Peneliti LIPI Mengenalkan Karakteristik Penelitian untuk Pranata Humas

Jakarta, Humas LIPI. Menulis merupakan aktifitas pekerjaan yang tidak bisa dipisahkan dari diri seorang Pranata Humas. Banyak pekerjaan yang terkait dengan aktifitas menulis salah satunya adalah menyusun karya tulis ilmiah (KTI). Dr. Yani Mulyaningsih, Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, membagikan pengalamannya sebagai tim penilai peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam kegiatan Bimbingan Teknis Tim Penilai Jabatan Fungsional Pranata Humas: Penulisan Karya Tulis, yang dilaksanakan secara daring pada (12/8) lalu.

Berdasarkan hasil publikasi di LIPI bahwa Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan karakteristiknya menjelaskan bahwa KTI merupakan tulisan hasil penelitian dan pengembangan, tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah. Dirinya memandang bahwa Jabatan Fungsional Pranata Humas memiliki tupoksi yang bukan pada penelitian dan pengembangan. Menurutnya, Pranata Humas dapat juga membuat tinjauan, ulasan, kajian ilmiah, dan pemikiran sistematis lainnya. .

“Dalam karakteristik penelitian, fokusnya pada fakta empiris dan bukan asumsi, bukan opini, dan keraguan-keraguan lainnya, juga berdasarkan pertimbangan kritis atas ide yang kompleks dan informatif. Penulisan disadarkan atas sesuatu yang dapat dilihat dan diukur. Penulisannya pun menggunakan bahasa akademis, jelas dan padat. Menggunakan bahasa formal, referensi, dan bukti-bukti pendukung lainnya, data dan informasi yang kita dapat dari narasumber,” papar Yani.

Untuk peneliti, KTI itu harapannya tidak hanya disimpan, melainkan disebarluaskan (merujuk pada Peraturan LIPI RI No.20 Tahun 2019 tentang petunjuk teknis jabatan fungsional peneliti). Publikasi tersebut yang akan dinilai. Untuk Pranata Humas, mungkin hal ini juga sama seperti peneliti, namun dari sisi tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah,” terang Yani.

Yani pun menjelaskan bahwa artikel ilmiah atau jurnal dalam penelitian yang mungkin bisa diadaptasi oleh Pranata Humas, yaitu bahwa 1). Terbitan baik cetak dan/atau elektronik yang berisi tulisan hasil penelitian, pengembangan, dan/atau pengkajian pada bisang tertentu yang diterbitkan secara berkala oleh lembaga penerbit atau institusi ilmiah; 2). Memiliki International Standar Serial Number (ISSN); 3). Penilaian naskah sesuai dengan media terbitannya, bukan berdasarkan jenis makalah, seperti short communication, study case pada ilmu kesehatan atau technical support, dan lainnya yang diterbitkan di jurnal, dinilai sesuai kategori jurnalnya; 4). Daftar jurnal ilmiah terindeks glibal bereputasi tinggi, menengah, dan bereputasi, serta terakreditasi nasional dapat ditelusuri melalui keberadaan jurnal dalam daftar yang ada di e-peneliti dan yang diacu adalah reputasi saat tahun penerbitan; 5). Identitas jurnal ditelusuri melalui Digital Object Identifier (DOI) pada laman://dx.doi.org; 6). Tidak termasuk jurnal predator; 7). Tersedia daring secara permanen; 8). Jurnal ilmiah terakreditasi nasional, diakreditasi oleh lembaga nasional yang berwenang mengakreditasi jurnal ilmiah.

Dalam diskusi yang disampaikan dalam acara tersebut, Yani juga menjelaskan terkait kolaborasi antara peneliti dengan Pranata Humas. “Hal tersebut harus dipastikan dulu sebesar apa kontribusinya, bagaimana pembaginya. Kontribusinya itu harus disepakati oleh kedua belah pihak antara tim penulis,” jelas Yani. Dirinya pun menjelaskan bahwa buku yang isinya mengenai Biografi, ini tidak termasuk KTI, meskipun diterbitkan oleh penerbit nasional seperti Gramedia.

“Untuk buku cerita anak yang berdasarkan hasil riset sebelumnya, bisa dijadikan KTI. Hal tersebut dalam artian, dari hasil karya tulis ilmiah melalui hasil penelitian, ditulis kejurnal, kemudian dikemas dalam tulisan yang populer, itu bisa diajukan angka kreditnya. Jadi tulisan itu hasil penelitian, tidak hanya dalam bentuk karya tulis ilmiah yang dipublikasi, tetapi kemudian itu bisa saja dipoles dengan bahasa yang populer, jadi karya tulis yang populer. Artikelnya bisa dipublikasi di koran atau bentuk buku. Kalau kami sebagai peneliti, bisa juga diajukan, namun masuk kedalam unsur penunjang, dan nilainya tidak terlalu besar,” terang Yani.

“Dari hasil karya tulis yang telah dilakukan akan lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, di mana kita berharap bisa mencapai angka kredit yang maksimal, artinya jangan berhenti di satu kegiatan, hanya mengklaim dari satu angka kredit saja, misalnya hanya dari satu pengembangan, tetapi bisa menghasilkan banyak hal. Tidak hanya dari angka kredit namun dari sisi kebermanfaatannya bagi masyarakat. Itulah pentingnya kreatifitas, mungkin bagi saya seorang peneliti, bagi bapak/ibu sebagai seorang humas,” tutup Yani. (dsa/ed:drs)

Leave a Reply