Monitoring dan Evaluas Pembimbingan LKIR ke-53 untuk Meningkatkan Layanan Pembinaan Ilmiah

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan untuk ke-53 kalinya oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini sedang pada tahap pembimbingan 53 proposal terpilih yang dibimbing langsung oleh para Peneliti LIPI. Setelah melewati proses pendaftaran hingga penentuan proposal terbimbing oleh 12 Dewan Juri LKIR, para peserta kemudian menjalani pembimbingan mulai 14 Juli hingga 3 Oktober 2021 secara virtual.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, LIPI menyatakan komitmennya dalam peningkatan layanan pembinaan ilmiah dengan melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) pembimbingan LKIR ke-53 pada Selasa (7/9). Monev ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan serta menyelesaikan permasalahan yang ada dalam proses pembimbingan.

Dengan diterbitkannya Peraturan Presiden No. 78 tahun 2021 tentang BRIN, transisi LIPI menuju BRIN tidak pula menghentikan kompetisi ilmiah untuk tetap dilaksanakan. “Kegiatan kompetisi LIPI dapat tetap berjalan pada bulan Oktober ini,” ujar Mila Kencana, Plt. Kepala Biro Hukum dan Kerja Sama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Monev yang dilakukan secara virtual ini membahas 14 proposal bidang Ilmu Pengetahuan Hayati, 21 proposal bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, 9 proposal bidang Ilmu Pengetahuan Teknik, dan 9 proposal bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian. Kegiatan ini menjembatani para peserta dengan mentor, dewan juri, serta panitia LKIR untuk saling berkomunikasi dan melakukan perbaikan untuk permasalahan yang ada. Selain itu, pemerataan pemahaman dengan informasi yang dimiliki oleh para pihak juga menjadi salah satu tujuan dari berlangsungnya monev ini.

Ketua dewan juri LKIR, Prof. I Made Sudiana, menyatakan apresiasinya kepada para mentor yang telah meluangkan waktunya untuk berpartisipasi dalam membimbing para peserta. Made juga mengatakan para peserta dan mentor harus bekerja keras lagi untuk dapat menyelesaikan karya tulis dalam waktu kurang dari sebulan ini.

Rangkaian kegiatan LKIR akan dilanjutkan dengan pengumpulan laporan penelitian yang telah diselesaikan oleh peserta paling lambat pada 6 Oktober 2021. Kemudian, dewan juri dan mentor akan menentukan finalis yang layak untuk mengikuti pameran dan presentasi secara virtual pada 25 Oktober mendatang.

Keterbatasan waktu dan kondisi di saat pandemi Covid-19 tidak menjadi hambatan dalam pelaksanaan kegiatan LKIR. Dengan meningkatkan komunikasi dan kerja sama yang bersinergi antar dewan juri, mentor, peserta, serta panitia diharapkan dapat memperlancar proses pembimbingan hingga selesai, sehingga LKIR ke-53 2021 dapat menghasilkan karya tulis terbaik anak bangsa. (sd)

Sivitas BKHH LIPI Raih Penghargaan sebagai ASN The Future Leader dan Koordinator Terbaik

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Rangkaian acara kiprah 54 Tahun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di buka oleh Plh. Kepala LIPI, Dr. Agus Haryono pada Kamis, (26/8) secara virtual. Acara ini mengangkat tema ‘Semangat Inovasi Solusi untuk Negeri’.

Agus Haryono, dalam sambutannya mengatakan bahwa HUT 54 Tahun LIPI dengan tema semangat Inovasi Solusi untuk Negeri. “Tema ini sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia yang banyak membutuhkan inovasi-inovasi, solusi dari peneliti LIPI. Bangsa Indonesia saat ini masih berjuang menghadapi pandemi,” ungkapnya.

Pada sesi acara penganugerahan penghargaan Sumber Daya Manusia (SDM) berprestasi terdapat dua di antaranya sivitas dari Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas (BKHH) LIPI, yakni Pertama. Mila Hanifa dinobatkan sebagai penerima penghargaan kategori ASN The Future Leader di lingkungan Sekretariat Utama LIPI. Perempuan kelahiran tahun 1985 ini, memulai karirnya di LIPI sejak tahun 2008. Berperan aktif dalam penyusunan peraturan perundang-undangan baik di tingkat nasional maupun internal LIPI. Membentuk regulasi LIPI yang berkualitas dan memberikan kemudahan bagi penyelenggaraan Iptek sebagai sebuah keharusan untuk menciptakan iklim inovasi yang kondusif bagi penyelenggaraan Iptek.

Selanjutnya, Yutainten dinobatkan sebagai Penerima penghargaan kategori koordinator terbaik di lingkungan Sekretaris Utama LIPI. Perempuan kelahiran Subang tahun 1986 ini, memulai karirnya di LIPI sejak tahun 2008. Saat ini sebagai koordinator pelaksana bina ilmiah. Aktif pada kegiatan pembinaan ilmiah yang diselenggarakan oleh BKHH LIPI nasional dan internasional.

Hadir sebagai keynote speaker pada acara HUT 54 Tahun ini, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. yang menyampaikan tentang ‘Riset dan Inovasi dalam Dunia Hyperconnected’. Rangkaian acara HUT ke 54 LIPI juga diisi dengan Penganugerahan Satyalencana Pembangunan dan Wirakarya dan Penganugerahan Penghargaan bagi Pegawai LIPI, Video Kreatif Satuan Kerja 54 tahun LIPI dan penyerahan simbolis LIPI Peduli. (dr)

LIPI Kampanyekan Cinta Tanah Air Kepada Milenial

By | Berita BKHH | No Comments

Bogor, Humas LIPI. Generasi milenial memiliki peran yang sangat penting bagi kemajuan bangsa Indonesia. Sebagai agen perubahan jiwa patriotisme, rasa cinta tanah air bisa diwujudkan salah satunya dengan ikut melestarikan dan mengkampanyekan keanekaragaman hayati Indonesia. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Biro Kerjasama Hukum dan Humas LIPI Mila Kencana, saat membuka webinar dengan tema “Cara Asyik Cinta Tanah Air, Bincang Santai Bareng Milenial” Minggu, (22/08).

Mila menambahkan keanekaragaman hayati Indonesia merupakan sumber daya potensial sebagai bahan baku produk lokal sehingga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat apalagi di saat pandemi saat ini.
“Harapannya semoga kegiatan ini bisa menginspirasi generasi milenial untuk berkiprah dalam melestarikan keanekargaman hayati sebagai bentuk cinta tanah air” ujarnya.

Perekayasa dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Marwan mengatakan bentuk cinta tanah air sangat beragam salahsatunya bisa dilakukan dengan mengeksplorasi kekayaan alam, budaya nusantara Indonesia. Adapun Senior Grafic Desainer dari Idea cultura Bandung Farah Anisati Bariz mengatakan bentuk rasa cinta tanah air bisa dilakukan dengan membuka cara berfikir dan melakukan dari hal-hal yang kecil disekitar.
Sementara itu Aktivis Lingkungan dan Pemerhati Budaya Bengkulu Sopian mengatakan media sosial menjadi sarana yang tepat untuk menyebarluaskan informasi terkait keanekragaman hayati terutama Rafflesia puspa langka yang menjadi icon Bengkulu. Sampai saat ini masih banyak masyarakat yang salah paham terkait perbedaan bunga bangkai dan rafflesia.

