Category

Berita BKHH

Monitoring dan Evaluas Pembimbingan LKIR ke-53 untuk Meningkatkan Layanan Pembinaan Ilmiah

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan untuk ke-53 kalinya oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini sedang pada tahap pembimbingan 53 proposal terpilih yang dibimbing langsung oleh para Peneliti LIPI. Setelah melewati proses pendaftaran hingga penentuan proposal terbimbing oleh 12 Dewan Juri LKIR, para peserta kemudian menjalani pembimbingan mulai 14 Juli hingga 3 Oktober 2021 secara virtual.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, LIPI menyatakan komitmennya dalam peningkatan layanan pembinaan ilmiah dengan melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) pembimbingan LKIR ke-53 pada Selasa (7/9). Monev ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan serta menyelesaikan permasalahan yang ada dalam proses pembimbingan.

Dengan diterbitkannya Peraturan Presiden No. 78 tahun 2021 tentang BRIN, transisi LIPI menuju BRIN tidak pula menghentikan kompetisi ilmiah untuk tetap dilaksanakan. “Kegiatan kompetisi LIPI dapat tetap berjalan pada bulan Oktober ini,” ujar Mila Kencana, Plt. Kepala Biro Hukum dan Kerja Sama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Monev yang dilakukan secara virtual ini membahas 14 proposal bidang Ilmu Pengetahuan Hayati, 21 proposal bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, 9 proposal bidang Ilmu Pengetahuan Teknik, dan 9 proposal bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian. Kegiatan ini menjembatani para peserta dengan mentor, dewan juri, serta panitia LKIR untuk saling berkomunikasi dan melakukan perbaikan untuk permasalahan yang ada. Selain itu, pemerataan pemahaman dengan informasi yang dimiliki oleh para pihak juga menjadi salah satu tujuan dari berlangsungnya monev ini.

Ketua dewan juri LKIR, Prof. I Made Sudiana, menyatakan apresiasinya kepada para mentor yang telah meluangkan waktunya untuk berpartisipasi dalam membimbing para peserta. Made juga mengatakan para peserta dan mentor harus bekerja keras lagi untuk dapat menyelesaikan karya tulis dalam waktu kurang dari sebulan ini.

Rangkaian kegiatan LKIR akan dilanjutkan dengan pengumpulan laporan penelitian yang telah diselesaikan oleh peserta paling lambat pada 6 Oktober 2021. Kemudian, dewan juri dan mentor akan menentukan finalis yang layak untuk mengikuti pameran dan presentasi secara virtual pada 25 Oktober mendatang.

Keterbatasan waktu dan kondisi di saat pandemi Covid-19 tidak menjadi hambatan dalam pelaksanaan kegiatan LKIR. Dengan meningkatkan komunikasi dan kerja sama yang bersinergi antar dewan juri, mentor, peserta, serta panitia diharapkan dapat memperlancar proses pembimbingan hingga selesai, sehingga LKIR ke-53 2021 dapat menghasilkan karya tulis terbaik anak bangsa. (sd)

Sivitas BKHH LIPI Raih Penghargaan sebagai ASN The Future Leader dan Koordinator Terbaik

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Rangkaian acara kiprah 54 Tahun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di buka oleh Plh. Kepala LIPI, Dr. Agus Haryono pada Kamis, (26/8) secara virtual. Acara ini mengangkat tema ‘Semangat Inovasi Solusi untuk Negeri’.

Agus Haryono, dalam sambutannya mengatakan bahwa HUT 54 Tahun LIPI dengan tema semangat Inovasi Solusi untuk Negeri. “Tema ini sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia yang banyak membutuhkan inovasi-inovasi, solusi dari peneliti LIPI. Bangsa Indonesia saat ini masih berjuang menghadapi pandemi,” ungkapnya.

Pada sesi acara penganugerahan penghargaan Sumber Daya Manusia (SDM) berprestasi terdapat dua di antaranya sivitas dari Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas (BKHH) LIPI, yakni Pertama. Mila Hanifa dinobatkan sebagai penerima penghargaan kategori ASN The Future Leader di lingkungan Sekretariat Utama LIPI. Perempuan kelahiran tahun 1985 ini, memulai karirnya di LIPI sejak tahun 2008. Berperan aktif dalam penyusunan peraturan perundang-undangan baik di tingkat nasional maupun internal LIPI. Membentuk regulasi LIPI yang berkualitas dan memberikan kemudahan bagi penyelenggaraan Iptek sebagai sebuah keharusan untuk menciptakan iklim inovasi yang kondusif bagi penyelenggaraan Iptek.

