Category

Berita BKHH

Kompetisi Ilmiah LIPI dalam Menyiapkan Remaja sebagai Agen Perubahan

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Dalam rangka memperingati hari Anak Nasional pada 23 Juli, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Biro Kerja sama Hukum dan Hubungan Masyarakat (BKHH) bekerja sama dengan Komunitas Mata Cinta, kembali menggelar webinar edisi 6 dengan topik “Bumi Terawat Berkat Ilmuwan Cilik” pada Sabtu (17/7) lalu. Hadir sebagai pembicara, Yutainten, Pranata Humas LIPI, mengungkapkan, remaja merupakan agen perubahan. “Sebagi agen perubahan, banyak manfaat yang dapat digali oleh para remaja, seperti banyak belajar dari masalah lokal yang ada. Remaja, lebih memahami fenomena sosial yang terjadi disekelilingnya dan berani untuk berbicara mengemukakan pendapat,” jelasnya. “Keuntungan lain, dapat memperluas jaringan serta dapat menampilkan kebudayaan daerahnya untuk diketahui oleh masyarakat luas.”

Yuta menyampaikan, LIPI mempunyai ajang kompetisi ilmiah yaitu Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang potensial dan unggul untuk menyiapakan remaja sebagai agen perubahan. Adanya proses mentoring dengan Peneliti LIPI secara langsung dalam LKIR, membuat ajang ini berbeda dengan ajang sains manapun di Indonesia. “LKIR LIPI memberikan bimbingan penelitian dan mengajarkan etika penelitian langsung atau transfer knowledge,” ungkapnya.

“LKIR LIPI telah menjadi pionir kompetisi ilmiah remaja di Indonesia sejak tahun 1968. Fasilitas Laboratorium LIPI pun mendukung penelitian remaja. Bisa dikatakan bahwa kompetisi ilmiah LIPI lebih unggul dalam pembinaan remaja untuk menuju masa depan bangsa yang lebih baik,” terang Yuta.

Dalam kesempatan ini Yuta juga menyampaikan tantangan Kompetisi Ilmiah Indonesia. “Diantaranya seperti, perlunya koordinasi yang strategis antar institusi terkait perencanaan, penyebaran informasi kegiatan, maupun pelaksanaan kegiatan, adanya kesamaaan program kompetisi yang dilakukan oleh pemerintah, perlunya penguatan dukungan dari berbagai pihak dalam hal pelaksanaan kompetisi ilmiah, perlunya pembangunan bank data terpadu yang memuat seluruh hasil kegiatan kompetisi ilmiah dan data para peserta maupun alumni dari kegiatan tersebut secara nasional, belum adanya pembahasan mengenai inputproses-output-outcome dari kegiatan kompetisi ilmiah, dan upaya sebagai tindak lanjut bagi para remaja yang berprestasi dalam bidang sains yang masih belum signifikan dilakukan,” tuturnya.

Lebih lanjut dirinya menyampaikan, ada tiga langkah yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan potensi anak muda dalam menghadapi bonus demografi. “Langkah tersebut diantaranya, education atau Pendidikan, yakni adanya peningkatan kualitas pendidikan untuk meningkatkan hard skill. Langkah selanjutnya adalah employment atau lapangan kerja, yakni menciptakan lapangan kerja baru untuk menyerap tenaga kerja yang profesional dan handal. Langkah terakhir adalah engagement atau partisipasi, yaitu anak muda berpartisipasi aktif dalam kegiatan politik, sosial, dan perekonomian,” jelas Yuta.

Selain itu, menurutnya ada delapan alasan kenapa remaja lebih memerlukan science. “Alasan-alasan tersebut diantaranya adalah dapat lebih berpikir kritis, lebih menempa pada ketahanan mental, memompa keinginan untuk terus belajar, menjadi pahlawan, meningkatkan rasa keingintahuan terhadap suatu hal, menyediakan metode bertanya yang lebih aktif, menjadi konsumen yang lebih baik dan utamanya adalah menjadi pribadi yang lebih baik,” pungkasnya. (rdn/ed:sf)

Kolaborasi LIPI dalam Akademi Edukreator

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Tidak hanya pandemi, saat ini seluruh dunia mengalami fenomena Infodemik, dimana arus informasi berkembang pesat dan sebagian memiliki informasi yang tidak valid. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Kok Bisa, YouTube Learning, Kemdikbudristek RI menghadirkan Akademi Edukreator, gerakan nasional untuk melatih guru, siswa dan profesional untuk merancang konten edukasi yang menarik di berbagai macam bidang. Kehadiran AkademiEdukreator, merupakan upaya untuk belajar membuat konten edukatif yang atraktif secara substansi maupun proses kreatifnya.