“Banyak masayakarat yang salah kaprah terkait rafflesia dan amorphophallus, apalagi ketika porang disamakan dengan bunga bangkai Amorphphallus titanium, inilah yang menjadi tugas kita meluruskan hal tersebut” ujarnya.

Kegiatan webinar ini merupakan salah satu kegiatan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi LIPI ke 54. Yang diikuti oleh lebih dari 100 peserta dari berbagai latar belakang profesi dan usia dan tersebar dari berbagai daerah di Indonesia. (add)

Peneliti LIPI Mengenalkan Karakteristik Penelitian untuk Pranata Humas

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Menulis merupakan aktifitas pekerjaan yang tidak bisa dipisahkan dari diri seorang Pranata Humas. Banyak pekerjaan yang terkait dengan aktifitas menulis salah satunya adalah menyusun karya tulis ilmiah (KTI). Dr. Yani Mulyaningsih, Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, membagikan pengalamannya sebagai tim penilai peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam kegiatan Bimbingan Teknis Tim Penilai Jabatan Fungsional Pranata Humas: Penulisan Karya Tulis, yang dilaksanakan secara daring pada (12/8) lalu.

Berdasarkan hasil publikasi di LIPI bahwa Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan karakteristiknya menjelaskan bahwa KTI merupakan tulisan hasil penelitian dan pengembangan, tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah. Dirinya memandang bahwa Jabatan Fungsional Pranata Humas memiliki tupoksi yang bukan pada penelitian dan pengembangan. Menurutnya, Pranata Humas dapat juga membuat tinjauan, ulasan, kajian ilmiah, dan pemikiran sistematis lainnya. .

“Dalam karakteristik penelitian, fokusnya pada fakta empiris dan bukan asumsi, bukan opini, dan keraguan-keraguan lainnya, juga berdasarkan pertimbangan kritis atas ide yang kompleks dan informatif. Penulisan disadarkan atas sesuatu yang dapat dilihat dan diukur. Penulisannya pun menggunakan bahasa akademis, jelas dan padat. Menggunakan bahasa formal, referensi, dan bukti-bukti pendukung lainnya, data dan informasi yang kita dapat dari narasumber,” papar Yani.

Untuk peneliti, KTI itu harapannya tidak hanya disimpan, melainkan disebarluaskan (merujuk pada Peraturan LIPI RI No.20 Tahun 2019 tentang petunjuk teknis jabatan fungsional peneliti). Publikasi tersebut yang akan dinilai. Untuk Pranata Humas, mungkin hal ini juga sama seperti peneliti, namun dari sisi tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah,” terang Yani.

Yani pun menjelaskan bahwa artikel ilmiah atau jurnal dalam penelitian yang mungkin bisa diadaptasi oleh Pranata Humas, yaitu bahwa 1). Terbitan baik cetak dan/atau elektronik yang berisi tulisan hasil penelitian, pengembangan, dan/atau pengkajian pada bisang tertentu yang diterbitkan secara berkala oleh lembaga penerbit atau institusi ilmiah; 2). Memiliki International Standar Serial Number (ISSN); 3). Penilaian naskah sesuai dengan media terbitannya, bukan berdasarkan jenis makalah, seperti short communication, study case pada ilmu kesehatan atau technical support, dan lainnya yang diterbitkan di jurnal, dinilai sesuai kategori jurnalnya; 4). Daftar jurnal ilmiah terindeks glibal bereputasi tinggi, menengah, dan bereputasi, serta terakreditasi nasional dapat ditelusuri melalui keberadaan jurnal dalam daftar yang ada di e-peneliti dan yang diacu adalah reputasi saat tahun penerbitan; 5). Identitas jurnal ditelusuri melalui Digital Object Identifier (DOI) pada laman://dx.doi.org; 6). Tidak termasuk jurnal predator; 7). Tersedia daring secara permanen; 8). Jurnal ilmiah terakreditasi nasional, diakreditasi oleh lembaga nasional yang berwenang mengakreditasi jurnal ilmiah.

Dalam diskusi yang disampaikan dalam acara tersebut, Yani juga menjelaskan terkait kolaborasi antara peneliti dengan Pranata Humas. “Hal tersebut harus dipastikan dulu sebesar apa kontribusinya, bagaimana pembaginya. Kontribusinya itu harus disepakati oleh kedua belah pihak antara tim penulis,” jelas Yani. Dirinya pun menjelaskan bahwa buku yang isinya mengenai Biografi, ini tidak termasuk KTI, meskipun diterbitkan oleh penerbit nasional seperti Gramedia.

“Untuk buku cerita anak yang berdasarkan hasil riset sebelumnya, bisa dijadikan KTI. Hal tersebut dalam artian, dari hasil karya tulis ilmiah melalui hasil penelitian, ditulis kejurnal, kemudian dikemas dalam tulisan yang populer, itu bisa diajukan angka kreditnya. Jadi tulisan itu hasil penelitian, tidak hanya dalam bentuk karya tulis ilmiah yang dipublikasi, tetapi kemudian itu bisa saja dipoles dengan bahasa yang populer, jadi karya tulis yang populer. Artikelnya bisa dipublikasi di koran atau bentuk buku. Kalau kami sebagai peneliti, bisa juga diajukan, namun masuk kedalam unsur penunjang, dan nilainya tidak terlalu besar,” terang Yani.

“Dari hasil karya tulis yang telah dilakukan akan lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, di mana kita berharap bisa mencapai angka kredit yang maksimal, artinya jangan berhenti di satu kegiatan, hanya mengklaim dari satu angka kredit saja, misalnya hanya dari satu pengembangan, tetapi bisa menghasilkan banyak hal. Tidak hanya dari angka kredit namun dari sisi kebermanfaatannya bagi masyarakat. Itulah pentingnya kreatifitas, mungkin bagi saya seorang peneliti, bagi bapak/ibu sebagai seorang humas,” tutup Yani. (dsa/ed:drs)

‘Ngobrol Bareng’ Membahas Riset Teknologi Tepat Guna

By | Berita BKHH | No Comments

Subang, Humas LIPI. Substansi dari sebuah kegiatan tidak akan hilang meskipun dilakukan secara virtual. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna (P2TTG – LIPI) dalam sambutannya pada kunjungan virtual Unit Kegiatan Mahasiswa Penalaran dan Riset UKMPR) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) pada (12/08). “Hadir maupun tidak hadir secara langsung bertatap muka tidak akan mengurangi substansi kegiatan, karena yang terpenting informasi dan pengetahuan yang ingin dicari bisa didapatkan,” imbuhnya.

