All Posts By

Suci Rahayu

Monitoring dan Evaluas Pembimbingan LKIR ke-53 untuk Meningkatkan Layanan Pembinaan Ilmiah

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan untuk ke-53 kalinya oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini sedang pada tahap pembimbingan 53 proposal terpilih yang dibimbing langsung oleh para Peneliti LIPI. Setelah melewati proses pendaftaran hingga penentuan proposal terbimbing oleh 12 Dewan Juri LKIR, para peserta kemudian menjalani pembimbingan mulai 14 Juli hingga 3 Oktober 2021 secara virtual.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, LIPI menyatakan komitmennya dalam peningkatan layanan pembinaan ilmiah dengan melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) pembimbingan LKIR ke-53 pada Selasa (7/9). Monev ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan serta menyelesaikan permasalahan yang ada dalam proses pembimbingan.

Dengan diterbitkannya Peraturan Presiden No. 78 tahun 2021 tentang BRIN, transisi LIPI menuju BRIN tidak pula menghentikan kompetisi ilmiah untuk tetap dilaksanakan. “Kegiatan kompetisi LIPI dapat tetap berjalan pada bulan Oktober ini,” ujar Mila Kencana, Plt. Kepala Biro Hukum dan Kerja Sama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Monev yang dilakukan secara virtual ini membahas 14 proposal bidang Ilmu Pengetahuan Hayati, 21 proposal bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, 9 proposal bidang Ilmu Pengetahuan Teknik, dan 9 proposal bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian. Kegiatan ini menjembatani para peserta dengan mentor, dewan juri, serta panitia LKIR untuk saling berkomunikasi dan melakukan perbaikan untuk permasalahan yang ada. Selain itu, pemerataan pemahaman dengan informasi yang dimiliki oleh para pihak juga menjadi salah satu tujuan dari berlangsungnya monev ini.

Ketua dewan juri LKIR, Prof. I Made Sudiana, menyatakan apresiasinya kepada para mentor yang telah meluangkan waktunya untuk berpartisipasi dalam membimbing para peserta. Made juga mengatakan para peserta dan mentor harus bekerja keras lagi untuk dapat menyelesaikan karya tulis dalam waktu kurang dari sebulan ini.

Rangkaian kegiatan LKIR akan dilanjutkan dengan pengumpulan laporan penelitian yang telah diselesaikan oleh peserta paling lambat pada 6 Oktober 2021. Kemudian, dewan juri dan mentor akan menentukan finalis yang layak untuk mengikuti pameran dan presentasi secara virtual pada 25 Oktober mendatang.

Keterbatasan waktu dan kondisi di saat pandemi Covid-19 tidak menjadi hambatan dalam pelaksanaan kegiatan LKIR. Dengan meningkatkan komunikasi dan kerja sama yang bersinergi antar dewan juri, mentor, peserta, serta panitia diharapkan dapat memperlancar proses pembimbingan hingga selesai, sehingga LKIR ke-53 2021 dapat menghasilkan karya tulis terbaik anak bangsa. (sd)

LIPI Siapkan Invensi Anak Muda di Kancah Internasional

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Biro Kerjasama, Hukum, dan Humas (BKHH) LIPI mengadakan Workshop persiapan keikutsertaan dalam ajang International Exhibition for Young Inventors (IEYI) tahun 2021 secara virtual. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 20 peserta dari 11 projek invensi pemenang National Young Inventors Award (NYIA) ke-13 tahun 2020. Workshop Persiapan IEYI 2021 ini dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 12 dan 13 Agustus 2021 secara daring. Hari pertama adalah pemberian materi Penguatan Subsatansi dengan menghadirkan narasumber Edward Yazid Ph.D salah satu Dewan Juri NYIA 2021. Hari selanjutnya adalah penguatan materi komunikasi dan pelatihan video, oleh Saskia Dwimayani dan Valiant Gandys dari tim Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI.

