Kompetisi Ilmiah LIPI dalam Menyiapkan Remaja sebagai Agen Perubahan

By 23/07/2021Berita BKHH

Jakarta, Humas LIPI. Dalam rangka memperingati hari Anak Nasional pada 23 Juli, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Biro Kerja sama Hukum dan Hubungan Masyarakat (BKHH) bekerja sama dengan Komunitas Mata Cinta, kembali menggelar webinar edisi 6 dengan topik “Bumi Terawat Berkat Ilmuwan Cilik” pada Sabtu (17/7) lalu. Hadir sebagai pembicara, Yutainten, Pranata Humas LIPI, mengungkapkan, remaja merupakan agen perubahan. “Sebagi agen perubahan, banyak manfaat yang dapat digali oleh para remaja, seperti banyak belajar dari masalah lokal yang ada. Remaja, lebih memahami fenomena sosial yang terjadi disekelilingnya dan berani untuk berbicara mengemukakan pendapat,” jelasnya. “Keuntungan lain, dapat memperluas jaringan serta dapat menampilkan kebudayaan daerahnya untuk diketahui oleh masyarakat luas.”

Yuta menyampaikan, LIPI mempunyai ajang kompetisi ilmiah yaitu Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang potensial dan unggul untuk menyiapakan remaja sebagai agen perubahan. Adanya proses mentoring dengan Peneliti LIPI secara langsung dalam LKIR, membuat ajang ini berbeda dengan ajang sains manapun di Indonesia. “LKIR LIPI memberikan bimbingan penelitian dan mengajarkan etika penelitian langsung atau transfer knowledge,” ungkapnya.

“LKIR LIPI telah menjadi pionir kompetisi ilmiah remaja di Indonesia sejak tahun 1968. Fasilitas Laboratorium LIPI pun mendukung penelitian remaja. Bisa dikatakan bahwa kompetisi ilmiah LIPI lebih unggul dalam pembinaan remaja untuk menuju masa depan bangsa yang lebih baik,” terang Yuta.

Dalam kesempatan ini Yuta juga menyampaikan tantangan Kompetisi Ilmiah Indonesia. “Diantaranya seperti, perlunya koordinasi yang strategis antar institusi terkait perencanaan, penyebaran informasi kegiatan, maupun pelaksanaan kegiatan, adanya kesamaaan program kompetisi yang dilakukan oleh pemerintah, perlunya penguatan dukungan dari berbagai pihak dalam hal pelaksanaan kompetisi ilmiah, perlunya pembangunan bank data terpadu yang memuat seluruh hasil kegiatan kompetisi ilmiah dan data para peserta maupun alumni dari kegiatan tersebut secara nasional, belum adanya pembahasan mengenai inputproses-output-outcome dari kegiatan kompetisi ilmiah, dan upaya sebagai tindak lanjut bagi para remaja yang berprestasi dalam bidang sains yang masih belum signifikan dilakukan,” tuturnya.

Lebih lanjut dirinya menyampaikan, ada tiga langkah yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan potensi anak muda dalam menghadapi bonus demografi. “Langkah tersebut diantaranya, education atau Pendidikan, yakni adanya peningkatan kualitas pendidikan untuk meningkatkan hard skill. Langkah selanjutnya adalah employment atau lapangan kerja, yakni menciptakan lapangan kerja baru untuk menyerap tenaga kerja yang profesional dan handal. Langkah terakhir adalah engagement atau partisipasi, yaitu anak muda berpartisipasi aktif dalam kegiatan politik, sosial, dan perekonomian,” jelas Yuta.

Selain itu, menurutnya ada delapan alasan kenapa remaja lebih memerlukan science. “Alasan-alasan tersebut diantaranya adalah dapat lebih berpikir kritis, lebih menempa pada ketahanan mental, memompa keinginan untuk terus belajar, menjadi pahlawan, meningkatkan rasa keingintahuan terhadap suatu hal, menyediakan metode bertanya yang lebih aktif, menjadi konsumen yang lebih baik dan utamanya adalah menjadi pribadi yang lebih baik,” pungkasnya. (rdn/ed:sf)

Leave a Reply