Pramono menyampaikan P2TTG LIPI sudah berdiri sejak 34 tahun yang lalu dan cukup banyak melakukan kegiatan dari Aceh sampai Papua. “Kegiatan kita di awal justru di Wamena, Papua,” ucapnya. Pada awal berdirinya, Pramono menyampaikan bahwa fokus kegiatan P2TTG LIPI adalah membantu masyarakat maupun UKM di Indonesia melalui teknologi tepat guna. “Dalam perkembangannya banyak berubah mengikuti dinamika organisasi dan sampai saat ini yang sedang dalam masa transisi menuju Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),” jelasnya.

Flagship kedepan P2TTG LIPI akan lebih banyak pada pengembangan peralatan, meskipun tidak terlepas dari riset proses. “Karena dalam mendisain peralatan kita memerlukan peneliti pangan yang terlibat,” ungkap Pramono. TTG dalam perkembangannya mengikuti perkembangan teknologi. “Namun kami terus berupaya mengembangkan peralatan dan teknologi proses yang diharapkan dapat menjadi solusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk Ngobrol Bareng LIPI mengangkat tema ‘Mengenal LIPI dan Riset Teknologi Tepat Guna’ dan dihadiri sekitar 98 peserta. Tujuannya menggali informasi terkait kelembagaan LIPI dan riset – riset apa saja yang telah dihasilkan LIPI, khususnya riset yang dilaksanakan oleh P2TTG LIPI.

Rutriana Meilisa, Sub Kordinator Layanan Fungsi Humas dan Kerja Sama Kawasan Subang dengan tema ‘Mengenal LIPI, Mari Membangun Bangsa dengan Ilmu Pengetahuan’. Sesuai dengan tugas dan fungsinya di bidang Humas, Rutriana memaparkan materi tentang LIPI secara kelembagaan. Ia juga menyebutkan berbagai bentuk layanan publik yang dapat dimanfaatkan dan terbuka untuk masyarakat. Rutriana juga menyampaikan meskipun di tengah pandemi, LIPI tetap memberikan pelayanan publik terbaik bagi masyarakat. “Pandemi ini membuat kami harus adaptif untuk tetap memberikan layanan publik terbaik bagi masyarakat, salah satunya dengan melakukan transformasi pelayanan memanfaatkan teknologi informasi,” tuturnya.

Beberapa jenis layanan publik yang dapat diakses oleh publik antara lain (1) Permintaan Informasi melalui sistem PPID Online (2)Layanan Elektronik Layanan Sains (ELSA) yang meliputi layanan sewa alat, pengujian/analisis/karakterisasi, pembelian hasil produksi, kunjungan ilmiah, komputasi berkinerja tinggi, dan pembimbingan tugas akhir mahasiswa, (3) Layanan Repositori Ilmiah Nasional (4) Layanan Edukasi (5) Layanan Akses Buku Gratis dan (6) Layanan Kerja Sama.

Narasumber kedua adalah Riyanti Ekafitri, yang merupakan ketua Kelompok Penelitian Rekayasa Proses Pangan dengan tema ‘Bidang Riset TTG’. Riyanti menjelaskan, teknologi tepat guna adalah teknologi yang teruji kelayakan nya dari segi teknis, memberikan nilai tambah, ekonomi, ramah lingkungan dan diterima secara sosial serta mengikuti perkembangan masyarakat pengguna. “Fokusnya pada kebutuhan masyarakat atau customize, jadi masyakarat butuh apa itu yang kita kembangkan,” ucapnya.

P2TTG LIPI telah mengembangkan teknologi tepat guna baik berupa peralatan dan juga proses pengolahan pangan sampai dengan implementasi ke masyarakat pengguna. “Namun sejak menjadi pusat riset, untuk impelementasi kita bekerja sama dengan unit kerja yang lain,” tutur Riyanti.

Peneliti Madya bidang pangan tersebut menyampaikan bidang riset penelitian dan pengembangan (litbang) TTG adalah peralatan proses pengolahan pangan (food processing machinery) dan peralatan pengolahan pascapanen (postharvest machinery). Terdapat 5 kelompok penelitian di P2TTG LIPI, yaitu (1) Rekayasa Proses Pangan TTG (2) Mekanisasi dan Peralatan Pasca Panen TTG (3) Mekanis dan Termal Peralatan TTG (4) Otomasi Peralatan TTG, dan (5) Agroindustri TTG.

Dalam kesempatan tersebut Riyanti juga menyampaikan beberapa hasil riset yang dihasilkan P2TTG LIPI. Dirinya menuturkan dalam melakukan riset perlu bekerja sama antar kelompok penelitian. “Dalam melakukan penelitian kita harus bekerja sama dengan grup riset yang lain, kita tidak bisa bekerja sendiri,” jelasnya.

Afik Hardanto, pembina UKMPR Unsoed menyampaikan tujuan kegiatan kunjungan virtual tersebut. “Semoga dapat memberikan motivasi kepada adik-adik dan semangat terutama dalam konsep merdeka belajar,” ungapnya. Afik berharap LIPI dapat menjadi salah satu mitra dalam pelaksanaan merdeka belajar di Universitas Jenderal Soedirman. Afik berpesan kepada para peserta untuk mendahulukan adab dalam menuntut ilmu. “Karena kita datang untuk mencari ilmu, kita harus mendahulukan adab sebelum ilmu,” ungkapnya. Afik juga menyampaikan harapannya untuk melakukan kolaborasi riset dengan P2TTG LIPI. “Semoga tidak hanya kunjungan, namun kedepan kita juga dapat melakukan riset bersama,” ucapnya. (ecp,rm.ed/rm).

LIPI Siapkan Invensi Anak Muda di Kancah Internasional

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Biro Kerjasama, Hukum, dan Humas (BKHH) LIPI mengadakan Workshop persiapan keikutsertaan dalam ajang International Exhibition for Young Inventors (IEYI) tahun 2021 secara virtual. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 20 peserta dari 11 projek invensi pemenang National Young Inventors Award (NYIA) ke-13 tahun 2020. Workshop Persiapan IEYI 2021 ini dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 12 dan 13 Agustus 2021 secara daring. Hari pertama adalah pemberian materi Penguatan Subsatansi dengan menghadirkan narasumber Edward Yazid Ph.D salah satu Dewan Juri NYIA 2021. Hari selanjutnya adalah penguatan materi komunikasi dan pelatihan video, oleh Saskia Dwimayani dan Valiant Gandys dari tim Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI.

Koordinator Pembinaan Ilmiah, Yutainten, M. Commun mewakili Kepala Biro Kerjasama Hukum dan Humas dalam sambutannya mengucapkan bahwa partisipasi Indonesia di ajang kompetisi ilmiah internasional yang diikuti oleh 12 negara afiliasi di Asia dan Eropa telah diulai sejak tahun 2005. Sudah lebih dari tiga kali, LIPI juga turut menjadi tuan rumah IEYI, yakni pada tahun 2007 di Yogjakarta, tahun 2014 di Jakarta dan tahun 2019 di BSD Tangerang. Tahun 2021 ini seharusnya diselenggarakan di Rusia, tetapi karena situasi pandemi yang tidak memungkinkan untuk kompetisi luring maka kegiatan dirubah menjadi virtual. “Berbeda dengan tahun sebelumnya, di tahun ini terdapat 9 katergori lomba dengan 2 kategori baru yaitu kategori Industrial Design & Convenience Devices for Daily Life dan Technology for Elderly People. Penambahan kategori baru tersebut dapat memberikan peluang pengembangan inovasi remaja agar lebih kreatif” ujar Yuta. Tahun ini, sistem penilaian IEYI masih berdasarkan penilaian invensi video singkat berdurasi 1-2 menit yang di upload di Youtube atau Google Drive.

