Pusat Penelitian Biomaterial LIPI memiliki beberapa staf dan alumni berprestasi, diantaranya:
FIRDA AULYA SYAMANI: Fokus Pengembangan Biokomposit untuk Produk Papan Partikel dan Bioplastik
Cibinong, Humas LIPI. Indonesia sangat kaya dengan sumber daya hayati, termasuk serat alam. Berbagai jenis serat alam dapat ditemukan di bumi Indonesia, ada yang berasal dari batang seperti serat rami atau serat kenaf, ada yang berasal dari serat buah seperti serat kelapa, dan ada juga yang berasal dari daun seperti serat nanas, serat abaca atau serat sisal.
Serat alam mengandung lignoselulosa sehingga dapat digunakan sebagai bahan alternatif, untuk diolah menjadi produk papan partikel yang sebelumnya menggunakan kayu sebagai bahan bakunya. Hal ini menjadikan serat alam menarik untuk dikembangkan menjadi biokomposit untuk produk papan partikel, karena dapat menggantikan kayu yang untuk memperolehnya perlu mempertimbangkan mengenai kelestarian hutan dan memerlukan waktu cukup lama. Dan pada dasarnya hasil pertanian merupakan material berbahan hayati (bio-based), yang dapat diolah lebih lanjut menjadi berbagai jenis produk, salah satunya biokomposit.

Di Pusat Penelitian (Puslit) Biomaterial LIPI, biokomposit menjadi konsentrasi bidang penelitian tersendiri. Dr. Firda Aulya Syamani, M.Si. adalah salah satu peneliti dalam kelompok penelitian Biokomposit di Puslit Biomaterial LIPI. Bersama tim, Firda mengembangkan papan partikel dari berbagai serat alam dengan perekat sintesis berbasis urea formaldehida, fenol formaldehida dan isosianat, “Untuk lebih memahami karakteristik, proses produksi dengan perkembangannya, saya melanjutkan studi S2 pada tahun 2006-2009 di Fakultas Kehutanan IPB dengan topik riset papan komposit dari serat sisal,” ujarnya.
Firda yang telah menduduki jenjang Peneliti Ahli Madya, memulai karirnya di LIPI pada tahun 2005, pada kelompok penelitian Biokomposit. Dengan latar belakang pendidikan S1 Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), Firda tertarik dengan bidang biokomposit yang saat itu termasuk sesuatu hal yang baru, namun sangat menarik untuk dipelajari lebih lanjut.
Perempuan kelahiran Jakarta, 20 Agustus 1976 ini, dalam penelitiannya juga mengembangkan papan partikel dari serat sisal, pelepah sawit, tandan kosong kelapa sawit, serat batang sawit, alang-alang dan bambu betung menggunakan asam sitrat yang dapat berfungsi sebagai agen perekatan.
Firda menerangkan bahwa penggunaan asam sitrat sebagai agen perekatan sangat potensial, karena asam sitrat yang lebih ramah lingkungan. “Tidak mengeluarkan emisi formaldehida dan menghasilkan papan partikel dengan kekuatan mekanik yang sebanding dengan papan partikel yang menggunakan perekat berbasis formaldehida, bahkan dengan sifat ketahanan terhadap air yang lebih baik,” terangnya.
Pada tahun 2019, Firda berkesempatan melakukan magang riset di Kyoto University dengan Prof. Kenji Umemura untuk mengembangkan papan serat sorghum dengan perekat asam sitrat. “Prinsip hidup saya adalah terus berusaha dan bersemangat untuk mencapai tujuan, jangan mudah menyerah, dalam setiap kesulitan selalu ada jalan keluar,” katanya penuh semangat.
Produk komposit dari serat alam, selain dibuat dengan menggunakan perekat, juga dapat dikembangkan menjadi produk komposit dengan polimer plastik, untuk keperluan komponen otomotif, furniture, komponen non struktural bangunan, bahkan komponen pesawat. Hal tersebut yang mendorong Firda memilih topik riset “Rekayasa Proses Fibrilasi Selulosa untuk Penguat dan Pengisi Komposit Polimer”, saat melanjutkan studi S3 bidang Teknologi Industri Pertanian IPB pada tahun 2010-2015.
“Selulosa merupakan polimer alami yang terdiri dari molekul yang tersusun tidak beraturan (amorf) dan tersusun teratur (kristalin), yang mempengaruhi kekuatan dari selulosa. Kristalin selulosa mempunyai kekuatan tarik yang tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai penguat dalam komposit polimer termoplastik,” jelas Firda.