Hari ini, Selasa (4/7) adalah hari peluncuran dan pembukaan pendaftaran Akademi Edukreator yang akan dibuka oleh Budi Gunadi Sadikin (Menteri Kesehatan), menghadirkan Nadiem Makarim (Menteri Pendidikan, Budaya dan Ristek), Laksana Tri Handoko (Kepala BRIN), Vidi Aldiano, serta Rara Sekar (Musisi dan aktivis pendidikan). Para narasumber yang hadir akan memberikan berbagai tips-tips untuk menghasilkan konten edukasi serta berbagi pandangan tentang perkembangan pendidikan hingga riset di Indonesia.

Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI, Mila Kencana, menyatakan bahwa LIPI mendukung kegiatan Akademi Edukreator karena LIPI mempunyai visi untuk membina anak-anak muda dan hal tersebut sudah dilakukan sejak tahun 1967 dengan kehadiran program-program pembinaan seperti kompetisi, pelatihan maupun seminar. “Dengan keuntungan sebagai pemilik sumber daya peneliti untuk meningkatkan literasi sains di Indonesia. LIPI harus adaptif mendukung kegiatan komunikasi sains, salah satunya seperti yang dilakukan di Akademi Kreator ini. Melalui LIPI Press, film-film sains maupun konten penelitian dikemas lebih dekat dengan segmen masyarakat digital saat ini. Ketika LIPI tergabung BRIN maka ruang lingkup pembinaan sains akan lebih besar karena semakin bertambahnya jumlah SDM Iptek maupun jangkauan bidang risetnya,” ucap Mila.

Di masa pandemic, di mana platform daring menjadi hal utama dalam kegiatan pembinaan maka variasi konten pembelajaran menjadi hal yang sangat dibutuhkan saat ini. Bukan hanya variasi konten, tapi konten edukasi berkualitas, sehingga masyarakat kita memiliki eksposure yang tinggi terhadap tayangan yang informatif dan bermanfaat. “Kehadiran Akademi Edukreator memiliki nilai lebih dalam proses interaksi atau temu ilmiah agar konten yang dihasilkan semakin menarik dan menyenangkan, “ Pungkas Mila.

Mila berharap agar kolaborasi ini menjadi bukti kepedulian dan upaya gotong royong semua pihak untuk memberikan inovasi konten yang berkualitas untuk masyarakat Indonesia. (yt/ed: sr)

 

 

Bagaimana Presentasi Ilmiah yang Baik untuk Menyampaikan Hasil Penelitian?

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) XIX 2021 merupakan kegiatan pembinaan ilmiah yang dilaksanakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk siswa SMP, MTs, SMA, SMK, dan MA sederajat yang ditujukan untuk memberikan pemahaman mendasar mengenai metodologi penelitian ilmiah. PIRN XIX juga mengajarkan mengenai etika penelitian dengan pemberian materi metodologi penelitian dalam kelas di Bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknik (IPA-TeK) dan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Pada hari ke sembilan pelaksanaan PIRN XIX siswa diberikan materi Teknik Presentasi Ilmiah pada Kamis, (8/7). Materi Teknik Presentasi Ilmiah ini disampaikan oleh instruktur Ririn Lastriani, yang menyampaikan bahwa tujuan utama presentasi adalah untuk memberikan pemahaman kepada audiens tentang hasil penelitian kita. “Supaya bisa dipahami oleh audiens, paham akan hasil penelitian kita, ide atau gagasan kita,” paparnya. Dirinya menjelaskan bahwa dalam melakukan presentasi atau komunikasi, ada pesan yang disampaikan oleh komunikator (orang yang memberi pesan, media (bahan tayang) dan audiens (orang yang menerima pesan).

Lebih lanjut, Ririn menambahkan, yang menjadi tujuan dari pesan presentasi harus to inform, to entertain, to persuade, to inspire. (menyampaikan informasi, mengajak, dan menginspirasi)Untuk membuat presentasi lebih menarik bisa kita sampaikan dengan cara, tell with the story, tell the truth, tell it with pictures (sampaikan dengan cerita, sampaikan kebenaran, dan sampaikan dengan ilustrasi),ungkapnya.

Tidak hanya itu, Ririn juga menyampaikan bahwa di dalam otak kita, kita akan lebih muda menerima dalam bentuk visual dibandingkan dengan teks. Ia menjelaskan bahwa visual diproses 60 ribu kali lebih cepat dibandingkan teks. “90% informasi yang disampaikan di otak berupa visual, dan 40% orang merespon visual dengan lebih baik dibandingkan teks,” jelas Ririn.

“Cara menyampaikan visual hasil penelitian, pertama siapa dan apa yang kita bicarakan, kedua, dimana lokasinya, ketiga, kapan terjadinya, keempat, berapa banyak orang yang disana, kelima, bagaimana mereka berinteraksi, keenam, mengapa demikian. Untuk lebih menarik didalam menyampaikan presentasi bisa dalam bentuk chart, Peta, Timeline, Flowchart, Multivariabel. Membuat bahan tayang itu harus runut, focus, dan jelas.” paparnya.