Bapak Edward Yazid Ph.D, selaku narasumber, memulai pemaparannya dengan mengucapkan selamat pada semua peserta yang berkesempatan untuk ikut serta sebagai perwakilan Indonesia dalam acara IEYI. Beliau memaparkan bahwa Indonesia merupakan delegasi yang selalu meraih medali dari tahun ke tahun. Untuk mencapai hal tersebut, maka harus dilakukan penguatan substansi dan penguatan paparan (terkait dengan presentasi). “Dalam penguatan substansi hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah inovasi dan originalitas sehingga diperlukan kajian yang mendalam dan kemungkinan untuk pengembangan” pungkas Edward (nur/ed.yt)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Memahami Proses Pengambilan Kebijakan Berbasis Riset Melalui Forum Kajian Kebijakan Publik

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Biro Kerja Sama Hukum dan Humas (BKHH) LIPI menyelenggarakan Forum Kajian Kebijakan “Praktik Teknik Analisis Kebijakan Publik” pada tanggal 9 Agustus 2021 secara online melalui zoom meeting. Forum kajian yang diikuti sivitas BKHH LIPI ini menghadirkan narasumber Fadillah Putra, dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya.

Kepala BKHH, Mila Kencana, dalam sambutannya mengatakan bahwa forum kajian kebijakan ini diikuti oleh SDM Pendukung Iptek BKHH yang mempunyai jabatan fungsional pranata humas, perancang perundang-undangan, analis kerjasama, analis kebijakan, dan analis hukum. Pemerintah mendorong ASN untuk memiliki jabatan fungsional sehingga lebih profesional untuk melayani publik. BKHH adalah biro korporat, avant garde, yang melayani publik, kebijakan regulasi, inisiasi serta menjalankan kerja sama dalam dan luar negeri. Forum kajian ini dilatarbelakangi untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan sivitas BKHH LIPI mengenai proses analisis kebijakan yang baik dan untuk mengetahui perkembangan beberapa metode kepada sivitas BKHH LIPI yang bermanfaat dalam melakukan analisis kebijakan.

Dalam mendukung kebijakan yang berbasis riset, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pengayaan bagaimana proses dan metode kajian ilmiah dalam konteks pengambilan dan evaluasi kebijakan. “Dalam forum kajian ini kita juga mengetahui kebijakan yang based on research yang memerlukan knowledge management yang baik sehingga prosesnya lebih efektif dan efisien khususnya di BKHH yang rekomendasinya dipakai pimpinan LIPI dan satuan kerja LIPI” pungkas Mila Kencana.

Narasumber Fadillah Putra, MPAff., Ph.D. menjelaskan bahwa policy analysis menjadi kebutuhan di hampir semua organisasi publik untuk semua substansi karena kebijakan publik tidak bisa dipisahkan dari organisasi publik. Dalam enam tahun terakhir ini, kajian kebijakan menawarkan dua konsep pendekatan dari seorang peneliti yaitu quantitative social scientist, ilmuwan sosial yang berbasis pada pendekatan kuantitatif. Pendekatan lainnya, Epistemic governance adalah sebuah sistem pengelolaan sektor publik yg berbasis science. Saat ini, RPJMN memberi ruang economic based science dan science based society dimana proses ekonomi dan sosial kemasyarakatan yang berlangsung di Indonesia benar-benar berbasis riset. Sehingga riset dalam analisis kebijakan menjadi dasar bagi negara dalam melangkah membuat perencanaan, kebijakan, dan program yang disebut evidence based policy (EBP).

Dalam menentukan EBP, tentunya proses analisis kebijakan publik akan melewati tiga tahapan yaitu diagnosis, indikasi, dan terapi. Diagnosis untuk menentukan ada masalah apa dan apa penyebab masalah tersebut. Indikasi, masalah kebijakan berada di mana. Terapi, menawarkan apa yang harus kita berikan supaya kebijakan publik bisa berjalan lebih efektif dalam menyelesaikan masalah yang ada. Semua bisa diproses menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. “Harapan kita, dengan epistamic governance LIPI menjadi salah satu garda terdepan. Negara kita membutuhkan lembaga seperti LIPI untuk menjadi salah satu ujung tombak menciptakan epistamic governance” pungkas Fadhil.

Acara ditutup oleh Yutainten, selaku Koordinator Pelaksana Fungsi Pembinaan Ilmiah. “Terima kasih atas kesediaan Bapak Fadil untuk memberikan materi pengayaan kepada kami. Banyak ilmu baru yang kami dapatkan. Dalam kondisi saat ini pada masa transisi LIPI, dibutuhkan sekali kajian kebijakan untuk melihat impact dari kegiatan pembinaan ilmiah maupun program dan kebijakan LIPI secara korporat ini. Semoga ke depan kami bisa mengadakan kegiatan pengayaan seperti ini kembali di lain waktu dan semoga bermanfaat untuk kita semua,” tutup Yutainten.(tb/edt.yt)

Perbaiki Kinerja Organisasi dengan Audit Komunikasi

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Dalam rangka memperbaiki kinerja organisasi, Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI menyelenggarakan kegiatan bimbingan kajian kehumasan dengan tema “Audit komunikasi” pada Jumat, 06 Agustus 2021 secara virtual. Kegiatan ini memiliki tujuan untuk memberikan pengayaan Kepada sivitas LIPI bagaimana cara mengevaluasi kinerja komunikasi guna mengetahui bagamana relevansi kegiatan yang dilakukan sebuah organisasi atau Intansi pemerintahan.

Diikuti oleh lebih kurang 78 sivitas LIPI diantaranya Koordinator dan Subkoordinator Satker Kerja Sama Hukum dan Humas dan turut mengundang Pranata Humas, Perancang Peraturan Perundang-undangan serta Analis Hukum dan Analis Kebijakan Ahli Pertama, Muda dan Madya serta Pranata Humas dan Hukum, kegiaatan ini menghadirkan narasumber Dr. Antar Venus, M. A (Wakil Rektor UPN “Veteran” Jakarta. Dalam penjelasan materinya beliau menyampaikan bahwa audit komunikasi merupakan sebuah upaya untuk memperoleh umpan balik baik secara internal maupun eksternal. Audit komunikasi bisa dilakukan secara komprehensif ketika mengevaluasi kinerja komunikasi organisasi. Namun, dapat dilakukan secara parsial atau mini audit ketika mengevaluasi suatu program organisasi.