Koordinator Pembinaan Ilmiah, Yutainten, M. Commun mewakili Kepala Biro Kerjasama Hukum dan Humas dalam sambutannya mengucapkan bahwa partisipasi Indonesia di ajang kompetisi ilmiah internasional yang diikuti oleh 12 negara afiliasi di Asia dan Eropa telah diulai sejak tahun 2005. Sudah lebih dari tiga kali, LIPI juga turut menjadi tuan rumah IEYI, yakni pada tahun 2007 di Yogjakarta, tahun 2014 di Jakarta dan tahun 2019 di BSD Tangerang. Tahun 2021 ini seharusnya diselenggarakan di Rusia, tetapi karena situasi pandemi yang tidak memungkinkan untuk kompetisi luring maka kegiatan dirubah menjadi virtual. “Berbeda dengan tahun sebelumnya, di tahun ini terdapat 9 katergori lomba dengan 2 kategori baru yaitu kategori Industrial Design & Convenience Devices for Daily Life dan Technology for Elderly People. Penambahan kategori baru tersebut dapat memberikan peluang pengembangan inovasi remaja agar lebih kreatif” ujar Yuta. Tahun ini, sistem penilaian IEYI masih berdasarkan penilaian invensi video singkat berdurasi 1-2 menit yang di upload di Youtube atau Google Drive.

Bapak Edward Yazid Ph.D, selaku narasumber, memulai pemaparannya dengan mengucapkan selamat pada semua peserta yang berkesempatan untuk ikut serta sebagai perwakilan Indonesia dalam acara IEYI. Beliau memaparkan bahwa Indonesia merupakan delegasi yang selalu meraih medali dari tahun ke tahun. Untuk mencapai hal tersebut, maka harus dilakukan penguatan substansi dan penguatan paparan (terkait dengan presentasi). “Dalam penguatan substansi hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah inovasi dan originalitas sehingga diperlukan kajian yang mendalam dan kemungkinan untuk pengembangan” pungkas Edward (nur/ed.yt)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Memahami Proses Pengambilan Kebijakan Berbasis Riset Melalui Forum Kajian Kebijakan Publik

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Biro Kerja Sama Hukum dan Humas (BKHH) LIPI menyelenggarakan Forum Kajian Kebijakan “Praktik Teknik Analisis Kebijakan Publik” pada tanggal 9 Agustus 2021 secara online melalui zoom meeting. Forum kajian yang diikuti sivitas BKHH LIPI ini menghadirkan narasumber Fadillah Putra, dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya.

Kepala BKHH, Mila Kencana, dalam sambutannya mengatakan bahwa forum kajian kebijakan ini diikuti oleh SDM Pendukung Iptek BKHH yang mempunyai jabatan fungsional pranata humas, perancang perundang-undangan, analis kerjasama, analis kebijakan, dan analis hukum. Pemerintah mendorong ASN untuk memiliki jabatan fungsional sehingga lebih profesional untuk melayani publik. BKHH adalah biro korporat, avant garde, yang melayani publik, kebijakan regulasi, inisiasi serta menjalankan kerja sama dalam dan luar negeri. Forum kajian ini dilatarbelakangi untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan sivitas BKHH LIPI mengenai proses analisis kebijakan yang baik dan untuk mengetahui perkembangan beberapa metode kepada sivitas BKHH LIPI yang bermanfaat dalam melakukan analisis kebijakan.

Dalam mendukung kebijakan yang berbasis riset, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pengayaan bagaimana proses dan metode kajian ilmiah dalam konteks pengambilan dan evaluasi kebijakan. “Dalam forum kajian ini kita juga mengetahui kebijakan yang based on research yang memerlukan knowledge management yang baik sehingga prosesnya lebih efektif dan efisien khususnya di BKHH yang rekomendasinya dipakai pimpinan LIPI dan satuan kerja LIPI” pungkas Mila Kencana.

Narasumber Fadillah Putra, MPAff., Ph.D. menjelaskan bahwa policy analysis menjadi kebutuhan di hampir semua organisasi publik untuk semua substansi karena kebijakan publik tidak bisa dipisahkan dari organisasi publik. Dalam enam tahun terakhir ini, kajian kebijakan menawarkan dua konsep pendekatan dari seorang peneliti yaitu quantitative social scientist, ilmuwan sosial yang berbasis pada pendekatan kuantitatif. Pendekatan lainnya, Epistemic governance adalah sebuah sistem pengelolaan sektor publik yg berbasis science. Saat ini, RPJMN memberi ruang economic based science dan science based society dimana proses ekonomi dan sosial kemasyarakatan yang berlangsung di Indonesia benar-benar berbasis riset. Sehingga riset dalam analisis kebijakan menjadi dasar bagi negara dalam melangkah membuat perencanaan, kebijakan, dan program yang disebut evidence based policy (EBP).