Teknik Penyampaian Presentasi, bisa diawali dengan perkenalan, (tatap wajah peserta dan dewan juri diawali senyum), bukalah dengan kalimat yang berkesan (fakta, pantun, kutipan, story telling, puisi dll), sampaikan latar belakang fakta dan energik, sampaikan inovasi ide dan karya tulis ilmiah (KTI) anda dengan antusias dan sedikit penekanan nada, kelengkapan, kebaruan, kebermanfaatan. “Unsur presentasi yang baik membutuhkan konten yang hebat, desain yang hebat, dan penyampaian yang hebat.” tuturnya.

Ririn juga memberikan tujuh tips agar presentasi online lancar dan menarik perhatian audiens. “Cek kesiapan alat, berpenampilan menarik, nyalakan fitur video, perhatian suara dan cara berbicara, lakukan eye contact, buatlah slide presentasi yang menarik, fokus dan bersiaplah untuk hal yang tidak terduga.” tutupnya.

Kegiatan Teknik Presentasi Ilmiah ini diikuti sebanyak 38 siswa dari kelas IPSK 1 dan IPSK 2, dan siswa juga diberikan kesempatan oleh instruktur untuk berbagi pengalaman terkait teknik presentasi untuk di sampaikan kepada siswa yang lain. (dr/ed: sr).

Inspirational Talk PIRN 2021: Menjadi Kreatif dalam Berilmu Pengetahuan

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Sebagai salah satu keseruan rangkaian pelaksanaan Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) XIX, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menghadirkan acara Inspirational Talk. Mengangkat tema yang sangat dekat dengan kehidupan generasi muda Indonesia saat ini, Inspirational Talk di hari ke-9 PIRN Virtual 2021 menghadirkan tokoh inspiratif Yulia Atiyah yang telah berhasil menjadi Youtube-edukreator melalui kanal Youtubenya, Biologi Aja!.

“Misi kami (di Biologi Aja) adalah membanjiri internet dengan konten edukasi. Tujuan kita untuk dapat menjangkau lebih banyak siswa dan mahasiswa, serta membantu meningkatkan tingkat akademik mereka dalam bidang biologi,” ujar Yulia, Kamis (9/7). Saat ini, kanal Biologi Aja! besutannya telah memiliki 18 ribu pengikut.

Yulia pun menceritakan terbentuknya kanal ini bermula dari tugas kuliah dan kegemarannya pada dunia animasi. Dirinya pun kemudian belajar animasi melalui suatu komunitas yang ia temukan di media sosial. “Setelah mencoba membuat animasi, saya coba mengikuti beberapa lomba. Setelah gagal beberapa kali, saya coba lagi terus. Ngga papa ya, karena setiap orang itu punya jatah gagalnya masing-masing, tinggal kita terus saja mencoba,” katanya.

Sampai akhirnya mendapat penghargaan dari Bank Indonesia, Yulia kemudian memfokuskan diri di animasi. “Lalu saya mengikuti Akademi Edukreator, yang diinisiasi Kok Bisa, bekerja samanya dengan LIPI, Youtube Learning dan Kemendikbud,” jelasnya.
Yulia juga membagi pengalamannya tentang bagaimana menjadi kreatif. Dirinya menekankan menyatakan kreatifitas merupakan bakat yang bisa dilatih. “Fokus membantu orang. Kita tidak perlu karya yang sempurna, kita hanya perlu membuat karya yang lebih baik dari sebelumnya. Maksimalkan setiap kesempatan, karena beberapa hal hanya terjadi sekali,” pesan Yulia.

Dalam Inspirational Talk ini hadir pula Penny Sylvania Putri, produser dan penulis naskah animasi hingga film dokumenter LIPI. Sebagai bagian tim kreatif content creator diseminasi hasil penelitian LIPI, Putri menyatakan konten audiovisual memiliki efektifitas yang tinggi untuk menarik audiens.
“Audiovisual sangat berguna untuk mengkomunikasikan sains. Dan ini menjadi tujuan LIPI memproduksi film dokumenter dan konten video lainnya, untuk masyarakat awam, media, dan para pembuat kebijakan,” terang Putri.

Putri menyatakan konten-konten komunikasi sains yang diproduksi LIPI merupakan bagian dari fungsi dan kewajiban LIPI sebagai lembaga penelitian nasional. “LIPI berkewajiban untuk menginformasikan ilmu pengetahuan dan hasil penelitian kepada publik. LIPI berkewajiban memberikan edukasi sains kepada publik, dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sains,” jelas Putri.

Pembuatan konten komunikasi sains LIPI juga melalui proses kreatif yang panjang. Putri menjabarkan beberapa proses kreatif tersebut antara lain, pengembangan cerita, pra-produksi, produksi, pasca produksi, dan diseminasi. “Selain itu ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan dalam pembuatan konten, seperti durasi, ukuran frame, tujuan konten, pesan yang ingin disampaikan, dan target audiens,” papar Putri.
Yutainten, Ketua Penyelenggara PIRN Virtual 2021, yang turut hadir pun mengungkapkan tema dan substansi Inspirational Talk ini dipilih mengingat maraknya peminat Youtube di kalangan masyarakat, terutama generasi muda.