Firda menambahkan, pada tahun 2013-2015, Firda terlibat dalam kegiatan riset tentang Pembuatan Green Materials dari Bioplastik dan Serat Nano-selulosa dalam Skala Industri untuk Menggantikan Plastik Sintetik. “Kegiatan ini merupakan program riset kompetitif LIPI, dan telah menghasilkan publikasi artikel dengan judul “Mechanical Properties of Composites Based on Poly (Lactic Acid) and Soda-Treated Sugarcane Bagasse Pulp” dalam buku “Sustainable Future for Human Security” yang diterbitkan oleh Springer,” tambahnya.
Selain itu dalam lima tahun terakhir dirinya telah melakukan 14 publikasi artikel ilmiah di jurnal nasional dan internasional, dan telah mendapatkan 7 paten dari hasil penelitiannya. Pada tahun 2018 dan 2019 perempuan yang telah dikaruniai dua putra ini mendapatkan dana riset program Insentif Riset Nasional (INSINAS), untuk mengembangkan kemasan bioplastik aktif penyerap oksigen berbasis pati batang sawit.
“Pada tahun 2020 kami mendapatkan dana riset untuk pencegahan penyebaran Covid-19 untuk mengembangkan kantong jenazah biodegradable, kuat dan tahan air untuk pencegahan penyebaran Covid-19 yang berbasis pati,” ungkapnya.
Firda mempunyai pengalaman aktif dalam organisasi Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) sejak 2006, dan sejak tahun 2013 sampai sekarang menjabat sebagai Bendahara MAPEKI. Firda terlibat sebagai anggota editorial board dalam Jurnal Riset Industri Hasil Hutan. Bertugas sebagai Ketua Kelompok Penelitian Biokomposit Termoplastis pada tahun 2021. Firda juga aktif sebagai pemakalah di berbagai seminar ilmiah (oral presentation) dalam lima tahun terakhir,
“Saat ini saya bertugas sebagai penyelia Integrated Laboratory of Bioproducts(iLaB), yang bertanggung jawab dalam pengelolaan fasilitas iLaB terkait dengan alat-alat karakterisasi. Seperti raman spektroskopi, rheometer viskometer, PyGCMS, LCMSMS, HPLC, mikroskop digital, microplate reader,, semi automatic surface tension, moisture analyser,” tutur Firda.
Sebagai penutup, Firda menyampaikan harapan terkait penelitian yang dilakukannya. “Semoga produk biokomposit dari sumber daya hayati Indonesia menjadi produk unggul dan dapat lebih dikembangkan lagi sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan, “ tutupnya. (iks ed sl).
Dr. Widya Fatriasari, Melejit dengan Penelitian Lignin dan Tanin
Humas-LIPI. Dr. Widya Fatriasari, merupakan salah seorang peneliti tangguh dan mandiri yang dimiliki LIPI saat ini. Lahir di Trenggalek 42 tahun silam, Widya mengawali karir sebagai asisten peneliti di Puslit Biomaterial-LIPI (UPT Biomaterial) pada tahun 2004. Menjadi peneliti adalah impiannya sejak duduk dibangku kuliah.
Menginjak usia ke-42 tahun, Widya telah mencapai jenjang puncak jabatan fungsional peneliti yaitu sebagai Peneliti Ahli Utama. Hal ini tidak terlepas dari kekonsistenannya untuk terus menerus belajar dan produktif dalam menghasilkan karya tulis ilmiah dan paten.
Pada tahun 2019, Widya berhasil membuat buku nasional yang terpilih sebagai buku yang mendapat insentif dari Kementerian Riset dan Teknologi. Tidak berhenti disitu, pada tahun yang sama Widya juga mendapat penghargaan sebagai peneliti dengan capaian terbaik dan sebagai ketua kelompok penelitian terbaik. Saat itu dirinya juga memperoleh pendanaan eksternal terbanyak di Pusat Penelitian Biomaterial LIPI.