“Banyak variabel yang dinilai dalam audit komunikasi, dari saluran komunikasi, pertukaran komunikasi, kesediaan informasi tugas, ketepatan waktu, tindak lanjut pesan serta informasi terkait organisasi. Semua variabel tersebut ditangkap untuk melihat hal apa saja yang menjadi kelemahan dan kekurangan organisasi dalam mengkomunikasikan visi misinya” pungkas Antar Venus.

Pada kesempatan ini Kepala BKHH LIPI memberikan arahan kepada peserta FGD bahwa bimbingan kajian ini harus dimanfaatkan dengan optimal baik diimplementasikan sebagai perbaikan korporat maupun pengembangan kompetensi diri.

“Saat ini ASN dituntut untuk bertindak profesional dengan adanya peningkatan jumlah pegawai dengan Jabatan Fungsional (JF) . Sehingga kegiatan korporat seharusnya dapat dilaksanakan lebih baik lagi dengan melakukan kaidah-kaidah pekerjaan yang sesuai dengan profesionalisme jabatan fungsional. salah satunya adalah JF terkait komunikasi dan kehumasan. Diharapkan hasil dari pertemuan ini, sivitas LIPI dapat membuat kajian audit komunikasi. Seperti yang akan dilakukan kepada salah satu program proritas nasional LIPI, yakni Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional maupun Kompetisi Ilmiah LIPI, sedangkan bagi JF lainnya dapat mengimplementasikan wawasan sesuai dengan lingkup pekerjaan JFnya” tegas Mila dalam mengakhiri sambutannya. (Rin/edt.yt.)

Membumikan Sains

By | Berita BKHH | No Comments

Ambon, Humas LIPI. Kegiatan penyebarluasan hasil-hasil penelitian merupakan suatu bentuk tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh setiap peneliti baik yang bekerja pada suatu lembaga/instansi pemerintah atau swasta maupun mandiri. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (29/7) ini bertujuan agar hasil penelitian tersebut dapat memberikan manfaat secara luas. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai sebuah lembaga riset nasional melalui visi dan misinya telah menyiratkan tentang pelaksanaan kegiatan tersebut. Sejalan dengan LIPI, Pusat Penelitian Laut Dalam (PPLD) dalam pelaksanaan tugas dan fungsi telah menjabarkan juga tentang kegiatan tersebut salah satu sasaran strategisnya yaitu “melakukan diseminasi hasil-hasil penelitian kepada berbagai pihak terkait sebagai upaya meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya laut yang lestari”.

Proses penyebarluasan hasil-hasil penelitian umumnya dilakukan salah satunya melalui publikasi Karya Tulis Ilmiah (KTI). Namun dengan berkembangnya zaman dan teknologi kegiatan penyebarluasan hasil-hasil penelitian dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melalui pemanfaatan media informasi resmi lembaga yaitu situs web maupun media/sarana informasi lainnya.

Di sisi lain, pengetahuan tentang “Komunikasi Sains” dalam proses penterjemahan Bahasa ilmiah menjadi informasi yang mudah dikonsumsi oleh masyarakat juga menjadi faktor yang penting. Sehingga kegiatan dan proses dalam penyebarluasan hasil-hasil penelitian di PPLD LIPI dapat dilaksanakan dengan baik.

Selain media informasi resmi lembaga atau instansi, agar supaya dapat lebih maksimal kegiatan penyebarluasan hasil-hasil penelitian dapat dilakukan dengan memanfaatkan peran media online atau cetak yang ada. Tentunya hubungan kerjasama antar peneliti dan BKHH Kawasan LIPI Ambon dengan media online/cetak setempat baik pemerintah maupun swasta kiranya dapat dijalin dengan baik sehingga penyebarluasan kegiatan dan hasil-hasil penelitian dapat juga dilakuan bukan saja melalui media informasi resmi PPLD LIPI tapi melalui media online/cetak lainnya. Karena apabila ditinjau dari segi kebutuhan kegiatan ini merupakan sebuah hubungan yang saling menguntungkan. Media masa memiliki posisi yang penting sebagai komunikator antara peneliti dan masyarakat.

Berdasarkan kondisi diatas maka Pusat Penelitian Laut Dalam - LIPI mengadakan sebuah Diskusi Terpumpun atau Forum Group Discussion (FGD) dengan judul “Pentingnya Komunikasi Sains & Peran Media Komunikasi Dalam Penyebarluasan Hasil-hasil Penelitian”, yang dilaksanakan pada Kamis, 29 Juli 2021, Pukul 13.00-15.00 WIB/15.00-17.00 WIT melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan Kepala Bidang Pemberitaan RRI Ambon (Philip Sekewael, S.Sos.), Kepala Biro Antara Maluku-Malut (Rian Anggoro) dan Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI (Intan Suci Nurhati, Ph.D.).

Philip Sekewael dalam FGD menyampaikan bahwa RRI dengan jangkauan yang luas sampai ke pulau-pulau terluar atau biasa disebut serambi NKRI dapat dimanfaatkan dalam menyampaikan hasil-hasil penelitiannya tersebut. Sehingga PPLD LIPI dapat mengoptimalkan kehadiran RRI Ambon dalam kegiatan tersebut.

Rian Anggoro dalam diskusi mengatakan bahwa Antara Maluku-Malut merupakan media yang paling konsisten memberitakan tentang LIPI. Namun beliau mengatakan bahwa tidak semua informasi bisa dijadikan berita. Beliau juga mengatakan bahwa wartawan kedepan juga harus ikut langsung peneliti ke lapangan dalam pengambilan data, sehingga mereka akan paham isi berita yang akan disampaikan.

Intan Nurhati dalam diskusi lebih mengajak para peneliti muda PPLD LIPI untuk lebih membuka diri untuk menjadi science communicator yaitu dengan membumikan sains. Beliau memisalkan seperti ilmu yang ada di menara gading harus diturunkan sampai ke masyarakat. Komunikasi sains menjadi penting terutama dalam membantu dalam pembuatan kebijakan secara global. Komunikasi sains dapat dimulai dari sekarang dengan memanfaatkan media radio, podcast, TV, artikel cetak dll.

Dalam sambutan pembuka Dr. Nugroho Dwi Hananto selaku Plt. Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam mengapresiasi kegiatan ini. Beliau mengatakan bahwa hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan harus disebarluaskan sampai ke pemangaku kepentingan sehingga akan memberikan manfaat yang besar. Yang bertindak sebagai moderator adalah Corry Y. Manullang, M.Sc peneliti PPLD LIPI. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan habituasi dan aktualisasi dari Dr. Eng. Muhammad Zain Tuakia dalam latsar CPNS LIPI 2021. (lt,zt)

 

 

LIPI Peduli Kekayaan Intelektual Bagi Finalis LKIR dan NYIA 2020

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Hingga saat ini, LIPI merupakan produsen paten terbanyak di Indonesia. Posisi ini tentunya sebagai ilustrasi tingkat kualitas litbang di LIPI serta bukti kompetensi instansi dalam mengelola Kekayaan Intelektual (KI). Dalam rangka diseminasi pengetahuan, maka informasi dan pentingnya pelindungan KI kepada masyarakat menjadi salah satu informasi yang dibutuhkan, khususnya bagi pelajar yang aktif berkarya di pengembangan riset inovasi,.

