LIPI Kembangkan Tanaman Rekayasa Genetika
Demikian disampaikan Ketua LIPI Prof Dr Umar A Jenie dalam pembukaan Agricultural Biotechnology Training di Pusat Penelitian Bioteknologi - LIPI Cibinong. Hadir antara lain oleh Ketua ASEAN COST (Committee on Science and Technology) Indonesia, Ir. Sri Woro B Harijono, Wakil Direktur Iptek Sekretariat ASEAN Dr Linda S Posadas, dan Koichi Funayama dari Kedutaan Besar Jepang.
Dijelaskan Umar yang juga Guru Besar Farmasi UGM, pengembangbiakan tanaman transgenik itu antara lain untuk menghasilkan vaksin Erytropoetyn untuk kedokteran preventif. la mengharapkan penerapannya pada skala laboratorium dapat dilaksanakan tahun depan. Uji coba akan dilakukan dikebun penelitian dan konservasi di Kebon Raya Bogor. "Daerah tersebut pada zaman Belanda juga digunakan untuk aklimatisasi tanaman perkebunan seperti teh, cengkeh, kelapa sawit, dan karet, " tirainya.
Kepala tim peneliti pada proyek itu Inez Loedin menjelaskan, pada tahap awal akan dikembangkan dulu sistemnya dan menguji coba satu enzim glukosa dehidrogenase untuk diterapkan pada padi.
Inez yang menerima Penghargaan Ketahanan Pangan dari Megawati pada peringatan Hari Pangan Nasional, sebelumnya berhasil mengembangkan tanaman pangan rekayasa genetika dalam hal ini padi tahan hama. Uji cobanya saat ini masih dalam skala laboratorium. Dalam penelitian lebih lanjut, dari padi akan diambil proteinnya lalu dimurnikan (dipurifikasi) untuk digunakan sebagai kit deteksi dini Diabetes Mellitus (DM). Pemanfaatan protein pada padi untuk kit vaksin DM ini yang pertama di dunia.
Penelitian juga dapat mengarah pada pengembangan vaksin dari pisang atau pepaya. Di dunia telah berhasil dikembangkan vaksin kolera dari pisang.
Menurut Inez yang juga peneliti di Puslit Bioteknologi LIPI, selama ini pembuatan vaksin hepatitis dengan rekayasa genetika banyak dihasilkan dari bakteri. Begitu pula vaksin DM dihasilkan dari rekombinan bakteri. Paten untuk vaksin DM ini telah habis tempo tahun lalu. Dengan demikian siapa pun dapat memanfaatkan dan mengembangkan teknologi itu tanpa konsekuensi membayar royalti. Hal ini antara lain telah digunakan Cina dengan membangun pabrik di Hongkong, untuk masuk ke pasar di Asia dengan harga lebih murah. "Indonesia juga dapat memanfaatkan peluang itu, paling tidak untuk dapat memenuhi pasar dalam negeri, " urainya.
Namun ia menyayangkan penelitian rekayasa genetika masih terhambat regulasi. Bulan April, LIPI telah mengajukan rencana percobaan di lapangan terbatas pada areal lahan kurang dari satu hektar. Tanaman padi tahan penggerek batang telah dicoba di rumah kaca dengan hasil yang baik. Namun, belum dapat dilakukan uji coba penanamannya di lahan terbatas atau kurang dari satu hektar. Sampai saat ini izin belum keluar.
Pelatihan Bioteknologi pertanian diikuti oleh 24 peserta dari Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam, termasuk Indonesia akan berlangsung hingga 25 Januari 2003. Bidang ilmu yang dilatih meliputi kultur jaringan tanaman dan fermentasi.
Dijelaskan Umar, Indonesia dalam hal ini, peneliti bioteknologi LIPI dibantu tenaga ahli dari Jepang dan Fllipina mendapat kepercayaan dari Sekretariat ASEAN untuk mendidik peneliti dari empat negara dari Asia Tenggara tersebut (YUN)
Sumber : Harian Kompas, Selasa, 14 Januari 2003, hal. 10


