All Posts By

Dyah Rachmawati

Sivitas BKHH LIPI Raih Penghargaan sebagai ASN The Future Leader dan Koordinator Terbaik

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Rangkaian acara kiprah 54 Tahun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di buka oleh Plh. Kepala LIPI, Dr. Agus Haryono pada Kamis, (26/8) secara virtual. Acara ini mengangkat tema ‘Semangat Inovasi Solusi untuk Negeri’.

Agus Haryono, dalam sambutannya mengatakan bahwa HUT 54 Tahun LIPI dengan tema semangat Inovasi Solusi untuk Negeri. “Tema ini sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia yang banyak membutuhkan inovasi-inovasi, solusi dari peneliti LIPI. Bangsa Indonesia saat ini masih berjuang menghadapi pandemi,” ungkapnya.

Pada sesi acara penganugerahan penghargaan Sumber Daya Manusia (SDM) berprestasi terdapat dua di antaranya sivitas dari Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas (BKHH) LIPI, yakni Pertama. Mila Hanifa dinobatkan sebagai penerima penghargaan kategori ASN The Future Leader di lingkungan Sekretariat Utama LIPI. Perempuan kelahiran tahun 1985 ini, memulai karirnya di LIPI sejak tahun 2008. Berperan aktif dalam penyusunan peraturan perundang-undangan baik di tingkat nasional maupun internal LIPI. Membentuk regulasi LIPI yang berkualitas dan memberikan kemudahan bagi penyelenggaraan Iptek sebagai sebuah keharusan untuk menciptakan iklim inovasi yang kondusif bagi penyelenggaraan Iptek.

Selanjutnya, Yutainten dinobatkan sebagai Penerima penghargaan kategori koordinator terbaik di lingkungan Sekretaris Utama LIPI. Perempuan kelahiran Subang tahun 1986 ini, memulai karirnya di LIPI sejak tahun 2008. Saat ini sebagai koordinator pelaksana bina ilmiah. Aktif pada kegiatan pembinaan ilmiah yang diselenggarakan oleh BKHH LIPI nasional dan internasional.

Hadir sebagai keynote speaker pada acara HUT 54 Tahun ini, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. yang menyampaikan tentang ‘Riset dan Inovasi dalam Dunia Hyperconnected’. Rangkaian acara HUT ke 54 LIPI juga diisi dengan Penganugerahan Satyalencana Pembangunan dan Wirakarya dan Penganugerahan Penghargaan bagi Pegawai LIPI, Video Kreatif Satuan Kerja 54 tahun LIPI dan penyerahan simbolis LIPI Peduli. (dr)

LIPI Kampanyekan Cinta Tanah Air Kepada Milenial

By | Berita BKHH | No Comments

Bogor, Humas LIPI. Generasi milenial memiliki peran yang sangat penting bagi kemajuan bangsa Indonesia. Sebagai agen perubahan jiwa patriotisme, rasa cinta tanah air bisa diwujudkan salah satunya dengan ikut melestarikan dan mengkampanyekan keanekaragaman hayati Indonesia. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Biro Kerjasama Hukum dan Humas LIPI Mila Kencana, saat membuka webinar dengan tema “Cara Asyik Cinta Tanah Air, Bincang Santai Bareng Milenial” Minggu, (22/08).

Mila menambahkan keanekaragaman hayati Indonesia merupakan sumber daya potensial sebagai bahan baku produk lokal sehingga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat apalagi di saat pandemi saat ini.
“Harapannya semoga kegiatan ini bisa menginspirasi generasi milenial untuk berkiprah dalam melestarikan keanekargaman hayati sebagai bentuk cinta tanah air” ujarnya.

Perekayasa dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Marwan mengatakan bentuk cinta tanah air sangat beragam salahsatunya bisa dilakukan dengan mengeksplorasi kekayaan alam, budaya nusantara Indonesia. Adapun Senior Grafic Desainer dari Idea cultura Bandung Farah Anisati Bariz mengatakan bentuk rasa cinta tanah air bisa dilakukan dengan membuka cara berfikir dan melakukan dari hal-hal yang kecil disekitar.
Sementara itu Aktivis Lingkungan dan Pemerhati Budaya Bengkulu Sopian mengatakan media sosial menjadi sarana yang tepat untuk menyebarluaskan informasi terkait keanekragaman hayati terutama Rafflesia puspa langka yang menjadi icon Bengkulu. Sampai saat ini masih banyak masyarakat yang salah paham terkait perbedaan bunga bangkai dan rafflesia.

“Banyak masayakarat yang salah kaprah terkait rafflesia dan amorphophallus, apalagi ketika porang disamakan dengan bunga bangkai Amorphphallus titanium, inilah yang menjadi tugas kita meluruskan hal tersebut” ujarnya.

