Sapa Media Bahas Ekspedisi Indonesia Timur

Jakarta,Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melalui Biro Kerja sama Hukum dan Humas (BKHH), mengadakan ‘Sapa Media Kapal Riset baruna Jaya VIII: Ekspedisi Indonesia Timur’. Ekspedisi merupakan kolaborasi riset terkait kegiatan penelitian arus air laut di perairan Indonesia, yang diselenggarakan secara di virtual Selasa (30/3) lalu, pada saat Kapal baruna Jaya VIII sedang bersandar di Madura.

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko mengapresiasi ekspedisi yang merupakan kolaborasi riset dalam dan luar negeri, kegiatan ini terlaksana atas kerjasama antara LIPI dengan Institute of Oceanology, Chinese Academny of Science (IOCAS) melalui Pusat Penelitian Oseanografi dan melalui Pusat Penelitian Laut Dalam dengan First Institute of Oceanography (FIO, China) dan University of Maryland, USA.

Handoko menuturkan, LIPI juga bekerja sama dengan Balai Riset dan Observasi Laut (BROL, Kementrian Kelautan dan Perikanan) dalam melaksanakan observasi oseanografi. “Ekspedisi ini ditujukan untuk mengetahui sifat-sifat oseanografi fisika dari arus laut lintas Indonesia atau disebut juga dengan Indonesia Throughflow, percampuran air, dan kenaikan permukaan air laut,ucapnya.

Handoko menegaskan, LIPI berkomitmen mendukung berbagai riset, yang sifatnya fundamental. “Untuk mendukung riset tersebut LIPI melakukan investasi yang cukup besar,” tuturnya.

Pada kesempatan itu juga, Ocky Karna Radjasa, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian (IPK) menyampaikan, Ekspedisi ini mempunyai peran penting untuk melihat dan mendalami arti penting dan karakter penting dari kesuburan plankton dan observasi oseanografi.

Selanjutnya Nugroho Dwi Hananto, Plt. Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI menuturkan ekspedisi ini sudah 72 hari melaut. “Tujuan penelitian untuk mengambil data dari sampel air laut, alat yang dipakai untuk mengangkut air dan targetnya isinya dari Plankton dan isi kimianya. Demikian juga terkait sifat air laut.Pelayaran riset tersebut dipimpin oleh peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI,” ucapnya.

Nugroho menambahkan, pelayaran melalui kolaborasi riset tersebut dilakukan sejak bulan Januari, selama 72 hari. Waktu tersebut, menurutnya, cukup lama dimanfaatkan dengan maksimal untuk mengambil data kelautan dan biodiversitas. “Berlayar di masa pandemi bukan menjadi hal yang mudah, ditambah dengan gelombang tinggi di Samudra Hindia dan Selat Makassar, namun riset tetap dapat dijalankan,” kisahnya. “Ini membuktikan peneliti kelautan Indonesia mampu bersaing secara global, karena dalam pelayaran ini tidak hanya membutuhkan kepandaian, saat penelitian di laut harus dibutuhkan nyali dan safe yang diutamakan, hal ini untuk kenyamanan dalam penelitian,” tutupnya.

Sebagai informasi kegiaan ini ekspedisi Indonesia Timur 2021 menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VIII yang dikelola oleh Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PPII LIPI). Baruna Jaya VIII adalah kapal penelitian multiguna yang dibangun pada tahun 1998 di Norwegia dengan ukuran yang panjang sekitar 53,2 meter. (ks/ ed:drs)

Leave a Reply