Pusat Riset Biomaterial BRIN Sepakati Kerja Sama Penelitian dan Pengembangan Nutri Kosmetik Berbasis Daun Kelor dan Propolis dengan CV. Nutrima Sehatalami

Pinterest LinkedIn Tumblr +

Cibinong, Humas BRIN. Di awal tahun 2022, Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui Pusat Riset Biomaterial terus bergerak menggandeng mitra industri untuk bekerjasama dalam penelitian dan pengembangan yang sesuai tugas dan fungsinya. Tak tunggu lama, pada Rabu (12/1), Pusat Riset Biomaterial BRIN menyepakati kerja sama Penelitian dan Pengembangan Nutri Kosmetik Berbasis Daun Kelor dan Propolis dengan CV. Nutrima Sehatalami.

Naskah kerja sama ditandatangani langsung oleh Plt. Kepala Pusat Riset Biomaterial BRIN, Dr. Akbar Hanif Dawam, M.T. dan Komisaris Utama CV. Nutrima Sehatalami, Dr. Mahani, S.P., M.Si. di kantor CV Nutrima Sehatalami, Bogor. Hadir pula koordinator kegiatan kerja sama, Dr. Dewi Sondari dan Tim Peneliti dari Pusat Riset Biomaterial dan Kimia BRIN, serta Tim Hukum, Kerja Sama dan Humas BRIN.

“Saya sangat mengapresiasi kerja sama di awal tahun 2022 ini karena tidak mudah menggabungkan sisi akademis dan entrepreneurship. Terkadang itu dua hal yang berbeda namun memang di negara maju, industri ditopang oleh riset yang bagus,” ujar Dawam membuka sambutan.

Dawam mengisahkan bahwa sebelumnya beberapa lembaga dan badan telah bergabung dan melebur menjadi BRIN. “Di dalam BRIN terjadi konsolidasi yang cukup besar, SDM menjadi berjumlah 14.000-an dari sebelumnya 4.000-an. Infrastruktur dan lab-lab-nya pun besar. Kewenangan BRIN menjadi bertambah luas dalam koridor scientific based policy,” ungkapnya.

Dirinya mengungkapkan bahwa fasilitas infrastruktur riset di Pusat Riset Biomaterial dapat digunakan industri mana pun atau open platform. “Salah satu mekanisme penggunaannya adalah melalui perjanjian kerja sama,” terang Dawam.

Sementara itu, Mahani berharap perjanjian kerja sama yang terjalin dapat meningkatkan kontribusi CV. Nutrima dan BRIN bagi masyarakat secara nyata. “Boleh dibilang hasil riset yang dirasakan oleh masyarakat dan banyak pihak masih sedikit menjadi produk nyata,” paparnya.

“Senang sekali dengan kerja sama yang terjalin, mudah-mudahan produk kerja sama dapat segera diimplementasikan dan dikomersialisasi serta bisa dinikmati masyarakat,” imbuh Mahani.

Mahani juga mengisahkan bahwa CV. Nutrima baru saja diaudit oleh dinas perindustrian kota Bogor dan hasilnya Nutrima layak diperjuangkan. CV Nutrima dapat menunjukkan industri obat tradisionalnya tidak menghasilkan limbah sehingga diharapkan CV. Nutrima tetap survive begitu pula industri kecil lainnya.

Saat ini, 70 produk Nutrima sudah mendapatkan izin edar BPOM TR yang berbasiskan madu herbal, propolis, dan kapsul spirulina. Demand pasar sangat tinggi untuk produk madu, khususnya madu herbal. “Jenis madu hijau produksi Nutrima sedang merajai pasar, hingga cukup membuat kami kewalahan,” ungkap Mahani.

Pada kesempatan yang sama, Dewi Sondari bersyukur naskah kerja sama dapat ditandatangani meski dalam tahap akhir hanya dua kali pertemuan daring dari kedua belah pihak. “Semoga inisiasi kerja sama dapat berjalan lancar dan ke depan menghasilkan output berupa paten, jurnal dan segera dikomersialisasi,” harapnya.

Senada dengan Dewi, Agung Legowo, S.H. dari Tim Layanan Hukum dan Kerja Sama BRIN mengucapkan terima kasih atas penandatanganan kerja sama. “Semoga kerja sama berjalan lancar dan diimplementasikan sesuai rencana. Tugas bidang hukum dan kerja sama adalah mulai membantu dari inisiasi dan penyusunan naskah kerja sama hingga penandatanganannya,” tutup Agung mewakili Plt. Kepala Biro Hukum dan Kerja Sama BRIN. (sl)

 55 total views,  1 views today

Share.

About Author

Leave A Reply