Sebagai seorang peneliti di Kelompok Penelitian Biomaterial Berbasis Lignin dan Tanin (BBLT), Widya terpacu untuk memanfaatkan biomassa yang sudah tersedia di alam sehingga menjadi material yang memiliki nilai tambah. Berbekal jiwa yang penuh semangat dan minat yang besar di bidang pulp dan paper, Widya berhasil memanfaatkan lignin (by-productdari proses pulping) menjadi biosurfaktan yang berperan dalam proses hidrolisis biomassa. Saat ini Widya dan tim sedang mengembangkan biosurfaktan turunan lignin untuk meningkatkan proses ekstraksi emas.
Lignin yang diisolasi dari lindi hitam yang dihasilkan melalui proses pulping kayu akasia (Acacia mangium) setelah ditambahkan polimer hidrofilik dengan formulasi tertentu akan menghasilkan surfaktan yang dikenal sebagai Biosurfaktan Amphipilic Lignin Derivatives (A-LD). Hasil penelitian skala laboratorium menunjukkan bahwa penggunaan A-LD tersebut untuk proses hidrolisis enzmatis (pulp kraft bagas sorgum manis) mampu meningkatkan rendemen gula pereduksi per biomassa sampai 2 kali lipat.
“Biosurfaktan A-LD pada proses hidrolisis enzimatis berperan dalam menurunkan tegangan permukaan larutan dan adsorbs enzim non reproduktif, sehingga hidrolisis berlangsung lebih efektif dan enzim dapat digunakan kembali. Selain itu surfaktan dapat meminimalisasi terjadinya reaksi antara lignin yang ada dalam biomassa dengan sisi aktif enzim”, jelasnya. Widya menambahkan bahwa penggunaan biosurfaktan miliknya walaupun tanpa melalui proses ultra filtrasi jika dibandingkan dengan surfaktan komersial tipe sejenis maka lebih unggul untuk meningkatkan rendemen gula dan mengurangi waktu hidrolisis.
Saat ini Widya sedang melakukan inisiasi uji coba produknya untuk proses hidrolisis pada skala bech scale yang lebih besar (10 liter). Produknya pun sudah didaftarkan paten pada tahun 2017 melalui pusat Inovasi-LIPI dengan judul “Formulasi Biosurfaktan Turunan Lignin Amphipilik dari Lignin Acacia mangium dan Proses Pembuatannya” dengan Nomor Pendaftaran Paten: P00201702048.
Klaim paten yang dimilikinya meliputi keterbaruan pada metode isolasi lignin, bahan baku yang digunakan (jenis kayu hardwood di daerah tropis), modifikasi proses sintesanya serta bahan untuk aplikasinya pada proses hidrolisis. Widya optimis bahwa hasil penelitiannya ini dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi masyarakat khususnya pada bidang pengembangan bioenergi generasi kedua yang memanfaatkan biomassa lignoselulosa untuk dikonversi menjadi bioetanol.
Tidak puas sampai di sini saja, perempuan yang memiliki moto “Bekerja dengan sepenuh hati” ini terus mengembangkan penelitiannya terkait dengan pengembangan surfaktan berbasis lignin untuk menyempurnakan produk sebelumnya. Terus semangat Dr. Widya, kami menunggu karyamu lainnya. (eb sd sl)
EKO SETIO WIBOWO
REKAYASA BIOKOMPOSIT DAN EKO-STRUKTUR (RBE)
Cibinong, Humas LIPI. Rekayasa Biokomposit dan Eko-struktur (RBE) merupakan riset sumber daya hayati (SDH) untuk produk biokomposit dan struktur secara berkelanjutan untuk aplikasi pada industri permukiman, pertanian, kehutanan, kemasan dan transportasi. Ruang lingkup penelitiannya mencakup karakterisasi, seleksi, peningkatan kualitas dan kajian potensi serat alam, biomassa dan SDH lainnya sebagai bahan baku komposit dan struktur. Cakupan lainya meliputi rekayasa proses dan teknologi pembuatan biokomposit, bionano komposit dan struktur, serta diseminasi teknologi dan produk, alih teknologi, dan kajian pengembangan biokomposit, bionano komposit dan struktur.
“Selalu menjadikan riset sebagai passion, agar dapat bekerja dengan sepenuh hati dan dapat memberikan hasil yang terbaik”
Eko Setio Wibowo, Peneliti Tingkat Pertama Pusat Penelitian Biomaterial LIPI
Eko Setio Wibowo, Peneliti Tingkat Pertama Pusat Penelitian (Puslit) Biomaterial LIPI adalah salah satu peneliti yang terlibat dalam riset tersebut. Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), jurusan Kimia ini mengatakan, “Saya menyukai kimia sejak SMA, dan sampai kuliah S1 saya aktif mengikuti lomba olimpiade sains nasional di bidang kimia. Saya mendapat medali perunggu saat SMA dan dua kali mendapat medali perak saat kuliah. Kecintaan saya terhadap sains ini yang membuat saya bercita-cita ingin menjadi ilmuwan.”