Dalam menentukan EBP, tentunya proses analisis kebijakan publik akan melewati tiga tahapan yaitu diagnosis, indikasi, dan terapi. Diagnosis untuk menentukan ada masalah apa dan apa penyebab masalah tersebut. Indikasi, masalah kebijakan berada di mana. Terapi, menawarkan apa yang harus kita berikan supaya kebijakan publik bisa berjalan lebih efektif dalam menyelesaikan masalah yang ada. Semua bisa diproses menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. “Harapan kita, dengan epistamic governance LIPI menjadi salah satu garda terdepan. Negara kita membutuhkan lembaga seperti LIPI untuk menjadi salah satu ujung tombak menciptakan epistamic governance” pungkas Fadhil.

Acara ditutup oleh Yutainten, selaku Koordinator Pelaksana Fungsi Pembinaan Ilmiah. “Terima kasih atas kesediaan Bapak Fadil untuk memberikan materi pengayaan kepada kami. Banyak ilmu baru yang kami dapatkan. Dalam kondisi saat ini pada masa transisi LIPI, dibutuhkan sekali kajian kebijakan untuk melihat impact dari kegiatan pembinaan ilmiah maupun program dan kebijakan LIPI secara korporat ini. Semoga ke depan kami bisa mengadakan kegiatan pengayaan seperti ini kembali di lain waktu dan semoga bermanfaat untuk kita semua,” tutup Yutainten.(tb/edt.yt)

Perbaiki Kinerja Organisasi dengan Audit Komunikasi

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Dalam rangka memperbaiki kinerja organisasi, Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI menyelenggarakan kegiatan bimbingan kajian kehumasan dengan tema “Audit komunikasi” pada Jumat, 06 Agustus 2021 secara virtual. Kegiatan ini memiliki tujuan untuk memberikan pengayaan Kepada sivitas LIPI bagaimana cara mengevaluasi kinerja komunikasi guna mengetahui bagamana relevansi kegiatan yang dilakukan sebuah organisasi atau Intansi pemerintahan.

Diikuti oleh lebih kurang 78 sivitas LIPI diantaranya Koordinator dan Subkoordinator Satker Kerja Sama Hukum dan Humas dan turut mengundang Pranata Humas, Perancang Peraturan Perundang-undangan serta Analis Hukum dan Analis Kebijakan Ahli Pertama, Muda dan Madya serta Pranata Humas dan Hukum, kegiaatan ini menghadirkan narasumber Dr. Antar Venus, M. A (Wakil Rektor UPN “Veteran” Jakarta. Dalam penjelasan materinya beliau menyampaikan bahwa audit komunikasi merupakan sebuah upaya untuk memperoleh umpan balik baik secara internal maupun eksternal. Audit komunikasi bisa dilakukan secara komprehensif ketika mengevaluasi kinerja komunikasi organisasi. Namun, dapat dilakukan secara parsial atau mini audit ketika mengevaluasi suatu program organisasi.

“Banyak variabel yang dinilai dalam audit komunikasi, dari saluran komunikasi, pertukaran komunikasi, kesediaan informasi tugas, ketepatan waktu, tindak lanjut pesan serta informasi terkait organisasi. Semua variabel tersebut ditangkap untuk melihat hal apa saja yang menjadi kelemahan dan kekurangan organisasi dalam mengkomunikasikan visi misinya” pungkas Antar Venus.

Pada kesempatan ini Kepala BKHH LIPI memberikan arahan kepada peserta FGD bahwa bimbingan kajian ini harus dimanfaatkan dengan optimal baik diimplementasikan sebagai perbaikan korporat maupun pengembangan kompetensi diri.

“Saat ini ASN dituntut untuk bertindak profesional dengan adanya peningkatan jumlah pegawai dengan Jabatan Fungsional (JF) . Sehingga kegiatan korporat seharusnya dapat dilaksanakan lebih baik lagi dengan melakukan kaidah-kaidah pekerjaan yang sesuai dengan profesionalisme jabatan fungsional. salah satunya adalah JF terkait komunikasi dan kehumasan. Diharapkan hasil dari pertemuan ini, sivitas LIPI dapat membuat kajian audit komunikasi. Seperti yang akan dilakukan kepada salah satu program proritas nasional LIPI, yakni Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional maupun Kompetisi Ilmiah LIPI, sedangkan bagi JF lainnya dapat mengimplementasikan wawasan sesuai dengan lingkup pekerjaan JFnya” tegas Mila dalam mengakhiri sambutannya. (Rin/edt.yt.)