Saat ini, LIPI rutin mengembangkan minat dan budaya riset generasi muda melalui ajang kompetisi Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dan National Young Inventor Award (NYIA). Antusiasme remaja dalam berinovasi dilihat dari semakin meningkatnya jumlah karya ilmiah dan produk inovasi teknologi peserta LKIR dan NYIA yang dihasilkan setiap tahunnya. Tentunya hal tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan pemahaman peserta terkait pentingnya pelindungan KI. Namun, mengingat peserta kompetisi LIPI masih merupakan usia sekolah, diperlukan strategi khusus dan kehati-hatian dalam penyampaian materi KI kepada mereka. Untuk itu, perlu diusung konsep fun-learning agar menjadi daya tarik bagi remaja dan menerapkan kolaborasi dengan sekolah pengusung agar proteksi KI bisa optimal.

Kepala Biro Kerjasama, Hukum dan Hubungan Masyarakat (BKHH) LIPI, Mila Kencana menyampaikan dalam acara pendampingan Fasilitasi Hak Cipta bagi Finalis LKIR dan NYIA 2020 (27/7) bahwa “Terkait hasil inovasi dari para finalis atau pemenang LKIR dan NYIA, hal ini merupakan perhatian khusus dari pimpinan LIPI. sehubungan dengan hal tersebut, LIPI mencoba mangakomodir atau memfasilitasi para pemenang dengan pendampingan yang difasilitasi oleh PPII LIPI. Pemilihannya yang memang potensial dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu dimana tentunya pihak PPII yang lebih mengetahui dan paham dari sisi paten dan inovasinya”, tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Pelaksana Bina Ilmiah BKHH LIPI, Yuta Inten pun menjelaskan “Kegiatan Pendampingan Hak Cipta ini merupakan bukti komitmen LIPI difasilitasi oleh BKHH dan PPII terhadap pengembangan potensi penelitian remaja Indonesia. Diharapkan post harvesting program ini memberikan nilai lebih dan motivasi bagi remaja untuk terus berkarya dalam riset dan inovasi”, tutup Yuta. (dsa/ed:yt)

 

 

Kompetisi Ilmiah LIPI dalam Menyiapkan Remaja sebagai Agen Perubahan

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Dalam rangka memperingati hari Anak Nasional pada 23 Juli, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Biro Kerja sama Hukum dan Hubungan Masyarakat (BKHH) bekerja sama dengan Komunitas Mata Cinta, kembali menggelar webinar edisi 6 dengan topik “Bumi Terawat Berkat Ilmuwan Cilik” pada Sabtu (17/7) lalu. Hadir sebagai pembicara, Yutainten, Pranata Humas LIPI, mengungkapkan, remaja merupakan agen perubahan. “Sebagi agen perubahan, banyak manfaat yang dapat digali oleh para remaja, seperti banyak belajar dari masalah lokal yang ada. Remaja, lebih memahami fenomena sosial yang terjadi disekelilingnya dan berani untuk berbicara mengemukakan pendapat,” jelasnya. “Keuntungan lain, dapat memperluas jaringan serta dapat menampilkan kebudayaan daerahnya untuk diketahui oleh masyarakat luas.”

Yuta menyampaikan, LIPI mempunyai ajang kompetisi ilmiah yaitu Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang potensial dan unggul untuk menyiapakan remaja sebagai agen perubahan. Adanya proses mentoring dengan Peneliti LIPI secara langsung dalam LKIR, membuat ajang ini berbeda dengan ajang sains manapun di Indonesia. “LKIR LIPI memberikan bimbingan penelitian dan mengajarkan etika penelitian langsung atau transfer knowledge,” ungkapnya.

“LKIR LIPI telah menjadi pionir kompetisi ilmiah remaja di Indonesia sejak tahun 1968. Fasilitas Laboratorium LIPI pun mendukung penelitian remaja. Bisa dikatakan bahwa kompetisi ilmiah LIPI lebih unggul dalam pembinaan remaja untuk menuju masa depan bangsa yang lebih baik,” terang Yuta.

Dalam kesempatan ini Yuta juga menyampaikan tantangan Kompetisi Ilmiah Indonesia. “Diantaranya seperti, perlunya koordinasi yang strategis antar institusi terkait perencanaan, penyebaran informasi kegiatan, maupun pelaksanaan kegiatan, adanya kesamaaan program kompetisi yang dilakukan oleh pemerintah, perlunya penguatan dukungan dari berbagai pihak dalam hal pelaksanaan kompetisi ilmiah, perlunya pembangunan bank data terpadu yang memuat seluruh hasil kegiatan kompetisi ilmiah dan data para peserta maupun alumni dari kegiatan tersebut secara nasional, belum adanya pembahasan mengenai inputproses-output-outcome dari kegiatan kompetisi ilmiah, dan upaya sebagai tindak lanjut bagi para remaja yang berprestasi dalam bidang sains yang masih belum signifikan dilakukan,” tuturnya.

Lebih lanjut dirinya menyampaikan, ada tiga langkah yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan potensi anak muda dalam menghadapi bonus demografi. “Langkah tersebut diantaranya, education atau Pendidikan, yakni adanya peningkatan kualitas pendidikan untuk meningkatkan hard skill. Langkah selanjutnya adalah employment atau lapangan kerja, yakni menciptakan lapangan kerja baru untuk menyerap tenaga kerja yang profesional dan handal. Langkah terakhir adalah engagement atau partisipasi, yaitu anak muda berpartisipasi aktif dalam kegiatan politik, sosial, dan perekonomian,” jelas Yuta.

Selain itu, menurutnya ada delapan alasan kenapa remaja lebih memerlukan science. “Alasan-alasan tersebut diantaranya adalah dapat lebih berpikir kritis, lebih menempa pada ketahanan mental, memompa keinginan untuk terus belajar, menjadi pahlawan, meningkatkan rasa keingintahuan terhadap suatu hal, menyediakan metode bertanya yang lebih aktif, menjadi konsumen yang lebih baik dan utamanya adalah menjadi pribadi yang lebih baik,” pungkasnya. (rdn/ed:sf)

Kolaborasi LIPI dalam Akademi Edukreator

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Tidak hanya pandemi, saat ini seluruh dunia mengalami fenomena Infodemik, dimana arus informasi berkembang pesat dan sebagian memiliki informasi yang tidak valid. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Kok Bisa, YouTube Learning, Kemdikbudristek RI menghadirkan Akademi Edukreator, gerakan nasional untuk melatih guru, siswa dan profesional untuk merancang konten edukasi yang menarik di berbagai macam bidang. Kehadiran AkademiEdukreator, merupakan upaya untuk belajar membuat konten edukatif yang atraktif secara substansi maupun proses kreatifnya.

