Bakti Inovasi, Dukung Guru Tingkatkan Kompetensi Ilmiah

By 27/05/2021Berita BKHH

Sukabumi, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai organisasi pelaksana litbangjirap Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), berperan aktif dalam melakukan diseminasi hasil-hasil penelitian kepada masyarakat. LIPI juga berkiprah dalam program pembinaan ilmiah untuk siswa dan guru, agar mampu menuangkan ide-ide penelitian yang kreatif, inovatif, dan aplikatif, dalam bentuk karya tulis. Sebagai implementasi, LIPI dan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), bekerja sama mengadakan Pelatihan Penyusunan Karya Tulis bagi Guru Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sederajat di Kota Sukabumi pada Selasa (25/5).

Driszal Friyantoni, Kepala Biro Umum LIPI, menyampaikan bahwa guru merupakan salah satu jabatan fungsional yang membutuhkan peningkatan kompetensi. “Pelatihan yang merupakan inisiatif kerja sama dari LIPI dan Komisi VII DPR RI ini sangat baik, agar guru meningkatkan kompetensinya dalam persaingan global saat ini,” jelasnya. “Semoga kolaborasi ini bisa terus berlangsung di berbagai Dapil (daerah pemilihan) di Indonesia,” harapnya.

Dirinya mengungkapkan pentingnya obyek-obyek penelitian yang dibuat dalam karya tulis dapat menyesuaikan kaidah ilmiah. “Hal itu agar ide-ide dan informasi yang ada dapat tersampaikan baik ke masyarakat,” ucap Driszal dalam sambutannya. “Jangan sampai maksud kita sebagai penulis menjadi menyimpang diartikan oleh pembaca,” ujarnya.

Anggota Komisi VII DPR RI, Ribka Tjiptaning, menyampaikan bahwa penting bagi DPR untuk mendukung lembaga riset, dalam hal ini BRIN - LIPI yang memiliki program bagi para guru. “Lembaga riset ini perlu didukung untuk bisa terus memberi kontribusi bagi kemandirian bangsa,” jelasnya. “Semoga kerja sama dengan LIPI ini bisa terus berlanjut, dengan mengundang guru-guru dari sekolah lain,” tuturnya.

“Di Sukabumi ini khususnya memiliki anak-anak yang pintar dan berpotensi. Semoga Bapak Ibu guru di sini bisa mendorong siswa-siswinya untuk berprestasi membuat karya tulis ilmiah,” ungkap Ribka. “Sukabumi juga sangat kaya oleh cahaya matahari, sayur-mayur, dan bahan tambang, namun sayangnya masih disebut daerah tertinggal. Oleh karena itu, Bapak Ibu Guru saya harap bisa membina anak didiknya agar mampu memajukan Sukabumi,” pesannya.

Sukma Wijaya Kusumah, dari Pusat Penelitian Biomaterial LIPI menjelaskan mengenai pentingnya melakukan riset ilmiah untuk dijadikan karya tulis ilmiah. “Kita bisa mengamati permasalahan yang ada di lingkungan kita untuk dijadikan karya tulis ilmiah,” tuturnya. “Selanjutnya, kita memilih dan memilah topik dan mencari alternatif solusi untuk memecahkan masalah,” lanjutnya. “Yang penting juga syarat karya tulis adalah adanya kebaruan atau orisinalitas ide,” tegasnya.

Sukma memberikan pengetahuan dasar mengenai prinsip penulisan proposal karya tulis ilmiah dan teknik presentasi ilmiah. Dirinya juga memberikan tips agar hasil penelitian tidak sekedar karya tulis namun juga bisa diaplikasikan. “Setelah LIPI bertransformasi, penelitian di LIPI harus terdiseminasikan dengan ke masyarakat, penelitian dimulai dari industri,” ungkapnya. Begitu pun dengan hasil penelitian siswa, pilih yang bisa juga dikerjasamakan dengan industri. “Kita berangkat dari industri, menanyakan apa saja yang dibutuhkan oleh industri, lalu kita berusaha menjawab kebutuhan industri tersebut,” urainya.

Sebagai motivasi membuat karya tulis ilmiah, para peserta pelatihan diarahkan untuk bisa mengakses situs lipindonesia.com, kompetisi.lipindonesia.com, dan pirn.lipindonesia.com, maupun media sosial LIPI. “LIPI selama ini telah mengadakan kompetisi Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dan National Young Scientist Award (NYIA) melalui pendaftaran proposal penelitian,” ujar Sukma. “LIPI juga memiliki program perkemahan ilmiah remaja nasional (PIRN) bagi guru dan siswa, yang tahun ini dilakukan secara virtual,” jelasnya.

 

(adl)

 

Leave a Reply