LIPI Peduli Kekayaan Intelektual Bagi Finalis LKIR dan NYIA 2020

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Hingga saat ini, LIPI merupakan produsen paten terbanyak di Indonesia. Posisi ini tentunya sebagai ilustrasi tingkat kualitas litbang di LIPI serta bukti kompetensi instansi dalam mengelola Kekayaan Intelektual (KI). Dalam rangka diseminasi pengetahuan, maka informasi dan pentingnya pelindungan KI kepada masyarakat menjadi salah satu informasi yang dibutuhkan, khususnya bagi pelajar yang aktif berkarya di pengembangan riset inovasi,.

Saat ini, LIPI rutin mengembangkan minat dan budaya riset generasi muda melalui ajang kompetisi Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dan National Young Inventor Award (NYIA). Antusiasme remaja dalam berinovasi dilihat dari semakin meningkatnya jumlah karya ilmiah dan produk inovasi teknologi peserta LKIR dan NYIA yang dihasilkan setiap tahunnya. Tentunya hal tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan pemahaman peserta terkait pentingnya pelindungan KI. Namun, mengingat peserta kompetisi LIPI masih merupakan usia sekolah, diperlukan strategi khusus dan kehati-hatian dalam penyampaian materi KI kepada mereka. Untuk itu, perlu diusung konsep fun-learning agar menjadi daya tarik bagi remaja dan menerapkan kolaborasi dengan sekolah pengusung agar proteksi KI bisa optimal.

Kepala Biro Kerjasama, Hukum dan Hubungan Masyarakat (BKHH) LIPI, Mila Kencana menyampaikan dalam acara pendampingan Fasilitasi Hak Cipta bagi Finalis LKIR dan NYIA 2020 (27/7) bahwa “Terkait hasil inovasi dari para finalis atau pemenang LKIR dan NYIA, hal ini merupakan perhatian khusus dari pimpinan LIPI. sehubungan dengan hal tersebut, LIPI mencoba mangakomodir atau memfasilitasi para pemenang dengan pendampingan yang difasilitasi oleh PPII LIPI. Pemilihannya yang memang potensial dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu dimana tentunya pihak PPII yang lebih mengetahui dan paham dari sisi paten dan inovasinya”, tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Pelaksana Bina Ilmiah BKHH LIPI, Yuta Inten pun menjelaskan “Kegiatan Pendampingan Hak Cipta ini merupakan bukti komitmen LIPI difasilitasi oleh BKHH dan PPII terhadap pengembangan potensi penelitian remaja Indonesia. Diharapkan post harvesting program ini memberikan nilai lebih dan motivasi bagi remaja untuk terus berkarya dalam riset dan inovasi”, tutup Yuta. (dsa/ed:yt)

 

 

Kompetisi Ilmiah LIPI dalam Menyiapkan Remaja sebagai Agen Perubahan

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Dalam rangka memperingati hari Anak Nasional pada 23 Juli, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Biro Kerja sama Hukum dan Hubungan Masyarakat (BKHH) bekerja sama dengan Komunitas Mata Cinta, kembali menggelar webinar edisi 6 dengan topik “Bumi Terawat Berkat Ilmuwan Cilik” pada Sabtu (17/7) lalu. Hadir sebagai pembicara, Yutainten, Pranata Humas LIPI, mengungkapkan, remaja merupakan agen perubahan. “Sebagi agen perubahan, banyak manfaat yang dapat digali oleh para remaja, seperti banyak belajar dari masalah lokal yang ada. Remaja, lebih memahami fenomena sosial yang terjadi disekelilingnya dan berani untuk berbicara mengemukakan pendapat,” jelasnya. “Keuntungan lain, dapat memperluas jaringan serta dapat menampilkan kebudayaan daerahnya untuk diketahui oleh masyarakat luas.”

Yuta menyampaikan, LIPI mempunyai ajang kompetisi ilmiah yaitu Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang potensial dan unggul untuk menyiapakan remaja sebagai agen perubahan. Adanya proses mentoring dengan Peneliti LIPI secara langsung dalam LKIR, membuat ajang ini berbeda dengan ajang sains manapun di Indonesia. “LKIR LIPI memberikan bimbingan penelitian dan mengajarkan etika penelitian langsung atau transfer knowledge,” ungkapnya.

“LKIR LIPI telah menjadi pionir kompetisi ilmiah remaja di Indonesia sejak tahun 1968. Fasilitas Laboratorium LIPI pun mendukung penelitian remaja. Bisa dikatakan bahwa kompetisi ilmiah LIPI lebih unggul dalam pembinaan remaja untuk menuju masa depan bangsa yang lebih baik,” terang Yuta.

