LIPI Kembangkan Riset Hadapi Pandemi

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Pandemi Covid-19 merupakan momentum kebangkitan kemandirian riset dan inovasi tanah air. Walaupun di masa pandemi, kegiatan riset dan penelitian harus berjalan dengan lancar apa pun kendalanya.  “Justru ini merupakan tantangan yang bagi para peneliti kami untuk menghasilkan riset yang bisa bermanfaat, kususnya untuk membantu penanganan Covid-19,” ungkap Plh. Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono, dalam acara Meet The VIP yang disiarkan oleh JakTV pada hari Senin (6/8).

Beberapa hasil penelitian yang telah LIPI kembangkan untuk penanganan Covid-19 meliputi Ventilator tipe HFNC (High Flow Nasal Cannula), alat sterilisasi ruangan, dan berbagai macam imunomodulator. "Saat ini ventilator tipe HFNC telah dipasang di 360 rumah sakit di Indonesia dan lebih dari 1.000 unit sudah termanfaatkan," ujar Agus. "Kita juga telah menghasilkan berbagai macam alat sterilisasi ruangan baik yang berbasis sinar UVC, berbasis ozon, atau pun berbasis sanitasi lainnya," lanjutnya.

Sedangkan untuk imunomodulator, saat ini tanaman obat termasuk dalam program LIPI untuk penanganan penderita Covid-19 di mana riset obat herbal terstandar dan obat tradisional menjadi kegiatan prioritas nasional. Dengan bekerja sama dengan pihak swasta dan telah dilakukan uji klinis ke pasien Covid-19 dengan gejala ringan dan sedang, imunomodulator telah dikembangkan LIPI yang berasal dari tanaman obat Indonesia seperti selada laut, jahe merah, meniran, dan sambiloto yang saat ini sedang dikembangkan. Agus menyampaikan, "Selain itu ada juga tanaman obat Indonesia yang berpotensi sebagai anti virus seperti ketepeng badak dan daun benalu. Tim kami juga melakukan riset sampai ke in-vitronya dan memang terbukti bahan aktif dari tanaman obat Indonesia ini bisa membantu mengendalikan virus SARS-Cov-2."

Selain itu untuk penanganan limbah Covid-19, LIPI menawarkan insinerator yang akan diletakkan di lokasi-lokasi yang belum terdapat fasilitas pemusnahan limbah B3 medis seperti di Kalimantan dan wilayah Indonesia bagian timur, alat plasma non thermal yang akan dipasang di delapan lokasi utama pengangan limbah Covid-19 agar emisi gas buang dari pembakaran insinerator dapat dipastikan aman, dan teknologi untuk daur ulang, seperti masker, dan APD medis yang masih dalam koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Di masa pandemi ini, para peneliti banyak bekerja sama dan sektor swasta untuk riset terkait penanganan Covid-19, sehingga sumber pendanaan tidak hanya bisa didapat dari pemerintah, tetapi  juga dari sektor swasta,” kata Agus.

Sementara untuk pengembangan vaksin merah putih, LIPI bersama dengan 7 platform riset di Indonesia masih terus melakukan pengembangan. “Untuk pengembangan vaksin merah putih, Indonesia memerlukan fasilitas-fasilitas krusial yang perlu dimiliki, fasilitas animal Bio Safety Level - 3 (BSL-3) untuk hewan primata atau makaka. Ketika vaksin kita kembangkan lalu berhasil diujikan ke mencit, maka tahap selanjutnya sebelum diuji ke manusia adalah uji klinis, itu perlu diuji ke hewan primata,” jelas Agus.  “Sebelumnya Institut Teknologi Bandung mempunyai fasilitas BSL-3, tetapi saat ini masih perlu maintenance. Maka kita putuskan kita akan membuat fasilitas tersebut, yang nantinya bisa dimanfatkan bersama oleh 7 pengembang platform vaksin merah putih,” dirinya menyampaikan. “Selain itu, kami juga akan membangun fasilitas current Good Manufacturing Practices (cGMP), cGMP untuk uji klinis vaksin lebih lanjut,” pungkasnya. (har)





 


Sivitas Terkait : Dr. Eng. Agus Haryono
Diakses : 831