Eko demikian dirinya akrab disapa, lulus kuliah dari ITB dengan predikat cum-laude (3.86/4.00). Eko sempat bekerja sebagai researcher (chemist) di sebuah perusahaan swasta (tahun 2016-2017). “Dari sinilah saya banyak belajar tentang dunia penelitian, tetapi karena orientasi perusahaan adalah keuntungan, saya tidak menemukan kebebasan dalam melakukan riset sesuai ide dan passion saya. Kemudian pada akhir tahun 2017, saya tertarik dengan Puslit Biomaterial LIPI karena terdapat beberapa riset dan publikasi tentang bio-based material dan adhesive. Riset tersebut terkait dengan apa yang saya kerjakan di perusahaan swasta sebelumnya, yaitu mengenai thermosetting polymer sebagai adhesive,” tuturnya.
Awal 2018 Eko diterima dan mulai bekerja di Puslit Biomaterial LIPI dan ditempatkan di kelompok penelitian (keltian) Rekayasa Biokomposit dan Eko-struktur (RBE), tetapi semenjak adanya reorganisasi di LIPI, keltian ini telah terbagi menjadi beberapa keltian baru yang salah satunya adalah Biokomposit Biomaterial (BB), yang menjadi keltian barunya saat ini. Penelitian yang dilakukan dalam keltian tersebut mencakup: 1) Seleksi, karakterisasi biomassa potensial untuk pengembangan dan pemanfaatan biokomposit dan bio-based polymer, 2) Pengembangan fiber-based pan orel yang meliputi particleboard dan fibreboard dengan perekat sintetis (PF, UF, IC) serta perekat yang ramah lingkungan (self-binder, asam sitrat, pati, sukrosa, dan lainnya berbasis polisakarida), 3) Pengembangan bio(based) polymer dan fiber-polymer composite meliputi fiber thermoplastic composite dan fiber thermosetting composite. 4) Pengembangan active carbon fiber composite berbahan serat karbon dari bahan hayati dengan matrik CF + N- and O- doped dan tanpa matrik untuk advance material pendukung produk elektronik (katoda berbasis fiber carbon dan elektroda kapasitor), dan penyerap polutan, dan 5) Kajian life cycle assessment (LCA) pada biokomposit berbasis biomassa.
Pria kelahiran Jakarta, tanggal 16 Oktober 1993 ini diberikan tugas untuk membantu salah satu penelitian yang terdapat dalam proyek Science and Technology Research Partanership for Sustainable Development (SATREPS) dan Japan Asian Science Technology and Innovation (JASTIP), kerjasama dengan Kyoto University. “Pada program ini, saya dibimbing oleh Dr. Sukma, Dr. Firda, dan juga Prof. Subyakto. Peneliti senior di Puslit Biomaterial selalu siap mendukung juniornya, terutama CPNS yang baru masuk. Mereka siap berdiskusi setiap saya membutuhkan bantuan,” jelasnya.
Eko menambahkan, “Pada program SATREP yang dibimbing oleh Dr. Sukma, kami melakukan penelitian tentang pemanfaatan bahan alami seperti asam sitrat dan sukrosa sebagai potensi perekat untuk material komposit. Hasil dari penelitian ini sudah kami submit ke International Journal of Adhesion and Adhesive, Elsevier, dan saat ini masih tahap revisidan menunggu hasil.”
Dalam program JASTIP Eko dibimbing oleh Prof. Subyakto, “Kami melakukan penelitian tentang pemanfaatan bahan alam seperti tandan kosong kelapa sawit untuk dijadikan karbon untuk pembuatan supercapacitor. Bahkan berkat program ini saya bersama Prof. Subyakto sempat mengikuti Scientists Exchange JASTIP program R-10 di RISH Kyoto University Jepang, pada 7-16 November 2018 dengan host Dr. Toshimitsu Hata. Sayangnya, belum sempat menyelesaikan penelitian ini, saya sudah harus melanjutkan studi. Tetapi, berkat mengikuti kedua program penelitian ini, saya mendapatkan pengalaman dan pembelajaran riset yang sangat berharga,” jelasnya.
