Pemeringkatan Kementerian/ Lembaga/ Daerah dalam memberikan pelayanan melalui system Keterbukaan Informasi Publik (KIP) menarik perhatian tersendiri bagi media. Minggu lalu, PR Indonesia Magz, sebuah majalah bulanan yang dikelola Serikat Perusahaan Pers (SPS) mewawancarai Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (BKHH-LIPI) Nur Tri Aries Suestiningtyas. Berikut ini hasil wawancara yang berhasil disusun oleh reporter website bkhh.lipindonesia.com
Jum’at (22/1) siang, di ruang kerjanya, Nur menerima PR Indonesia Magz dengan ramah. Setelah mengetahui tujuan wawancara, percakapan dibuka dengan informasi dari Nur bahwa institusi pemerintah yang pertama kali menjalankan keterbukaan informasi publik secara online (KIP-Online) adalah LIPI.
Selanjutnya, Nur bercerita, LIPI menindaklanjuti dengan membuat Peraturan Kepala LIPI mengenai Standar Layanan Publik. “Keberhasilan LIPI berada di posisi 10 KIP kemarin didukung oleh banyak pihak internal. Satuan kerja lingkungan LIPI bergerak, Reformasi Birokrasi juga menunjang, portal kerja sama, e-layanan, Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH), serta adanya struktur Bidang Diseminasi di beberapa satuan kerja LIPI,” papar Nur.
Nur menjelaskan, awalnya manajemen internal untuk wilayah bebas korupsi memilih 10 dan menyeleksi 4 satker, salah satunya BKHH. ”Kami menjalankan KIP adalah kewajiban, nothing to lose. Kami hanya berusaha bekerja dengan baik. Kaget juga ketika dikabari bahwa kami ada di peringkat 10 besar. Itu membanggakan,” ungkapnya bangga.
“Era RB sangat mendukung perubahan. Ditambah komitmen pimpinan, tanpa itu kami tidak mungkin berhasil mendapatkannya,” terang wanita berhijab peach itu bersemangat. Ia juga mengatakan bahwa dalam pengelolaan KIP, kelalaian satker dalam menjawab/ merespon akan berdampak pada institusi. Berdasarkan pengamatanya, publik banyak bertanya tentang program, kegiatan, keuangan, dokumentasi, dan informasi layanan lainnya melalui KIP Online LIPI.
Kehumasan di LIPI
“Kehumasan di LIPI punya karakter. Kami membina masyarakat untuk mencintai ilmu pengetahuan dan mengenal dunia penelitian,” tutur Nur dengan mimik serius. Ia menyebutkan, capaian program unggulan LIPI bidang kehumasan salah satunya adalah event Indonesia Science Expo 2015, yang merupakan perkembangan dari LIPI Expo.
Capaian lain yang disebutkannya adalah kegiatan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (Kipnas) yang digelar 5 tahunan. “Saat ini LIPI terus meningkatkan layanannya dan melakukan media visit agar lebih dekat dengan media,” ungkap pejabat yang berpengalaman di bidang Hubungan Internasional itu.
Tahun ini, menurut Nur, LIPI akan mematangkan Pedoman Diseminasi untuk merespon terbentuknya Bidang Diseminasi. Kami juga melakukan engagement dengan mitra untuk mencapai/ melebihi target. “Mitra kami di antaranya British Council, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Media, dll,” sebutnya.
Menurut Nur, sejauh ini Tim LIPI sudah bekerja baik, namun kami terus melakukan evaluasi khususnya untuk strategi komunikasi. Hasil evaluasi di antaranya adalah mengenai perencanaan yang harus dibenahi dan optimalisasi Pranata Humas di satuan kerja. Saat ini juga sedang dilakukan kajian terkait eselonisasi di Bagian Humas.
Di akhir wawancara, Nur menyebutkan harapannya agar ada pendanaan yang cukup untuk program kehumasan harus memasyarakatkan ilmu pengetahuan, hasil riset LIPI. Ia juga berharap publiaksi mealalui media elektronik semakin banyak karena menurutnya masyarakat Indonesia sebagian besar suka menonton TV. “Semoga media elektronik, khususnya TV, lebih banyak yang mempopulerkan science,” pungkasnya. (dee)