Selanjutnya, Yutainten dinobatkan sebagai Penerima penghargaan kategori koordinator terbaik di lingkungan Sekretaris Utama LIPI. Perempuan kelahiran Subang tahun 1986 ini, memulai karirnya di LIPI sejak tahun 2008. Saat ini sebagai koordinator pelaksana bina ilmiah. Aktif pada kegiatan pembinaan ilmiah yang diselenggarakan oleh BKHH LIPI nasional dan internasional.

Hadir sebagai keynote speaker pada acara HUT 54 Tahun ini, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. yang menyampaikan tentang ‘Riset dan Inovasi dalam Dunia Hyperconnected’. Rangkaian acara HUT ke 54 LIPI juga diisi dengan Penganugerahan Satyalencana Pembangunan dan Wirakarya dan Penganugerahan Penghargaan bagi Pegawai LIPI, Video Kreatif Satuan Kerja 54 tahun LIPI dan penyerahan simbolis LIPI Peduli. (dr)

LIPI Kampanyekan Cinta Tanah Air Kepada Milenial

By | Berita BKHH | No Comments

Bogor, Humas LIPI. Generasi milenial memiliki peran yang sangat penting bagi kemajuan bangsa Indonesia. Sebagai agen perubahan jiwa patriotisme, rasa cinta tanah air bisa diwujudkan salah satunya dengan ikut melestarikan dan mengkampanyekan keanekaragaman hayati Indonesia. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Biro Kerjasama Hukum dan Humas LIPI Mila Kencana, saat membuka webinar dengan tema “Cara Asyik Cinta Tanah Air, Bincang Santai Bareng Milenial” Minggu, (22/08).

Mila menambahkan keanekaragaman hayati Indonesia merupakan sumber daya potensial sebagai bahan baku produk lokal sehingga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat apalagi di saat pandemi saat ini.
“Harapannya semoga kegiatan ini bisa menginspirasi generasi milenial untuk berkiprah dalam melestarikan keanekargaman hayati sebagai bentuk cinta tanah air” ujarnya.

Perekayasa dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Marwan mengatakan bentuk cinta tanah air sangat beragam salahsatunya bisa dilakukan dengan mengeksplorasi kekayaan alam, budaya nusantara Indonesia. Adapun Senior Grafic Desainer dari Idea cultura Bandung Farah Anisati Bariz mengatakan bentuk rasa cinta tanah air bisa dilakukan dengan membuka cara berfikir dan melakukan dari hal-hal yang kecil disekitar.
Sementara itu Aktivis Lingkungan dan Pemerhati Budaya Bengkulu Sopian mengatakan media sosial menjadi sarana yang tepat untuk menyebarluaskan informasi terkait keanekragaman hayati terutama Rafflesia puspa langka yang menjadi icon Bengkulu. Sampai saat ini masih banyak masyarakat yang salah paham terkait perbedaan bunga bangkai dan rafflesia.

“Banyak masayakarat yang salah kaprah terkait rafflesia dan amorphophallus, apalagi ketika porang disamakan dengan bunga bangkai Amorphphallus titanium, inilah yang menjadi tugas kita meluruskan hal tersebut” ujarnya.

Kegiatan webinar ini merupakan salah satu kegiatan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi LIPI ke 54. Yang diikuti oleh lebih dari 100 peserta dari berbagai latar belakang profesi dan usia dan tersebar dari berbagai daerah di Indonesia. (add)

Peneliti LIPI Mengenalkan Karakteristik Penelitian untuk Pranata Humas

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Menulis merupakan aktifitas pekerjaan yang tidak bisa dipisahkan dari diri seorang Pranata Humas. Banyak pekerjaan yang terkait dengan aktifitas menulis salah satunya adalah menyusun karya tulis ilmiah (KTI). Dr. Yani Mulyaningsih, Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, membagikan pengalamannya sebagai tim penilai peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam kegiatan Bimbingan Teknis Tim Penilai Jabatan Fungsional Pranata Humas: Penulisan Karya Tulis, yang dilaksanakan secara daring pada (12/8) lalu.

Berdasarkan hasil publikasi di LIPI bahwa Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan karakteristiknya menjelaskan bahwa KTI merupakan tulisan hasil penelitian dan pengembangan, tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah. Dirinya memandang bahwa Jabatan Fungsional Pranata Humas memiliki tupoksi yang bukan pada penelitian dan pengembangan. Menurutnya, Pranata Humas dapat juga membuat tinjauan, ulasan, kajian ilmiah, dan pemikiran sistematis lainnya. .

“Dalam karakteristik penelitian, fokusnya pada fakta empiris dan bukan asumsi, bukan opini, dan keraguan-keraguan lainnya, juga berdasarkan pertimbangan kritis atas ide yang kompleks dan informatif. Penulisan disadarkan atas sesuatu yang dapat dilihat dan diukur. Penulisannya pun menggunakan bahasa akademis, jelas dan padat. Menggunakan bahasa formal, referensi, dan bukti-bukti pendukung lainnya, data dan informasi yang kita dapat dari narasumber,” papar Yani.