Pada akhir tahun 2018, Eko mengikuti program combined Master/Ph.D. di Kyungpook National University (KNU) Korea, dengan beasiswa dari program kampus yaitu KNU International Graduate Scholarship (KINGS). Eko menjelaskan alasannya mengikuti program ini, “Saya sangat tertarik dengan program ini karena program ini memungkinkan saya untuk mendapat gelar Ph.D. hanya dalam waktu empat tahun. Dan bidang penelitiannya adalah tentang thermosetting polymer untuk wood adhesive, sesuai dengan bidang saya. Selain itu calon supervisornya adalah Prof. Byung-Dae Park, beliau sangat terkenal dan bisa dikatakan jika beliau merupakan top five researchers di dunia untuk bidang wood adhesive.”
Eko menceritakan masa-masa awal studi sebagai mahasiswa Ph.D. “Pertama, saya bangga sebagai generasi pertama di keluarga saya yang menempuh pendidikan S3. Kedua, walaupun sulit dan penuh tantangan, ternyata saya mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan riset di sini dan juga kerasnya kehidupan di luar negeri sebagai minoritas. Prinsip hidup saya adalah membiasakan diri bersyukur dalam setiap keadaan.“
“Pada masa studi saya yang sudah beranjak satu tahun lima bulan ini, saya telah mengikuti konferensi sebanyak 3 kali, 2 kali sebagai oral presenter dan 1 kali poster presenter. Saat itu saya sempat mendapat juara pertama untuk best poster presenter. Kemudian saya juga telah menerbitkan lima buah artikel pada jurnal internasional bereputasi, empat artikel sebagai penulis pertama dan satu artikel penulis ketiga. Dari lima buah artikel ini, tiga merupakan artikel dengan ranking Q1 dan dua lainnya Q2,” tambahnya.
Eko menjelaskan hobi barunya saat ini, yaitu memasak, “Memasak merupakan hobi baru yang sangat saya sukai disini, karena sulit mencari makanan halal dan kalaupun ada harganya mahal. Maka saya pun jadi rajin memasak, setiap akhir pekan saya selalu mencoba resep-resep masakan Indonesia yang baru.”
Eko menyampaikan harapannya ke depan, ”Saya berharap bisa tetap produktif menerbitkan artikel dan bisa lulus Ph.D. tepat waktu. Saya juga berharap suatu saat hasil penelitian saya bisa berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya pada industri polimer dan perekat di Indonesia. Selalu menjadikan riset sebagai passion, agar dapat bekerja dengan sepenuh hati dan dapat memberikan hasil yang terbaik,” pungkasnya.(IkS ed SL)
FENNY CLARA ARDIATI
“BIOREMEDIASI, SOLUSI PENCEMARAN AIR LIMBAH TEKSTIL”
Cibinong, Humas LIPI. Bioremediasi merupakan upaya pemulihan pencemaran lingkungan dengan agen biologis seperti mikroorganisme, yang digunakan untuk mendegradasi polutan di lingkungan tanah maupun air. Salah satu penelitian yang sedang dikembangkan di Pusat Penelitian (Puslit) Biomaterial LIPI saat ini yaitu teknologi bioremediasi untuk pencemaran air limbah tekstil. Khususnya tentang dekolorisasi, dimana penggunaan jamur pelapuk putih yang memiliki enzim ekstraselular (enzim ligninolitik seperti lakase, LiP dan MnP), yang dapat mendegradasi polutan salah satunya zat pewarna (dyes).
Fenny Clara Ardiati, S.T., Peneliti Pertama Puslit Biomaterial LIPI sejak SMAtelah tertarik untuk kuliah di jurusan Teknik Lingkungan. “Saya merasa bahwa kehidupan manusia pasti akan selalu berhubungan dengan lingkungan disekitarnya, maka isu lingkungan akan selalu ada di setiap bidang,” katanya. Perempuan kelahiran Bandung, tanggal 22 Februari 1995 ini menjelaskan aspek dan bidang yang dipelajarinya dari teknik lingkungan, seperti air bersih, air limbah, pengelolaan udara, pencemaran tanah, manajemen lingkungan dan persampahan. Ketekunannya saat kuliah di ITB dalam bidang yang diminati, menjadikannya mahasiswa yang berprestasi. Penghargaan yang diperolehnya antara lain Best student of Environmental Engineering ITB 2016, medali perak dan perunggu dari Dean’s List Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, serta beasiswa dari Pembangunan Jaya 2016 – 2017.
