Pusat Kajian Nanoselulosa

Profil

Pusat Kajian Nanoselulosa merupakan unit kelompok sumber daya manusia terampil yang mengkaji topik nanoselulosa dari berbagai bidang keilmuan (multi disiplin keilmuan) untuk menghasilkan suatu produk inovasi material maju yang berkelanjutan, bermanfaat dan dapat di alih teknologikan kepada masyarakat, komunitas ilmiah nasional, regional dan global serta industri. Pusat Kajian Nanoselulosa di umumkan secara resmi ke publik (launching) pada tanggal 30 Oktober 2019 oleh Dr. Iman Hidayat, Kepala Pusat Penelitian Biomaterial dan mewakili Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati, LIPI pada acara Seminar Nasional Lignoselulosa tahun 2019. Pusat kajian ini memberikan kesempatan kepada seluruh pemangku kepentingan untuk terlibat dalam penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan bahan nanoselulosa dengan konsep dasar yang kami ejawantahkan dalam sebuah konsep eko-teknologi (eco-technology concept).

Konsep ini di kembangkan oleh Honda Foundation dengan mengharmonisasikan teknologi masa kini (era revolusi industri 4.0) dengan konsep kelestarian lingkungan untuk menciptakan kehidupan masyarakat moderen yang peduli sepenuhnya terhadap kondisi alam. Oleh karena itu, perlu diciptakan beberapa teknologi kunci yang mampu menyelaraskan hal-hal tersebut. Dari kerangka fikir yang ada, kelompok kajian ini mencoba menerapkan ide tersebut pada pemilihan metode ekstraksi nanoselulosa dengan mempergunakan kata kunci spesifik dalam  proses studi pustaka, pemilihan sumber bahan baku, kondisi proses dan tahapan proses yang dilakukan untuk menghasilkan nanoselulosa. 

Konsep eco-teknologi ini diselaraskan dengan tujuan pembangunan rendah karbon dan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Sebagai contoh adalah pengembangan teknologi rendah konsumsi energi, peningkatan nilai tambah produk melalui inovasi, sistem daur ulang dan kelestarian sumber daya hayati. Selanjutnya, beberapa teknologi kunci yang di pilih antara lain rendemen produksi yang tinggi sehingga meminimalkan eksploitasi berlebihan sumber daya alam hayati, bersumber dari bahan baku limbah seperti limbah pertanian, limbah biomassa industri, produk samping proses produksi bioethanol dan mempergunakan bahan kimia yang tidak berbahaya seperti tidak korosif dalam prosesnya dan teknologi enzim, rendah limbah, dan mampu di daur ulang dengan mudah. Selain itu, efisiensi proses dengan pemanfaatan teknologi katalis, proses modifikasi satu tahap dengan ekstraksi secara bersamaan (one step processing) ditujukan untuk meminimalisasi jumlah energi keseluruhan yang dibutuhkan. Saat ini, nanoselulosa secara komersial masih sangat mahal yaitu US$ 3000 per kilogram (Newton G, 2019). Sehingga butuh teknologi untuk mengkomersialkan-nya dimasa mendatang.

 1,000 total views,  1 views today