Kegiatan webinar ini merupakan salah satu kegiatan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi LIPI ke 54. Yang diikuti oleh lebih dari 100 peserta dari berbagai latar belakang profesi dan usia dan tersebar dari berbagai daerah di Indonesia. (add)

Peneliti LIPI Mengenalkan Karakteristik Penelitian untuk Pranata Humas

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Menulis merupakan aktifitas pekerjaan yang tidak bisa dipisahkan dari diri seorang Pranata Humas. Banyak pekerjaan yang terkait dengan aktifitas menulis salah satunya adalah menyusun karya tulis ilmiah (KTI). Dr. Yani Mulyaningsih, Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, membagikan pengalamannya sebagai tim penilai peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam kegiatan Bimbingan Teknis Tim Penilai Jabatan Fungsional Pranata Humas: Penulisan Karya Tulis, yang dilaksanakan secara daring pada (12/8) lalu.

Berdasarkan hasil publikasi di LIPI bahwa Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan karakteristiknya menjelaskan bahwa KTI merupakan tulisan hasil penelitian dan pengembangan, tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah. Dirinya memandang bahwa Jabatan Fungsional Pranata Humas memiliki tupoksi yang bukan pada penelitian dan pengembangan. Menurutnya, Pranata Humas dapat juga membuat tinjauan, ulasan, kajian ilmiah, dan pemikiran sistematis lainnya. .

“Dalam karakteristik penelitian, fokusnya pada fakta empiris dan bukan asumsi, bukan opini, dan keraguan-keraguan lainnya, juga berdasarkan pertimbangan kritis atas ide yang kompleks dan informatif. Penulisan disadarkan atas sesuatu yang dapat dilihat dan diukur. Penulisannya pun menggunakan bahasa akademis, jelas dan padat. Menggunakan bahasa formal, referensi, dan bukti-bukti pendukung lainnya, data dan informasi yang kita dapat dari narasumber,” papar Yani.

Untuk peneliti, KTI itu harapannya tidak hanya disimpan, melainkan disebarluaskan (merujuk pada Peraturan LIPI RI No.20 Tahun 2019 tentang petunjuk teknis jabatan fungsional peneliti). Publikasi tersebut yang akan dinilai. Untuk Pranata Humas, mungkin hal ini juga sama seperti peneliti, namun dari sisi tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah,” terang Yani.

Yani pun menjelaskan bahwa artikel ilmiah atau jurnal dalam penelitian yang mungkin bisa diadaptasi oleh Pranata Humas, yaitu bahwa 1). Terbitan baik cetak dan/atau elektronik yang berisi tulisan hasil penelitian, pengembangan, dan/atau pengkajian pada bisang tertentu yang diterbitkan secara berkala oleh lembaga penerbit atau institusi ilmiah; 2). Memiliki International Standar Serial Number (ISSN); 3). Penilaian naskah sesuai dengan media terbitannya, bukan berdasarkan jenis makalah, seperti short communication, study case pada ilmu kesehatan atau technical support, dan lainnya yang diterbitkan di jurnal, dinilai sesuai kategori jurnalnya; 4). Daftar jurnal ilmiah terindeks glibal bereputasi tinggi, menengah, dan bereputasi, serta terakreditasi nasional dapat ditelusuri melalui keberadaan jurnal dalam daftar yang ada di e-peneliti dan yang diacu adalah reputasi saat tahun penerbitan; 5). Identitas jurnal ditelusuri melalui Digital Object Identifier (DOI) pada laman://dx.doi.org; 6). Tidak termasuk jurnal predator; 7). Tersedia daring secara permanen; 8). Jurnal ilmiah terakreditasi nasional, diakreditasi oleh lembaga nasional yang berwenang mengakreditasi jurnal ilmiah.

Dalam diskusi yang disampaikan dalam acara tersebut, Yani juga menjelaskan terkait kolaborasi antara peneliti dengan Pranata Humas. “Hal tersebut harus dipastikan dulu sebesar apa kontribusinya, bagaimana pembaginya. Kontribusinya itu harus disepakati oleh kedua belah pihak antara tim penulis,” jelas Yani. Dirinya pun menjelaskan bahwa buku yang isinya mengenai Biografi, ini tidak termasuk KTI, meskipun diterbitkan oleh penerbit nasional seperti Gramedia.

“Untuk buku cerita anak yang berdasarkan hasil riset sebelumnya, bisa dijadikan KTI. Hal tersebut dalam artian, dari hasil karya tulis ilmiah melalui hasil penelitian, ditulis kejurnal, kemudian dikemas dalam tulisan yang populer, itu bisa diajukan angka kreditnya. Jadi tulisan itu hasil penelitian, tidak hanya dalam bentuk karya tulis ilmiah yang dipublikasi, tetapi kemudian itu bisa saja dipoles dengan bahasa yang populer, jadi karya tulis yang populer. Artikelnya bisa dipublikasi di koran atau bentuk buku. Kalau kami sebagai peneliti, bisa juga diajukan, namun masuk kedalam unsur penunjang, dan nilainya tidak terlalu besar,” terang Yani.