Tahun 2017 akhir, Fenny demikian panggilan akrabnya, diterima menjadi salah satu kandidat peneliti di Puslit Biomaterial LIPI. Walaupun sejak awal tidak terpikir untuk terjun ke dunia penelitian, Fenny mengemukakan alasannya menjadi peneliti, “Saya senang belajar, dan saya pikir peneliti adalah profesi yang harus terus-menerus menambah ilmu pengetahuan. Banyak tantangan saat pertama saya masuk, sebagai lulusan sarjana yang baru memasuki dunia profesi di lembaga pemerintah,” ungkapnya.
Mahasiswa terbaik Teknik Lingkungan ITB tahun 2016 dengan IPK 3,97 ini, menjadi kandidat peneliti di Kelompok Penelitian Teknologi Proses Biomassa dan Bioremediasi (TPBB) yang dibimbing oleh Prof. Euis Hermiati dan Dr. Widya Fitriasari. Fenny menjelaskan, “Saya dilibatkan dalam beberapa proyek penelitian proses biomassa dan khususnya di bidang bioremediasi. Dan banyak terlibat dengan proyek seperti Japan Asian Science Technology and Innovation (JASTIP) yang dibimbing oleh Dr. Dede Heri Yuli Yanto.”
Fenny menambahkan, “Sebagai kandidat peneliti saat itu, saya merasa sangat dibimbing dalam pengembangan karir di LIPI oleh para senior di Puslit Biomaterial. Baik untuk melakukan penelitian, menulis, mencari pendanaan, dan kegiatan lainnya.” Fenny juga mendapat banyak kesempatan untuk berorganisasi dalam Tim Pusat Unggulan Iptek (PUI), ISO, kepanitiaan seminar dan berbagai acara, bahkan koperasi. “Saya merasa bahwa ketua kelompok penelitian dan para senior selalu mendukung dan peduli terhadap anggotanya, terutama kami sebagai anak baru waktu itu. Hasilnya, saya mendapat banyak kesempatan untuk mencari pengalaman dan mulai berhasil mendapatkan kegiatan penelitian,” imbuhnya.
Fenny mendapatkan kegiatan penelitian ke Korea melalui program National Research Foundation (NRF) Korea for Exchanging Scientist and Scientific and Technological (S&T) Personnel 2019. Fenny juga mengikuti kunjungan kolaborasi dengan University Sains Malaysia (USM), kegiatan penelitian di industri PT. Jababeka, dan kolaborasi dengan Balai Besar Kerajinan dan Batik di Jogja. “Saya beruntung mendapatkan pendanaan penelitian melalui program Man and the Biosphere (MAB) UNESCO Young Scientist Awards 2019 dan sempat melakukan kegiatan eksplorasi di Taman Nasional Sembilang Jambi pada bulan Juli 2019,” katanya.
Saat ini Fenny sedang menempuh pendidikan S2 di Norwegia dan Swedia melalui program Joint Nordic Master Program Environmental Engineering dengan jurusan Water and Wastewater Engineering (Rekayasa Pengelolaan Air Bersih dan Air Limbah). Perempuan dengan hobby travelling dan bermain musik (violin) meno ini baru menyelesaikan satu tahun pendidikannya di Norwegia dan akan melanjutkan satu tahun terakhir di Swedia. “Melanjutkan sekolah di negara Skandinavia adalah salah satu impian saya. Saya adalah satu-satunya murid dari Indonesia di jurusan saya, dan murid dari Asia sangatlah jarang disini. Berada di negara dengan budaya dan iklim yang berbeda, serta jauh dari keluarga menjadi sebuah tantangan lain. Namun hal itu menjadi motivasi yang membuat saya terus belajar dan berkembang secara pribadi dan wawasan,” tegasnya.