Untuk peneliti, KTI itu harapannya tidak hanya disimpan, melainkan disebarluaskan (merujuk pada Peraturan LIPI RI No.20 Tahun 2019 tentang petunjuk teknis jabatan fungsional peneliti). Publikasi tersebut yang akan dinilai. Untuk Pranata Humas, mungkin hal ini juga sama seperti peneliti, namun dari sisi tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah,” terang Yani.

Yani pun menjelaskan bahwa artikel ilmiah atau jurnal dalam penelitian yang mungkin bisa diadaptasi oleh Pranata Humas, yaitu bahwa 1). Terbitan baik cetak dan/atau elektronik yang berisi tulisan hasil penelitian, pengembangan, dan/atau pengkajian pada bisang tertentu yang diterbitkan secara berkala oleh lembaga penerbit atau institusi ilmiah; 2). Memiliki International Standar Serial Number (ISSN); 3). Penilaian naskah sesuai dengan media terbitannya, bukan berdasarkan jenis makalah, seperti short communication, study case pada ilmu kesehatan atau technical support, dan lainnya yang diterbitkan di jurnal, dinilai sesuai kategori jurnalnya; 4). Daftar jurnal ilmiah terindeks glibal bereputasi tinggi, menengah, dan bereputasi, serta terakreditasi nasional dapat ditelusuri melalui keberadaan jurnal dalam daftar yang ada di e-peneliti dan yang diacu adalah reputasi saat tahun penerbitan; 5). Identitas jurnal ditelusuri melalui Digital Object Identifier (DOI) pada laman://dx.doi.org; 6). Tidak termasuk jurnal predator; 7). Tersedia daring secara permanen; 8). Jurnal ilmiah terakreditasi nasional, diakreditasi oleh lembaga nasional yang berwenang mengakreditasi jurnal ilmiah.

Dalam diskusi yang disampaikan dalam acara tersebut, Yani juga menjelaskan terkait kolaborasi antara peneliti dengan Pranata Humas. “Hal tersebut harus dipastikan dulu sebesar apa kontribusinya, bagaimana pembaginya. Kontribusinya itu harus disepakati oleh kedua belah pihak antara tim penulis,” jelas Yani. Dirinya pun menjelaskan bahwa buku yang isinya mengenai Biografi, ini tidak termasuk KTI, meskipun diterbitkan oleh penerbit nasional seperti Gramedia.

“Untuk buku cerita anak yang berdasarkan hasil riset sebelumnya, bisa dijadikan KTI. Hal tersebut dalam artian, dari hasil karya tulis ilmiah melalui hasil penelitian, ditulis kejurnal, kemudian dikemas dalam tulisan yang populer, itu bisa diajukan angka kreditnya. Jadi tulisan itu hasil penelitian, tidak hanya dalam bentuk karya tulis ilmiah yang dipublikasi, tetapi kemudian itu bisa saja dipoles dengan bahasa yang populer, jadi karya tulis yang populer. Artikelnya bisa dipublikasi di koran atau bentuk buku. Kalau kami sebagai peneliti, bisa juga diajukan, namun masuk kedalam unsur penunjang, dan nilainya tidak terlalu besar,” terang Yani.

“Dari hasil karya tulis yang telah dilakukan akan lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, di mana kita berharap bisa mencapai angka kredit yang maksimal, artinya jangan berhenti di satu kegiatan, hanya mengklaim dari satu angka kredit saja, misalnya hanya dari satu pengembangan, tetapi bisa menghasilkan banyak hal. Tidak hanya dari angka kredit namun dari sisi kebermanfaatannya bagi masyarakat. Itulah pentingnya kreatifitas, mungkin bagi saya seorang peneliti, bagi bapak/ibu sebagai seorang humas,” tutup Yani. (dsa/ed:drs)

‘Ngobrol Bareng’ Membahas Riset Teknologi Tepat Guna

By | Berita BKHH | No Comments

Subang, Humas LIPI. Substansi dari sebuah kegiatan tidak akan hilang meskipun dilakukan secara virtual. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna (P2TTG – LIPI) dalam sambutannya pada kunjungan virtual Unit Kegiatan Mahasiswa Penalaran dan Riset UKMPR) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) pada (12/08). “Hadir maupun tidak hadir secara langsung bertatap muka tidak akan mengurangi substansi kegiatan, karena yang terpenting informasi dan pengetahuan yang ingin dicari bisa didapatkan,” imbuhnya.

