76 Tahun RI: Indonesia Hadapi Tantangan Global Iptek dan Inovasi
Jakarta, Humas LIPI. Di usia 76 tahun kemerdekaannya, Republik Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk mendorong peningkatan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta inovasi agar mampu bersaing global. Peran riset dan inovasi sangat dibutuhkan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi bangsa, di mana para peneliti, akademisi, dan pengambil kebijakan, mempunyai peran untuk berkontribusi aktif membuat ekosistem yang ramah inovasi.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, menyampaikan bahwa dari sisi regulasi pemerintah di Indonesia sebenarnya sudah sangat memadai untuk mendukung berbagai aktivitas riset dan inovasi serta hilirisasi kemitraan, khususnya dengan industri. “Seperti pemberian insentif bagi pelaku riset dan pelaku usaha, regulasi pengadaan, regulasi pendorong, serta hibah riset dan inovasi,” ujar Handoko dalam Webinar Kemerdekaan: Riset untuk Merah Putih pada sesi Leaders’ Talk pada hari Rabu (18/8).
Selain itu, tahun ini BRIN akan melansir manajemen talenta nasional khususnya bidang riset dan inovasi dengan melakukan rekrutmen kandidat riset dengan kualifikasi pendidikan minimal S3. “Hal ini guna menunjukkan political will pemerintah kalau kita menyediakan lapangan kerja yang sesuai bagi generasi muda yang sudah disekolahkan sampai S3 di luar negeri dan berbagai perguruan tinggi negeri sehingga mereka bisa melanjutkan riset sesuai kepakarannya masing-masing,” jelas Handoko.
BRIN sebagai representasi pemerintah juga berperan untuk memfasilitasi dan memudahkan industri penelitian dan pengembangan agar bisa tumbuh. Terkait dengan relasi riil antara riset dan industri, Handoko mengatakan tantangan utamanya adalah bagaimana mengisi semua spektrum riset dengan SDM dan infrastruktur yang diperlukan. “Itulah yang menjadi tugas dan kewajiban kita di BRIN untuk memastikan semua spektrum riset terisi dan memenuhi standarisasi untuk meningkatkan daya saing,” jelasnya. “Fokus utama BRIN adalah menyelesaikan semua masalah periset dan industri yang berpotensi menjadi mitra. Karena yang melakukan inovasi riset itu adalah periset sedangkan sektor industri bisa terlibat jika resiko dapat diminimalisir,” lanjutnya.
Terkait dengan hal tersebut, Eddy Soeparno, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI menuturkan, peran dari lembaga legislatif untuk mendukung kebijakan yang berbasis riset dan inovasi. “Legislatif memiliki pandangan dan peran yang signifikan dalam mendorong riset dan inovasi. Kebijakan yang strategis seperti kehadiran Undang-Undang Nomor 11 tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, atau dikenal dengan UU Sisnas Iptek, dapat membuka peluang yang lebih besar untuk kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia,” jelas Eddy. Ia juga mendukung strategi dan kebijakan riset dan inovasi nasional ke depannya. “Kami siap mendorong dan mendukung BRIN beserta seluruh perangkat riset dan inovasi nasional agar kita menjadi negara yang maju, berdaya saing dan memiliki SDM yang unggul,” ungkap Eddy.
Dalam kesempatan yang sama, Pelaksana Harian Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono mengungkapkan LIPI berupaya menciptakan ekosistem yang ramah inovasi, sehingga menghasilkan produk berdaya saing. Dirinya menyampaikan bahwa LIPI tengah berupaya melakukan pembenahan untuk menciptakan ekosistem yang ramah inovasi dengan menggunakan strategi pola transformasi meliputi 4 aspek yaitu SDM unggul, infrastruktur maju, anggaran yang efektif dan peraturan ekosistem ramah inovasi. “Jika pola transformasi ini berjalan dengan baik maka ekosistem riset dan inovasi bisa berjalan menghasilkan inovasi-inovasi yang bisa dimanfaatkan bagi masyarakat,” kata Agus.