“Dari hasil karya tulis yang telah dilakukan akan lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, di mana kita berharap bisa mencapai angka kredit yang maksimal, artinya jangan berhenti di satu kegiatan, hanya mengklaim dari satu angka kredit saja, misalnya hanya dari satu pengembangan, tetapi bisa menghasilkan banyak hal. Tidak hanya dari angka kredit namun dari sisi kebermanfaatannya bagi masyarakat. Itulah pentingnya kreatifitas, mungkin bagi saya seorang peneliti, bagi bapak/ibu sebagai seorang humas,” tutup Yani. (dsa/ed:drs)

‘Ngobrol Bareng’ Membahas Riset Teknologi Tepat Guna

By | Berita BKHH | No Comments

Subang, Humas LIPI. Substansi dari sebuah kegiatan tidak akan hilang meskipun dilakukan secara virtual. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna (P2TTG – LIPI) dalam sambutannya pada kunjungan virtual Unit Kegiatan Mahasiswa Penalaran dan Riset UKMPR) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) pada (12/08). “Hadir maupun tidak hadir secara langsung bertatap muka tidak akan mengurangi substansi kegiatan, karena yang terpenting informasi dan pengetahuan yang ingin dicari bisa didapatkan,” imbuhnya.

Pramono menyampaikan P2TTG LIPI sudah berdiri sejak 34 tahun yang lalu dan cukup banyak melakukan kegiatan dari Aceh sampai Papua. “Kegiatan kita di awal justru di Wamena, Papua,” ucapnya. Pada awal berdirinya, Pramono menyampaikan bahwa fokus kegiatan P2TTG LIPI adalah membantu masyarakat maupun UKM di Indonesia melalui teknologi tepat guna. “Dalam perkembangannya banyak berubah mengikuti dinamika organisasi dan sampai saat ini yang sedang dalam masa transisi menuju Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),” jelasnya.

Flagship kedepan P2TTG LIPI akan lebih banyak pada pengembangan peralatan, meskipun tidak terlepas dari riset proses. “Karena dalam mendisain peralatan kita memerlukan peneliti pangan yang terlibat,” ungkap Pramono. TTG dalam perkembangannya mengikuti perkembangan teknologi. “Namun kami terus berupaya mengembangkan peralatan dan teknologi proses yang diharapkan dapat menjadi solusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk Ngobrol Bareng LIPI mengangkat tema ‘Mengenal LIPI dan Riset Teknologi Tepat Guna’ dan dihadiri sekitar 98 peserta. Tujuannya menggali informasi terkait kelembagaan LIPI dan riset – riset apa saja yang telah dihasilkan LIPI, khususnya riset yang dilaksanakan oleh P2TTG LIPI.

Rutriana Meilisa, Sub Kordinator Layanan Fungsi Humas dan Kerja Sama Kawasan Subang dengan tema ‘Mengenal LIPI, Mari Membangun Bangsa dengan Ilmu Pengetahuan’. Sesuai dengan tugas dan fungsinya di bidang Humas, Rutriana memaparkan materi tentang LIPI secara kelembagaan. Ia juga menyebutkan berbagai bentuk layanan publik yang dapat dimanfaatkan dan terbuka untuk masyarakat. Rutriana juga menyampaikan meskipun di tengah pandemi, LIPI tetap memberikan pelayanan publik terbaik bagi masyarakat. “Pandemi ini membuat kami harus adaptif untuk tetap memberikan layanan publik terbaik bagi masyarakat, salah satunya dengan melakukan transformasi pelayanan memanfaatkan teknologi informasi,” tuturnya.

Beberapa jenis layanan publik yang dapat diakses oleh publik antara lain (1) Permintaan Informasi melalui sistem PPID Online (2)Layanan Elektronik Layanan Sains (ELSA) yang meliputi layanan sewa alat, pengujian/analisis/karakterisasi, pembelian hasil produksi, kunjungan ilmiah, komputasi berkinerja tinggi, dan pembimbingan tugas akhir mahasiswa, (3) Layanan Repositori Ilmiah Nasional (4) Layanan Edukasi (5) Layanan Akses Buku Gratis dan (6) Layanan Kerja Sama.

Narasumber kedua adalah Riyanti Ekafitri, yang merupakan ketua Kelompok Penelitian Rekayasa Proses Pangan dengan tema ‘Bidang Riset TTG’. Riyanti menjelaskan, teknologi tepat guna adalah teknologi yang teruji kelayakan nya dari segi teknis, memberikan nilai tambah, ekonomi, ramah lingkungan dan diterima secara sosial serta mengikuti perkembangan masyarakat pengguna. “Fokusnya pada kebutuhan masyarakat atau customize, jadi masyakarat butuh apa itu yang kita kembangkan,” ucapnya.

P2TTG LIPI telah mengembangkan teknologi tepat guna baik berupa peralatan dan juga proses pengolahan pangan sampai dengan implementasi ke masyarakat pengguna. “Namun sejak menjadi pusat riset, untuk impelementasi kita bekerja sama dengan unit kerja yang lain,” tutur Riyanti.

Peneliti Madya bidang pangan tersebut menyampaikan bidang riset penelitian dan pengembangan (litbang) TTG adalah peralatan proses pengolahan pangan (food processing machinery) dan peralatan pengolahan pascapanen (postharvest machinery). Terdapat 5 kelompok penelitian di P2TTG LIPI, yaitu (1) Rekayasa Proses Pangan TTG (2) Mekanisasi dan Peralatan Pasca Panen TTG (3) Mekanis dan Termal Peralatan TTG (4) Otomasi Peralatan TTG, dan (5) Agroindustri TTG.