“Saya lihat banyak sekali anak muda Indonesia yang menggunakan Youtube sebagai ajang entertain ataupun menggali informasi. Nah di Inspirational Talk ini kita mengundang peneliti muda Indonesia yang telah berhasil memanfaatkan Youtube sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat luas,” ujar Yuta.

“Ini bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk menjadi kreatif dalam mendiseminasikan hasil pengetahuan dan hasil riset kita, dengan memanfaatkan metode dan platform populer yang bisa dinikmati banyak orang,” pungkasnya. (iz)

Semangat LIPI Tebarkan Budaya Riset di Kalangan Remaja

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Penyebaran pandemi Covid-19 telah melebihi masa satu tahun sejak Desember 2019 yang lalu. Namun tidak menyurutkan umat manusia untuk ikhtiar dan berjuang dalam menghadapi musibah yang tidak terduga. Pada saat yang sama setiap orang yang mampu bertahan melakukan implementasi kreativitas yang inovatif. Terutama bagi generasi muda Indonesia yang bahkan di antaranya masih bisa membuat prestasi dalam skala lokal, nasional, regional, dan internasional.

Melalui rangkaian Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Media Indonesia bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencara (BNPB) Pusat menghadirkan narasumber dari berbagai instansi dengan tema “Menuju dan Mempertahankan Prestasi Selama Covid-19: Perspektif 5M dan Vaksinasi”.

Sebagai pionir salah satu instansi pemerintah yang membina dunia penelitian remaja Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas memiliki fungsi penyelenggara kegiatan pembinaan berupa kompetisi ilmiah remaja, Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang sudah memasuki tahun ke-53 tahun ini.

Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI, Mila Kencana dalam “Kompetisi Penelitian Ilmiah Indonesia : Perspektif 5M dan Vaksinasi” menegaskan, sejalan dengan program Nawacita, LIPI mempunyai misi untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia melalui aktivitas ilmiah. Aktivitas yang dimaksud, baik berupa kegiatan penelitian maupun program diseminasi ilmu pengetahuan teknologi kepada masyarakat. “Sebanyak lebih dari 57 ribu remaja dari seluruh Indonesia telah mendapatkan manfaat dari program pembinaan ilmiah LIPI. Mereka diharapkan mampu menjadi agen perubahan dengan berbasis implementasi berpikir kritis dan penggunaan ilmu pengetahuan,” terang Mila melalui kanal Youtube Media Indonesia, Selasa (7/07). Ia juga menyebutkan, telah banyak remaja Indonesia binaan LIPI juga telah menuang prestasi di kancah internasional seperti ajang Regeneron International Science and Engineering Fair (ISEF), ASEAN Student Project Science Competition (ASPC) maupun International Exhibition for Young Inventors (IEYI).

Masa Pandemik bukan menjadi halangan bagi LIPI untuk terus berkarya dan berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam melakukan kegiatan pembinaan baik luring maupun daring. “Kami menyadari tetap ada keterbatasan maupun perbedaan ketika melakukan kegiatan pembinaan ilmiah secara luiring dari mulai keterbatasan infratruktur dan koneksi jaringan internet, mentalitas peserta, hingga mekanisme kegiatan yang memerlukan adaptasi kebiasaan baru,” ungkap Mila. “Namun, hal tersebut tetap dijadikan semangat dan peluang bagi kegiatan pembinaan ke depan. Semakin berupaya untuk mengatasi tantangan dengan menebarkan semangat riset dan cinta sains serta membuka peluang kolaborasi dengan pihak-pihak yang peduli terhadap pembinaan generasi muda,” tambahnya.

Dalam acara tersebut, turut hadir narasumber Asep Sukmayadi, M.Si - Plt. Kepala Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Drs. H. Mohammad Husnan, M. Pd – Kepala MAN 2 Kota Malang, Aminu Irfanda Supanda, S.Pd, M.Pd- Kepala SMAN 1 Sumbawa Besar dan Drs. Maman Surakhman, M.Pd.I - Kepala SMAN 3 Yogyakarta. (yt/ ed: drs)

 

Lima Arahan Sestama LIPI kepada Sivitas BKHH

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta. Humas LIPI. Dalam rangka adanya perubahan organisasi di lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan persiapan kinerja staf, Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas (BKHH) mengadakan rapat koordinasi dengan Sekretaris Utama LIPI, Nur Tri Aries Suesningtyas. acaranya ini dilakukan secara virtual, pada Jumat (2/07).

Dalam sambutannya, Nur menyampaikan bahwa dialog dengan sivitas BKHH ini dilakukan sesuai tugas dan fungsi di BKHH dapat menyerap aspirasi apabila ada hal-hal yang perlu ditindaklanjuti di saat transisi organisasi. Dirinya berharap, sebagai sivitas BKHH, selalu mendapatkan informasi yang terupdate, bisa dari media sosial, berita media massa, bahkan dari info media BKHH sendiri, karena humasnya ada di BKHH. Nur menyatakan, arah kebijakan transisi organisasi sesuai dengan adanya Perpres 33 Tahun 2021, tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kepala BRIN mengkonsolidasi sumber daya manusia (SDM), infrastruktur dan anggaran yang akan di kelola di awal. “Tidak perlu ada kegalauan di saat pandemi, adanya masa transisi perubahan organisasi ini, karena ASN masih tetap menerima gaji dan tunjangan itu harus disyukuri.” ungkapnya.