Dalam kesempatan ini Yuta juga menyampaikan tantangan Kompetisi Ilmiah Indonesia. “Diantaranya seperti, perlunya koordinasi yang strategis antar institusi terkait perencanaan, penyebaran informasi kegiatan, maupun pelaksanaan kegiatan, adanya kesamaaan program kompetisi yang dilakukan oleh pemerintah, perlunya penguatan dukungan dari berbagai pihak dalam hal pelaksanaan kompetisi ilmiah, perlunya pembangunan bank data terpadu yang memuat seluruh hasil kegiatan kompetisi ilmiah dan data para peserta maupun alumni dari kegiatan tersebut secara nasional, belum adanya pembahasan mengenai inputproses-output-outcome dari kegiatan kompetisi ilmiah, dan upaya sebagai tindak lanjut bagi para remaja yang berprestasi dalam bidang sains yang masih belum signifikan dilakukan,” tuturnya.

Lebih lanjut dirinya menyampaikan, ada tiga langkah yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan potensi anak muda dalam menghadapi bonus demografi. “Langkah tersebut diantaranya, education atau Pendidikan, yakni adanya peningkatan kualitas pendidikan untuk meningkatkan hard skill. Langkah selanjutnya adalah employment atau lapangan kerja, yakni menciptakan lapangan kerja baru untuk menyerap tenaga kerja yang profesional dan handal. Langkah terakhir adalah engagement atau partisipasi, yaitu anak muda berpartisipasi aktif dalam kegiatan politik, sosial, dan perekonomian,” jelas Yuta.

Selain itu, menurutnya ada delapan alasan kenapa remaja lebih memerlukan science. “Alasan-alasan tersebut diantaranya adalah dapat lebih berpikir kritis, lebih menempa pada ketahanan mental, memompa keinginan untuk terus belajar, menjadi pahlawan, meningkatkan rasa keingintahuan terhadap suatu hal, menyediakan metode bertanya yang lebih aktif, menjadi konsumen yang lebih baik dan utamanya adalah menjadi pribadi yang lebih baik,” pungkasnya. (rdn/ed:sf)

Kolaborasi LIPI dalam Akademi Edukreator

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Tidak hanya pandemi, saat ini seluruh dunia mengalami fenomena Infodemik, dimana arus informasi berkembang pesat dan sebagian memiliki informasi yang tidak valid. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Kok Bisa, YouTube Learning, Kemdikbudristek RI menghadirkan Akademi Edukreator, gerakan nasional untuk melatih guru, siswa dan profesional untuk merancang konten edukasi yang menarik di berbagai macam bidang. Kehadiran AkademiEdukreator, merupakan upaya untuk belajar membuat konten edukatif yang atraktif secara substansi maupun proses kreatifnya.

Hari ini, Selasa (4/7) adalah hari peluncuran dan pembukaan pendaftaran Akademi Edukreator yang akan dibuka oleh Budi Gunadi Sadikin (Menteri Kesehatan), menghadirkan Nadiem Makarim (Menteri Pendidikan, Budaya dan Ristek), Laksana Tri Handoko (Kepala BRIN), Vidi Aldiano, serta Rara Sekar (Musisi dan aktivis pendidikan). Para narasumber yang hadir akan memberikan berbagai tips-tips untuk menghasilkan konten edukasi serta berbagi pandangan tentang perkembangan pendidikan hingga riset di Indonesia.

Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI, Mila Kencana, menyatakan bahwa LIPI mendukung kegiatan Akademi Edukreator karena LIPI mempunyai visi untuk membina anak-anak muda dan hal tersebut sudah dilakukan sejak tahun 1967 dengan kehadiran program-program pembinaan seperti kompetisi, pelatihan maupun seminar. “Dengan keuntungan sebagai pemilik sumber daya peneliti untuk meningkatkan literasi sains di Indonesia. LIPI harus adaptif mendukung kegiatan komunikasi sains, salah satunya seperti yang dilakukan di Akademi Kreator ini. Melalui LIPI Press, film-film sains maupun konten penelitian dikemas lebih dekat dengan segmen masyarakat digital saat ini. Ketika LIPI tergabung BRIN maka ruang lingkup pembinaan sains akan lebih besar karena semakin bertambahnya jumlah SDM Iptek maupun jangkauan bidang risetnya,” ucap Mila.

Di masa pandemic, di mana platform daring menjadi hal utama dalam kegiatan pembinaan maka variasi konten pembelajaran menjadi hal yang sangat dibutuhkan saat ini. Bukan hanya variasi konten, tapi konten edukasi berkualitas, sehingga masyarakat kita memiliki eksposure yang tinggi terhadap tayangan yang informatif dan bermanfaat. “Kehadiran Akademi Edukreator memiliki nilai lebih dalam proses interaksi atau temu ilmiah agar konten yang dihasilkan semakin menarik dan menyenangkan, “ Pungkas Mila.