Dalam kesempatan tersebut Riyanti juga menyampaikan beberapa hasil riset yang dihasilkan P2TTG LIPI. Dirinya menuturkan dalam melakukan riset perlu bekerja sama antar kelompok penelitian. “Dalam melakukan penelitian kita harus bekerja sama dengan grup riset yang lain, kita tidak bisa bekerja sendiri,” jelasnya.

Afik Hardanto, pembina UKMPR Unsoed menyampaikan tujuan kegiatan kunjungan virtual tersebut. “Semoga dapat memberikan motivasi kepada adik-adik dan semangat terutama dalam konsep merdeka belajar,” ungapnya. Afik berharap LIPI dapat menjadi salah satu mitra dalam pelaksanaan merdeka belajar di Universitas Jenderal Soedirman. Afik berpesan kepada para peserta untuk mendahulukan adab dalam menuntut ilmu. “Karena kita datang untuk mencari ilmu, kita harus mendahulukan adab sebelum ilmu,” ungkapnya. Afik juga menyampaikan harapannya untuk melakukan kolaborasi riset dengan P2TTG LIPI. “Semoga tidak hanya kunjungan, namun kedepan kita juga dapat melakukan riset bersama,” ucapnya. (ecp,rm.ed/rm).

Membumikan Sains

By | Berita BKHH | No Comments

Ambon, Humas LIPI. Kegiatan penyebarluasan hasil-hasil penelitian merupakan suatu bentuk tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh setiap peneliti baik yang bekerja pada suatu lembaga/instansi pemerintah atau swasta maupun mandiri. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (29/7) ini bertujuan agar hasil penelitian tersebut dapat memberikan manfaat secara luas. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai sebuah lembaga riset nasional melalui visi dan misinya telah menyiratkan tentang pelaksanaan kegiatan tersebut. Sejalan dengan LIPI, Pusat Penelitian Laut Dalam (PPLD) dalam pelaksanaan tugas dan fungsi telah menjabarkan juga tentang kegiatan tersebut salah satu sasaran strategisnya yaitu “melakukan diseminasi hasil-hasil penelitian kepada berbagai pihak terkait sebagai upaya meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya laut yang lestari”.

Proses penyebarluasan hasil-hasil penelitian umumnya dilakukan salah satunya melalui publikasi Karya Tulis Ilmiah (KTI). Namun dengan berkembangnya zaman dan teknologi kegiatan penyebarluasan hasil-hasil penelitian dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melalui pemanfaatan media informasi resmi lembaga yaitu situs web maupun media/sarana informasi lainnya.

Di sisi lain, pengetahuan tentang “Komunikasi Sains” dalam proses penterjemahan Bahasa ilmiah menjadi informasi yang mudah dikonsumsi oleh masyarakat juga menjadi faktor yang penting. Sehingga kegiatan dan proses dalam penyebarluasan hasil-hasil penelitian di PPLD LIPI dapat dilaksanakan dengan baik.

Selain media informasi resmi lembaga atau instansi, agar supaya dapat lebih maksimal kegiatan penyebarluasan hasil-hasil penelitian dapat dilakukan dengan memanfaatkan peran media online atau cetak yang ada. Tentunya hubungan kerjasama antar peneliti dan BKHH Kawasan LIPI Ambon dengan media online/cetak setempat baik pemerintah maupun swasta kiranya dapat dijalin dengan baik sehingga penyebarluasan kegiatan dan hasil-hasil penelitian dapat juga dilakuan bukan saja melalui media informasi resmi PPLD LIPI tapi melalui media online/cetak lainnya. Karena apabila ditinjau dari segi kebutuhan kegiatan ini merupakan sebuah hubungan yang saling menguntungkan. Media masa memiliki posisi yang penting sebagai komunikator antara peneliti dan masyarakat.

Berdasarkan kondisi diatas maka Pusat Penelitian Laut Dalam - LIPI mengadakan sebuah Diskusi Terpumpun atau Forum Group Discussion (FGD) dengan judul “Pentingnya Komunikasi Sains & Peran Media Komunikasi Dalam Penyebarluasan Hasil-hasil Penelitian”, yang dilaksanakan pada Kamis, 29 Juli 2021, Pukul 13.00-15.00 WIB/15.00-17.00 WIT melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan Kepala Bidang Pemberitaan RRI Ambon (Philip Sekewael, S.Sos.), Kepala Biro Antara Maluku-Malut (Rian Anggoro) dan Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI (Intan Suci Nurhati, Ph.D.).

Philip Sekewael dalam FGD menyampaikan bahwa RRI dengan jangkauan yang luas sampai ke pulau-pulau terluar atau biasa disebut serambi NKRI dapat dimanfaatkan dalam menyampaikan hasil-hasil penelitiannya tersebut. Sehingga PPLD LIPI dapat mengoptimalkan kehadiran RRI Ambon dalam kegiatan tersebut.