Dirinya menyampaikan bahwa kolaborasi riset sangat penting untuk mendorong ekosistem yang ramah inovasi. Seperti yang ditetapkan dalam target indikator kinerja sasaran strategis LIPI di tahun 2024, LIPI menargetkan sebanyak 50% dari anggaran dana riset didapatkan dari perolehan dana eksternal. Hal ini merujuk pada bagaimana LIPI bisa meningkatkan peran swata untuk terlibat dalam penelitian di lembaga litbang. “Oleh karena itu kami mendorong para peneliti untuk meningkatkan kolaborasi dengan pihak industri dan lembaga lain,” ujar Agus. “Kita harapkan dengan adanya potensi kolaborasi ini, perolehan dana riset yang sebelumnya 80% dari pemerintah dan 20% dari swasta dapat menjadi 50% dari perolehan dana eksternal. Dengan begitu anggaran bisa dialokasikan untuk membangun infrastruktur riset berskala global untuk menarik diaspora kembali ke Indonesia dengan fasilitas riset yang sudah tersedia,” jelasnya.
Saat ini dunia riset dan inovasi di Indonesia sedang memasuki proses perubahan besar melalui pengundangan undang-undang Sinar iptek nomor 11 tahun 2019 dan keluarnya Perpres 33 tahun 2021 yang regulasinya masih terus dalam proses di kementerian dan BRIN dalam mengkonsolidasikan riset dan inovasi di tanah air. Nur Tri Aries Suestinigtyas, Sekretaris Utama LIPI mengatakan, “Kita mengetahui bersama saat ini dunia riset dan inovasi di Indonesia sedang memasuki proses perubahan besar . Tantangan Ini sebagian disikapi bervariasi, namun kita harus tetap semangat dan optimis menyambut angin perubahan untuk ketangguhan dan majunya riset dan inovasi di Indonesia,” pungkas Nur.
Dalam acara webinar ini, turut hadir juga dalam sesi Scientists’ Talk Puspita Lisdiyanti, Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi dan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di LIPI; Bagus Muljadi, Assistant Professor of Chemical and Environmental Engineering di University of Nottingham; dan Deni Shidqi Khaerudini, peneliti dari Pusat Penelitian Fisika LIPI. (whp/ ed: drs)
Sumber : Humas LIPI
Sivitas Terkait : Rr Nur Tri Aries Suestiningtyas S.IP., M.A.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, menyampaikan bahwa dari sisi regulasi pemerintah di Indonesia sebenarnya sudah sangat memadai untuk mendukung berbagai aktivitas riset dan inovasi serta hilirisasi kemitraan, khususnya dengan industri. “Seperti pemberian insentif bagi pelaku riset dan pelaku usaha, regulasi pengadaan, regulasi pendorong, serta hibah riset dan inovasi,” ujar Handoko dalam Webinar Kemerdekaan: Riset untuk Merah Putih pada sesi Leaders’ Talk pada hari Rabu (18/8).
Selain itu, tahun ini BRIN akan melansir manajemen talenta nasional khususnya bidang riset dan inovasi dengan melakukan rekrutmen kandidat riset dengan kualifikasi pendidikan minimal S3. “Hal ini guna menunjukkan political will pemerintah kalau kita menyediakan lapangan kerja yang sesuai bagi generasi muda yang sudah disekolahkan sampai S3 di luar negeri dan berbagai perguruan tinggi negeri sehingga mereka bisa melanjutkan riset sesuai kepakarannya masing-masing,” jelas Handoko.
BRIN sebagai representasi pemerintah juga berperan untuk memfasilitasi dan memudahkan industri penelitian dan pengembangan agar bisa tumbuh. Terkait dengan relasi riil antara riset dan industri, Handoko mengatakan tantangan utamanya adalah bagaimana mengisi semua spektrum riset dengan SDM dan infrastruktur yang diperlukan. “Itulah yang menjadi tugas dan kewajiban kita di BRIN untuk memastikan semua spektrum riset terisi dan memenuhi standarisasi untuk meningkatkan daya saing,” jelasnya. “Fokus utama BRIN adalah menyelesaikan semua masalah periset dan industri yang berpotensi menjadi mitra. Karena yang melakukan inovasi riset itu adalah periset sedangkan sektor industri bisa terlibat jika resiko dapat diminimalisir,” lanjutnya.