Nur menambahkan, masalah perubahan organisasi itu hal yang wajar, seperti halnya di berbagai Kementerian seperti, di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI (Kemenkraf) dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam proses menuju yang lebih baik harapannya, melalui transformasi proses bisnis dan manajemen riset yang selalui di sampaikan oleh Kepala BRIN. “BKHH LIPI juga mempunyai peran penting dalam transisi organisasi.” tegasnya.

Lima Arahan

Dalam paparannya, Nur menyampaikan lima arahan. Pertama, mengenai Regulasi. penyiapan regulasi untuk mendukung BRIN, percepatan layanan regulasi internal LIPI, analisis regulasi yang terdampak saat reorganisasi dan usulan kebijakan di BRIN, pemetaan dan analisis permasalahan hukum yang belum tuntas. Kedua, tentang Perjanjian dan Kerja Sama. Evaluasi perjanjian yang berlaku dan adanya komitmen lembaga, analisis rekomendasi terkait pelaksanaan kerja sama dalam dan luar negeri, pemberitahuan ke stakeholder kerja sama dalam dan luar negeri, pemberitahuan keanggotaan organisasi internasional.

Ketiga, berkenaan dengan Kehumasan dan Informasi Publik, perlu koordinasi konsolidasi kegiatan kehumasan LIPI dan BRIN, penyiapan kegiatan LIPI saat perubahan organisasi secara adaptif, penyiapan narasi positif, dan optimis perubahan organisasi LIPI dan konsolidasi dalam BRIN, penyiapan infografis edukasi publik terkait organisasi, penyelesaian laporan dan capaian kinerja untuk publik. Keempat, dalam lingkup Pembinaan Ilmiah. Koordinasi komunikasi sains kepada generasi sains, adaptasi kegiatan, penyiapan infografis. Kelima, untuk Sumber Daya Manusia (SDM), sivitas BKHH harus memiliki jabatan fungsional, kinerja profesional, mutasi ke jabatan lain, peningkatan kompetensi secara terus menerus secara mandiri, membangun jaringan profesional, dan selalu update dengan informasi terkini.

Kepala BKHH LIPI, Mila Kencana menjelaskan perlunya sivitas BKHH menyikapi adanya perubahan organisasi transisi dari LIPI menuju BRIN, dan kesiapan Aparatur Sipil Negara (ASN) harus profesional dimanapun kita berkerja dan tetap berupaya yang sudah punya fungsional kinerja harus di tingkatkan lagi sesuai dengan fungsional masing-masing dan tugas pokok dan fungsi di BKHH.” tuturnya.

Mila menambahkan bahwa humas memegang peranan penting bagaimana menyosialisasikan hal-hal terkait ini, juga bagian hukum terkait regulasi, juga ada bagian kerjasama, tetap profesional dan optimis,” terang Mila. (dr/ ed: drs).

 

PIRN 2021, Peneliti LIPI Ajarkan Siswa Metode Ilmiah

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta-Humas LIPI. Pandemi Covid-19 yang masih berlanjut menyebabkan banyaknya kegiatan LIPI beralih ke bentuk virtual. PIRN(Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional) XIX tahun 2021 adalah salah satu kegiatan LIPI yang dilaksanakan secara virtual. PIRN merupakan kegiatan berskala nasional yang melakukan pembinaan ilmiah kepada siswa untuk memberikan pemahaman mendasar mengenai metodologi penelitian ilmiah serta etika penelitian. PIRN XIX diikuti oleh peserta yang berasal dari SMP, MTs, SMA, SMK dan MA. PIRN kali ini, dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu materi metodologi penelitian di Bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknik yang disingkat dengan kelas IPA-Tek dan Ilmu Pengetahuan Sosial yang disingkat IPSK.

Dengan kemasan yang dibuat lebih menarik, virtual PIRN memberikan pembimbingan agar siswa mampu membuat karya tulis ilmiah yang sesuai kaidah penelitian. PIRN yang berlangsung mulai 28 Juni hingga 9 Juli 2021 ini difasilitasi oleh Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI.

Pada hari kedua pelaksanaan, semua siswa dan guru pendamping telah dibagi kedalam 8 kelas. Masing-masing kelas memiliki instruktur yang bertugas memberikan materi dan membimbing dalam membuat karya ilmiah. Dengan konsep yang baru yaitu Distance Learning, metode penyampaian bahan pembelajaran adalah secara synchronus dan asynchronus melalui Learning Management System. kegiatan pembelajaran PIRN XIX berlangsung selama 10 hari yang terdiri dari 84 Jam pelajaran, di mana perjamnya terdiri dari 45 menit. “Dengan waktu yang tersedia, kami bertugas melatih peserta agar mampu memahami penelitian, mempraktekkan tahapannya, menyusun laporan hasil penelitian, serta mempresentasikannya dengan tepat dan sesuai dengan kaidah penelitian ilmiah” tutur Rony Irawanto yang merupakan peneliti dari Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya yang bertugas menjadi salah seorang instruktur pada PIRN XIX.