Rian Anggoro dalam diskusi mengatakan bahwa Antara Maluku-Malut merupakan media yang paling konsisten memberitakan tentang LIPI. Namun beliau mengatakan bahwa tidak semua informasi bisa dijadikan berita. Beliau juga mengatakan bahwa wartawan kedepan juga harus ikut langsung peneliti ke lapangan dalam pengambilan data, sehingga mereka akan paham isi berita yang akan disampaikan.

Intan Nurhati dalam diskusi lebih mengajak para peneliti muda PPLD LIPI untuk lebih membuka diri untuk menjadi science communicator yaitu dengan membumikan sains. Beliau memisalkan seperti ilmu yang ada di menara gading harus diturunkan sampai ke masyarakat. Komunikasi sains menjadi penting terutama dalam membantu dalam pembuatan kebijakan secara global. Komunikasi sains dapat dimulai dari sekarang dengan memanfaatkan media radio, podcast, TV, artikel cetak dll.

Dalam sambutan pembuka Dr. Nugroho Dwi Hananto selaku Plt. Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam mengapresiasi kegiatan ini. Beliau mengatakan bahwa hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan harus disebarluaskan sampai ke pemangaku kepentingan sehingga akan memberikan manfaat yang besar. Yang bertindak sebagai moderator adalah Corry Y. Manullang, M.Sc peneliti PPLD LIPI. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan habituasi dan aktualisasi dari Dr. Eng. Muhammad Zain Tuakia dalam latsar CPNS LIPI 2021. (lt,zt)

 

 

Semangat LIPI Tebarkan Budaya Riset di Kalangan Remaja

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Penyebaran pandemi Covid-19 telah melebihi masa satu tahun sejak Desember 2019 yang lalu. Namun tidak menyurutkan umat manusia untuk ikhtiar dan berjuang dalam menghadapi musibah yang tidak terduga. Pada saat yang sama setiap orang yang mampu bertahan melakukan implementasi kreativitas yang inovatif. Terutama bagi generasi muda Indonesia yang bahkan di antaranya masih bisa membuat prestasi dalam skala lokal, nasional, regional, dan internasional.

Melalui rangkaian Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Media Indonesia bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencara (BNPB) Pusat menghadirkan narasumber dari berbagai instansi dengan tema “Menuju dan Mempertahankan Prestasi Selama Covid-19: Perspektif 5M dan Vaksinasi”.

Sebagai pionir salah satu instansi pemerintah yang membina dunia penelitian remaja Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas memiliki fungsi penyelenggara kegiatan pembinaan berupa kompetisi ilmiah remaja, Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang sudah memasuki tahun ke-53 tahun ini.

Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI, Mila Kencana dalam “Kompetisi Penelitian Ilmiah Indonesia : Perspektif 5M dan Vaksinasi” menegaskan, sejalan dengan program Nawacita, LIPI mempunyai misi untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia melalui aktivitas ilmiah. Aktivitas yang dimaksud, baik berupa kegiatan penelitian maupun program diseminasi ilmu pengetahuan teknologi kepada masyarakat. “Sebanyak lebih dari 57 ribu remaja dari seluruh Indonesia telah mendapatkan manfaat dari program pembinaan ilmiah LIPI. Mereka diharapkan mampu menjadi agen perubahan dengan berbasis implementasi berpikir kritis dan penggunaan ilmu pengetahuan,” terang Mila melalui kanal Youtube Media Indonesia, Selasa (7/07). Ia juga menyebutkan, telah banyak remaja Indonesia binaan LIPI juga telah menuang prestasi di kancah internasional seperti ajang Regeneron International Science and Engineering Fair (ISEF), ASEAN Student Project Science Competition (ASPC) maupun International Exhibition for Young Inventors (IEYI).

Masa Pandemik bukan menjadi halangan bagi LIPI untuk terus berkarya dan berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam melakukan kegiatan pembinaan baik luring maupun daring. “Kami menyadari tetap ada keterbatasan maupun perbedaan ketika melakukan kegiatan pembinaan ilmiah secara luiring dari mulai keterbatasan infratruktur dan koneksi jaringan internet, mentalitas peserta, hingga mekanisme kegiatan yang memerlukan adaptasi kebiasaan baru,” ungkap Mila. “Namun, hal tersebut tetap dijadikan semangat dan peluang bagi kegiatan pembinaan ke depan. Semakin berupaya untuk mengatasi tantangan dengan menebarkan semangat riset dan cinta sains serta membuka peluang kolaborasi dengan pihak-pihak yang peduli terhadap pembinaan generasi muda,” tambahnya.

Dalam acara tersebut, turut hadir narasumber Asep Sukmayadi, M.Si - Plt. Kepala Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Drs. H. Mohammad Husnan, M. Pd – Kepala MAN 2 Kota Malang, Aminu Irfanda Supanda, S.Pd, M.Pd- Kepala SMAN 1 Sumbawa Besar dan Drs. Maman Surakhman, M.Pd.I - Kepala SMAN 3 Yogyakarta. (yt/ ed: drs)

 

Lima Arahan Sestama LIPI kepada Sivitas BKHH

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta. Humas LIPI. Dalam rangka adanya perubahan organisasi di lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan persiapan kinerja staf, Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas (BKHH) mengadakan rapat koordinasi dengan Sekretaris Utama LIPI, Nur Tri Aries Suesningtyas. acaranya ini dilakukan secara virtual, pada Jumat (2/07).