Bersekolah di Institut Teknologi Norwegia (NTNU) dan Chalmers University adalah cita-citanya, karena di kedua kampus tersebut banyak bekerjasama dengan institusi riset seperti SINTEF (institut riset independen terbesar di Skandinavia) dan proyek-proyek internasional terkait pengolahan air dengan industri lokal maupun lembaga nasional. Fenny mempelajari pengolahan air limbah dan terlibat dalam proyek “recovery”, khususnya dalam memonitoring MBBR (Moving Bed Biofilm Reactor) untuk pengolahan air limbah domestik. MBBR sendiri merupakan teknologi yang ditemukan oleh salah satu professor di NTNU sejak tahun 1980 dan saat ini sudah banyak berkembang dan diterapkan di skala industri secara internasional. “Riset tersebut sejalan dengan salah satu riset kelompok penelitian di Puslit Biomaterial. Biomaterial berbasis mikroba, yaitu mengenai dekolorisasi dan pengolahan limbah lainnya secara biologis dengan teknik biofilm, khususnya dengan imobilisasi jamur pelapuk kayu dan enzim ligninolitik pada media carrier. Melalui studi saya ini, saya berharap dapat membangun kolaborasi dan hubungan dengan para profesional khususnya dari Skandinavia, karena belum banyak kerja sama yang saat ini dilakukan bersama,” jelasnya.
Fenny berharap ilmu yang didapat bisa membantu mengembangkan penelitian dalam aplikasi teknik-teknik pemanfaatan biomaterial dari mikroorganisme untuk pengelolaan lingkungan. Secara umum dalam pengolahan limbah dan secara khusus untuk pengolahan air dan air limbah. Krisis air saat ini menjadi isu yang penting, karena air merupakan salah satu penunjang kehidupan manusia. Pengolahan air dan air limbah merupakan salah satu upaya yang dapat menyelesaikan permasalahan lingkungan di Indonesia, khususnya di sektor perairan. “Melalui kegiatan riset ini, diharapkan kedepannya dapat tercipta aplikasi pengolahan limbah secara biologis yang lebih berkelanjutan, dengan biaya yang lebih terjangkau dan memanfaatkan sumber biomaterial lokal yang sangat kaya di Indonesia,” ujarnya.
Sebagai penutup Fenny memberikan pernyataan, “Mungkin banyak orang yang hanya melihat capaian kita dari luarnya saja, tanpa tahu perjuangan yang telah dilewati. Saya tidak dapat pencapaian seperti ini tanpa dukungan dan doa dari orang tua dan keluarga. Ilmu yang saya dapat sampai hari ini juga tidak lepas dari jasa para guru, dosen dan senior saya. Maka, bagi saya, “miracle is another name of effort”, saya percaya semua cita-cita dapat kita capai dengan ikhtiar dan doa.” Fenny meyakini, ketika doa dan usaha sudah dijalani, pada akhirnya kita harus berserah diri kepada Tuhan untuk dapat memberikan jalan yang terbaik. “Dan jalan yang terbaik saya saat ini yaitu diberikan amanah menjadi salah satu peneliti di LIPI. Saya berharap dapat mengikuti jejak para senior untuk terus berkarya, belajar dan menebar manfaat, khususnya pada penanganan permasalahan lingkungan di Indonesia,” pungkasnya. (IkS, ed SL)
Dr. MUHAMMAD ADLY RAHANDI LUBIS :
“TEKNOLOGI PEREKAT YANG RAMAH LINGKUNGAN DAN LESTARI ”
Cibinong, Humas LIPI. Saat ini, salah satu penelitian yang sedang dikembangkan Pusat Penelitian Biomaterial LIPI adalah teknologi perekat yang ramah lingkungan dan lestari. Perekat merupakan salah satu bahan yang telah lama ditemukan, yaitu sejak zaman batu mesolitikum, dimana perekat yang digunakan masih berbahan dasar protein dari darah dan tulang hewan. Dengan perekat, dua atau lebih material yang berbeda dapat disatukan sehingga menghasilkan satu produk baru.
DR. SUKMA SURYA KUSUMAH:
“PEMANFAATAN SERAT ALAM DARI LIMBAH PERTANIAN DAN PERKEBUNAN SEBAGAI BAHAN BIOKOMPOSIT”
Cibinong, Humas LIPI - Penggunaan bahan alami untuk berbagai keperluan sehari-hari saat ini tengah menjadi isu yang sangat penting. Daur ulang dengan memanfaatkan bahan-bahan alami kemudian diolah menjadi barang-barang kebutuhan rumah tangga sedang mengalami trend, dikarenakan selain untuk mengurangi limbah plastik dan kimia berbahaya serta hemat bahan baku dan harga dengan kualitas tetap terjamin.
848 total views, 1 views today