Dalam pemaparan materinya Rony menyampaikan bahwa penelitian bertujuan untuk mencari fakta ilmiah terkait ilmu pengetahuan dengan menggunakan metode yang ilmiah. Penelitian sangatlah bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan harus objektif serta sesuai dengan temuan fakta dilapangan. “Peneliti tidak dapat melakukan penelitian hanya dengan cara mengumpulkan data dan menganalisisnya, tetapi penelitian harus berawal dari perumusan masalah, tujuan penelitian, kajian teori, metodologi, pengumpulan data, pengolahan hasil dan pembahasan serta kesimpulan dan presentasi atau publikasi,” rincinya.

Rony menyampaikan bahwa, jika ingin menjadi seorang peneliti maka harus memiliki sifat kritis dimana selalu ingin mencari kebenaran untuk diuji, harus memiliki landasan fikiran yang logis, memiliki sifat ingin tahu dan selalu mengambil kesimpulan berdasarkan bukti. “Peneliti bisa melakukan kesalahan, tetapi peneliti tidak boleh bohong ini adalah hal mendasar yang tidak boleh dilanggar. Betapapun hebat hasil penelitiannya, hanya bernilai jika dilakukan dengan jujur baik dalam hal pengumpulan data, analisa dan interpretasi data” tegas Rony dihadapan para siswa bimbingannya.

Setelah pemaparan materi, para siswa diberikan waktu untuk bertanya seputar penelitian terutama pelaksanaannya dimasa pandemi. Keterbatasan ruang dan waktu dimasa pandemi menjadi titik pembahasan yang cukup menarik bagi siswa. “Bagaimana sebaiknya kita melakukan penelitian di masa pandemi agar didapatkan data-data yang akurat tanpa harus turun ke lapangan” ujar Nabila Yasmin Surya Ananda melontarkan pertanyaan. Nabila merupakan siswa yang berasal dari SAMN 14 Jakarta yang dikelompokan kedalam kelas IPA-TEK 2 . Pertanyaan yang hampir sama juga dilontarkan oleh beberapa siswa peserta PIRN XIX.

Roni mengatakan, di masa pandemi kita dapat melakukan kajian dan observasi jika memang tidak memungkinkan untuk mendapatkan data dari lapangan. “Penelitian tetap bisa berjalan dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang ada. Harus diperhatikan, jika mencari kajian literatur secara online maka pilihlah referensi dari kajian ilmiah yang berasal dari hasil penelitian. Jangan sampai mengambil referensi dari sumber yang tidak ilmiah” Jawab Roni dengan jelas.

PIRN XIX akan berlangsung sampai tanggal 9 Juli 2021 dan dikiuti oleh 134 siswa yang berasal dari 34 provinsi. Di Virtual PIRN XIX ini juga diselenggarakan kegiatan workshop guru bagi guru pembimbing . Pada tahun 2021, peserta PIRN berasal dari sekolah yang belum pernah berpartisipasi pada perhelatan PIRN dalam 2 tahun terakhir. Diakhir kegiatan, akan diumumkan hasil penilaian dan peserta terbaik dengan kriteria untuk projek terbaik adalah keaktifan kelompok, projek penelitian yang paling potensial , penulisan format laporan penelitian yang tepat dan mekanisme presentasi yang terdiri dari tata bahasa, pembagian kerja dan atraktif. (eb/ ed: drs)

 

 

 

Bakti Inovasi, Dukung Guru Tingkatkan Kompetensi Ilmiah

By | Berita BKHH | No Comments

Sukabumi, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai organisasi pelaksana litbangjirap Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), berperan aktif dalam melakukan diseminasi hasil-hasil penelitian kepada masyarakat. LIPI juga berkiprah dalam program pembinaan ilmiah untuk siswa dan guru, agar mampu menuangkan ide-ide penelitian yang kreatif, inovatif, dan aplikatif, dalam bentuk karya tulis. Sebagai implementasi, LIPI dan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), bekerja sama mengadakan Pelatihan Penyusunan Karya Tulis bagi Guru Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sederajat di Kota Sukabumi pada Selasa (25/5).

Driszal Friyantoni, Kepala Biro Umum LIPI, menyampaikan bahwa guru merupakan salah satu jabatan fungsional yang membutuhkan peningkatan kompetensi. “Pelatihan yang merupakan inisiatif kerja sama dari LIPI dan Komisi VII DPR RI ini sangat baik, agar guru meningkatkan kompetensinya dalam persaingan global saat ini,” jelasnya. “Semoga kolaborasi ini bisa terus berlangsung di berbagai Dapil (daerah pemilihan) di Indonesia,” harapnya.