Dalam sambutannya, Nur menyampaikan bahwa dialog dengan sivitas BKHH ini dilakukan sesuai tugas dan fungsi di BKHH dapat menyerap aspirasi apabila ada hal-hal yang perlu ditindaklanjuti di saat transisi organisasi. Dirinya berharap, sebagai sivitas BKHH, selalu mendapatkan informasi yang terupdate, bisa dari media sosial, berita media massa, bahkan dari info media BKHH sendiri, karena humasnya ada di BKHH. Nur menyatakan, arah kebijakan transisi organisasi sesuai dengan adanya Perpres 33 Tahun 2021, tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kepala BRIN mengkonsolidasi sumber daya manusia (SDM), infrastruktur dan anggaran yang akan di kelola di awal. “Tidak perlu ada kegalauan di saat pandemi, adanya masa transisi perubahan organisasi ini, karena ASN masih tetap menerima gaji dan tunjangan itu harus disyukuri.” ungkapnya.

Nur menambahkan, masalah perubahan organisasi itu hal yang wajar, seperti halnya di berbagai Kementerian seperti, di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI (Kemenkraf) dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam proses menuju yang lebih baik harapannya, melalui transformasi proses bisnis dan manajemen riset yang selalui di sampaikan oleh Kepala BRIN. “BKHH LIPI juga mempunyai peran penting dalam transisi organisasi.” tegasnya.

Lima Arahan

Dalam paparannya, Nur menyampaikan lima arahan. Pertama, mengenai Regulasi. penyiapan regulasi untuk mendukung BRIN, percepatan layanan regulasi internal LIPI, analisis regulasi yang terdampak saat reorganisasi dan usulan kebijakan di BRIN, pemetaan dan analisis permasalahan hukum yang belum tuntas. Kedua, tentang Perjanjian dan Kerja Sama. Evaluasi perjanjian yang berlaku dan adanya komitmen lembaga, analisis rekomendasi terkait pelaksanaan kerja sama dalam dan luar negeri, pemberitahuan ke stakeholder kerja sama dalam dan luar negeri, pemberitahuan keanggotaan organisasi internasional.

Ketiga, berkenaan dengan Kehumasan dan Informasi Publik, perlu koordinasi konsolidasi kegiatan kehumasan LIPI dan BRIN, penyiapan kegiatan LIPI saat perubahan organisasi secara adaptif, penyiapan narasi positif, dan optimis perubahan organisasi LIPI dan konsolidasi dalam BRIN, penyiapan infografis edukasi publik terkait organisasi, penyelesaian laporan dan capaian kinerja untuk publik. Keempat, dalam lingkup Pembinaan Ilmiah. Koordinasi komunikasi sains kepada generasi sains, adaptasi kegiatan, penyiapan infografis. Kelima, untuk Sumber Daya Manusia (SDM), sivitas BKHH harus memiliki jabatan fungsional, kinerja profesional, mutasi ke jabatan lain, peningkatan kompetensi secara terus menerus secara mandiri, membangun jaringan profesional, dan selalu update dengan informasi terkini.

Kepala BKHH LIPI, Mila Kencana menjelaskan perlunya sivitas BKHH menyikapi adanya perubahan organisasi transisi dari LIPI menuju BRIN, dan kesiapan Aparatur Sipil Negara (ASN) harus profesional dimanapun kita berkerja dan tetap berupaya yang sudah punya fungsional kinerja harus di tingkatkan lagi sesuai dengan fungsional masing-masing dan tugas pokok dan fungsi di BKHH.” tuturnya.

Mila menambahkan bahwa humas memegang peranan penting bagaimana menyosialisasikan hal-hal terkait ini, juga bagian hukum terkait regulasi, juga ada bagian kerjasama, tetap profesional dan optimis,” terang Mila. (dr/ ed: drs).

 

PIRN 2021, Peneliti LIPI Ajarkan Siswa Metode Ilmiah

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta-Humas LIPI. Pandemi Covid-19 yang masih berlanjut menyebabkan banyaknya kegiatan LIPI beralih ke bentuk virtual. PIRN(Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional) XIX tahun 2021 adalah salah satu kegiatan LIPI yang dilaksanakan secara virtual. PIRN merupakan kegiatan berskala nasional yang melakukan pembinaan ilmiah kepada siswa untuk memberikan pemahaman mendasar mengenai metodologi penelitian ilmiah serta etika penelitian. PIRN XIX diikuti oleh peserta yang berasal dari SMP, MTs, SMA, SMK dan MA. PIRN kali ini, dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu materi metodologi penelitian di Bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknik yang disingkat dengan kelas IPA-Tek dan Ilmu Pengetahuan Sosial yang disingkat IPSK.