Hari ini, Selasa (4/7) adalah hari peluncuran dan pembukaan pendaftaran Akademi Edukreator yang akan dibuka oleh Budi Gunadi Sadikin (Menteri Kesehatan), menghadirkan Nadiem Makarim (Menteri Pendidikan, Budaya dan Ristek), Laksana Tri Handoko (Kepala BRIN), Vidi Aldiano, serta Rara Sekar (Musisi dan aktivis pendidikan). Para narasumber yang hadir akan memberikan berbagai tips-tips untuk menghasilkan konten edukasi serta berbagi pandangan tentang perkembangan pendidikan hingga riset di Indonesia.

Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI, Mila Kencana, menyatakan bahwa LIPI mendukung kegiatan Akademi Edukreator karena LIPI mempunyai visi untuk membina anak-anak muda dan hal tersebut sudah dilakukan sejak tahun 1967 dengan kehadiran program-program pembinaan seperti kompetisi, pelatihan maupun seminar. “Dengan keuntungan sebagai pemilik sumber daya peneliti untuk meningkatkan literasi sains di Indonesia. LIPI harus adaptif mendukung kegiatan komunikasi sains, salah satunya seperti yang dilakukan di Akademi Kreator ini. Melalui LIPI Press, film-film sains maupun konten penelitian dikemas lebih dekat dengan segmen masyarakat digital saat ini. Ketika LIPI tergabung BRIN maka ruang lingkup pembinaan sains akan lebih besar karena semakin bertambahnya jumlah SDM Iptek maupun jangkauan bidang risetnya,” ucap Mila.

Di masa pandemic, di mana platform daring menjadi hal utama dalam kegiatan pembinaan maka variasi konten pembelajaran menjadi hal yang sangat dibutuhkan saat ini. Bukan hanya variasi konten, tapi konten edukasi berkualitas, sehingga masyarakat kita memiliki eksposure yang tinggi terhadap tayangan yang informatif dan bermanfaat. “Kehadiran Akademi Edukreator memiliki nilai lebih dalam proses interaksi atau temu ilmiah agar konten yang dihasilkan semakin menarik dan menyenangkan, “ Pungkas Mila.

Mila berharap agar kolaborasi ini menjadi bukti kepedulian dan upaya gotong royong semua pihak untuk memberikan inovasi konten yang berkualitas untuk masyarakat Indonesia. (yt/ed: sr)

 

 

Bagaimana Presentasi Ilmiah yang Baik untuk Menyampaikan Hasil Penelitian?

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) XIX 2021 merupakan kegiatan pembinaan ilmiah yang dilaksanakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk siswa SMP, MTs, SMA, SMK, dan MA sederajat yang ditujukan untuk memberikan pemahaman mendasar mengenai metodologi penelitian ilmiah. PIRN XIX juga mengajarkan mengenai etika penelitian dengan pemberian materi metodologi penelitian dalam kelas di Bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknik (IPA-TeK) dan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Pada hari ke sembilan pelaksanaan PIRN XIX siswa diberikan materi Teknik Presentasi Ilmiah pada Kamis, (8/7). Materi Teknik Presentasi Ilmiah ini disampaikan oleh instruktur Ririn Lastriani, yang menyampaikan bahwa tujuan utama presentasi adalah untuk memberikan pemahaman kepada audiens tentang hasil penelitian kita. “Supaya bisa dipahami oleh audiens, paham akan hasil penelitian kita, ide atau gagasan kita,” paparnya. Dirinya menjelaskan bahwa dalam melakukan presentasi atau komunikasi, ada pesan yang disampaikan oleh komunikator (orang yang memberi pesan, media (bahan tayang) dan audiens (orang yang menerima pesan).

Lebih lanjut, Ririn menambahkan, yang menjadi tujuan dari pesan presentasi harus to inform, to entertain, to persuade, to inspire. (menyampaikan informasi, mengajak, dan menginspirasi)Untuk membuat presentasi lebih menarik bisa kita sampaikan dengan cara, tell with the story, tell the truth, tell it with pictures (sampaikan dengan cerita, sampaikan kebenaran, dan sampaikan dengan ilustrasi),ungkapnya.

Tidak hanya itu, Ririn juga menyampaikan bahwa di dalam otak kita, kita akan lebih muda menerima dalam bentuk visual dibandingkan dengan teks. Ia menjelaskan bahwa visual diproses 60 ribu kali lebih cepat dibandingkan teks. “90% informasi yang disampaikan di otak berupa visual, dan 40% orang merespon visual dengan lebih baik dibandingkan teks,” jelas Ririn.

“Cara menyampaikan visual hasil penelitian, pertama siapa dan apa yang kita bicarakan, kedua, dimana lokasinya, ketiga, kapan terjadinya, keempat, berapa banyak orang yang disana, kelima, bagaimana mereka berinteraksi, keenam, mengapa demikian. Untuk lebih menarik didalam menyampaikan presentasi bisa dalam bentuk chart, Peta, Timeline, Flowchart, Multivariabel. Membuat bahan tayang itu harus runut, focus, dan jelas.” paparnya.

Teknik Penyampaian Presentasi, bisa diawali dengan perkenalan, (tatap wajah peserta dan dewan juri diawali senyum), bukalah dengan kalimat yang berkesan (fakta, pantun, kutipan, story telling, puisi dll), sampaikan latar belakang fakta dan energik, sampaikan inovasi ide dan karya tulis ilmiah (KTI) anda dengan antusias dan sedikit penekanan nada, kelengkapan, kebaruan, kebermanfaatan. “Unsur presentasi yang baik membutuhkan konten yang hebat, desain yang hebat, dan penyampaian yang hebat.” tuturnya.

Ririn juga memberikan tujuh tips agar presentasi online lancar dan menarik perhatian audiens. “Cek kesiapan alat, berpenampilan menarik, nyalakan fitur video, perhatian suara dan cara berbicara, lakukan eye contact, buatlah slide presentasi yang menarik, fokus dan bersiaplah untuk hal yang tidak terduga.” tutupnya.

Kegiatan Teknik Presentasi Ilmiah ini diikuti sebanyak 38 siswa dari kelas IPSK 1 dan IPSK 2, dan siswa juga diberikan kesempatan oleh instruktur untuk berbagi pengalaman terkait teknik presentasi untuk di sampaikan kepada siswa yang lain. (dr/ed: sr).

Inspirational Talk PIRN 2021: Menjadi Kreatif dalam Berilmu Pengetahuan

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Sebagai salah satu keseruan rangkaian pelaksanaan Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) XIX, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menghadirkan acara Inspirational Talk. Mengangkat tema yang sangat dekat dengan kehidupan generasi muda Indonesia saat ini, Inspirational Talk di hari ke-9 PIRN Virtual 2021 menghadirkan tokoh inspiratif Yulia Atiyah yang telah berhasil menjadi Youtube-edukreator melalui kanal Youtubenya, Biologi Aja!.

“Misi kami (di Biologi Aja) adalah membanjiri internet dengan konten edukasi. Tujuan kita untuk dapat menjangkau lebih banyak siswa dan mahasiswa, serta membantu meningkatkan tingkat akademik mereka dalam bidang biologi,” ujar Yulia, Kamis (9/7). Saat ini, kanal Biologi Aja! besutannya telah memiliki 18 ribu pengikut.