Pramono menyampaikan P2TTG LIPI sudah berdiri sejak 34 tahun yang lalu dan cukup banyak melakukan kegiatan dari Aceh sampai Papua. “Kegiatan kita di awal justru di Wamena, Papua,” ucapnya. Pada awal berdirinya, Pramono menyampaikan bahwa fokus kegiatan P2TTG LIPI adalah membantu masyarakat maupun UKM di Indonesia melalui teknologi tepat guna. “Dalam perkembangannya banyak berubah mengikuti dinamika organisasi dan sampai saat ini yang sedang dalam masa transisi menuju Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),” jelasnya.

Flagship kedepan P2TTG LIPI akan lebih banyak pada pengembangan peralatan, meskipun tidak terlepas dari riset proses. “Karena dalam mendisain peralatan kita memerlukan peneliti pangan yang terlibat,” ungkap Pramono. TTG dalam perkembangannya mengikuti perkembangan teknologi. “Namun kami terus berupaya mengembangkan peralatan dan teknologi proses yang diharapkan dapat menjadi solusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk Ngobrol Bareng LIPI mengangkat tema ‘Mengenal LIPI dan Riset Teknologi Tepat Guna’ dan dihadiri sekitar 98 peserta. Tujuannya menggali informasi terkait kelembagaan LIPI dan riset – riset apa saja yang telah dihasilkan LIPI, khususnya riset yang dilaksanakan oleh P2TTG LIPI.

Rutriana Meilisa, Sub Kordinator Layanan Fungsi Humas dan Kerja Sama Kawasan Subang dengan tema ‘Mengenal LIPI, Mari Membangun Bangsa dengan Ilmu Pengetahuan’. Sesuai dengan tugas dan fungsinya di bidang Humas, Rutriana memaparkan materi tentang LIPI secara kelembagaan. Ia juga menyebutkan berbagai bentuk layanan publik yang dapat dimanfaatkan dan terbuka untuk masyarakat. Rutriana juga menyampaikan meskipun di tengah pandemi, LIPI tetap memberikan pelayanan publik terbaik bagi masyarakat. “Pandemi ini membuat kami harus adaptif untuk tetap memberikan layanan publik terbaik bagi masyarakat, salah satunya dengan melakukan transformasi pelayanan memanfaatkan teknologi informasi,” tuturnya.

Beberapa jenis layanan publik yang dapat diakses oleh publik antara lain (1) Permintaan Informasi melalui sistem PPID Online (2)Layanan Elektronik Layanan Sains (ELSA) yang meliputi layanan sewa alat, pengujian/analisis/karakterisasi, pembelian hasil produksi, kunjungan ilmiah, komputasi berkinerja tinggi, dan pembimbingan tugas akhir mahasiswa, (3) Layanan Repositori Ilmiah Nasional (4) Layanan Edukasi (5) Layanan Akses Buku Gratis dan (6) Layanan Kerja Sama.

Narasumber kedua adalah Riyanti Ekafitri, yang merupakan ketua Kelompok Penelitian Rekayasa Proses Pangan dengan tema ‘Bidang Riset TTG’. Riyanti menjelaskan, teknologi tepat guna adalah teknologi yang teruji kelayakan nya dari segi teknis, memberikan nilai tambah, ekonomi, ramah lingkungan dan diterima secara sosial serta mengikuti perkembangan masyarakat pengguna. “Fokusnya pada kebutuhan masyarakat atau customize, jadi masyakarat butuh apa itu yang kita kembangkan,” ucapnya.

P2TTG LIPI telah mengembangkan teknologi tepat guna baik berupa peralatan dan juga proses pengolahan pangan sampai dengan implementasi ke masyarakat pengguna. “Namun sejak menjadi pusat riset, untuk impelementasi kita bekerja sama dengan unit kerja yang lain,” tutur Riyanti.

Peneliti Madya bidang pangan tersebut menyampaikan bidang riset penelitian dan pengembangan (litbang) TTG adalah peralatan proses pengolahan pangan (food processing machinery) dan peralatan pengolahan pascapanen (postharvest machinery). Terdapat 5 kelompok penelitian di P2TTG LIPI, yaitu (1) Rekayasa Proses Pangan TTG (2) Mekanisasi dan Peralatan Pasca Panen TTG (3) Mekanis dan Termal Peralatan TTG (4) Otomasi Peralatan TTG, dan (5) Agroindustri TTG.

Dalam kesempatan tersebut Riyanti juga menyampaikan beberapa hasil riset yang dihasilkan P2TTG LIPI. Dirinya menuturkan dalam melakukan riset perlu bekerja sama antar kelompok penelitian. “Dalam melakukan penelitian kita harus bekerja sama dengan grup riset yang lain, kita tidak bisa bekerja sendiri,” jelasnya.