Dengan kemasan yang dibuat lebih menarik, virtual PIRN memberikan pembimbingan agar siswa mampu membuat karya tulis ilmiah yang sesuai kaidah penelitian. PIRN yang berlangsung mulai 28 Juni hingga 9 Juli 2021 ini difasilitasi oleh Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI.

Pada hari kedua pelaksanaan, semua siswa dan guru pendamping telah dibagi kedalam 8 kelas. Masing-masing kelas memiliki instruktur yang bertugas memberikan materi dan membimbing dalam membuat karya ilmiah. Dengan konsep yang baru yaitu Distance Learning, metode penyampaian bahan pembelajaran adalah secara synchronus dan asynchronus melalui Learning Management System. kegiatan pembelajaran PIRN XIX berlangsung selama 10 hari yang terdiri dari 84 Jam pelajaran, di mana perjamnya terdiri dari 45 menit. “Dengan waktu yang tersedia, kami bertugas melatih peserta agar mampu memahami penelitian, mempraktekkan tahapannya, menyusun laporan hasil penelitian, serta mempresentasikannya dengan tepat dan sesuai dengan kaidah penelitian ilmiah” tutur Rony Irawanto yang merupakan peneliti dari Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya yang bertugas menjadi salah seorang instruktur pada PIRN XIX.

Dalam pemaparan materinya Rony menyampaikan bahwa penelitian bertujuan untuk mencari fakta ilmiah terkait ilmu pengetahuan dengan menggunakan metode yang ilmiah. Penelitian sangatlah bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan harus objektif serta sesuai dengan temuan fakta dilapangan. “Peneliti tidak dapat melakukan penelitian hanya dengan cara mengumpulkan data dan menganalisisnya, tetapi penelitian harus berawal dari perumusan masalah, tujuan penelitian, kajian teori, metodologi, pengumpulan data, pengolahan hasil dan pembahasan serta kesimpulan dan presentasi atau publikasi,” rincinya.

Rony menyampaikan bahwa, jika ingin menjadi seorang peneliti maka harus memiliki sifat kritis dimana selalu ingin mencari kebenaran untuk diuji, harus memiliki landasan fikiran yang logis, memiliki sifat ingin tahu dan selalu mengambil kesimpulan berdasarkan bukti. “Peneliti bisa melakukan kesalahan, tetapi peneliti tidak boleh bohong ini adalah hal mendasar yang tidak boleh dilanggar. Betapapun hebat hasil penelitiannya, hanya bernilai jika dilakukan dengan jujur baik dalam hal pengumpulan data, analisa dan interpretasi data” tegas Rony dihadapan para siswa bimbingannya.

Setelah pemaparan materi, para siswa diberikan waktu untuk bertanya seputar penelitian terutama pelaksanaannya dimasa pandemi. Keterbatasan ruang dan waktu dimasa pandemi menjadi titik pembahasan yang cukup menarik bagi siswa. “Bagaimana sebaiknya kita melakukan penelitian di masa pandemi agar didapatkan data-data yang akurat tanpa harus turun ke lapangan” ujar Nabila Yasmin Surya Ananda melontarkan pertanyaan. Nabila merupakan siswa yang berasal dari SAMN 14 Jakarta yang dikelompokan kedalam kelas IPA-TEK 2 . Pertanyaan yang hampir sama juga dilontarkan oleh beberapa siswa peserta PIRN XIX.

Roni mengatakan, di masa pandemi kita dapat melakukan kajian dan observasi jika memang tidak memungkinkan untuk mendapatkan data dari lapangan. “Penelitian tetap bisa berjalan dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang ada. Harus diperhatikan, jika mencari kajian literatur secara online maka pilihlah referensi dari kajian ilmiah yang berasal dari hasil penelitian. Jangan sampai mengambil referensi dari sumber yang tidak ilmiah” Jawab Roni dengan jelas.

PIRN XIX akan berlangsung sampai tanggal 9 Juli 2021 dan dikiuti oleh 134 siswa yang berasal dari 34 provinsi. Di Virtual PIRN XIX ini juga diselenggarakan kegiatan workshop guru bagi guru pembimbing . Pada tahun 2021, peserta PIRN berasal dari sekolah yang belum pernah berpartisipasi pada perhelatan PIRN dalam 2 tahun terakhir. Diakhir kegiatan, akan diumumkan hasil penilaian dan peserta terbaik dengan kriteria untuk projek terbaik adalah keaktifan kelompok, projek penelitian yang paling potensial , penulisan format laporan penelitian yang tepat dan mekanisme presentasi yang terdiri dari tata bahasa, pembagian kerja dan atraktif. (eb/ ed: drs)

 

 

 

LIPI Dukung Pembinaan Kompetensi Dosen di Jayapura

By | Berita BKHH | No Comments

Jayapura, Humas LIPI. Sebagai salah satu tanggung jawab terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Komisi VII DPR RI bekerja sama menyelenggarakan Pelatihan Publikasi Ilmiah di Jurnal Internasional Bereputasi Menengah dan Tinggi melalui program Bakti Inovasi pada Senin (19/04) di Jayapura, Papua.