Mila berharap agar kolaborasi ini menjadi bukti kepedulian dan upaya gotong royong semua pihak untuk memberikan inovasi konten yang berkualitas untuk masyarakat Indonesia. (yt/ed: sr)

 

 

Bagaimana Presentasi Ilmiah yang Baik untuk Menyampaikan Hasil Penelitian?

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) XIX 2021 merupakan kegiatan pembinaan ilmiah yang dilaksanakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk siswa SMP, MTs, SMA, SMK, dan MA sederajat yang ditujukan untuk memberikan pemahaman mendasar mengenai metodologi penelitian ilmiah. PIRN XIX juga mengajarkan mengenai etika penelitian dengan pemberian materi metodologi penelitian dalam kelas di Bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknik (IPA-TeK) dan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Pada hari ke sembilan pelaksanaan PIRN XIX siswa diberikan materi Teknik Presentasi Ilmiah pada Kamis, (8/7). Materi Teknik Presentasi Ilmiah ini disampaikan oleh instruktur Ririn Lastriani, yang menyampaikan bahwa tujuan utama presentasi adalah untuk memberikan pemahaman kepada audiens tentang hasil penelitian kita. “Supaya bisa dipahami oleh audiens, paham akan hasil penelitian kita, ide atau gagasan kita,” paparnya. Dirinya menjelaskan bahwa dalam melakukan presentasi atau komunikasi, ada pesan yang disampaikan oleh komunikator (orang yang memberi pesan, media (bahan tayang) dan audiens (orang yang menerima pesan).

Lebih lanjut, Ririn menambahkan, yang menjadi tujuan dari pesan presentasi harus to inform, to entertain, to persuade, to inspire. (menyampaikan informasi, mengajak, dan menginspirasi)Untuk membuat presentasi lebih menarik bisa kita sampaikan dengan cara, tell with the story, tell the truth, tell it with pictures (sampaikan dengan cerita, sampaikan kebenaran, dan sampaikan dengan ilustrasi),ungkapnya.

Tidak hanya itu, Ririn juga menyampaikan bahwa di dalam otak kita, kita akan lebih muda menerima dalam bentuk visual dibandingkan dengan teks. Ia menjelaskan bahwa visual diproses 60 ribu kali lebih cepat dibandingkan teks. “90% informasi yang disampaikan di otak berupa visual, dan 40% orang merespon visual dengan lebih baik dibandingkan teks,” jelas Ririn.

“Cara menyampaikan visual hasil penelitian, pertama siapa dan apa yang kita bicarakan, kedua, dimana lokasinya, ketiga, kapan terjadinya, keempat, berapa banyak orang yang disana, kelima, bagaimana mereka berinteraksi, keenam, mengapa demikian. Untuk lebih menarik didalam menyampaikan presentasi bisa dalam bentuk chart, Peta, Timeline, Flowchart, Multivariabel. Membuat bahan tayang itu harus runut, focus, dan jelas.” paparnya.

Teknik Penyampaian Presentasi, bisa diawali dengan perkenalan, (tatap wajah peserta dan dewan juri diawali senyum), bukalah dengan kalimat yang berkesan (fakta, pantun, kutipan, story telling, puisi dll), sampaikan latar belakang fakta dan energik, sampaikan inovasi ide dan karya tulis ilmiah (KTI) anda dengan antusias dan sedikit penekanan nada, kelengkapan, kebaruan, kebermanfaatan. “Unsur presentasi yang baik membutuhkan konten yang hebat, desain yang hebat, dan penyampaian yang hebat.” tuturnya.

Ririn juga memberikan tujuh tips agar presentasi online lancar dan menarik perhatian audiens. “Cek kesiapan alat, berpenampilan menarik, nyalakan fitur video, perhatian suara dan cara berbicara, lakukan eye contact, buatlah slide presentasi yang menarik, fokus dan bersiaplah untuk hal yang tidak terduga.” tutupnya.

Kegiatan Teknik Presentasi Ilmiah ini diikuti sebanyak 38 siswa dari kelas IPSK 1 dan IPSK 2, dan siswa juga diberikan kesempatan oleh instruktur untuk berbagi pengalaman terkait teknik presentasi untuk di sampaikan kepada siswa yang lain. (dr/ed: sr).