Afik Hardanto, pembina UKMPR Unsoed menyampaikan tujuan kegiatan kunjungan virtual tersebut. “Semoga dapat memberikan motivasi kepada adik-adik dan semangat terutama dalam konsep merdeka belajar,” ungapnya. Afik berharap LIPI dapat menjadi salah satu mitra dalam pelaksanaan merdeka belajar di Universitas Jenderal Soedirman. Afik berpesan kepada para peserta untuk mendahulukan adab dalam menuntut ilmu. “Karena kita datang untuk mencari ilmu, kita harus mendahulukan adab sebelum ilmu,” ungkapnya. Afik juga menyampaikan harapannya untuk melakukan kolaborasi riset dengan P2TTG LIPI. “Semoga tidak hanya kunjungan, namun kedepan kita juga dapat melakukan riset bersama,” ucapnya. (ecp,rm.ed/rm).

LIPI Siapkan Invensi Anak Muda di Kancah Internasional

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Biro Kerjasama, Hukum, dan Humas (BKHH) LIPI mengadakan Workshop persiapan keikutsertaan dalam ajang International Exhibition for Young Inventors (IEYI) tahun 2021 secara virtual. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 20 peserta dari 11 projek invensi pemenang National Young Inventors Award (NYIA) ke-13 tahun 2020. Workshop Persiapan IEYI 2021 ini dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 12 dan 13 Agustus 2021 secara daring. Hari pertama adalah pemberian materi Penguatan Subsatansi dengan menghadirkan narasumber Edward Yazid Ph.D salah satu Dewan Juri NYIA 2021. Hari selanjutnya adalah penguatan materi komunikasi dan pelatihan video, oleh Saskia Dwimayani dan Valiant Gandys dari tim Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI.

Koordinator Pembinaan Ilmiah, Yutainten, M. Commun mewakili Kepala Biro Kerjasama Hukum dan Humas dalam sambutannya mengucapkan bahwa partisipasi Indonesia di ajang kompetisi ilmiah internasional yang diikuti oleh 12 negara afiliasi di Asia dan Eropa telah diulai sejak tahun 2005. Sudah lebih dari tiga kali, LIPI juga turut menjadi tuan rumah IEYI, yakni pada tahun 2007 di Yogjakarta, tahun 2014 di Jakarta dan tahun 2019 di BSD Tangerang. Tahun 2021 ini seharusnya diselenggarakan di Rusia, tetapi karena situasi pandemi yang tidak memungkinkan untuk kompetisi luring maka kegiatan dirubah menjadi virtual. “Berbeda dengan tahun sebelumnya, di tahun ini terdapat 9 katergori lomba dengan 2 kategori baru yaitu kategori Industrial Design & Convenience Devices for Daily Life dan Technology for Elderly People. Penambahan kategori baru tersebut dapat memberikan peluang pengembangan inovasi remaja agar lebih kreatif” ujar Yuta. Tahun ini, sistem penilaian IEYI masih berdasarkan penilaian invensi video singkat berdurasi 1-2 menit yang di upload di Youtube atau Google Drive.

Bapak Edward Yazid Ph.D, selaku narasumber, memulai pemaparannya dengan mengucapkan selamat pada semua peserta yang berkesempatan untuk ikut serta sebagai perwakilan Indonesia dalam acara IEYI. Beliau memaparkan bahwa Indonesia merupakan delegasi yang selalu meraih medali dari tahun ke tahun. Untuk mencapai hal tersebut, maka harus dilakukan penguatan substansi dan penguatan paparan (terkait dengan presentasi). “Dalam penguatan substansi hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah inovasi dan originalitas sehingga diperlukan kajian yang mendalam dan kemungkinan untuk pengembangan” pungkas Edward (nur/ed.yt)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Memahami Proses Pengambilan Kebijakan Berbasis Riset Melalui Forum Kajian Kebijakan Publik

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Biro Kerja Sama Hukum dan Humas (BKHH) LIPI menyelenggarakan Forum Kajian Kebijakan “Praktik Teknik Analisis Kebijakan Publik” pada tanggal 9 Agustus 2021 secara online melalui zoom meeting. Forum kajian yang diikuti sivitas BKHH LIPI ini menghadirkan narasumber Fadillah Putra, dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya.

Kepala BKHH, Mila Kencana, dalam sambutannya mengatakan bahwa forum kajian kebijakan ini diikuti oleh SDM Pendukung Iptek BKHH yang mempunyai jabatan fungsional pranata humas, perancang perundang-undangan, analis kerjasama, analis kebijakan, dan analis hukum. Pemerintah mendorong ASN untuk memiliki jabatan fungsional sehingga lebih profesional untuk melayani publik. BKHH adalah biro korporat, avant garde, yang melayani publik, kebijakan regulasi, inisiasi serta menjalankan kerja sama dalam dan luar negeri. Forum kajian ini dilatarbelakangi untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan sivitas BKHH LIPI mengenai proses analisis kebijakan yang baik dan untuk mengetahui perkembangan beberapa metode kepada sivitas BKHH LIPI yang bermanfaat dalam melakukan analisis kebijakan.

