» Daftar artikel di kategori yang sama
Kemandirian itu dimulai dari sesuatu yang sederhana
Mandiri bisa didefinisikan dengan mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Hidup mandiri dapat diartikan bahwa seseorang bisa hidup sendiri untuk memenuhi kebutuhannya dan tidak lagi bergantung pada orang lain (orang tuanya). Anak yang bisa memakai pakaian sendiri, makan sendiri, mandi sendiri, bisa juga dikatakan mandiri. Lalu ketika kita mampu membuat sesuatu produk, apakah kita bisa dikatakan “mandiri” dalam hal memenuhi kebutuhan akan produk tertentu tersebut?
Tentu saja, “Ya”. Boleh-boleh saja untuk mengatakan mandiri. Tetapi kita lihat lagi, apakah kemandirian tersebut adalah kemandirian semu atau kemandirian yang sesungguhnya?
Di negeri ini banyak sekali pabrik obat. Kita bisa membuat berbagai macam produk obat, meskipun disebut sebagai produk “me too”. Tetapi apakah benar kita sudah mandiri dalam pemenuhan kebutuhan obat? Bagaimana keadaannya jika ternyata bahan baku obatnya semuanya diimpor dari luar? Bagaimana jika impor tersebut dihentikan, apakah kita akan tetap mampu membuat obat sendiri? Inilah yang saya sebut sebagai kemandirian semu.
Kita memproduksi berbagai macam vaksin dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi dalam hal ekspor vaksin ke luar negri. Suatu saat nanti mungkin kita mampu memproduksi protein rekombinan sendiri untuk dikomersialkan. Tetapi apakah benar kita sudah betul-betul mandiri?
Kita tidak bisa membuat roti. Apa yang akan kita lakukan ketika kita ingin membuat roti? Mencari resep-resep roti di internet, lalu berusaha membeli bahan-bahannya di toko? Betul. Ketika kita sudah bisa membuat roti sendiri, maka kita mandiri dalam hal “membuat roti” karena tidak perlu membeli roti di toko. Tetapi di lain sisi, kita belum mandiri dalam hal menyiapkan bahan-bahan rotinya. Dari mana ragi roti? Gandum? Gula? Telur? Susu? Mentega? Apakah semuanya produk lokal?
Ini merupakan salah satu contoh sangat sederhana. Dan sejauh yang saya ketahui, produk ragi roti yang paling terkenal, diimpor dari luar negeri.
Saya bangga dan sangat berbahagia dengan tempe. Karena ragi tempe berlabel LIPI. Meskipun sekarang ini, kedelainya pun sudah banyak dipasok dari luar.
Melalui tulisan ini saya ingin mengingatkan diri sendiri, bahwa untuk menjadi mandiri, tidak harus melakukan sesuatu yang berteknologi tinggi. Sesuatu yang sesuai tren saat ini. Karena, jika kita hanya beralasan mengikuti tren, maka sejak langkah pertama kita mengikutinya, kita sudah menyerahkan kemandirian kita.
Nenek saya suka membuat rebusan umbi-umbian; singkong rebus, ubi rebus, uwi rebus, gembili rebus. Semuanya ditanam di kebun belakang rumah. Ada pohon pisang, pepaya, mangga, jambu, kedondong,… semuanya fresh dari kebun. Nenek saya juga membuat jamunya sendiri, sampai pada bentuk sediaan pilis, parem, dan lainnya. Setiap ada anak-anaknya yang melahirkan, nenek akan menyiapkan berbagai ramuan. Salah satu generasi yang sangat mandiri di dalam banyak hal. Karena pada zaman dahulu pun, ketika tidak ada makanan, apa-apa bisa dijadikan makanan.
Tulisan ini adalah cermin. Cermin bagi saya untuk berkaca dan mengkaji kembali tentang idealisme dan cita-cita ke depan. Bahwa kemandirian tidak berarti sesuatu yang muluk-muluk. Kemandirian yang sesungguhnya justru dimulai dari sesuatu yang sederhana.Seperti halnya bagaimana peneliti pertama dulu yang mengkultur sel mamalia secara in vitro, mencoba berbagai serum/darah hewan untuk menumbuhkan sel tersebut. Dulu belum ada RPMI, DMEM, ataupun FBS. Tetapi mereka bisa melakukannya. Sekarang semuanya lebih mudah karena berbagai macam kebutuhan bisa dibeli. Dan mimpi saya mudah-mudahan negri ini pun akan punya Inv*trogen-nya sendiri…
» Artikel terkait :
» Tanggapan :