Inspirational Talk PIRN 2021: Menjadi Kreatif dalam Berilmu Pengetahuan

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Sebagai salah satu keseruan rangkaian pelaksanaan Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) XIX, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menghadirkan acara Inspirational Talk. Mengangkat tema yang sangat dekat dengan kehidupan generasi muda Indonesia saat ini, Inspirational Talk di hari ke-9 PIRN Virtual 2021 menghadirkan tokoh inspiratif Yulia Atiyah yang telah berhasil menjadi Youtube-edukreator melalui kanal Youtubenya, Biologi Aja!.

“Misi kami (di Biologi Aja) adalah membanjiri internet dengan konten edukasi. Tujuan kita untuk dapat menjangkau lebih banyak siswa dan mahasiswa, serta membantu meningkatkan tingkat akademik mereka dalam bidang biologi,” ujar Yulia, Kamis (9/7). Saat ini, kanal Biologi Aja! besutannya telah memiliki 18 ribu pengikut.

Yulia pun menceritakan terbentuknya kanal ini bermula dari tugas kuliah dan kegemarannya pada dunia animasi. Dirinya pun kemudian belajar animasi melalui suatu komunitas yang ia temukan di media sosial. “Setelah mencoba membuat animasi, saya coba mengikuti beberapa lomba. Setelah gagal beberapa kali, saya coba lagi terus. Ngga papa ya, karena setiap orang itu punya jatah gagalnya masing-masing, tinggal kita terus saja mencoba,” katanya.

Sampai akhirnya mendapat penghargaan dari Bank Indonesia, Yulia kemudian memfokuskan diri di animasi. “Lalu saya mengikuti Akademi Edukreator, yang diinisiasi Kok Bisa, bekerja samanya dengan LIPI, Youtube Learning dan Kemendikbud,” jelasnya.
Yulia juga membagi pengalamannya tentang bagaimana menjadi kreatif. Dirinya menekankan menyatakan kreatifitas merupakan bakat yang bisa dilatih. “Fokus membantu orang. Kita tidak perlu karya yang sempurna, kita hanya perlu membuat karya yang lebih baik dari sebelumnya. Maksimalkan setiap kesempatan, karena beberapa hal hanya terjadi sekali,” pesan Yulia.

Dalam Inspirational Talk ini hadir pula Penny Sylvania Putri, produser dan penulis naskah animasi hingga film dokumenter LIPI. Sebagai bagian tim kreatif content creator diseminasi hasil penelitian LIPI, Putri menyatakan konten audiovisual memiliki efektifitas yang tinggi untuk menarik audiens.
“Audiovisual sangat berguna untuk mengkomunikasikan sains. Dan ini menjadi tujuan LIPI memproduksi film dokumenter dan konten video lainnya, untuk masyarakat awam, media, dan para pembuat kebijakan,” terang Putri.

Putri menyatakan konten-konten komunikasi sains yang diproduksi LIPI merupakan bagian dari fungsi dan kewajiban LIPI sebagai lembaga penelitian nasional. “LIPI berkewajiban untuk menginformasikan ilmu pengetahuan dan hasil penelitian kepada publik. LIPI berkewajiban memberikan edukasi sains kepada publik, dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sains,” jelas Putri.

Pembuatan konten komunikasi sains LIPI juga melalui proses kreatif yang panjang. Putri menjabarkan beberapa proses kreatif tersebut antara lain, pengembangan cerita, pra-produksi, produksi, pasca produksi, dan diseminasi. “Selain itu ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan dalam pembuatan konten, seperti durasi, ukuran frame, tujuan konten, pesan yang ingin disampaikan, dan target audiens,” papar Putri.
Yutainten, Ketua Penyelenggara PIRN Virtual 2021, yang turut hadir pun mengungkapkan tema dan substansi Inspirational Talk ini dipilih mengingat maraknya peminat Youtube di kalangan masyarakat, terutama generasi muda.

“Saya lihat banyak sekali anak muda Indonesia yang menggunakan Youtube sebagai ajang entertain ataupun menggali informasi. Nah di Inspirational Talk ini kita mengundang peneliti muda Indonesia yang telah berhasil memanfaatkan Youtube sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat luas,” ujar Yuta.