Terkait dengan hal tersebut, Eddy Soeparno, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI menuturkan, peran dari lembaga legislatif untuk mendukung kebijakan yang berbasis riset dan inovasi. “Legislatif memiliki pandangan dan peran yang signifikan dalam mendorong riset dan inovasi. Kebijakan yang strategis seperti kehadiran Undang-Undang Nomor 11 tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, atau dikenal dengan UU Sisnas Iptek, dapat membuka peluang yang lebih besar untuk kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia,” jelas Eddy. Ia juga mendukung strategi dan kebijakan riset dan inovasi nasional ke depannya. “Kami siap mendorong dan mendukung BRIN beserta seluruh perangkat riset dan inovasi nasional agar kita menjadi negara yang maju, berdaya saing dan memiliki SDM yang unggul,” ungkap Eddy.
Dalam kesempatan yang sama, Pelaksana Harian Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono mengungkapkan LIPI berupaya menciptakan ekosistem yang ramah inovasi, sehingga menghasilkan produk berdaya saing. Dirinya menyampaikan bahwa LIPI tengah berupaya melakukan pembenahan untuk menciptakan ekosistem yang ramah inovasi dengan menggunakan strategi pola transformasi meliputi 4 aspek yaitu SDM unggul, infrastruktur maju, anggaran yang efektif dan peraturan ekosistem ramah inovasi. “Jika pola transformasi ini berjalan dengan baik maka ekosistem riset dan inovasi bisa berjalan menghasilkan inovasi-inovasi yang bisa dimanfaatkan bagi masyarakat,” kata Agus.
Dirinya menyampaikan bahwa kolaborasi riset sangat penting untuk mendorong ekosistem yang ramah inovasi. Seperti yang ditetapkan dalam target indikator kinerja sasaran strategis LIPI di tahun 2024, LIPI menargetkan sebanyak 50% dari anggaran dana riset didapatkan dari perolehan dana eksternal. Hal ini merujuk pada bagaimana LIPI bisa meningkatkan peran swata untuk terlibat dalam penelitian di lembaga litbang. “Oleh karena itu kami mendorong para peneliti untuk meningkatkan kolaborasi dengan pihak industri dan lembaga lain,” ujar Agus. “Kita harapkan dengan adanya potensi kolaborasi ini, perolehan dana riset yang sebelumnya 80% dari pemerintah dan 20% dari swasta dapat menjadi 50% dari perolehan dana eksternal. Dengan begitu anggaran bisa dialokasikan untuk membangun infrastruktur riset berskala global untuk menarik diaspora kembali ke Indonesia dengan fasilitas riset yang sudah tersedia,” jelasnya.
Saat ini dunia riset dan inovasi di Indonesia sedang memasuki proses perubahan besar melalui pengundangan undang-undang Sinar iptek nomor 11 tahun 2019 dan keluarnya Perpres 33 tahun 2021 yang regulasinya masih terus dalam proses di kementerian dan BRIN dalam mengkonsolidasikan riset dan inovasi di tanah air. Nur Tri Aries Suestinigtyas, Sekretaris Utama LIPI mengatakan, “Kita mengetahui bersama saat ini dunia riset dan inovasi di Indonesia sedang memasuki proses perubahan besar . Tantangan Ini sebagian disikapi bervariasi, namun kita harus tetap semangat dan optimis menyambut angin perubahan untuk ketangguhan dan majunya riset dan inovasi di Indonesia,” pungkas Nur.
Dalam acara webinar ini, turut hadir juga dalam sesi Scientists’ Talk Puspita Lisdiyanti, Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi dan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di LIPI; Bagus Muljadi, Assistant Professor of Chemical and Environmental Engineering di University of Nottingham; dan Deni Shidqi Khaerudini, peneliti dari Pusat Penelitian Fisika LIPI. (whp/ ed: drs)
Sumber : Humas LIPI
Sivitas Terkait : Rr Nur Tri Aries Suestiningtyas S.IP., M.A.


