok, sosial budaya.</p>2022-03-18T17:02:21+07:00Copyright (c) 2022 Jurnal Kajian Wilayahhttps://jkw.psdr.lipindonesia.com/index.php/jkw/article/view/869Isu Halal Internasional dan Regional2022-07-29T20:03:38+07:00Rita Pawestri Setyaningsihrita_pawestri@yahoo.comSo2022-03-18T17:02:22+07:00Copyright (c) 2022 Jurnal Kajian Wilayah