Semangat Prof. Sarwono Prawirohardjo dalam Pondasi Pembangunan Lembaga Riset di Indonesia

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Tradisi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyelenggarakan Penganugerahan Penghargaan Sarwono dan Memorial Lecture menjadi ciri khas puncak rangkaian acara peringatan Hari Ulang Tahun LIPI ke 54 tahun. Tahun ini, LIPI mengangkat tema ‘Biodiversitas untuk Bioekonomi bagi Kemandirian’. Tema tersebut juga dipilih mengingat LIPI sebagai lembaga yang memiliki otoritas ilmiah di bidang keanekaragaman hayati.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko mengatakan penyelenggaraan LIPI Sarwono Memorial Lecture XXI dan LIPI Sarwono Award XIX tahun 2021, yang mengabadikan nama Prof. Sarwono ini sangat layak dijadikan sebagai penghargaan tertinggi bagi tokoh yang berprestasi dan berjasa dalam memajukan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan, di berbagai bidang. “Tradisi ini untuk dilestarikan dan akan kami lanjutkan dalam Badan Riset Inovasi Nasional,” tutur Handoko. Mengingat, semangat Prof. Dr. Sarwono perlu kita miliki dan diterapkan dalam bekerja, khususnya bagi para periset. “Kita patut bersyukur dan bangga terhadap kegigihan dan dedikasi Prof. Sarwono dalam meletakkan pondasi pembangunan dan ekosistem lembaga riset di Indonesia,” ujarnya saat memberikan sambutan daring pada Senin, (23/8).

Saat ini menurut Handoko, dunia riset dan inovasi teknologi dipacu untuk memberikan kontribusi besar untuk penanganan pandemi COVID-19. Untuk itu, upaya yang dilakukan para periset Indonesia merupakan ikhtiar dalam menggalang persepsi positif dan kepercayaan kita terhadap kinerja pemerintahan. “Merupakan suatu kebanggaan bagi saya atas capaian-capaian para periset dan lembaga riset di Indonesia telah mendapat tanggapan yang positif dari publik dan menimbulkan dukungan terhadap kinerja para periset dalam mengatasi pandemi dan keluar dari krisis,” jelasnya.

Ia menjelaskan, meskipun kita masih dalam kondisi pandemi, namun perekonomian rakyat tetap harus bertumbuh. Demikian juga dengan investasi, harus dikejar, dirangkul, dan ditanam. Apa yang kita lakukan saat ini akan berdampak dan dipanen pada masa depan dan kualitas generasi Indonesia di masa depan yang lebih baik. Termasuk pembangunan infrastruktur riset beserta ekosistemnya perlu terus diciptakan.

“Riset dan inovasi yang telah dihasilkan selama pandemi merupakan gambaran besar sebuah gerakan dari dan untuk bangsa Indonesia tercinta. Gerakan tersebut mencerminkan negara hadir dan mengajak rakyat Indonesia turut bergerak bersama, untuk masa depan Indonesia, khususnya dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan berbasis digital, green, and blue economy,” ulasnya.

Menurut Handoko, Indonesia sudah memiliki semua unsur penting, khususnya dalam pilar ekonomi berbasis keanekaragaman hayati. Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, keanekaragaman hayati, dan sosial budaya yang tinggi. Indonesia juga berada pada posisi geografis yang strategis dan populasi penduduk yang besar. “Untuk mewujudkannya, kita perlu mendorong hadirnya inovasi yang dibarengi dengan kemampuan riset berstandar global, sebagai basis pertumbuhan ekonomi bangsa,” ungkap Handoko. Pada akhirnya, kontribusi riset dan inovasi merupakan upaya untuk menghasikan berbagai solusi permasalahan bangsa. “Ini merupakan tantangan yang mau tidak mau harus dihadapi pemerintah, industri, masyarakat, dan para periset di tanah air,” tambahnya.

Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto mengatakan Indonesia sangat kaya biodiversitas, baik di daratan maupun di lautan. Indonesia memiliki beragam sumber genetik yang berpotensi sebagai bahan pangan. “Dengan 17.000 jumlah pulau dan dikelilingi oleh lautan, kita dapat membayangkan betapa banyak spesies tanaman, spesies hewan, spesies mamalia, dan spesies mahluk hidup lainnya yang dimiliki oleh Indonesia.” Keanekaragaman ini harus mampu menjadi komponen dasar setiap strategi pembangunan nasional atau regional,” ungkap Sugeng.

“Seperti yang kita ketahui, bencana pandemi COVID-19 tentu berimbas sangat besar pada perekonomian negara kita. Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai macam upaya untuk pemulihan ekonomi sekaligus juga membangkitkan kemandirian bangsa di tengah bencana ini,” tutur Sugeng. Dirinya menyampaikan melalui biodiversitas ini tentu menjadi salah satu aset kita untuk dapat kita olah dalam rangka mewujudkan bioekonomi menuju kemandirian bangsa. “Biodiversitas ini harus terus dikaji dipelajari dan diteliti untuk dapat dikembangkan dan diolah menjadi produk atau komoditas untuk ekonomi negara kita,” lanjutnya.

Sejalan dengan Ketua komisi VII, Plh. Kepala LIPI, Agus Haryono, mengatakan biodiversitas untuk bioekonomi bagi kemandirian bangsa sejalan dengan misi Pemerintah untuk memanfaatkan potensi kekayaan mega biodiversitas Indonesia, guna peningkatan ekonomi masyarakat dan membangun kemandirian bangsa. “Karena itu, Penghargaan Ilmu Pengetahuan LIPI Sarwono Award XIX Tahun 2021 kami persembahkan kepada dua orang ilmuwan di bidang biologi, yaitu Prof. Dr. Endang Sukara dan Prof. Dr. Dwi Listyo Rahayu,” tutur Agus. “Sedangkan pemateri LIPI Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture XXI adalah Prof. Arif Satria, yang juga merupakan seorang Rektor Institut Pertanian Bogor. (mtr/ ed: drs)
Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Eng. Agus Haryono
Diakses : 633