Peluang dan Tantangan Riset dan Inovasi di Tengah Dunia ‘Hyperconnected’
Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau biasa kita sebut LIPI, memiliki sejarah panjang dalam masa pembentukanya. Pada tanggal 23 Agustus 1967, berdasarkan Keputusan MPRS No. 18/B/1967, LIPI secara sah dibentuk untuk mengemban tugas dalam pemanfaatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Dalam perkembanganya, LIPI menjadi lembaga penelitian yang dibutuhkan bangsa untuk menjawab berbagai tantangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. LIPI juga tumbuh menjadi barometer penelitian di Indonesia.
Kiprah LIPI selama 54 tahun ini, diwarnai dengan berbagai macam inovasi dan terobosan baru baik di bidang riset maupun manajemen organisasinya. Saya sebagai bagian dari LIPI pada saat itu, tahu betul bahwa LIPI telah bertranformasi untuk terus melakukan perbaikan di berbagai aspek dan lini organisasi melalui penyesuaian tugas dan fungsi. Mulai dari pengembangan sistem IT, peningkatan kualitas SDM, hingga pembangunan infrastrutur riset terbuka dan terintegrasi telah dilakukan LIPI untuk peningkatan mutu layanan.
Contoh konkrit adalah penggunaan digital signature salah satu solusi di era new normal yang sangat berguna sehingga tidak menghambat proses legalisasi dalam birokrasi. Selain digital signature, masih banyak inovasi yang dilakukan sebagai solusi bisnis di era new normal yang dilakukan oleh LIPI, di antaranya e-kehadiran mobile untuk absensi, Layanan Kawasan (Ticketing System) Mobile, e-ppid sebagi sumber layanan informasi untuk masyarakat, e-learning untuk kegiatan pembinaan ilmiah, dan masih banyak lagi.
Bagaimana peluang dan tantangan dunia riset dan inovasi di tengah ‘hyperconnective world’? Pakar Manajemen Perubahan, Rhenald Kasali dalam Talkshow 'Riset dan Inovasi di Dunia Hyperconnected' (26/8) mengatakan, setiap jaman ada tantangan yang berbeda Kita perlu meremajakan diri dan berinovasi, karena untuk apa tua tapi tidak bermakna. Membahas hiperkonektivitas tidak terlepas dari pembahasan disrupsi.
Rheinald mengungkapkan kisah tentang Christensen, seorang ilmuwan yang pernah menulis riset tentang inovasi yang membuat dunia berubah. Ia membagi inovasi dalam dua strategi, yaitu push strategy dan pull strategy. "Push strategy banyak digunakan dalam ilmu ekonomi yang diterapkan di banyak negara untuk mengentaskan kemiskinan. Pull strategy adalah bagaimana inovasi bisa berkembang menjadi pesat karena ada inovasi yang menarik elemen ekonomi lainnya," jelasnya.
Tantangan yang dihadapi dunia riset dan inovasi dalam jangka pendek adalah infectious disease, cyber security, dan food supply. Dalam perjalanan menuju 2045, dunia masih harus menghadapi tantangan virus teknologi, di antaranya dalam dunia pendidikan munculnya useless generation, sejumlah pekerjaan akan hilang dan menimbulkan livelihood crisis, dan inequality muncul karena ada digital devide. Sejak dulu teknologi selalu mengubah kehidupan dan menciptakan perubahan. Ada perubahan radikal yang disebutnya sebagai disrupsi. Disebut radikal karena sekaligus membuat teknologi yang lama menjadi usang.
Kini kita memasuki era digital disruption. Era yang mengubah cara pandang, mindset, dan cara belajar, ilmu yang bisa dipakai dalam lapangan pekerjaan, profesi, dan jenis usaha. Namun juga bisa memicu perubahan struktural dan global lainnya. Seperti dalam syair lagu Wind of Change yang menyiratkan bahwa seperti siklus alam, setiap periode, dunia selalu berubah. Manusia dituntut adaptif dan reflektif. Saat ini dunia berubah, dihentikan oleh makhluk halus corona yang mempercepat digital disruption. Seperti pandemi, teknologi selalu bak pisau bermata dua, yang ada kalanya kita tahan agar humanity berlanjut, atau kita punah.
Rhenald yang didampingi moderator Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Ocky Karna Rdjasa menekankan, tantangan jangka panjang riset dan inovasi dapat dilinjau pada aspek penduduk (population boom), sejak jaman VOC, revolusi industri, hingga munculnya G-Mafia (Google, Microsoft, amazon, Facebook, IBM, dan Apple). Ia menyebutkan, jumlah penduduk hingga 2036 diprediksi mencapai 6-9 milyar. "Saat ini ilmuwan pun harus bisa mengkomunikasikan temuannya dengan cara pertama yaitu open science (open source, open data, open access, open policies, open evaluation, open review, open tools, open hardware). Cara kedua, sekarang kita banyak banyak sekali dokter yang boleh menjadi youtuber," urainya. "Tantangannya, muncul disrupsi terhadap teknologi digital yang sangat pesat. Jadi, teknologi itu selalu memudahkan dan memurahkan. Bumi ini menjadi serba digital teknologi," tegasnya.