Dirinya mengungkapkan pentingnya obyek-obyek penelitian yang dibuat dalam karya tulis dapat menyesuaikan kaidah ilmiah. “Hal itu agar ide-ide dan informasi yang ada dapat tersampaikan baik ke masyarakat,” ucap Driszal dalam sambutannya. “Jangan sampai maksud kita sebagai penulis menjadi menyimpang diartikan oleh pembaca,” ujarnya.

Anggota Komisi VII DPR RI, Ribka Tjiptaning, menyampaikan bahwa penting bagi DPR untuk mendukung lembaga riset, dalam hal ini BRIN - LIPI yang memiliki program bagi para guru. “Lembaga riset ini perlu didukung untuk bisa terus memberi kontribusi bagi kemandirian bangsa,” jelasnya. “Semoga kerja sama dengan LIPI ini bisa terus berlanjut, dengan mengundang guru-guru dari sekolah lain,” tuturnya.

“Di Sukabumi ini khususnya memiliki anak-anak yang pintar dan berpotensi. Semoga Bapak Ibu guru di sini bisa mendorong siswa-siswinya untuk berprestasi membuat karya tulis ilmiah,” ungkap Ribka. “Sukabumi juga sangat kaya oleh cahaya matahari, sayur-mayur, dan bahan tambang, namun sayangnya masih disebut daerah tertinggal. Oleh karena itu, Bapak Ibu Guru saya harap bisa membina anak didiknya agar mampu memajukan Sukabumi,” pesannya.

Sukma Wijaya Kusumah, dari Pusat Penelitian Biomaterial LIPI menjelaskan mengenai pentingnya melakukan riset ilmiah untuk dijadikan karya tulis ilmiah. “Kita bisa mengamati permasalahan yang ada di lingkungan kita untuk dijadikan karya tulis ilmiah,” tuturnya. “Selanjutnya, kita memilih dan memilah topik dan mencari alternatif solusi untuk memecahkan masalah,” lanjutnya. “Yang penting juga syarat karya tulis adalah adanya kebaruan atau orisinalitas ide,” tegasnya.

Sukma memberikan pengetahuan dasar mengenai prinsip penulisan proposal karya tulis ilmiah dan teknik presentasi ilmiah. Dirinya juga memberikan tips agar hasil penelitian tidak sekedar karya tulis namun juga bisa diaplikasikan. “Setelah LIPI bertransformasi, penelitian di LIPI harus terdiseminasikan dengan ke masyarakat, penelitian dimulai dari industri,” ungkapnya. Begitu pun dengan hasil penelitian siswa, pilih yang bisa juga dikerjasamakan dengan industri. “Kita berangkat dari industri, menanyakan apa saja yang dibutuhkan oleh industri, lalu kita berusaha menjawab kebutuhan industri tersebut,” urainya.

Sebagai motivasi membuat karya tulis ilmiah, para peserta pelatihan diarahkan untuk bisa mengakses situs lipindonesia.com, kompetisi.lipindonesia.com, dan pirn.lipindonesia.com, maupun media sosial LIPI. “LIPI selama ini telah mengadakan kompetisi Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dan National Young Scientist Award (NYIA) melalui pendaftaran proposal penelitian,” ujar Sukma. “LIPI juga memiliki program perkemahan ilmiah remaja nasional (PIRN) bagi guru dan siswa, yang tahun ini dilakukan secara virtual,” jelasnya.

 

(adl)

 

Tingkatkan Kepekaan Riset Remaja dan Guru Melalui Pelatihan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah

By | Berita BKHH | No Comments

Malang, 28 April. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan MAN 1 Malang menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah (KTI) bagi siswa dan Guru MAN/SMA sederajat pada tanggal 26-28 April 2021 yang bertempat di MAN 1 Malang. Sebanyak 32 peserta yang mengikuti pelatihan terdiri dari 32 siswa IPA-tek, 28 siswa IPSK dan 28 guru. Para peserta tidak hanya berasal dari wilayah Malang, melainkan juga dari berbagai daerah diantaranya yaitu Jombang, Banyuwangi, Ponorogo, Madura, Sumenep, Semarang, Kraksan, Surakarta, Sleman, Sragen, Jember, Pasuruan, Kediri, Banjarnegara, Surabaya, Sidoarjo, Kudus, Pati, Cikarang, Depok, Bogor, Sumba, Sumbawa dan Sumatera Selatan. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr. Ahmad Helmy Fuady, Dr. Khoirul Himmi Setiawan M.Agr dan Dr. Achmad Dinoto M.Sc. Tidak hanya pelatihan KTI, dalam pelatihan kali ini juga diberikan materi TekniK Presentasi Ilmiah oleh Yutainten M.Commun, Koordinator Pembinaan Ilmiah-Pranata Humas LIPI dan topic “Highlighting Trend Penelitian Remaja oleh Shabrina Ayu Oktasari, Analis Kebijakan LIPI.

