» Daftar artikel di kategori yang sama
Layanan Satu Atap : Dari Riset Sampai Dipakai Oleh Pengguna

Pada bulan September yang lalu saya mendapat kesempatan untuk bersama rombongan rekan dari LIPI untuk berkunjung ke salah satu instansi pemerintahan yang menurut kami sangat bagus proses implementasi risetnya. Lokasinya di ujung perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur sana. Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Terstandar atau disingkat BPPTOOT atau disingkat BP2TO2T (halah sama aja susah dibaca). Instansi ini merupakan eselon 2 di bawah Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan.
Letaknya yang di lereng gunung Lawu membuat perjalanan menuju lokasi ini sedikit memerlukan effort. Jika menggunakan pesawat dari Bandara Solo memerlukan waktu kurang lebih 4 jam untuk ke lokasi yang berada di wilayah kabupaten Karanganyar ini. Dengan kondisi pegunungan yang sejuk (dengan kata lain : dingin), jauh dari kota besar, hamparan kebun teh yang terawat, membuat saya dan teman-teman mengharap suasana yang sama di tempat kerja, yang kemungkinan besar jawabanya tidak bisa. Hehehe.
Fasilitas yang ada di sana sih tidak terlalu berbeda dengan lembaga riset seperti lainnya, yaitu Gedung paska-panen, Kebun produksi, dan yang utama adalah Rumah Obat Hortus Medicus. Rumah obat ini adalah fasilitas yang dibuka untuk umum, dimana berfungsi seperti klinik obat. Jadi pasien datang, diperiksa, dan diberi obat hasil penelitian yang dilakukan di BP2TO2T. Kereen.
Saya menyimpulkan instansi ini keren karena :
1. Mereka melakukan budidaya, mereka melakukan penelitian, mereka melakukan menerapkan hasil penelitian, dan masyarakat menikmati hasilnya dalam satu tempat yaitu di BP2TO2T itu.
2. Fungsional para dokter yang bekerja di sana adalah peneliti. Sambil mengabdi ke masyarakat, mereka juga meneliti dan membuat jurnal-jurnal
3. Dedikasi. Saya dan teman-teman yang ikut mengunjungi rumah obat tersebut sangat salut dengan dedikasi para dokter yang ada di sana. Mereka rela meninggalkan fasilitas mewah yang didapat dokter lain dan mengabdi untuk masyarakat dan penelitian.
Dengan membaca pola layanan yang diberikan dan dibandingkan dengan LIPI, sebenarnya ada beberapa satuan kerja yang sudah ke arah sana. P2 Bioteknologi LIPI yang sudah melakukan penjualan hasil penelitian (baca : susu sapi dan olahannya) langsung ke masyarakat melalui koperasi. Mungkin juga BP Teknologi Bahan Alam di Yogyakarta yang juga sudah memulai membantu UKM untuk mengemas makanan dalam kaleng. Ada lagi yang lain? Maaf saya kurang hapal..
Nah apakah layanan sesuai kompetensi dari instansi seperti BP2TO2T yang bisa dirasakan dan dinikmati oleh masyarakat sekitar itu bisa ditiru LIPI? Dalam sektor apa? Mungkin beberapa teman dari satuan kerja lain yang sangat spesifik akan mengerutkan dahinya. Tapi seandainya bisa, akan sangat bagus sekali. Saya bermimpi seandainya saja kantor LIPI itu rame oleh orang yang bertanya tentang hasil penelitian dan sepulangnya mereka mendapat solusinya. Semoga bisa terwujud.
» Artikel terkait :
» Tanggapan :
- Cahyo (sric001 [AT] lipindonesia.com) - 07/12/16 (08:05 WIB)
Keren mas adi, mudah2an bisa membuka wawasan kita semua. Mau dong diajak ke tawangmangu
- Adi Setiya Dwi Grahito - 09/12/16 (11:05 WIB)
@Pak Cahyo, yuk ke sana lagi hehehe