Dalam mendukung kebijakan yang berbasis riset, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pengayaan bagaimana proses dan metode kajian ilmiah dalam konteks pengambilan dan evaluasi kebijakan. “Dalam forum kajian ini kita juga mengetahui kebijakan yang based on research yang memerlukan knowledge management yang baik sehingga prosesnya lebih efektif dan efisien khususnya di BKHH yang rekomendasinya dipakai pimpinan LIPI dan satuan kerja LIPI” pungkas Mila Kencana.

Narasumber Fadillah Putra, MPAff., Ph.D. menjelaskan bahwa policy analysis menjadi kebutuhan di hampir semua organisasi publik untuk semua substansi karena kebijakan publik tidak bisa dipisahkan dari organisasi publik. Dalam enam tahun terakhir ini, kajian kebijakan menawarkan dua konsep pendekatan dari seorang peneliti yaitu quantitative social scientist, ilmuwan sosial yang berbasis pada pendekatan kuantitatif. Pendekatan lainnya, Epistemic governance adalah sebuah sistem pengelolaan sektor publik yg berbasis science. Saat ini, RPJMN memberi ruang economic based science dan science based society dimana proses ekonomi dan sosial kemasyarakatan yang berlangsung di Indonesia benar-benar berbasis riset. Sehingga riset dalam analisis kebijakan menjadi dasar bagi negara dalam melangkah membuat perencanaan, kebijakan, dan program yang disebut evidence based policy (EBP).

Dalam menentukan EBP, tentunya proses analisis kebijakan publik akan melewati tiga tahapan yaitu diagnosis, indikasi, dan terapi. Diagnosis untuk menentukan ada masalah apa dan apa penyebab masalah tersebut. Indikasi, masalah kebijakan berada di mana. Terapi, menawarkan apa yang harus kita berikan supaya kebijakan publik bisa berjalan lebih efektif dalam menyelesaikan masalah yang ada. Semua bisa diproses menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. “Harapan kita, dengan epistamic governance LIPI menjadi salah satu garda terdepan. Negara kita membutuhkan lembaga seperti LIPI untuk menjadi salah satu ujung tombak menciptakan epistamic governance” pungkas Fadhil.

Acara ditutup oleh Yutainten, selaku Koordinator Pelaksana Fungsi Pembinaan Ilmiah. “Terima kasih atas kesediaan Bapak Fadil untuk memberikan materi pengayaan kepada kami. Banyak ilmu baru yang kami dapatkan. Dalam kondisi saat ini pada masa transisi LIPI, dibutuhkan sekali kajian kebijakan untuk melihat impact dari kegiatan pembinaan ilmiah maupun program dan kebijakan LIPI secara korporat ini. Semoga ke depan kami bisa mengadakan kegiatan pengayaan seperti ini kembali di lain waktu dan semoga bermanfaat untuk kita semua,” tutup Yutainten.(tb/edt.yt)

Perbaiki Kinerja Organisasi dengan Audit Komunikasi

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Dalam rangka memperbaiki kinerja organisasi, Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI menyelenggarakan kegiatan bimbingan kajian kehumasan dengan tema “Audit komunikasi” pada Jumat, 06 Agustus 2021 secara virtual. Kegiatan ini memiliki tujuan untuk memberikan pengayaan Kepada sivitas LIPI bagaimana cara mengevaluasi kinerja komunikasi guna mengetahui bagamana relevansi kegiatan yang dilakukan sebuah organisasi atau Intansi pemerintahan.

Diikuti oleh lebih kurang 78 sivitas LIPI diantaranya Koordinator dan Subkoordinator Satker Kerja Sama Hukum dan Humas dan turut mengundang Pranata Humas, Perancang Peraturan Perundang-undangan serta Analis Hukum dan Analis Kebijakan Ahli Pertama, Muda dan Madya serta Pranata Humas dan Hukum, kegiaatan ini menghadirkan narasumber Dr. Antar Venus, M. A (Wakil Rektor UPN “Veteran” Jakarta. Dalam penjelasan materinya beliau menyampaikan bahwa audit komunikasi merupakan sebuah upaya untuk memperoleh umpan balik baik secara internal maupun eksternal. Audit komunikasi bisa dilakukan secara komprehensif ketika mengevaluasi kinerja komunikasi organisasi. Namun, dapat dilakukan secara parsial atau mini audit ketika mengevaluasi suatu program organisasi.