Peneliti Utama di Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI Joko R. Witono, hadir sebagai narasumber pada pelatihan. Joko yang juga merupakan editorial serta reviewer jurnal, hadir membina 50 peserta dari kalangan Dosen di wilayah Jayapura. “Pelatihan ini merupakan pembinaan ilmiah yang ingin menunjukkan bahwa karya tulis ilmiah dapat dipublikasikan di jurnal Internasional bereputasi menengah dan tinggi,” tuturnya.

Tidak hanya itu, Joko juga memberikan informasi terkait penulisan karya tulis ilmiah (KTI), strategi menemukan jurnal yang sesuai, strategi publikasi KTI menjadi jurnal internasional, dan tips agar jurnal dapat terindex DOAJ, Scopus, dan Thomson.

Pada sesi pelatihan ini juga terdapat diskusi terkait naskah KTI yang ditulis peserta. Selanjutnya, KTI tersebut dibahas dan diberi masukan oleh narasumber.

Selain dari LIPI, hadir pula perwakilan Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua serta Anggota Komisi VII DPR RI, Ina Elisabeth Kobak. Ina mengharapkan masyarakat Papua, khususnya praktisi pendidikan, dapat berkontribusi lebih dalam publikasi ilmiah. “Praktisi Pendidikan diharapkan lebih intens dan konsisten dalam mengatasi persoalan-persoalan yang ada di sekitarnya,” terangnya. “Pelatihan ini sekiranya bisa dijadikan sebagai bekal untuk berkompetensi dan juga untuk mengoptimalkan peningkatan SDM bagi mahasiswa di Papua,” pesan Ina. (sd/ ed: drs)

Sapa Media Bahas Ekspedisi Indonesia Timur

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta,Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melalui Biro Kerja sama Hukum dan Humas (BKHH), mengadakan ‘Sapa Media Kapal Riset baruna Jaya VIII: Ekspedisi Indonesia Timur’. Ekspedisi merupakan kolaborasi riset terkait kegiatan penelitian arus air laut di perairan Indonesia, yang diselenggarakan secara di virtual Selasa (30/3) lalu, pada saat Kapal baruna Jaya VIII sedang bersandar di Madura.

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko mengapresiasi ekspedisi yang merupakan kolaborasi riset dalam dan luar negeri, kegiatan ini terlaksana atas kerjasama antara LIPI dengan Institute of Oceanology, Chinese Academny of Science (IOCAS) melalui Pusat Penelitian Oseanografi dan melalui Pusat Penelitian Laut Dalam dengan First Institute of Oceanography (FIO, China) dan University of Maryland, USA.

Handoko menuturkan, LIPI juga bekerja sama dengan Balai Riset dan Observasi Laut (BROL, Kementrian Kelautan dan Perikanan) dalam melaksanakan observasi oseanografi. “Ekspedisi ini ditujukan untuk mengetahui sifat-sifat oseanografi fisika dari arus laut lintas Indonesia atau disebut juga dengan Indonesia Throughflow, percampuran air, dan kenaikan permukaan air laut,ucapnya.

Handoko menegaskan, LIPI berkomitmen mendukung berbagai riset, yang sifatnya fundamental. “Untuk mendukung riset tersebut LIPI melakukan investasi yang cukup besar,” tuturnya.

Pada kesempatan itu juga, Ocky Karna Radjasa, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian (IPK) menyampaikan, Ekspedisi ini mempunyai peran penting untuk melihat dan mendalami arti penting dan karakter penting dari kesuburan plankton dan observasi oseanografi.

Selanjutnya Nugroho Dwi Hananto, Plt. Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI menuturkan ekspedisi ini sudah 72 hari melaut. “Tujuan penelitian untuk mengambil data dari sampel air laut, alat yang dipakai untuk mengangkut air dan targetnya isinya dari Plankton dan isi kimianya. Demikian juga terkait sifat air laut.Pelayaran riset tersebut dipimpin oleh peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI,” ucapnya.

Nugroho menambahkan, pelayaran melalui kolaborasi riset tersebut dilakukan sejak bulan Januari, selama 72 hari. Waktu tersebut, menurutnya, cukup lama dimanfaatkan dengan maksimal untuk mengambil data kelautan dan biodiversitas. “Berlayar di masa pandemi bukan menjadi hal yang mudah, ditambah dengan gelombang tinggi di Samudra Hindia dan Selat Makassar, namun riset tetap dapat dijalankan,” kisahnya. “Ini membuktikan peneliti kelautan Indonesia mampu bersaing secara global, karena dalam pelayaran ini tidak hanya membutuhkan kepandaian, saat penelitian di laut harus dibutuhkan nyali dan safe yang diutamakan, hal ini untuk kenyamanan dalam penelitian,” tutupnya.

Sebagai informasi kegiaan ini ekspedisi Indonesia Timur 2021 menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VIII yang dikelola oleh Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PPII LIPI). Baruna Jaya VIII adalah kapal penelitian multiguna yang dibangun pada tahun 1998 di Norwegia dengan ukuran yang panjang sekitar 53,2 meter. (ks/ ed:drs)