Perairan laut Indonesia memiliki sumber daya yang memiliki potensi tinggi untuk dimanfaatkan oleh masyarakat baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional. Ekosistem unik di perairan pesisir Indonesia, seperti terumbu karang, padang lamun dan mangrove, menyediakan sumber daya alam terbarukan. Selain itu, ekosistem- ekosistem ini memiliki fungsi ekologis penting untuk mendukung aktivitas sosial-ekonomi masyarakat di kawasan pesisir. Namun demikian, pertumbuhan penduduk dan peningkatan aktivitas manusia yang pesat di kawasan pesisir menyebabkan peningkatan tekanan antropogenik terhadap ekosistem pesisir. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya degradasi kualitas lingkungan serta menurunnya tingkat kesehatan ekosistem laut yang disebabkan oleh berbagai hal. Diantaranya adalah pencemaran limbah industri dan domestik, permasalahan sampah, alih fungsi lahan, serta fenomena alam ekstrem akibat perubahan iklim. Semua hal tersebut mengancam fungsi ekosistem yang pada akhirnya dapat

menimbulkan dampak negatif terhadap aspek sosial-ekonomi serta kesehatan masyarakat pesisir. Pentingnya menjaga kesehatan laut, mengendalikan efek negatif dari tekanan antropogenik, serta menciptakan sistem pengelolaan pesisir yang efektif merupakan beberapa aspek yang menjadi perhatian pemerintah Republik Indonesia. Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut, serta Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2017 mengenai Kebijakan Kelautan Indonesia. Sehingga kegiatan pencegahan, penanggulangan, hingga pemulihan kesehatan laut dari dampak negatif pencemaran dan kerusakan ekosistem laut menjadi prioritas pemerintah dalam kerangka kebijakan Perlindungan Lingkungan Laut di Indonesia. Terkait dengan permasalah laut di atas, P2O-LIPI telah melakukan beberapa kegiatan riset dengan tema Kesehatan Laut. Diantaranya adalah yang berkaitan dengan penanggulangan efek pencemaran di laut; mitigasi dampak harmful algal blooms (HAB); serta pengembangan indeks kesehatan beberapa ekosistem pesisir (lamun dan terumbu karang). Meskipun demikian, P2O-LIPI masih memerlukan dukungan dari instansi riset, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan universitas di Indonesia, khususnya dalam melakukan riset pengelolaan wilayah pesisir di Indonesia. Sehingga kesehatan ekosistem laut di pesisir Indonesia dapat lestari. Riset-riset yang dilakukan dengan tema Kesehatan Laut ini diharapkan memiliki luaran:

1. publikasi ilmiah dan populer,

2. indikator dan indeks lingkungan,

3. naskah rekomendasi yang dapat dimanfaatkan oleh pemangku kepentingan di daerah dan nasional,

4. teknologi yang dapat diaplikasi oleh masyarakat pesisir untuk menjaga kesehatan berbagai ekosistem penting, serta menanggulangi dampak negatif dari aktivitas manusia di kawasan pesisir Indonesia. Oleh karena itu, DDR Sesi 2 dengan tema Kesehatan Laut ini difokuskan pada topik-topik sebagai berikut: 1. Kajian pengendalian dan penanggulangan pencemaran tumpahan minyak, limbah berbahaya (B3), limbah akuakultur, dan sampah laut (marine debris). 2. Kajian pengendalian dan penanggulangan Harmful Algal Bloom (HAB), seperti pengembangan Early Warning System atas potensi kemunculan HAB, dan lain-lain. 3. Pengembangan biota indikator dan indeks kesehatan lingkungan laut.

kepentingan di daerah dan nasional, 4. teknologi yang dapat diaplikasi oleh masyarakat pesisir untuk menjaga kesehatan berbagai ekosistem penting, serta menanggulangi dampak negatif dari aktivitas manusia di kawasan pesisir Indonesia. Oleh karena itu, DDR Sesi 2 dengan tema Kesehatan Laut ini difokuskan pada topik-topik sebagai berikut: 1. Kajian pengendalian dan penanggulangan pencemaran tumpahan minyak, limbah berbahaya (B3), limbah akuakultur, dan sampah laut (marine debris). 2. Kajian pengendalian dan penanggulangan Harmful Algal Bloom (HAB), seperti pengembangan Early Warning System atas potensi kemunculan HAB, dan lain-lain. 3. Pengembangan biota indikator dan indeks kesehatan lingkungan laut.