Dalam sambutannya di acara pembukaan, Kepala Kantor Kementerian Agama Wilayah Kota Malang, Bapak Dr. Muhtar Hazawawi mengatakan bahwa terdapat tiga karakter yang harus dipegang teguh yaitu karakter keagamaan, kebangsaan, dan keunggulan. Keunggulan sebuah madrasah harus terus dibangun dan dikuatkan, khususnya melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Harapannya acara seperti ini tidak hanya berhenti dalam satu kegiatan tetapi bisa berkesinambungan dan membuka titik yang lain hingga mampu menghadirkan atmosfir peneliti yang sangat kuat, serta beliau mengharapkan kepada team LIPI untuk senantiasa mendukung dan memberi arahan pada anak-anak (siswa-siswi).

Ibu Kepala Madrasah Dr. Hj. Binti Maqsudah M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan ucapan terimakasih karena telah mengabulkan permohonan pelaksanaan kegiatan pelatihan KTI dengan tema “Membangun Kepekaan Diri Pelajar dalam Merespon Fenomena Alam dan Sosial di Era Pandemi Covid 19 Melalui Karya Ilmiah”. “KTI tidak hanya dimiliki oleh mahasiwa tetapi juga sangat penting dimiliki siswa. Hal ini dikarenakan karya tulis dapat melatih pola pikir menjadi terstuktur dan sistematis. Saya berharap acara ini bisa dilaksanakan di tahun-tahun kedepannya karena nantinya KTI sendiri tidak hanya mampu meningkatkan kompetisi diri tetapi juga dapat mengharumkan nama baik madrasah,” pungkas Binti.

Acara kegiatan ini dibuka oleh Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ibu Mila Kencana, S.Ap, M.A. Beliau mengatakan bahwa Pelaksanaan kegiatan ini merupakan pelatihan yang ke-4, setelah Tasikmalaya, Kediri dan Gorontalo. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kecintaan terhadap IPTEK. Berdasarkan Global Index, Indonesia masih tertinggal dalam hal riset, yaitu 85 dari 131 negara. Sehingga dalam masa pandemi ini diharapkan semakin memacu masyarakat untuk terus begerak dalam riset inovasi yang disertai revolusi digital. “Maka dari itu generasi muda harus bisa berpikir positif dan produktif untuk dapat menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Pelatihan ini merupakan momen yang sangat jarang karena dapat berdiskusi secara langsung dengan peneliti, teman, senior, maupun kolega. Galilah informasi sebanyak mungkin untuk dapat menciptakan karya yang luar biasa,” tegas Mila. (nur/edt:yt)

Budayakan Riset di Kalangan Siswa dan Guru, LIPI Selenggarakan Pelatihan KTI di Gorontalo

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan MAN Insan Cendekia Gorontalo menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Karya Tulis Ilmiah (KTI) bagi Siswa dan Guru mulai Selasa (20/4) hingga Kamis (22/4). Pelatihan yang dilaksanakan secara online ini diikuti peserta sebanyak 75 orang yang dibagi menjadi Kelas Siswa IPATek sebanyak 29 orang, Kelas Siswa IPSK sebanyak 19 orang, dan Kelas Guru sebanyak 27 orang. Peserta dari 7 sekolah berasal dari Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango, dan Kotamogabu, Sulawesi Utara. Narasumber LIPI dalam kegiatan ini adalah Dr. Isnaeni untuk Kelas Siswa IPATek, Dr. Yani Mulyaningsih untuk Kelas Siswa IPSK, dan Dr. Nurul Dhewani Mirah Sjafrie untuk Kelas Guru.

Dalam sambutan pembukaan, Kepala Biro Kerja Sama Hukum dan Humas LIPI, Mila Kencana mengatakan bahwa ajang pelatihan ini merupakan pembinaan remaja yang dilakukan oleh MAN IC Gorontalo berkerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai narasumber untuk mendorong terciptanya budaya iptek di kalangan guru dan generasi milenial. Pelatihan ini merupakan langkah pertama bagi persiapan dalam penyusunan proposal penelitian remaja. Selama kurang lebih tiga hari, para peserta akan belajar bagaiamana untuk lebih peka dan kritis dalam memahami fenomena dan masalah yang ada di sekitar kita sembari menciptakan solusi alternatif dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Diharapkan pelatihan ini dapat memberikan output mini proposal yang dikembangkan dan diikutsertakan dalam ajang kompetisi ilmiah LIPI, yakni Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR),” sambung Mila Kencana.

Kepala MAN Insan Cendekia Gorontalo, Jasmaniar dalam sambutannya mengatakan bahwa riset adalah penelitian yang memerlukan proses investigasi yang dilakukan dengan penuh ketelitian, ketekunan, dan pikiran yang sistematis serta kritis sehingga ditemukan fakta-fakta baru. “Riset harus menjadi wadah bagi siswa untuk menyalurkan potensi pada hal-hal yang positif serta mempersiapkan generasi penerus lahirnya peneliti-peneliti muda,” pungkas Jamariah. (tbi)