“Ini bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk menjadi kreatif dalam mendiseminasikan hasil pengetahuan dan hasil riset kita, dengan memanfaatkan metode dan platform populer yang bisa dinikmati banyak orang,” pungkasnya. (iz)

Bakti Inovasi, Dukung Guru Tingkatkan Kompetensi Ilmiah

By | Berita BKHH | No Comments

Sukabumi, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai organisasi pelaksana litbangjirap Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), berperan aktif dalam melakukan diseminasi hasil-hasil penelitian kepada masyarakat. LIPI juga berkiprah dalam program pembinaan ilmiah untuk siswa dan guru, agar mampu menuangkan ide-ide penelitian yang kreatif, inovatif, dan aplikatif, dalam bentuk karya tulis. Sebagai implementasi, LIPI dan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), bekerja sama mengadakan Pelatihan Penyusunan Karya Tulis bagi Guru Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sederajat di Kota Sukabumi pada Selasa (25/5).

Driszal Friyantoni, Kepala Biro Umum LIPI, menyampaikan bahwa guru merupakan salah satu jabatan fungsional yang membutuhkan peningkatan kompetensi. “Pelatihan yang merupakan inisiatif kerja sama dari LIPI dan Komisi VII DPR RI ini sangat baik, agar guru meningkatkan kompetensinya dalam persaingan global saat ini,” jelasnya. “Semoga kolaborasi ini bisa terus berlangsung di berbagai Dapil (daerah pemilihan) di Indonesia,” harapnya.

Dirinya mengungkapkan pentingnya obyek-obyek penelitian yang dibuat dalam karya tulis dapat menyesuaikan kaidah ilmiah. “Hal itu agar ide-ide dan informasi yang ada dapat tersampaikan baik ke masyarakat,” ucap Driszal dalam sambutannya. “Jangan sampai maksud kita sebagai penulis menjadi menyimpang diartikan oleh pembaca,” ujarnya.

Anggota Komisi VII DPR RI, Ribka Tjiptaning, menyampaikan bahwa penting bagi DPR untuk mendukung lembaga riset, dalam hal ini BRIN - LIPI yang memiliki program bagi para guru. “Lembaga riset ini perlu didukung untuk bisa terus memberi kontribusi bagi kemandirian bangsa,” jelasnya. “Semoga kerja sama dengan LIPI ini bisa terus berlanjut, dengan mengundang guru-guru dari sekolah lain,” tuturnya.

“Di Sukabumi ini khususnya memiliki anak-anak yang pintar dan berpotensi. Semoga Bapak Ibu guru di sini bisa mendorong siswa-siswinya untuk berprestasi membuat karya tulis ilmiah,” ungkap Ribka. “Sukabumi juga sangat kaya oleh cahaya matahari, sayur-mayur, dan bahan tambang, namun sayangnya masih disebut daerah tertinggal. Oleh karena itu, Bapak Ibu Guru saya harap bisa membina anak didiknya agar mampu memajukan Sukabumi,” pesannya.

Sukma Wijaya Kusumah, dari Pusat Penelitian Biomaterial LIPI menjelaskan mengenai pentingnya melakukan riset ilmiah untuk dijadikan karya tulis ilmiah. “Kita bisa mengamati permasalahan yang ada di lingkungan kita untuk dijadikan karya tulis ilmiah,” tuturnya. “Selanjutnya, kita memilih dan memilah topik dan mencari alternatif solusi untuk memecahkan masalah,” lanjutnya. “Yang penting juga syarat karya tulis adalah adanya kebaruan atau orisinalitas ide,” tegasnya.

Sukma memberikan pengetahuan dasar mengenai prinsip penulisan proposal karya tulis ilmiah dan teknik presentasi ilmiah. Dirinya juga memberikan tips agar hasil penelitian tidak sekedar karya tulis namun juga bisa diaplikasikan. “Setelah LIPI bertransformasi, penelitian di LIPI harus terdiseminasikan dengan ke masyarakat, penelitian dimulai dari industri,” ungkapnya. Begitu pun dengan hasil penelitian siswa, pilih yang bisa juga dikerjasamakan dengan industri. “Kita berangkat dari industri, menanyakan apa saja yang dibutuhkan oleh industri, lalu kita berusaha menjawab kebutuhan industri tersebut,” urainya.

Sebagai motivasi membuat karya tulis ilmiah, para peserta pelatihan diarahkan untuk bisa mengakses situs lipindonesia.com, kompetisi.lipindonesia.com, dan pirn.lipindonesia.com, maupun media sosial LIPI. “LIPI selama ini telah mengadakan kompetisi Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dan National Young Scientist Award (NYIA) melalui pendaftaran proposal penelitian,” ujar Sukma. “LIPI juga memiliki program perkemahan ilmiah remaja nasional (PIRN) bagi guru dan siswa, yang tahun ini dilakukan secara virtual,” jelasnya.

 

(adl)