"Dengan adanya teknologi kita menjadi asik sendiri. Setelah pandemi berakhir, yang diperlukan adalah kemampuan kita untuk bekerja bersama (teamwork), berkolaborasi," terang Rhenald dalam paparannya. "Science war menjadi tantangan, karena temuan ilmuwan akan terus diperdebatkan, maka kita harus memiliki keahlian ini, karena ekonomi baru ini dasarnya adalah ekosistem. mobilisasi dan orkestrasi, serta kecepatan berinovasi karena ledakan penduduk yang begitu besar," pungkasnya.(drs)
Kiprah LIPI selama 54 tahun ini, diwarnai dengan berbagai macam inovasi dan terobosan baru baik di bidang riset maupun manajemen organisasinya. Saya sebagai bagian dari LIPI pada saat itu, tahu betul bahwa LIPI telah bertranformasi untuk terus melakukan perbaikan di berbagai aspek dan lini organisasi melalui penyesuaian tugas dan fungsi. Mulai dari pengembangan sistem IT, peningkatan kualitas SDM, hingga pembangunan infrastrutur riset terbuka dan terintegrasi telah dilakukan LIPI untuk peningkatan mutu layanan.
Contoh konkrit adalah penggunaan digital signature salah satu solusi di era new normal yang sangat berguna sehingga tidak menghambat proses legalisasi dalam birokrasi. Selain digital signature, masih banyak inovasi yang dilakukan sebagai solusi bisnis di era new normal yang dilakukan oleh LIPI, di antaranya e-kehadiran mobile untuk absensi, Layanan Kawasan (Ticketing System) Mobile, e-ppid sebagi sumber layanan informasi untuk masyarakat, e-learning untuk kegiatan pembinaan ilmiah, dan masih banyak lagi.
Bagaimana peluang dan tantangan dunia riset dan inovasi di tengah ‘hyperconnective world’? Pakar Manajemen Perubahan, Rhenald Kasali dalam Talkshow 'Riset dan Inovasi di Dunia Hyperconnected' (26/8) mengatakan, setiap jaman ada tantangan yang berbeda Kita perlu meremajakan diri dan berinovasi, karena untuk apa tua tapi tidak bermakna. Membahas hiperkonektivitas tidak terlepas dari pembahasan disrupsi.
Rheinald mengungkapkan kisah tentang Christensen, seorang ilmuwan yang pernah menulis riset tentang inovasi yang membuat dunia berubah. Ia membagi inovasi dalam dua strategi, yaitu push strategy dan pull strategy. "Push strategy banyak digunakan dalam ilmu ekonomi yang diterapkan di banyak negara untuk mengentaskan kemiskinan. Pull strategy adalah bagaimana inovasi bisa berkembang menjadi pesat karena ada inovasi yang menarik elemen ekonomi lainnya," jelasnya.
Tantangan yang dihadapi dunia riset dan inovasi dalam jangka pendek adalah infectious disease, cyber security, dan food supply. Dalam perjalanan menuju 2045, dunia masih harus menghadapi tantangan virus teknologi, di antaranya dalam dunia pendidikan munculnya useless generation, sejumlah pekerjaan akan hilang dan menimbulkan livelihood crisis, dan inequality muncul karena ada digital devide. Sejak dulu teknologi selalu mengubah kehidupan dan menciptakan perubahan. Ada perubahan radikal yang disebutnya sebagai disrupsi. Disebut radikal karena sekaligus membuat teknologi yang lama menjadi usang.
Kini kita memasuki era digital disruption. Era yang mengubah cara pandang, mindset, dan cara belajar, ilmu yang bisa dipakai dalam lapangan pekerjaan, profesi, dan jenis usaha. Namun juga bisa memicu perubahan struktural dan global lainnya. Seperti dalam syair lagu Wind of Change yang menyiratkan bahwa seperti siklus alam, setiap periode, dunia selalu berubah. Manusia dituntut adaptif dan reflektif. Saat ini dunia berubah, dihentikan oleh makhluk halus corona yang mempercepat digital disruption. Seperti pandemi, teknologi selalu bak pisau bermata dua, yang ada kalanya kita tahan agar humanity berlanjut, atau kita punah.
Rhenald yang didampingi moderator Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Ocky Karna Rdjasa menekankan, tantangan jangka panjang riset dan inovasi dapat dilinjau pada aspek penduduk (population boom), sejak jaman VOC, revolusi industri, hingga munculnya G-Mafia (Google, Microsoft, amazon, Facebook, IBM, dan Apple). Ia menyebutkan, jumlah penduduk hingga 2036 diprediksi mencapai 6-9 milyar. "Saat ini ilmuwan pun harus bisa mengkomunikasikan temuannya dengan cara pertama yaitu open science (open source, open data, open access, open policies, open evaluation, open review, open tools, open hardware). Cara kedua, sekarang kita banyak banyak sekali dokter yang boleh menjadi youtuber," urainya. "Tantangannya, muncul disrupsi terhadap teknologi digital yang sangat pesat. Jadi, teknologi itu selalu memudahkan dan memurahkan. Bumi ini menjadi serba digital teknologi," tegasnya.
"Dengan adanya teknologi kita menjadi asik sendiri. Setelah pandemi berakhir, yang diperlukan adalah kemampuan kita untuk bekerja bersama (teamwork), berkolaborasi," terang Rhenald dalam paparannya. "Science war menjadi tantangan, karena temuan ilmuwan akan terus diperdebatkan, maka kita harus memiliki keahlian ini, karena ekonomi baru ini dasarnya adalah ekosistem. mobilisasi dan orkestrasi, serta kecepatan berinovasi karena ledakan penduduk yang begitu besar," pungkasnya.(drs)
Sumber : Humas LIPI
Sivitas Terkait : Prof. Dr. Ocky Karna Radjasa M.Sc