Yulia pun menceritakan terbentuknya kanal ini bermula dari tugas kuliah dan kegemarannya pada dunia animasi. Dirinya pun kemudian belajar animasi melalui suatu komunitas yang ia temukan di media sosial. “Setelah mencoba membuat animasi, saya coba mengikuti beberapa lomba. Setelah gagal beberapa kali, saya coba lagi terus. Ngga papa ya, karena setiap orang itu punya jatah gagalnya masing-masing, tinggal kita terus saja mencoba,” katanya.

Sampai akhirnya mendapat penghargaan dari Bank Indonesia, Yulia kemudian memfokuskan diri di animasi. “Lalu saya mengikuti Akademi Edukreator, yang diinisiasi Kok Bisa, bekerja samanya dengan LIPI, Youtube Learning dan Kemendikbud,” jelasnya.
Yulia juga membagi pengalamannya tentang bagaimana menjadi kreatif. Dirinya menekankan menyatakan kreatifitas merupakan bakat yang bisa dilatih. “Fokus membantu orang. Kita tidak perlu karya yang sempurna, kita hanya perlu membuat karya yang lebih baik dari sebelumnya. Maksimalkan setiap kesempatan, karena beberapa hal hanya terjadi sekali,” pesan Yulia.

Dalam Inspirational Talk ini hadir pula Penny Sylvania Putri, produser dan penulis naskah animasi hingga film dokumenter LIPI. Sebagai bagian tim kreatif content creator diseminasi hasil penelitian LIPI, Putri menyatakan konten audiovisual memiliki efektifitas yang tinggi untuk menarik audiens.
“Audiovisual sangat berguna untuk mengkomunikasikan sains. Dan ini menjadi tujuan LIPI memproduksi film dokumenter dan konten video lainnya, untuk masyarakat awam, media, dan para pembuat kebijakan,” terang Putri.

Putri menyatakan konten-konten komunikasi sains yang diproduksi LIPI merupakan bagian dari fungsi dan kewajiban LIPI sebagai lembaga penelitian nasional. “LIPI berkewajiban untuk menginformasikan ilmu pengetahuan dan hasil penelitian kepada publik. LIPI berkewajiban memberikan edukasi sains kepada publik, dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sains,” jelas Putri.

Pembuatan konten komunikasi sains LIPI juga melalui proses kreatif yang panjang. Putri menjabarkan beberapa proses kreatif tersebut antara lain, pengembangan cerita, pra-produksi, produksi, pasca produksi, dan diseminasi. “Selain itu ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan dalam pembuatan konten, seperti durasi, ukuran frame, tujuan konten, pesan yang ingin disampaikan, dan target audiens,” papar Putri.
Yutainten, Ketua Penyelenggara PIRN Virtual 2021, yang turut hadir pun mengungkapkan tema dan substansi Inspirational Talk ini dipilih mengingat maraknya peminat Youtube di kalangan masyarakat, terutama generasi muda.

“Saya lihat banyak sekali anak muda Indonesia yang menggunakan Youtube sebagai ajang entertain ataupun menggali informasi. Nah di Inspirational Talk ini kita mengundang peneliti muda Indonesia yang telah berhasil memanfaatkan Youtube sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat luas,” ujar Yuta.

“Ini bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk menjadi kreatif dalam mendiseminasikan hasil pengetahuan dan hasil riset kita, dengan memanfaatkan metode dan platform populer yang bisa dinikmati banyak orang,” pungkasnya. (iz)

Semangat LIPI Tebarkan Budaya Riset di Kalangan Remaja

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Penyebaran pandemi Covid-19 telah melebihi masa satu tahun sejak Desember 2019 yang lalu. Namun tidak menyurutkan umat manusia untuk ikhtiar dan berjuang dalam menghadapi musibah yang tidak terduga. Pada saat yang sama setiap orang yang mampu bertahan melakukan implementasi kreativitas yang inovatif. Terutama bagi generasi muda Indonesia yang bahkan di antaranya masih bisa membuat prestasi dalam skala lokal, nasional, regional, dan internasional.

Melalui rangkaian Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Media Indonesia bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencara (BNPB) Pusat menghadirkan narasumber dari berbagai instansi dengan tema “Menuju dan Mempertahankan Prestasi Selama Covid-19: Perspektif 5M dan Vaksinasi”.

Sebagai pionir salah satu instansi pemerintah yang membina dunia penelitian remaja Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas memiliki fungsi penyelenggara kegiatan pembinaan berupa kompetisi ilmiah remaja, Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang sudah memasuki tahun ke-53 tahun ini.

Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI, Mila Kencana dalam “Kompetisi Penelitian Ilmiah Indonesia : Perspektif 5M dan Vaksinasi” menegaskan, sejalan dengan program Nawacita, LIPI mempunyai misi untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia melalui aktivitas ilmiah. Aktivitas yang dimaksud, baik berupa kegiatan penelitian maupun program diseminasi ilmu pengetahuan teknologi kepada masyarakat. “Sebanyak lebih dari 57 ribu remaja dari seluruh Indonesia telah mendapatkan manfaat dari program pembinaan ilmiah LIPI. Mereka diharapkan mampu menjadi agen perubahan dengan berbasis implementasi berpikir kritis dan penggunaan ilmu pengetahuan,” terang Mila melalui kanal Youtube Media Indonesia, Selasa (7/07). Ia juga menyebutkan, telah banyak remaja Indonesia binaan LIPI juga telah menuang prestasi di kancah internasional seperti ajang Regeneron International Science and Engineering Fair (ISEF), ASEAN Student Project Science Competition (ASPC) maupun International Exhibition for Young Inventors (IEYI).

Masa Pandemik bukan menjadi halangan bagi LIPI untuk terus berkarya dan berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam melakukan kegiatan pembinaan baik luring maupun daring. “Kami menyadari tetap ada keterbatasan maupun perbedaan ketika melakukan kegiatan pembinaan ilmiah secara luiring dari mulai keterbatasan infratruktur dan koneksi jaringan internet, mentalitas peserta, hingga mekanisme kegiatan yang memerlukan adaptasi kebiasaan baru,” ungkap Mila. “Namun, hal tersebut tetap dijadikan semangat dan peluang bagi kegiatan pembinaan ke depan. Semakin berupaya untuk mengatasi tantangan dengan menebarkan semangat riset dan cinta sains serta membuka peluang kolaborasi dengan pihak-pihak yang peduli terhadap pembinaan generasi muda,” tambahnya.

Dalam acara tersebut, turut hadir narasumber Asep Sukmayadi, M.Si - Plt. Kepala Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Drs. H. Mohammad Husnan, M. Pd – Kepala MAN 2 Kota Malang, Aminu Irfanda Supanda, S.Pd, M.Pd- Kepala SMAN 1 Sumbawa Besar dan Drs. Maman Surakhman, M.Pd.I - Kepala SMAN 3 Yogyakarta. (yt/ ed: drs)