“Banyak variabel yang dinilai dalam audit komunikasi, dari saluran komunikasi, pertukaran komunikasi, kesediaan informasi tugas, ketepatan waktu, tindak lanjut pesan serta informasi terkait organisasi. Semua variabel tersebut ditangkap untuk melihat hal apa saja yang menjadi kelemahan dan kekurangan organisasi dalam mengkomunikasikan visi misinya” pungkas Antar Venus.

Pada kesempatan ini Kepala BKHH LIPI memberikan arahan kepada peserta FGD bahwa bimbingan kajian ini harus dimanfaatkan dengan optimal baik diimplementasikan sebagai perbaikan korporat maupun pengembangan kompetensi diri.

“Saat ini ASN dituntut untuk bertindak profesional dengan adanya peningkatan jumlah pegawai dengan Jabatan Fungsional (JF) . Sehingga kegiatan korporat seharusnya dapat dilaksanakan lebih baik lagi dengan melakukan kaidah-kaidah pekerjaan yang sesuai dengan profesionalisme jabatan fungsional. salah satunya adalah JF terkait komunikasi dan kehumasan. Diharapkan hasil dari pertemuan ini, sivitas LIPI dapat membuat kajian audit komunikasi. Seperti yang akan dilakukan kepada salah satu program proritas nasional LIPI, yakni Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional maupun Kompetisi Ilmiah LIPI, sedangkan bagi JF lainnya dapat mengimplementasikan wawasan sesuai dengan lingkup pekerjaan JFnya” tegas Mila dalam mengakhiri sambutannya. (Rin/edt.yt.)

Membumikan Sains

By | Berita BKHH | No Comments

Ambon, Humas LIPI. Kegiatan penyebarluasan hasil-hasil penelitian merupakan suatu bentuk tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh setiap peneliti baik yang bekerja pada suatu lembaga/instansi pemerintah atau swasta maupun mandiri. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (29/7) ini bertujuan agar hasil penelitian tersebut dapat memberikan manfaat secara luas. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai sebuah lembaga riset nasional melalui visi dan misinya telah menyiratkan tentang pelaksanaan kegiatan tersebut. Sejalan dengan LIPI, Pusat Penelitian Laut Dalam (PPLD) dalam pelaksanaan tugas dan fungsi telah menjabarkan juga tentang kegiatan tersebut salah satu sasaran strategisnya yaitu “melakukan diseminasi hasil-hasil penelitian kepada berbagai pihak terkait sebagai upaya meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya laut yang lestari”.

Proses penyebarluasan hasil-hasil penelitian umumnya dilakukan salah satunya melalui publikasi Karya Tulis Ilmiah (KTI). Namun dengan berkembangnya zaman dan teknologi kegiatan penyebarluasan hasil-hasil penelitian dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melalui pemanfaatan media informasi resmi lembaga yaitu situs web maupun media/sarana informasi lainnya.

Di sisi lain, pengetahuan tentang “Komunikasi Sains” dalam proses penterjemahan Bahasa ilmiah menjadi informasi yang mudah dikonsumsi oleh masyarakat juga menjadi faktor yang penting. Sehingga kegiatan dan proses dalam penyebarluasan hasil-hasil penelitian di PPLD LIPI dapat dilaksanakan dengan baik.

Selain media informasi resmi lembaga atau instansi, agar supaya dapat lebih maksimal kegiatan penyebarluasan hasil-hasil penelitian dapat dilakukan dengan memanfaatkan peran media online atau cetak yang ada. Tentunya hubungan kerjasama antar peneliti dan BKHH Kawasan LIPI Ambon dengan media online/cetak setempat baik pemerintah maupun swasta kiranya dapat dijalin dengan baik sehingga penyebarluasan kegiatan dan hasil-hasil penelitian dapat juga dilakuan bukan saja melalui media informasi resmi PPLD LIPI tapi melalui media online/cetak lainnya. Karena apabila ditinjau dari segi kebutuhan kegiatan ini merupakan sebuah hubungan yang saling menguntungkan. Media masa memiliki posisi yang penting sebagai komunikator antara peneliti dan masyarakat.

Berdasarkan kondisi diatas maka Pusat Penelitian Laut Dalam - LIPI mengadakan sebuah Diskusi Terpumpun atau Forum Group Discussion (FGD) dengan judul “Pentingnya Komunikasi Sains & Peran Media Komunikasi Dalam Penyebarluasan Hasil-hasil Penelitian”, yang dilaksanakan pada Kamis, 29 Juli 2021, Pukul 13.00-15.00 WIB/15.00-17.00 WIT melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan Kepala Bidang Pemberitaan RRI Ambon (Philip Sekewael, S.Sos.), Kepala Biro Antara Maluku-Malut (Rian Anggoro) dan Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI (Intan Suci Nurhati, Ph.D.).

Philip Sekewael dalam FGD menyampaikan bahwa RRI dengan jangkauan yang luas sampai ke pulau-pulau terluar atau biasa disebut serambi NKRI dapat dimanfaatkan dalam menyampaikan hasil-hasil penelitiannya tersebut. Sehingga PPLD LIPI dapat mengoptimalkan kehadiran RRI Ambon dalam kegiatan tersebut.

Rian Anggoro dalam diskusi mengatakan bahwa Antara Maluku-Malut merupakan media yang paling konsisten memberitakan tentang LIPI. Namun beliau mengatakan bahwa tidak semua informasi bisa dijadikan berita. Beliau juga mengatakan bahwa wartawan kedepan juga harus ikut langsung peneliti ke lapangan dalam pengambilan data, sehingga mereka akan paham isi berita yang akan disampaikan.

Intan Nurhati dalam diskusi lebih mengajak para peneliti muda PPLD LIPI untuk lebih membuka diri untuk menjadi science communicator yaitu dengan membumikan sains. Beliau memisalkan seperti ilmu yang ada di menara gading harus diturunkan sampai ke masyarakat. Komunikasi sains menjadi penting terutama dalam membantu dalam pembuatan kebijakan secara global. Komunikasi sains dapat dimulai dari sekarang dengan memanfaatkan media radio, podcast, TV, artikel cetak dll.

Dalam sambutan pembuka Dr. Nugroho Dwi Hananto selaku Plt. Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam mengapresiasi kegiatan ini. Beliau mengatakan bahwa hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan harus disebarluaskan sampai ke pemangaku kepentingan sehingga akan memberikan manfaat yang besar. Yang bertindak sebagai moderator adalah Corry Y. Manullang, M.Sc peneliti PPLD LIPI. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan habituasi dan aktualisasi dari Dr. Eng. Muhammad Zain Tuakia dalam latsar CPNS LIPI 2021. (lt,zt)

 

 

LIPI Peduli Kekayaan Intelektual Bagi Finalis LKIR dan NYIA 2020

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Hingga saat ini, LIPI merupakan produsen paten terbanyak di Indonesia. Posisi ini tentunya sebagai ilustrasi tingkat kualitas litbang di LIPI serta bukti kompetensi instansi dalam mengelola Kekayaan Intelektual (KI). Dalam rangka diseminasi pengetahuan, maka informasi dan pentingnya pelindungan KI kepada masyarakat menjadi salah satu informasi yang dibutuhkan, khususnya bagi pelajar yang aktif berkarya di pengembangan riset inovasi,.

Saat ini, LIPI rutin mengembangkan minat dan budaya riset generasi muda melalui ajang kompetisi Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dan National Young Inventor Award (NYIA). Antusiasme remaja dalam berinovasi dilihat dari semakin meningkatnya jumlah karya ilmiah dan produk inovasi teknologi peserta LKIR dan NYIA yang dihasilkan setiap tahunnya. Tentunya hal tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan pemahaman peserta terkait pentingnya pelindungan KI. Namun, mengingat peserta kompetisi LIPI masih merupakan usia sekolah, diperlukan strategi khusus dan kehati-hatian dalam penyampaian materi KI kepada mereka. Untuk itu, perlu diusung konsep fun-learning agar menjadi daya tarik bagi remaja dan menerapkan kolaborasi dengan sekolah pengusung agar proteksi KI bisa optimal.

Kepala Biro Kerjasama, Hukum dan Hubungan Masyarakat (BKHH) LIPI, Mila Kencana menyampaikan dalam acara pendampingan Fasilitasi Hak Cipta bagi Finalis LKIR dan NYIA 2020 (27/7) bahwa “Terkait hasil inovasi dari para finalis atau pemenang LKIR dan NYIA, hal ini merupakan perhatian khusus dari pimpinan LIPI. sehubungan dengan hal tersebut, LIPI mencoba mangakomodir atau memfasilitasi para pemenang dengan pendampingan yang difasilitasi oleh PPII LIPI. Pemilihannya yang memang potensial dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu dimana tentunya pihak PPII yang lebih mengetahui dan paham dari sisi paten dan inovasinya”, tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Pelaksana Bina Ilmiah BKHH LIPI, Yuta Inten pun menjelaskan “Kegiatan Pendampingan Hak Cipta ini merupakan bukti komitmen LIPI difasilitasi oleh BKHH dan PPII terhadap pengembangan potensi penelitian remaja Indonesia. Diharapkan post harvesting program ini memberikan nilai lebih dan motivasi bagi remaja untuk terus berkarya dalam riset dan inovasi”, tutup Yuta. (dsa/ed:yt)